Post Power Syndrome (Masih) Menjadi Momok Regenerasi Pemimpin Organisasi Pemuda

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Ilustrasi orang tua yang memerintah anaknya dari cerita Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Apa kabar kawan komunitas blogger Jombang? Belum tuntas masalah buruknya keteladanan orang tua bagi perkembangan mental anak, remaja saat ini harus menghadapi kendala lain dalam mengembangkan aktifitas berorganisasi. Contoh sederhana yang terjadi dalam kehidupan masyarakat adalah carut-marutnya kepemimpinan takmir masjid dan musholla. Mereka selalu menceramahi anak-anak dan remaja agar hidup rukun dengan sesama kawan namun perilaku mbah-mbah takmir justru saling bertikai dengan sesama. Ingin dihormati orang lain namun belum mampu menempatkan diri sebagai panutan. Sungguh ironis. Memang tidak semua tokoh sesepuh berlaku demikian. Namun sebagian besar menjalankan.

Penyakit berikutnya yang menghinggapi para mbah-mbah takmir adalah tidak rela jabatan ketua takmir dialihkan kepada orang lain. Tidak pernah menjadi imam sholat lima waktu. Tidak mau menginjakkan kaki ke musholla. Tapi giliran ada rapat PHBI ingin disebut sebagai yang terhormat. Jenis ketua takmir seperti ini pun tidak pernah menghargai keberadaan anak muda. Mereka dijangkiti penyakit susah menerima kenyataan bahwa roda kehidupan terus berputar dan siklus kepemimpinan harus berjalan. Dalam ilmu psikologi, kaum manula yang ingin disanjung ini menderita post power syndrome. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan secara medis. Hanya keikhlasan dan sikap rendah hati yang mampu membersihkan hati dari nafsu ingin berkuasa atas orang lain.

Bagaimana solusi menyikapi post power syndrome? Tidak ada jalan mulia selain menunjukkan kompetensi diri remaja dalam berbagai kesempatan. Para orang tua boleh saja enggan memberi tempat bagi pemuda untuk unjuk gigi namun remaja memiliki kesempatan-kesempatan kecil untuk mencuri perhatian masyarakat. Kepercayaan bukanlah barang pemberian yang mudah diambil alih dan bisa dibeli. Kepercayaan otomatis melekat pada diri seseorang yang konsisten menjalankan kebiasaan efektif. Hal ini bisa dimulai dari kebiasaan sederhana mengaji di masjid dan musholla. Masjid bukan hanya tempat sholat. Masjid juga bisa menjadi pusat kegiatan warga.

Cita-cita besar dapat dicapai dengan konsisten melaksanakan aksi-aksi kecil. Anda tidak dapat mengubah perilaku orang lain. Yang bisa Anda lakukan adalah mengubah perilaku diri sendiri sehingga dampaknya mampu menggerakkan hati orang lain agar lebih respek kepada Anda. Anak muda jaman sekarang harus sadar jangan pernah mengharapkan perubahan dimulai dari orang lainn. Remaja modern sebagai kaum terdidik memainkan peran sebagai agen perubahan di masyarakat. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberi inspirasi bagi kehidupan kawan-kawan pembaca blog The Jombang Taste. Mari niatkan hati untuk beribadah kepada-Nya. Selamat berbakti kepada masyarakat!

6 Replies to “Post Power Syndrome (Masih) Menjadi Momok Regenerasi Pemimpin Organisasi Pemuda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *