Cerita Rakyat Jawa Timur: Dongeng Keong Emas dan Mbok Rondo Dadapan

Cerita Rakyat Jawa Timur: Dongeng Keong Emas dan Mbok Rondo Dadapan
Cerita Rakyat Jawa Timur: Dongeng Keong Emas dan Mbok Rondo Dadapan

Blog The Jombang Taste kembali menghadirkan cerita rakyat Nusantara untuk Anda. Setelah membaca cerita dongeng Timun Emas melawan raksasa dan legenda asal-usul Gunung Tangkubanparahu, kali ini Anda dapat menikmati cerita dongeng Keong Emas dan Rondo Dadapan. Keong Emas adalah cerita rakyat dari Jawa Timur dan sudah dikenal luas oleh masyarakat. Selamat membaca.

Kisah dongeng Keong Emas bermula dari keberadaan kerajaan Panjalu yang beribukota di Daha atau sekarang kita kenal Kota Kediri. Raja Kediri mempunyai dua orang puteri. Puteri pertamanya adalah putri kandungnya yang bernama Dewi Chandrakirana, sedangkan putri yang kedua adalah Dewi Ajeng dari pernikahan kedua. Namun sayang sejak kecil ibu Chandrakirana ini meninggal dunia karena sakit sehingga Raja kemudian menikah lagi. Dengan permaisuri barunya itulah Raja mempunyai puteri bernama Dewi Ajeng.

Dewi Chandrakirana adalah gadis yang cantik. Ia Baik budi pekertinya. Perasaannya halus, dan hatinya lembut. Ia disukai oleh semua orang. Sementara itu Dewi Ajeng putri permaisuri yang baru wajahnya juga cantik tapi masih lebih cantik dan lebih lembut wajah Dewi Chandrakirana. Sebaliknya, ada bayangan watak kejam dan kaku pada diri Dewi Ajeng. Dewi Ajeng pun sering iri hati melihat kasih sayang Raja Panjalu kepada Dewi Chandrakirana.

Hingga pada suatu masa, Raja Panjalu sudah merencanakan akan menjodohkan Dewi Chandrakirana dengan Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Jenggala. Sebulan sebelumnya Raden Inu Kertapati telah berkunjung ke Daha. la sudah melihat dan berkenalan dengan Dewi Chandrakirana. Keduanya merasa cocok, yang satu tampan dan satunya lagi berwajah cantik jelita. Mereka saling jatuh cinta dan bersedia menikah di kemudian hari.

Raja Daha, sebutan lain untuk Raja Panjalu, sudah merencanakan bahwa empat puluh hari sejak perkenalan itu akan dilakukan pertunangan resmi. Raden Inu Kertapati bersama keluarga istana Jenggala akan datang melamar Dewi Chandrakirana. Waktu pertunangan itu hanya tinggal beberapa hari saja. Dewi Chandrakirana sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ia tidak tahu bahwa saudara tirinya memiliki iri dengki terhadap rencana pertunangan itu.

“Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan Chandrakirana berdampingan dengan Raden Inu Kertapati,” gumam Dewi Ajeng yang iri dan pencemburu. Dewi Ajeng lantas menyusun siasat agar Dewi Chandrakirana gagal bertunangan dengan Raden Inu Kertapati.

Dewi Ajeng Memfitnah Chandrakirana

Lalu pada malam harinya Dewi Ajeng berunding dengan ibunya. Sang ibu menyarankan agar ia pergi ke Nenek Gagak Ireng. Nenek Gagak Ireng adalah dukun wanita yang terkenal ampuh ilmu sihimya. Demi cita-citanya bersanding dengan Raden Inu Kertapati ia rela pergi jauh ke tempat Nenek Gagak Ireng.

Setelah mendapat bekal dari si dukun, Dewi Ajeng segera kembali ke istana. Tengah malam barulah ia sampai di istana dengan tubuh lesu karena perjalanan jauh. Namun hatinya bersorak gembira karena sebentar lagi ia dapat menyingkirkan pesaingnya, Dewi Chandrakirana.

“Kita harus dapat mengusir Chandrakirana dari istana ini. Bagaimana caranya Bu?” Permaisuri diam sejenak, kemudian tersenyum cerah. Ia ingat tugas Chandrakirana yang setiap hari menghidangkan secangkir teh kepada ayahandanya. Kebiasaan itulah yang akan dimanfaatkan Permaisuri.

Pada keesokan harinya, rencana itu dijalankan. Sebelum Chandrakirana melakukan tugasnya, diam-diam Permaisuri masuk ke ruang dapur. Ia menuang racun ke dalamg gelas teh yang telah disiapkan pelayan istana untuk dibawa Chandrakirana menghadap ayahandanya. Hati sang permaisuri berdegup kencang karena ketika hendak keluar dari pintu dapur ia berpapasan dengan Chandrakirana.

“Oh, Ibunda… mengapa harus repot-repot ke dapur? Biarkan hamba yang mempersiapkan sendiri.” tegur Chandrakirana.

“Tidak…tidak ada apa-apa. Aku hanya datang untuk melihat-lihat pekerjaan para pelayan saja,” jawab Permaisuri dengan gugup.

“Terima kasih Ibunda telah ikut memperhatikan persiapan para pelayan menyambut kedatangan Raden Inu Kertapati.” kata Chandrakirana dengan polos. Gadis ini menyangka sang permaisuri bersimpati kepadanya.

Seperti biasa, Chandrakirana mengantarkan secangkir teh untuk ayahandanya. Kegiatan itu dilakukan untuk mendekatkan hubungan antara ayah dan anak. Biasanya, sambil minum teh mereka berbincang-bincang seputar keluarga. Sang Prabu meminum separuh isi cangkir teh. Teh itu terasa hangat di dalam tenggorokan dan perutnya.

“Hem, teh bikinanmu memang enak anakku,” ujar sang Prabu.

“Terima kasih Rama Prabu,” sahut Chandrakirana.

Tapi sesaat kemudian sang Prabu memegangi perutnya yang terasa mual. Rasa mual itu semakin menghebat. Mual itu berganti pusing. Pandangan matanya berputar-putar.

“Rama Prabu….” Chandrakirana berteriak.

“Kenapa Rama Prabu? Ada apa kiranya?” Tapi sang Prabu bukannya menjawab, sepasang matanya nampak mendelik, nafasnya tersenggal-senggal. Kemudian malah muntah darah. Chandrakirana kiranya segera memeluk ayahnya yang hendak roboh.

Tepat pada saat itu Permaisuri datang. Permaisuri menuding ke arah Chandrakirana.

“Apa yang telah kau lakukan? Teganya kau hendak membunuh ayahmu sendiri. Kau pasti telah meracuninya. Pengawal! Segera tangkap Chandrakirana! Dia berusaha membunuh Raja!” ucap Permaisuri dengan suara lantang.

“Tidak! Tidak mungkin saya meracuni Rama Prabu yang sangat saya sayangi,” ujar Chandrakirana dengan suara ketakutan.

Beberapa orang pengawal datang. Sang Prabu segera diangkat ke pembaringan. Sebagian pengawal membawa Chandrakirana menyingkir dari kamar raja. Atas perintah Permaisuri, Chandrakirana dimasukkan ke dalam penjara malam itu juga.

Tabib istana segera datang rnemeriksa. Wajah pakar kesehatan istana Kediri ini nampak tegang. la memeriksa tubuh sang Prabu dengan seksama. Beberapa saat kemudian sang Tabib bernafas lega. Walau sang Prabu belum sadarkan diri.

“Beliau terkena racun” ujar sang Tabib. Sontak keluarga kerajaan yang dihadir di ruangan itu terkejut. Siapakah pelaku yang tega melakukannya.

“Tapi untungnya racun ini tidak terlalu ganas. Walau demikian beliau harus istirahat total selama beberapa hari,” tambah sang tabib.

Peristiwa raja keracunan menghasilkan keguncangan di kalangan istana dan rakyat jelata. Kini mereka semua sadar bahwa ada orang-orang tertentu yang menginginkan raja celaka. Bukan hanya itu, mereka pun kini saling curiga satu sama lain terkait siapa orang yang telah berani memberi racun pada minuman sang raja.

Chandrakirana Diusir dan Disihir

Pada esok harinya raja telah siuman. Ia berusaha mengingat kembali kejadian sehari sebelumnya. Ia betul-betul tidak menyangka puteri kandungnya sendiri bermaksud membuatnya celaka. Ia segera memerintahkan semua anggota keluarga kerajaan berkumpul, termasuk Chandrakirana.

Chandrakirana dikeluarkan pengawal dari balik jeruji besi. Ia dihadirkan di hadapan sidang kerajaan.

“Chandrakirana, apa sesungguhnya yang kau inginkan?” hardik Sang Raja tertuju kepada Chandrakirana.

“Ananda hanya menginginkan kesehatan dan kebahagiaan Rama Prabu.” Jawab Chandrakirana pelan.

“Tapi buktinya kau telah mencoba membunuhku,” sanggah Sang Raja.

“Bukan hamba pelakunya,” Chandrakirana berusaha membela diri.

“Hukum harus ditegakkan di kerajaan ini. Tak terkecuali terhadap anakku sendiri. Bukti dan saksi telah memberatkan tuduhan perbuatan jahatmu. Kau seharusnya dijatuhi hukuman mati. Tapi aku cukup bijak, kau harus pergi dari istana ini,” ujar Sang Raja.

“Rama Prabu harus menyelidiki masalah ini lebih dalam lagi. Ananda tidak bersalah.” Chandrakirana masih tetap berusaha membela diri.

“Kau harus pergi dari istana ini!” Dengan berlinang air mata Chandrakirana terpaksa meninggalkan istana Kediri.

Sekarang dia sendirian dan tidak memiliki siapa pun. Hatinya hancur. Ia tidak menyangka perbuatan baiknya selama ini kepada Sang Raja malah menghasilkan fitnah yang menyengsarakan. Ia melangkah tanpa tujuan. Dengan derai mata ia terus berjalan hingga sampai di tepi pantai.

Tanpa setahu Chandrakirana, sejak tadi dari kejauhan Dewi Ajeng dan Nenek Gagak Ireng mengikutinya diam-diam. Mereka berdua belum menyelesaikan tugas menghancurkan kehidupan Chandrakirana. Masih ada satu langkah lagi.

“Nenek Gagak Ireng, itu dia Chandrakirana,” bisik Dewi Ajeng.

“Ya, aku sudah tahu. Kau tunggu di sini! Biar aku sendiri yang maju menanganinya,” kata Nenek Gagak Ireng.

Nenek tua itu bergegas menghampiri Chandrakirana. Ia berjalan dengan hati-hati. Kakinya melangkah hampir tanpa suara. Setelah cukup dekat Nenek itu membaca mantranya. Tongkat hitam di tangannya diacungkan ke udara beberapa kali. la menarik napas panjang hingga perutnya membesar.

Dewi Ajeng yang berada di samping Nenek Gagak Ireng bergidik dan merinding ketakutan. Saat itu Chandrakirana berada di dekat sebuah batu karang, Nenek Sihir menghembuskan udara dari perutnya dengan sekuat tenaga.

Wusss! Blessss…! Angin kuat penuh hawa sihir menerjang ke arah Chandrakirana. Tubuh Chandrakirana terpelanting ke tepi laut. Begitu menyentuh air laut tubuh Chandrakirana tiba-tiba berubah menjadi keong berwarna emas.

Dewi Ajeng menangkap keong itu dengan kegirangan. Lalu dengan sekuat tenaga Keong itu dilempar ke tengah laut. Dewi Ajeng senang bukan kepalang. Kini penghalangnya sudah tidak ada. Ia bisa disayangi oleh raja seorang diri, tanpa harus berbagi. Bukan hanya itu, Raden Inu Kertapati pun pasti akan jatuh cinta padanya.

“Terima kasih, Nenek.” kata Dewi Ajeng sembari mengeluarkan kantung uangnya. “Ini uang untuk Nenek karena telah berhasil membantu aku,” ujarnya. Nenek Gagak Ireng menerima uang pemberian Dewi Ajeng dengan senang hati. Keduanya lantas meninggalkan pantai dan kembali ke istana dengan meraih kemenangan.

Sementara itu, tubuh Chandrakirana yang telah berubah menjadi keong terombang-ambing ditengah laut karena terbawa ombak. Gadis yang malang itu tidak bisa melakukan apa pun, kecuali berdo’a agar Dewata Yang Maha Agung menolong dan membawanya kembali ke darat. Selama beberapa hari ia berada di tengah-tengah lautan. Chandrakirana adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati sehingga do’anya dikabulkan.

Ombak perlahan-lahan membawanya ke dekat pantai yang tenang. Kebetulan di tepian pantai itu ada seorang nenek tua yang mencari ikan. Nenek ini sudah bermaksud pulang. Namun ia masih menebar jala kecilnya. Kini ia dapat satu ekor lagi yang agak besar. Ia merasa sangat bersyukur. Ia celupkan jaring itu ke dalam air. Kini ia mengayuh sampannya untuk pulang.

Keong Mas Diselamatkan Mbok Rondo Dadapan

Chandrakirana yang kini menjadi keong terbawa ombak hingga ke tepian. Ia merambat di sebuah batu hitam. Kebetulan nenek tua itu menambatkan sampannya tak jauh dari keong itu berada. Melihat bentuk keong yang menarik, nenek itu tertarik untuk memiliki.

“Kelihatannya keong ini lucu dan manis. Baiklah,. kubawa pulang saja ke rumah. Kau akan kupelihara.” ujar si nenek tua.

Lantas, keong emas itu diambilnya dan diletakkannya bersama ikan-ikan hasil tangkapannya di dalam keranjang ikan. Keong emas kini merasa lega karena tidak lagi terombang-ambing di laut. Ia ingin mengungkapkan rasa terima kasih pada nenek itu, tapi sayang ia tidak bisa berbicara.

Tidak lama kemudian, nenek tua itu membawanya ke sebuah gubug kecil. Ikan hasil tangkapannya hari itu, dia letakkan di atas tempayan, termasuk keong emas. Keong emas diletakkan di dekat kendi air, di dalam rumahnya. Sekali lagi ia memandangi keong emas itu. Sungguh indah cangkangnya, ia bergumam.

Ia kemudian mencari kayu bakar untuk memasak. Tak lama kemudian ia kembali lagi untuk mengolah ikan hasil tangkapannya. Pada malam harinya, nenek itu sudah kelelahan. Ia tidur dengan lelap. Pada malam hari itulah tanpa sepengetahuannya. Keong emas berubah menjadi seorang gadis cantik yang tak lain adalah Chandrakirana. Ternyata pengaruh sihir Nenek Gagak Ireng akan lenyap jika malam hari telah tiba.

Esok harinya ketika bangun pagi sang nenek merasa terkejut. Sungguh, amat mengagetkan. Di atas meja makan, di dalam rumahnya telah terhidang berbagai macam makanan lezat. Setelah sarapan pagi sang nenek pergi ke pantai mencari ikan. Siang itu nasib si nenek agak kurang baik. Ia sudah berusaha sekuat tenaganya menjaring ikan. Namun hingga menjelang sore yang didapat hanya seekor ikan.

Dengan langkah gontai ia pulang ke rumah. Kalau hanya seekor dia tidak dapat menukarnya dengan beras atau bahan makanan lainnya di pasar desa. Ia tidak tahu harus makan apa esok hari. Karena kelelahan dan kecewa ia pun segera beristirahat. Tak berapa lama kemudian ia tertidur lelap hingga pagi hari. Pagi itu ia dikejutkan lagi dengan adanya hidangan masakan lezat di atas meja.

Keong Emas baru menyadari ternyata kutukan nenek sihir itu hilang di malam hari. Karena itu, selama beberapa jam, dia bisa kembali ke wujud manusianya. Dia memanfaatkan keadaan itu untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada nenek nelayan dengan memasakkan makanan untuknya.

Kejadian di meja makan ternyata tidak terjadi sekali, tetapi berkali-kali. Hal itu membuat nenek nelayan penasaran. Dari mana asal mula makanan-makanan enak itu? Apakah ada seseorang yang sengaja memasak makanan untuknya di malam hari?

Terdorong oleh rasa penasarannya, maka pada suatu hari setelah mencari ikan nenek nelayan pura-pura tidur. Malam pun tiba. Perlahan-lahan nenek memicingkan matanya. la mengintip apa yang terjadi di dalam rumahnya. Ia terkejut bukan kepalang. Dia melihat keong emas menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita. Buru-buru dia bangkit dari pembaringan.

“Kamu siapa?” tanya nenek nelayan. Chandrakirana kaget sekali tiba-tiba ditegur nenek nelayan.

“Aku Chandrakirana putri Kerajaan Daha. Entah mengapa, aku tiba-tiba menjadi keong emas,” jawab Chandrakirana.

“Lalu, kenapa kamu memasak makanan untukku?” tanya nenek nelayan.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih karena nenek telah menyelamatkanku dari tepi laut,” ujar Chandrakirana.

“Oh, kau adalah jelmaan keong emas yang kutemukan di pantai?” ujar nenek itu setengah tidak percaya.

“Benar nenek, tolong biarkan aku tetap berada di rumah ini bersama nenek.” Jawab Chandrakirana yang tak lain adalah penjelmaan keong emas.

“Tidak mengapa. Kau boleh tinggal di tempat ini. Aku akan menganggapmu sebagai anakku sendiri.” Nenek itu menjawab dengan pelan.

“Terima kasih nenek yang baik.” Chandrakirana membalasnya.

“Jangan khawatir anakku,” kata si nenek.

“Aku yakin kau adalah orang baik. Mari kita bersama-sama tiada hentinya memohon kepada Tuhan agar kau dipulihkan seperti sedia kala.” Si nenek melanjutkan ucapannya.

“Terima kasih nenek.” Kata Chandrakirana.

Sejak saat itu, Chandrakirana tinggal bersama nenek baik hati itu. Ternyata nenek itu bernama Mbok Rondo Dadapan, artinya nenek janda dari desa Dadapan. Setiap malam tiba si nenek berdo’a kepada Tuhan agar Chandrakirana dipulihkan seperti sedia kala.

Demikianlah kehidupan Chandrakirana berlangsung setiap hari. Jika siang hari Chandrakirana berubah menjadi keong emas. Namun jika malam tiba ia kembali menjadi seorang gadis cantik. Ia gunakan kesempatan malam hari untuk membantu nenek penolong itu memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Chandrakirana Bertemu Inu Kertapati

Sementara itu, pada saat Chandrakirana terkena sihir menjadi keong emas dan harus hidup di sebuah gubuk bersama Mbok Rondo Dadapan, di tempat lain terdapat seorang pangeran yang sedang mencari kekasih hatinya. Di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, ada seorang pemuda berwajah tampan sedang berkelana dengan menunggang kuda.

“Oh Dinda Chandrakirana, di manakah engkau gerangan berada?” pemuda itu berkata kepada dirinya sendiri.

Pemuda itu tak lain adalah Raden Inu Kertapati. Ia telah mengembara ke berbagai desa untuk mencari Chandrakirana yang telah hilang dari istana. Sejak rencana pertunangannya dengan Chandrakirana batal terlaksana, ia bersedih hati. Raden Inu Kertapati bertekad akan terus mencari Chandrakirana walau kemanapun harus melangkah. Sudah berbulan-bulan ia menyusuri pelosok negeri sambil terus berharap dapat bertemu dengan Chandrakirana.

Lalu pada suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek tua di pinggir jalan. Kakek tua itu terlihat sangat lemah. Pakaiannya compang-camping serta tubuhnya kotor. Melihat kedatangan Raden Inu Kertapati, kakek tua itu berniat meminta tolong.

“Anak muda, saya sudah tiga hari belum makan,” rintih kakek tua itu.

Raden Inu Kertapati mendekat lalu memapah kakek itu untuk berteduh di bawah pohon jambu. Dia memetik beberapa buah jambu yang masak untuk si kakek. Kakek itu lantas memakan buah jambu pemberian Raden Inu Kertapati.

“Terimakasih nak, kamu baik sekali,” kata si kakek.

“Sebenamya kamu mau kemana?” tanya si kakek.

Raden Inu Kertapati menjawab “Saya sedang mencari putri Chandrakirana yang diusir dari kerajaan Kediri. Sudah berbulan-bulan saya mencari tapi belum bertemu.”

Kakek itu bergumam lalu menunjukkan padanya jalan menuju tempat Sang Putri. Raden Inu Kertapati kemudian meneruskan perjalanannya mengikuti jalan yang telah ditunjukkan kakek tadi. Dia menanyai orang-orang desa yang ia lewati tentang Putri Chandrakirana. Penduduk setempat sangat baik hati dan bersedia menunjukkan keberadaan gubuk Mbok Rondo Dadapan. Mereka sudah tahu bahwa di gubuk itu ada gadis yang disihir menjadi keong emas.

Selama setengah hari sudah Raden Inu Kertapati menunggang kuda menuju Desa Dadapan. Tak lama kemudian ia berhenti di sebuah desa di pinggir pantai. Hari sudah malam dan tidak ada rumah penduduk yang buka. Karena sudah beberapa hari tidak makan dan minum maka ia merasa sangat haus. Ia turun dari kudanya dan bermaksud meminta minum kepada salah seorang penduduk. Penduduk tersebut kebetulan adalah Mbok Rondo Dadapan.

Gubuk itu terlihat ada cahaya lampu temaram, berarti penghuninya belum tidur.

“Maaf nek, bolehkah saya meminta seteguk air?” tanya Raden Inu Kertapati dengan sopan.

“Oh, boleh…. sebentar nenek ambilkan,” jawab nenek itu.

Nenek itu masuk ke dalam rumah. Raden Inu Kertapati masih diluar rumah. Malam itu bulan bersinar terang. Raden Inu Kertapati kembali teringat kepada Chandrakirana. Andai kekasihnya itu ada di sampingnya, tentu ia saat ini bahagia. Lamunannya terhenti manakala si nenek datang.

Raden Inu Kertapati mencium bau makanan yang sedap sekali. Rasa lapar membuatnya ingin segera menyantap makanan itu. “Mungkin nenek sedang memasak makanan enak.” pikir Raden Inu Kertapati.

Ketika nenek kembali membawa kendi berisi air, Raden Inu Kertapati bertanya “Nenek masak apa? Baunya sangat enak.”

“Oh, bukan Nenek yang masak,” jawab nenek itu.

Nenek pemberi air minum yang tak lain Mbok Rondo Dadapan itu pun menjelaskan panjang lebar mengenai Chandrakirana yang dikutuk menjadi Keong Emas dan ditemukannya di tepi laut. Raden Inu Kertapati mendengar cerita Mbok Rondo Dadapan dengan mata berbinar-binar. Dalam hatinya ia bersorak riang. Pencariannya selama ini akan menemukan hasil. Gadis yang setiap malam memasakkan makanan untuk nenek itu adalah Chandrakirana.

“Jadi yang memasak di dapur itu Chandrakirana?” Raden Inu Kertapati senang sekali.

“Tolong, Nek! Pertemukan kami berdua,” Ujar sang pangeran dengan tak sabar.

Mbok Rondo Dadapan lalu memanggil Putri Chandrakirana. Raden Inu Kertapati menunggu hati berdebar.

“Pangeran Inu Kertapati,” Putri Chandrakirana berteriak kegirangan bertemu dengan kekasihnya yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa itu.

Pangeran Inu Kertapati menyambut dengan gembira. Keduanya berpelukan erat untuk melepas rindu yang mendalam. Hari itu juga, Pangeran Inu Kertapati mengajak Putri Chandrakirana bersama Mbok Rondo Dadapan pulang ke istana. Raja Daha sudah menyelidiki masalah minuman beracun yang diberikan Chandrakirana kepadanya. Ia sadar Chandrakirana tidak bersalah karena telah difitnah oleh Permaisuri.

Ketika Pangeran Inu dan Putri Chandrakirana telah tiba di kerajaan Kediri, Dewi Ajeng sangat kaget. Ia tidak menyangka sihir itu sudah hilang. Ia segera menemui Nenek Gagak Ireng, penyihir yang sudah menjadikan Chandrakirana berubah menjadi keong emas.

Nenek Gagak Ireng berkata kepada Dewi Ajeng bahwa pengaruh sihirnya akan hilang bila Chandrakirana telah bertemu Pangeran Inu Kertapati. Dewi Ajeng sangat marah karena ia merasa tidak diberitahu terlebih dulu oleh si nenek sihir itu.

“Kenapa kau tidak bilang dari dulu!” Dewi Ajeng membentak Nenek Gagak Ireng.

“Memangnya kau mau apa?” ujar Nenek Gagak Ireng balik menantang Dewi Ajeng. Si nenek sihir itu tersinggung karena diperlakukan tidak sopan oleh Dewi Ajeng.

“Apa kau mau ku sihir jadi keong juga?” ancam Nenek Gagak Ireng.

“Tidak! Jangan nek!” rintih Dewi Ajeng.

“Kau harus tahu dan merasakan seperti apa jika dirimu berubah menjadi keong!”

“Jangan nek! Jangan…” Dewi Ajeng meronta.

Namun terlambat, Nenek Gagak Ireng yang sudah terlanjur marah telah menyihir Dewi Ajeng menjadi keong. Hanya saja warnanya bukan emas, tetapi seekor keong yang berwarna hitam. Dewi Ajeng lalu berubah menjadi keong hitam. Tidak cukup sampai disitu, Nenek Gagak Ireng lalu membuang keong hitam itu di tengah lautan, sama persis ketika Dewi Ajeng membuang keong emas dulu.

Selang sehari setelah peristiwa itu Raden Inu Kertapati dan Dewi Chandrakirana melangsungkan pertunangan. Pertunangan yang sempat tertunda itu akhirnya dapat terlaksana. Dan tak lama kemudian mereka melangsungkan pernikahan dengan meriah. Raja Daha pun bahagia karena putrinya telah kembali. Sepasang kekasih yang sempat terpisah berbulan-bulan itu kini menjadi sepasang suami istri dan hidup bahagia.

Demikian cerita legenda keong emas dari Jawa Timur bersama blog The Jombang Taste. Amanat cerita rakyat ini adalah kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Meskipun ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita, kita tidak seharusnya membalasnya dengan kejahatan pula. Kesabaran dan ketekunan berbuat kebajikan dapat mengantarkan kita melewati masa-masa sulit dalam hidup ini. Semoga terinspirasi.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

5 Replies to “Cerita Rakyat Jawa Timur: Dongeng Keong Emas dan Mbok Rondo Dadapan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *