Cerita Rakyat Jawa Tengah: Dongeng Timun Emas Melawan Raksasa

Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan
Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan

Cerita rakyat Nusantara telah dikenal oleh masyarakat selama berabad-abad dan menjadi cerita motivasi kehidupan yang inspiratif. Misalnya, cerita legenda Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya mengajarkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Berikut ini blog The Jombang Taste berbagi cerita dongeng Timun Emas dari Jawa Tengah. Dongeng ini sangat populer di kalangan anak-anak. Selamat membaca.

Pada jaman dahulu di Jawa Tengah ada seorang janda yang sudah tua bernama Mbok Rondo. Pekerjaan Mbok Rondo adalah mencari kayu di hutan. Sudah lama sekali Mbok Rondo ingin mempunyai seorang anak. Tapi dia hanya seorang janda miskin, lagi pula sudah tua. Mana bisa ia mendapatkan anak. Meski demikian, ia selalu berdoa kepada Tuhan agar dianugerahi seorang anak yang bisa menemaninya di hari tua.

Kemudian suatu hari Mbok Rondo pergi ke hutan untuk mencari kayu. Setelah mengumpulkan kayu di hutan, Mbok Rondo duduk beristirahat sambil mengeluh. “Seandainya aku mempunyai anak, hidupku agak ringan sebab akan ada dia yang membantuku bekerja,”

Ketika sedang duduk beristirahat, tiba-tiba bumi tempat ia duduk bergetar, seperti ada gempa bumi. Di depan Mbok Rondo muncul raksasa bertubuh besar dan wajahnya menyeramkan. Mbok Rondo memandangnya dengan ketakutan. Ia tidak melakukan kesalahan apapun tapi mengapa ada raksasa mendatanginya.

“Hai, Mbok Rondo, kamu menginginkan anak? Aku bisa mengabulkan keinginanmu,” kata raksasa itu dengan suara keras. Rupanya raksasa itu mendengar ucapan Mbok Rondo dan tertarik membantunya.

“Benarkah kamu bisa memberiku seorang anak?” tanya Mbok Rondo. Rasa takutnya mulai menghilang. Kini ia memiliki harapan untuk mendapatkan anak. Tapi entah bagaimana caranya ia belum tahu.

“Aku bisa memberimu anak tapi ada syaratnya. Kalau anakmu sudah berumur enam belas tahun, kamu harus menyerahkannya kepadaku. Dia akan kujadikan santapanku,” jawab raksasa itu.

Karena begitu inginnya dia punya anak maka Mbok Rondo tidak berpikir panjang lagi. Baginya, yang penting ia bisa segera punya anak.

“Baiklah, aku tidak keberatan,” jawab Mbok Rondo.

Kemudian raksasa itu memberi biji mentimun kepada Mbok Rondo.

“Tanamlah biji mentimun ini. Kelak kamu akan bisa punya anak,” ucap raksasa dengan suara pelan.

“Baiklah. Terima kasih,” jawab Mbok Rondo.

Mbok Rondo masih belum paham. Bagaimana mungkin biji timun bisa menjadi bayi manusia. Namun ia tidak mau berputus asa. Ia melakukan saja apa yang dikatakan raksasa. Mbok Rondo segera pulang dan menanam benih itu di halaman belakang. Dua minggu kemudian, tanaman itu tumbuh subur dan sudah berbuah.

Di antara buah mentimun yang tumbuh, ada satu buah yang sangat besar. Warnanya kekuningan. Kalau tertimpa sinar matahari, buah itu berkilau seperti emas. Mbok Rondo memetik buah yang paling besar itu. Mbok Rondo mengambil pisau dan membelah buah itu. Lalu, ia membukanya dengan hati-hati.

Astaga! Ternyata ada seorang bayi perempuan yang cantik di dalam buah timun! Mbok Rondo sangat gembira. Ia menamakan bayi mungil itu dengan nama Timun Emas. Hidup Mbok Rondo tak lagi kesepian. Ia kini bahagia karena Tuhan telah mengabulkan permohonannya untuk memiliki anak.

Raksasa Menagih Janji

Setelah Mbok Rondo bertahun-tahun merawat anak gadisnya, Timun Emas tumbuh menjadi seorang gadis jelita. Mbok Rondo sangat menyayangi Timun Emas. Pagi itu hari sangat cerah. Matahari bersinar dengan terik. Mbok Rondo dan Timun Emas bersiap pergi ke hutan untuk mencari kayu. Belum lama Mbok Rondo melangkah dari pintu rumahnya, tiba-tiba bumi bergetar kemudian disusul suara tawa menggelegar.

“Wah, celaka!” tiba-tiba Mbok Rondo teringat akan janjinya pada si raksasa pemberi biji mentimun. Cepat-cepat ia menyuruh Timun Emas bersembunyi di kolong tempat tidur.

“Hai, Mbok Rondo, keluarlah! Aku datang untuk menagih janji,” kata raksasa itu.

Mbok Rondo berpikir keras bagaimana cara mengakali si raksasa. Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang dimilikinya, Mbok Rondo keluar menemui si raksasa.

“Aku tahu, kedatanganmu kemari untuk mengambil Timun Emas. Berilah aku waktu dua tahun lagi. Kalau Timun Emas aku berikan sekarang, tentu kurang lezat untuk disantap,” ujar Mbok Rondo mencari-cari alasan.

“Benar juga. Baiklah, dua tahun lagi aku akan datang. Kalau bohong, kamu akan ku telan mentah-mentah,” ancam raksasa itu.

Sambil tertawa, raksasa itu pergi meninggalkan rumah Mbok Rondo. Mbok Rondo merasa lega karena nyawa Timun Emas masih selamat. Setelah memastikan raksasa itu sudah pergi jauh dari rumhnya, kemudian ia menghampiri anaknya yang masih bersembunyi di kolong tempat tidur.

“Anakku, keluarlah. Raksasa itu sudah pergi,” kata Mbok Rondo.

“Aku tadi mendengar percakapan Ibu dengan raksasa itu. Rupanya raksasa itu menginginkan aku,” kata Timun Emas.

“Benar, anakku. Tapi, Ibu tidak rela kamu menjadi santapan raksasa itu,” kata Mbok Rondo sambil memeluk Timun Emas. Air matanya berlinang di pipi. Mbok Rondo lantas menceritakan asal-usul Timun Emas. Timun Emas mendengarnya dengan seksama. Kini ia mencari cara bagaimana mengalahkan si raksasa itu dua tahun yang akan datang.

Dua tahun kemudian, Timun Emas sudah dewasa. Wajahnya semakin cantik. Kulitnya kuning langsat. Tapi Mbok Rondo cemas jika teringat akan janjinya kepada si raksasa. Ia terlalu sayang dengan Timun Emas. Tidak mungkin ia akan menyerahkan Timun Emas menjadi makanan raksasa itu.

Kemudian pada suatu malam, ketika Mbok Rondo sedang tidur, ia mendengar suara gaib dalam mimpinya.

“Hai, Mbok Rondo, kalau kau ingin anakmu selamat, mintalah bantuan kepada seorang pertapa di Bukit Gandul.” Esok harinya, Mbok Rondo pergi ke Bukit Gandul sesuai saran orang yang ada dalam mimpinya.

Sesampai di Bukit Gandul ia bertemu dengan seorang pertapa. Pertapa itu memberikan empat bungkusan kecil yang isinya biji timun, jarum, garam, dan terasi. Mbok Rondo menerimanya dengan rasa heran. Sang pertapa menerangkan khasiat benda-benda itu.

Sesampainya di rumah, ia menceritakan perihal pemberian pertapa itu kepada Timun Emas. “Anakku, mulai saat ini kamu tidak perlu cemas. Kamu tak pedu takut kepada raksasa itu, sebab kamu sudah memiliki penangkalnya. Berdoalah selalu supaya Tuhan menyelamatkanmu,” kata Mbok Rondo.

“Iya Ibu,” jawab Timun Emas.

Ketika Mbok Rondo sedang menjahit baju untuk Timun Emas, tiba-tiba bumi berguncang pertanda raksasa datang.

“Hahaha… Mana Timun Emas! Ayo, cepat serahkan dia padaku. Aku sudah sangat lapar!” kata raksasa dengan suara menggelegar.

“Baiklah. Akan kubawa dia keluar,” kata Mbok Rondo. la segera masuk ke rumah. Diambilnya bungkusan pemberian sang pertapa, kemudian diberikan kepada Timun Emas.

Timun Emas Memperdayai Raksasa

“Anakku, bawalah bekal ini. Pergilah lewat pintu belakang sebelum raksasa itu menangkapmu,” kata Mbok Rondo dengan suara cepat.

“Baiklah, Mbok,” Timun Emas segera berlari lewat pintu belakang.

Mbok Rondo segera kembali menemui raksasa yang sudah menunggunya di depan rumah.

“Mbok Rondo, mana Timun Emas?” suara raksasa itu terdengar tidak sabar.

“Maafkan aku, Raksasa. Timun Emas ternyata sudah pergi.” Jawab Mbok Rondo menahan takut.

“Apa kau bilang?” geram raksasa itu menjawabnya.

Raksasa kecewa karena Timun Emas sudah pergi. Namun berkat kesaktiannya, raksasa itu dapat melihat Timun Emas yang sedang melarikan diri menjauhi rumahnya. Tanpa berkata-kata lagi, si raksasa langsung mengejar Timun Emas.

“Walau kau lari ke ujung dunia, aku pasti dapat mengejarmu,” teriak si raksasa.

Timun Emas mengandalkan kekuatan tubuhnya untuk terus berlari. Tapi karena terus menerus berlari, Timun Emas mulai kelelahan. Dalam keadaan terdesak, Timun Emas teringat akan bungkusan pemberian sang pertapa. Cepat ia taburkannya biji mentimun disekitarnya. Sungguh ajaib. Mentimun itu langsung tumbuh dengan lebat. Buahnya besar- besar.

Raksasa itu berhenti ketika melihat buah mentimun terhampar di hadapannya. Ia tergoda untuk memakannya. Dengan rakus ia segera melahap buah yang ada, sampai tak satu pun tersisa. “Ha.., ha… ha… buah mentimun ini dapat menambah tenaga,” kata si raksasa. Setelah kenyang, raksasa itu kembali mengejar Timun Emas.

Pada saat itu juga, Timun Emas membuka bungkusan dan menaburkan jarum ke tanah. Sungguh ajaib! Jarum jarum itu berubah menjadi hutan bambu yang lebat. Raksasa itu berusaha menembusnya. Namun tubuh dan kakinya terasa sakit karena tergores dan tertusuk bambu yang patah.

Raksasa itu pantang menyerah dan berhasil melewati hutan bambu itu sambil terus mengejar Timun Emas. Kekuatan tubuhnya sangat hebat sehingga ia tidak merasa lelah.

“Hai, Timun Emas, jangan harap kamu bisa lolos dariku!” seru si raksasa sambil membungkuk untuk menangkap timun Emas.

Dengan sigap, Timun Emas melompat ke samping dan berkelit menghindar.

“Oh, hampir saja aku tertangkap,” Timun Emas terengah-engah. Keringat mulai membasahi tubuhnya. la ingat pada bungkusan pemberian pertapa yang tinggal dua itu. Isinya garam dan terasi. la segera membuka tali pengikat bungkusan garam. Garam itu ditaburkan ke arah si raksasa. Seketika butiran garam itu berubah menjadi lautan.

Raksasa itu sangat terkejut, karena tiba-tiba tubuhnya tercebur ke dalam laut. Tapi, berkat kesaktiannya, ia berhasil berenang ke tepi. Ia kembali mengejar Timun Emas yang semakin menjauh darinya. Merasa dipermainkan, kemarahan raksasa itu semakin memuncak.

“Bocah kurang ajar! Kalau tertangkap, akan kutelan kau hidup-hidup!” ujarnya.

Timun Emas semakin khawatir karena raksasa itu berhasil melewati lautan yang sangat luas itu. Akan tetapi, ia tidak putus asa. la terus berlari meskipun sudah kelelahan. Raksasa itu terus mengejar. Timun Emas melemparkan isi bungkusan yang terakhir. Terasi itu langsung dilemparkan ke arah si raksasa. Tiba-tiba saja terbentuklah lautan lumpur yang mendidih.

Raksasa itu terkejut sekali. Dalam sekejap, tubuhnya ditelan lautan lumpur. Dengan segala upaya, ia berusaha menyelamatkan diri dari lumpur panas. Ia meronta-ronta. Tapi, usahanya sia-sia. Tubuhnya pelan-pelan tenggelam ke dasar lautan lumpur mendidih.

“Timun Emas, tolonglah aku! Aku berjanji tidak akan memakanmu,” raksasa itu meminta belas kasihan.

Tapi lumpur panas itu menelan tubuh si raksasa. Kini Timun Emas bisa bernapas lega karena selamat dari bahaya maut. la segera berjalan ke arah rumahnya. Ia sangat merindukan ibunya itu. Di kejauhan tampak Mbok Rondo berlari menyambut kedatangan Timun Emas. Kiranya wanita itu sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya.

“Syukurlah anakku, ternyata Tuhan masih melindungimu.” kata Mbok Rondo setelah keduanya saling mendekat. Mereka berpelukan dengan rasa haru dan bahagia. Kini Mbok Rondo dan Timun Emas dapat hidup bahagia tanpa takut gangguan raksasa.

Amanat cerita dongeng Timun Emas adalah siapa saja yang bersedia berusaha dengan keras dan berdoa kepada Tuhan maka akan ada jalan untuk mewujudkan keinginannya. Semoga cerita rakyat dari Jawa Tengah ini bisa memberi inspirasi bagi Anda.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Cerita Rakyat Jawa Tengah: Dongeng Timun Emas Melawan Raksasa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *