Cerita Rakyat Bali: Legenda Kebo Iwa dan Asal Usul Danau Batur

Cerita Rakyat Bali: Legenda Kebo Iwa dan Asal Usul Danau Batur
Cerita Rakyat Bali: Legenda Kebo Iwa dan Asal Usul Danau Batur

Masyarakat Nusantara memiliki kekayaan budaya yang amat beragam mulai dari Sabang sampai Merauke. Salah satu jenis kekayaan budaya Nusantara adalah cerita rakyat. Pada artikel blog The Jombang Taste sebelumnya kita sudah membahas Legenda Raja Baik Hati dari Kalimantan Selatan dan Legenda Asal Usul Danau Lipan dari Kalimantan Timur.

Berikutnya, mari cari tahu cerita rakyat Bali mengenai asal-usul Danau Batur dan Gunung Batur di Bali. Asal mula Danau Batur dan Gunung Batur tidak lepas dari legenda Kebo Iwa. Gunung berapi di Pulau Bali itu memiliki sejarah magis bagi penghuni Pulau Dewata. Siapakah Kebo Iwa?

Lama sebelum Pulau Bali dihuni banyak manusia, disana hidup seorang rakasasa bertubuh besar yang bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa berbadan gendut dan doyan makan. Makin hari tubuh Kebo Iwa makin besar. Makanannya banyak sekali. Meski demikian, ia suka membantu penduduk desa membuat rumah, mengangkat batu besar dan membuat sumur. Ia tidak minta imbalan apa-apa, kecuali makanan yang cukup untuknya. Dan penduduk harus menyediakan makanan dalam jumlah yang cukup banyak untuknya.

Ada kebiasaan buruk Kebo Iwa, yaitu bila sampai dua hari Kebo Iwa tidak makan maka ia akan marah. Jika marah ia akan mengamuk dan merusak apa saja yang ada di hadapannya. Tak peduli rumah atau pura akan dirusaknya. Kebun dan sawah juga dirusaknya padahal kebun dan sawah itulah lahan tempat menanam bahan pangan. Karena tubuhnya sangat besar, makannya pun sangat banyak. Penduduk kewalahan memenuhi permintaannya.

Porsi makan Kebo Iwa sama seperti menyiapkan makanan seratus orang. Walau penduduk desa sudah tidak membutuhkan tenaganya, mereka harus tetap menyediakan makanan untuk Kebo lwa. Penduduk merasa diperas. Kedudukan Kebo Iwa yang awalnya bisa membantu aktifitas penduduk malah menjadi beban bersama. Karena jika Kebo Iwa lapar ia akan marah dan menghancurkan apa saja maka penduduk mulai mengatur siasat untuk menyingkirkannya.

Pada suatu ketika Pulau Bali dilanda musim kemarau. Semua lumbung padi milik penduduk mulai kosong. Beras dan bahan makanan lain mulai sulit diperoleh. Setelah sekian lama terjadi musim paceklik, hujan pun tidak kunjung datang. Penduduk mulai khawatir keadaan Kebo Iwa sebab jika ia lapar pasti akan mengamuk. Mereka was-was karena bahan makanan sudah hampir habis dan tidak mungkin menanggung biaya hidup Kebo Iwa yang makannya sangat rakus.

Benar saja kekhawatiran penduduk. Ketakutan mereka atas kemarahan Kebo Iwa mulai terjadi. Suatu hari Kebo Iwa merasa lapar, tapi makanan belum siap karena persediaan bahan makanan penduduk desa sudah habis. Jangankan untuk Kebo lwa, untuk mereka makan sendiri saja sudah tidak ada. Belum lagi anggota keluarga mereka yang masih kecil membutuhkan makanan lebih banyak lagi.

Karena tidak ada makanan yang disajikan oleh penduduk, Kebo Iwa pun marah dan mengamuk. Ia menghancurkan rumah-rumah milik penduduk. Sawah dan ladang telah rusak parah dan tidak terlihat satupun tanaman berdiri. Pura sebagai tempat ibadah juga tidak luput dari amukan Kebo Iwa. Kebo Iwa benar-benar menjadi makhluk raksasa yang buasa dan tidak memiliki rasa kasihan kepada manusia.

Penduduk berhamburan keluar dari rumah-rumah mereka dan melarikan diri ke desa tetangga. Tetapi Kebo Iwa terus mengejar sambil berteriak-teriak meminta makanan kepada penduduk.

“Mana makanan untukku! Cepat berikan makanan untukku! Jika tidak, kalian semua yang akan ku makan!” ancam Kebo Iwa.

Kebo Iwa semakin ganas. Ia lidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memakan hewan-hewan ternak milik penduduk. Para penduduk pun juga menjadi korban keganasan Kebo lwa. Penduduk ketakutan dan lari tunggang-langgang. Anak-anak kecil diamankan oleh para orang tua agar tidak terkena bahaya perbuatan Kebo Iwa.

Melihat kerusakan yang ditimbulkan Kebo Iwa maka para tetua penduduk menjadi kesal dan marah. Kemudian secara diam-diam mereka mengumpulkan warga dan mengatur siasat untuk membunuh Kebo Iwa. Penduduk berunding lama sekali. Masing-masing warga menyampaikan usulan mengenai cara terbaik mengatasi huru-hara ini.

Ada sebagian penduduk yang setuju menyingkirkan Kebo Iwa secepatnya. Menurut mereka, Kebo Iwa sudah tidak berguna lagi. Namun ada juga penduduk yang merasa kasihan melihat Kebo Iwa kelaparan. Menurut kelompok kedua ini, Kebo Iwa masih bisa dikendalikan asal persediaan makanannya dipenuhi.

Setelah berunding cukup lama, akhirnya mereka sepakat untuk mengajak damai Kebo Iwa. Dengan segala macam cara akhirnya mereka bisa mengumpulkan makanan yang banyak lalu mendekati Kebo Iwa yang masih menahan amarahnya. Penduduk mendekati Kebo Iwa dengan sangat hati-hati.

Pada saat itu Kebo lwa baru saja menyantap seekor kerbau. Ia kekenyangan dan berbaring di atas rumput.

“Hai Kebo Iwa !” tegur Kepala Desa.

“Ada apa? Mau apa kalian mendekatiku?” tanya Kebo lwa dengan curiga.

“Sebenarnya kami masih membutuhkan tenagamu. Rumah-rumah dan pura banyak yang kau hancurkan. Bagaimana kalau kau membantu kami membangunnya kembali. Kami akan menyediakan makanan yang banyak untukmu sehingga kau tak kelaparan lagi.” kata Kepala Desa.

“Makanan? Kalian akan menyediakan makanan yang enak untukku?” mata Kebo lwa berbinar mendengar kata makanan.

“Aku setuju. Aku akan membantu kalian,” lanjut Kebo Iwa.

“Tapi setelah membangun rumah-rumah penduduk kau juga harus membantu kami membuatkan sumur besar karena kebutuhan air penduduk semakin meningkat,” lanjut kepala desa.

“Tidak masalah, aku akan buatkan untuk kalian!” kata Kebo Iwa.

Kebo Iwa senang akan diberikan makanan. Dia tidak curiga sedikit pun kepada penduduk Bali.

Penduduk Memperdayai Kebo Iwa

Keesokan harinya sesuai dengan isi perjanjian, Kebo Iwa mulai bekerja. Dengan waktu yang terhitung singkat, beberapa rumah selesai dikerjakan oleh Kebo lwa. Rumah-rumah penduduk kini sudah berdiri lagi dengan kokoh. Sementara itu, para warga sibuk mengumpulkan batu kapur dalam jumlah besar. Kebo Iwa merasa bingung mengapa para warga sangat banyak mengumpulkan batu kapur. Padahal kebutuhan batu kapur untuk rumah dan pura sudah cukup.

“Mengapa kalian mengumpulkan batu kapur begitu banyak? ” tanya Kebo lwa kepada salah satu penduduk.

“Ketahuilah Kebo Iwa. Setelah kamu selesai membuat rumah dan pura milik kami, kami akan membuatkanmu rumah yang besar dan sangat indah,” kata Kepala Desa.

“Benarkah? Terima kasih. Ternyata kalian sangat baik padaku,” ujar Kebo Iwa dengan pandangan mata berbinar-binar.

Kebo Iwa sangat senang mendengar rencana pembuatan rumah untuknya. Tidak ada kecurigaan sedikit pun darinya. Ia semakin bersemangat membantu warga. Hanya dalam beberapa hari, rumah-rumah dan pura milik penduduk selesai dikerjakan. Warga pun senang karena mereka kini bisa tinggal di dalam rumah mereka dengan nyaman. Pura yang sudah berdiri pun kini dapat digunakan untuk beribadah seluruh warga.

Kini, pekerjaan yang tersisa untuk Kebo Iwa hanya tinggal menggali sumur besar. Pekerjaan ini memakan waktu cukup lama dan memerlukan lebih banyak tenaga. Kebo Iwa menggunakan kedua tangannya yang besar dan kuat untuk menggali tanah sampai dalam. Semakin hari lubang yang dibuatnya semakin dalam. Tubuh Kebo Iwa pun semakin turun ke bawah. Tumpukan tanah bekas galianyang berada di mulut lubang pun semakin menggunung.

Karena kelelahan, Kebo Iwa berhenti untuk istirahat dan makan. Ia makan sangat banyak. Setelah makan ia pun mengantuk dan tertidur di dalam lubang tanah yang dibuatnya sendiri. Kebo Iwa tertidur dengan mengeluarkan suara dengkuran yang sangat keras. Suara dengkuran Kebo lwa terdengar oleh para penduduk yang sedang berada di atas sumur. Penduduk saling melempar senyum. Mereka gembira karena sedikit lagi rencana mereka akan sukses terlaksana.

Akhirnya, para penduduk segera berkumpul di tempat lubang sumur tersebut. Mereka melihat Kebo Iwa sedang tertidur pulas di dalamnya. Pada saat itulah Kepala Desa memimpin warganya untuk melemparkan batu kapur yang sudah mereka siapkan sebelumnya ke dalam sumur. Karena tertidur lelap, Kebo Iwa tidak menyadari dirinya dalam bahaya.

Ketika air di dalam sumur yang bercampur kapur sudah mulai meluap dan menyumbat hidung Kebo lwa, barulah raksasa itu tersadar. Namun, lemparan batu kapur dari para warga semakin banyak. Kebo Iwa tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun memiliki badan sangat besar dan tenaga yang sangat kuat, ia tidak mampu melarikan diri dari tumpukan kapur dan air sumur yang kemudian menguburnya hidup-hidup.

Bongkahan-bongkahan batu kapur itu jatuh menghunjam ke tubuh Kebo Iwa. Batu kapur dan air yang bertemu di dalam lubang besar itu menghasilkan uap panas dan membakar tubuh Kebo Iwa. Meskipun tubuhnnya besar, Kebo Iwa tidak mampu menahan kesakitan akibat batu kapur yang mendidih di dalam air. Kebo Iwa terlihat menggelepar-gelepar selama bebarapa saat, gerakannya menimbulkan gempa sesaat tapi kemudian reda dan diam.

Penduduk bersorak karena mereka berpikir Kebo Iwa telah tewas terkubur di dalam sumur. Padahal ada bahaya lain yang siap menerjang desa itu. Sementara itu air sumur semakin lama semakin meluap. Air sumur itu membanjiri desa dan membentuk danau. Danau itu kini dikenal dengan nama Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah yang cukup tinggi membentuk bukit menjadi sebuah gunung dan disebut Gunung Batur.

Terdapat mitos yang berkembang di Pulau Dewata bahwa tiap kali Gunung Batur meletus, masyarakat Bali percaya Kebo Iwa sedang terbangun dan meminta makanan. Makanan yang diminta tidak lain adalah korban manusia dan binatang. Erupsi Gunung Batur akan berhenti jika sudah ada korban yang dimasukkan ke kawah gunung tersebut, demikian kisah mistis yang menyelimuti Gunung Batur.

Amanat cerita rakyat Bali mengenai Kebo Iwa ini adalah jika berjanji maka kita harus menepati. Kita tidak boleh berkhianat dengan orang lain yang telah membantu kita dalam bekerja. Semoga artikel cerita rakyat dari Bali ini bisa memberi inspirasi dalam kehidupan Anda. Sampai jumpa di artikel The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

7 thoughts on “Cerita Rakyat Bali: Legenda Kebo Iwa dan Asal Usul Danau Batur”

  1. Ceritanya ngawur ini mas… Jangan asal tulis tapi bisa mengaburkan sejarah asli dari kebo iwa itu sendiri.. Saya dari bali belum pernah mendengar cerita seprti ini.. Kebo iwa adalah mahapatih bali pada kerajaan bedahulu dan peninggalan2nya banyak tersebar di bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *