Ketika Emak-emak Menguasai Masjid, Remaja Bisa Apa?

Senyum Anak TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

    Senyum Anak TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

Setiap manusia selalu memiliki kepentingan di dalam hidupnya. Kepentingan itu akan manusia bawa dimanapun dia berada dan kapanpun dia beraktivitas. Tak terkecuali juga dengan kegiatan para wanita dewasa yang menjalankan ibadah di masjid. Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Meski berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid kerap kali disalahgunakan untuk meraih tujuan pribadi. Selama bulan puasa ini emak-emak, sebutan untuk ibu-ibu di pedesaan, menguasai masjid sepenuhnya. Para wanita dewasa itu melakukan berbagai kegiatan di masjid dari pagi hingga malam hari. Mereka pun bisa mengendalikan berbagai keputusan penting yang terkait dengan pengelolaan masjid, termasuk juga keuangan masjid.

Emak-emak penguasa masjid bisa mengatur jadwal tadarus. Sebagian besar waktu tadarus diambil alih oleh kelompok emak-emak itu. Tadarus mereka pun berlangsung selama dua sesi. Sesi pertama dimulai dari pukul setengah delapan malam usai shalat tarawih hingga pukul sembilan malam. Setelah itu, emak-emak itu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan tadarus pada pukul setengah lima pagi usai menjalankan sholat subuh sampai dengan pukul sembilan pagi. Durasi tadarus mereka di masjid pun semakin panjang karena mereka mampu menguasai keputusan penting terkait jadwal kegiatan ibadah.

Kelompok pemuda dan remaja tidak terlalu mendominasi pengambilan keputusan di lingkungan masjid Baitussalam di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Para pemuda itu mendapatkan bagian tadarus dari pukul sembilan malam sampai dengan pukul sebelas malam. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan tadarus mulai pukul 03.00 sampai pukul 04.00 pagi. Durasi tadarus remaja putra ini terbilang singkat. Sekali lagi, wanita mendominasi pengaturan keputusan jadwal tadarus. Suka atau tidak suka, inilah kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat sekitar lokasi masjid.

Lupa Regenerasi Umat

Setiap tempat ibadah memiliki ciri khusus pergaulan lingkungan yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Jika pada beberapa mushola di Dusun Guwo selalu mengutamakan peran serta anak-anak dan remaja dalam kegiatan membaca Alquran di bulan ramadhan, maka sebaliknya emak-emak yang menguasai masjid. Entah apa yang terlintas dalam pikiran mereka sehingga kurang memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk tampil dan mengisi kegiatan ibadah di masjid. Apakah mereka tidak berfikir bahwa mereka tidak selamanya hidup di dunia. Jika para orang tua telah wafat lalu siapakah yang akan meramaikan kegiatan ibadah di masjid kalau bukan remaja dan anak-anak.

Para orang tua juga kerap melarang anak-anak kecil untuk datang ke masjid dengan alasan mengganggu kekhusyukan jamaah menjalankan ibadah sholat. Itu salah. Anak-anak kecil itu tetap harus diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di masjid. Meskipun mereka berbuat kegaduhan dan menciptakan suasana tidak nyaman, anak-anak kecil itu tetap bagus dibina untuk bisa berlaku sopan dan tertib selama beribadah di masjid. Anak-anak perlu diberikan ruang khusus dan waktu khusus untuk menjalankan ibadah di masjid sehingga keberadaan mereka tetap bisa dikendalikan secara teratur.

Anak-anak yang terkekang justru akan menjadi bom waktu yang bisa melemahkan persatuan islam dan meruntuhkan minat anak-anak muda untuk membangun tempat ibadah mereka di masa yang akan datang. Sudah saatnya kita akhiri post-power syndrome untuk kebaikan umat. Semoga ibadah kita di bulan puasa ini bisa menjadi momen yang bagus untuk introspeksi diri dalam mengendalikan sikap dan ucapan kepada sesama manusia.

Bagikan artikel ini melalui:

2 Replies to “Ketika Emak-emak Menguasai Masjid, Remaja Bisa Apa?”

  1. Di mana-mana masjid masalahnya sama. jamaah masjid dari kelompok perempuan selalu ingin menguasai dengan caranya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *