Kisah Legenda Mahapatih Gajah Mada Menjadi Perdana Menteri Kerajaan Majapahit Tiga Periode Raja

Legenda Ki Ageng Sela Tokoh Sakti Sang Penangkap Petir dari Jawa Tengah
Legenda Ki Ageng Sela Tokoh Sakti Sang Penangkap Petir dari Jawa Tengah

Pada tahun 1293 berdirilah Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Raden Wijaya. Mula-mula ia hanyalah sebuah kerajaan kecil di sekitar daerah Mojokerto. Raden Wijaya berhasil meluaskan kekuasaannya. Daerahnya meliputi Jawa Timur dan Madura. Majapahit berkembang menjadi negara besar. Masa pemerintahan Raden Wijaya tidak lama, yaitu mulai tahun 1293 sampai dengan tahun 1309.

Kemudian setelah itu kerajaan jatuh pada anaknya, Jayanegara yang memerintah mulai tahun 1309 sampai 1328. Tiada berapa lama pecah pemberontakan-pemberontakan. Untung benar, dapat dipatahkan semua. Meskipun demikian suasana Kerajaan Majapahit belum aman. Bahaya masih mengancam.

Masih banyak yang mengancam karena tidak menyukai Jayanegara. Mereka bermaksud melakukan pemberontakan. Mereka ingin menguasai negara. Pada suatu hari, terjadi hal yang luar biasa. Ibukota Majapahit biasanya selalu ramai. Di jalan-jalan raya bersimpang siur kereta ditarik dua atau empat ekor kuda.

Para perwira dan punggawa hilir mudik mengendarai kudanya. Pejalan-pejalan kaki beriring-iringan di tepi jalan. Jalan itu teduh, karena di kiri kanannya ditumbuhi pohon-pohon rindang. Di pasar-pasar orang sibuk berjual beli. Gemanya terdengar dari jauh.

Tetapi pada hari ini sepi benar. Tidak seorangpun kelihatan berbisik-bisik di jalan kota. Pasar-pasar juga sunyi. Orang di kampung dan pinggiran juga berdiam di dalam rumah mereka.

“Ada pemberontakan lagi? Bagaimana dengan raja? Apakah baginda selamat? Baginda tidak ada di keraton?” tanya salah seorang penduduk Majapahit.

Tidak seorangpun mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka tidak mengetahui bagaimana nasib Raja Jayanegara. Mereka saling bertanya dan dijawabnya sendiri. Jawabannya bermacam-macam. Maklumlah, pada waktu itu belum ada radio ataupun televisi, maupun surat kabar. Tetapi, apakah yang sebenarnya sudah terjadi di Majapahit?

Pemberontakan di Majapahit

Pada tahun 1319, timbul pemberontakan Kuti. Pemberontak berhasil mengepung pasukan keraton. Bahkan pemberontak masuk ke dalam istana. Mereka mendesak barisan penjaga istana. Mereka hampir dapat menangkap Jayanegara.

Untung benar seorang opsir muda, berhasil menyelamatkan raja. Ia bernama Gajah Mada. Ia adalah komandan pasukan Bhayangkari. Dengan cepat raja dibawa ke luar keraton. Mereka melalui pintu rahasia. Mereka lari ke desa Badander. Pasukan pemberontak sia-sia mencari Jayanegara.

Opsir muda yang menyelamatkan raja lalu menyamar sebagai rakyal jelata. Ia kembali masuk ke ibukota. Kepada orang-orang yang berjumpa, ia berkata, “Adakah kalian mendengar kabar tentang raja Jayanegara?”

“Bagaimana kami tahu? Sudah lama kami tidak mendengar sesuatu tentang baginda!”, jawab orang-orang itu.

“Jangan berkata kepada siapa-siapa ya. Saya ada kabar tentang baginda. Raja kini sudah tidak ada lagi. Baginda sudah wafat, ketika keraton diserbu!” ujar Gajah Mada.

”Apa katamu? Raja wafat? Mana bisa, tak percaya aku!” jawab penduduk dengan terkejut.

“Tidak percaya? Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku!” Gajah Mada kembali berkata.

Banyak rakyat yang menangis. Mereka terharu mendengar berita itu. Bahkan beberapa orang memaki-maki dan mengumpat pasukan pemberontak Kuti. Hal itu sebagai tanda bahwa rakyat masih cinta pada baginda.

“Andai Raja Jayanegara masih hidup, apakah kalian akan menyambutnya?” opsir muda itu bertanya dengan sungguh-sungguh

“Ya tentu saja, kami akan menyambut baginda dan turut membantu agar Jayanegara kembali menjadi raja”, jawab banyak orang secara berbisik-bisik.

Opsir muda itu kemudian membuka rahasia bahwa Jayanegara masih sehat wal afiat dan sekarang disembunyikan di desa Badander. Ia menyusun barisan di dalam kota. Orang-orang bersiap-siap mengusir pemberontak Kuti.

Pecahlah gerakan melawan kaum pemberontak. Gerakan ini berhasil. Kaum pemberontak Kuti dapat didesak. Akhirnya mereka menyerah. Raja Jayanegara kembali dari Badander dan menjadi raja lagi. Semuanya berjalan lancar lagi seperti sediakala.

Kepahlawanan Gajah Mada

Majapahit kembali aman. Yang paling berjasa menyelamatkan raja adalah opsir muda tadi. Siapakah opsir muda, komandan pasukan pengawal raja itu?. Ia tak lain adalah Gajah Mada! Gajah Mada itu artinya gajah yang giat dan tangkas. Sungguh tepat nama itu. Gajah Mada bagaikan gajah yang perkasa.

Gajah Mada kadang-kadang disebut Empu Mada atau Jaya Mada. Anak desa ini mempunyai tubuh yang sehat dan tegap. Kemudian ia menjadi anggota pasukan Bhayangkara, yaitu pasukan yang bertugas menjaga keselamatan raja. Kelak ia diangkat sebagai komandan pasukan pengawal. Itu karena Gajah Mada mempunyai sifat yang baik.

Apa saja sifat-sifat unggul Gajah Mada? Ia seorang yang bijaksana dan tabah menghadapi kesulitan. Ia berani dan bertanggung Juwab. Iapun seorang yang setia, rendah hati, sabar, lurus, teguh hati dan selalu bersungguh-sungguh. Ia selalu berusaha berbaik hati dan bermuka manis pada setiap orang yang ditemuiny.

Gajah Mada lalu diangkat menjadi patih di Kahuripan pada tahun 1319 sampai tahun 1321. Ia dipindahkan sebagai patih pula di Daha pada tahun 1321 sampai tahun 1331. Ketika raja Jayanegara wafat, kedudukannya digantikan oleh Tribuwana Tunggadewi pada tahun 1328 sampai tahun 1350.

Ratu Tribuwana tertarik akan kemampuan Gajah Mada dalam berperang. Dengan tak ayal Gajah Mada dipanggil menghadap di keraton. Ia diserahi jabatan Mahapatih Majapahit. Itulah jabatan tertinggi di bawah raja. Hal ini terjadi pada tahun 1331. Sejak saat itu Gajah Mada berjuang melaksanakan cita-citanya. Apakah cita-citanya? Ia ingin melihat Nusantara bersatu, makmur dan sejahtera. Ia bercita-cita menjadikan Nusantara suatu negara yang kuat di Asia Tenggara.

Gajah Mada mewarisi cita-cita Sriwijaya, keluarga Syailendra, Pumawarman, Darmawangsa, Airlangga maupun Kertanegara. Gajah Mada tidak berdiri sendiri. Ia bersama-sama pejuang lainnya, seperti Adityawarman dari Sumatera dan Empu Nala, panglima Angkatan Laut Majapahit yang berpengalaman.

Meski demikian, ada pula orang-orang yang tidak senang terhadap Gajah Mada. Mereka mengejek dan mencemoohkan Gajah Mada. Pernah Galah Mada mengucapkan sumpah. Ia tidak akan berhenti berjuang sebelum Nusantara bersatu.

Bukan main ramainya, gelak-tawa serta ejekan dan cemoohan dari orang-orang. Mereka dengki terhadap Gajah Mada. Tetapi Gajah Mada tetap dengan perjuangannya bersama-sama kawannya dan melaksanakan cita-citanya itu.

Sumpah Gajah Mada

Gajah Mada adalah seorang anak desa. Ia dilahirkan di tempat kecil lagi sunyi, di kaki Gunung Kawi pada permulaan abad ke-14. Asal-usul keluarganya dahulu berasal dari Bali. Gajah Mada tidak sempat hidup mewah lagi kaya. Ia biasa hidup sederhana dan menderita.

Usaha menyatukan Nusantara dilakukan dengan giat. Langkah pertama adalah Gajah Mada mengadakan serangan untuk menguasai pulau Bali. Adityawarman memimpin pasukan dari arah utara dan Gajah Mada sendiri bergerak dari arah selatan. Penyerbuan ini berhasil dengan baik. Dan dalam waktu singkat, daerah lainnya menyusul.

Banyak daerah bergabung pada Majapahit. Wilayah Majapahit meliputi Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Sumatera dan Malaka. Penggabungan ini tidak selamanya melalui peperangan. Seringkali melalui perundingan dan musyawarah tercipta kesepakatan untuk bersatu.

Selanjutnya, kepemimpinan Ratu Tribuwana Tunggadewi digantikan Hayam Wuruk. Kerajaan Majapahit mencapai puncak kekuasaannya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Mahapatih Gajah selalu ada untuk menjaga Kerajaan Majapahit. Ia sudah mengabdi untuk tiga raja Majapahit. Walaupun sudah tua, ia menjalankan tugas dengan setia dan berhasil dengan baik.

Tidak ada maksud buruk padanya untuk menjadi raja. Sebagai manusia, Gajah Mada sudah tentu pernah berbuat salah. Ia pun mempunyai kelemahan-kelemahan. Tidak ada manusia sia yang sempurna. Hanyalah Tuhan Yang Maha Esa itu sempurna.

Apakah kekurangan-kekurangan pada Gajah Mada? Kadang-kadang ia terlalu keras. Juga usaha-usahanya ada yang gagal, yaitu ketika terjadi bentrokan antara Majapahit dengan Pajajaran. Bentrokan ini terkenal sebagai Perang Bubat. Sebetulnya kejadian yang menyedihkan itu dapat dihindarkan, kalau keduanya bersabar.

Majapahit juga bersahabat dengan negara-negara Asia lainnya seperti Kamboja, Siam dan Birma. Selama jaman Majapahit tercapailah cita-cita Persatuan Indonesia. Pada masa itu sudah berlaku semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu Berbeda-beda, tetapi satu juga.

Wilayah Kerajaan Majapahit terdiri dari banyak kepulauan yang tersebar di seluruh Nusantara. Wilayah-wilayah itu mempunyai adat-istiadat sendiri-sendiri tetapi bersedia bersatu di bawah panji Kerajaan Majapahit. Keinginan kerajaan-kerajaan kecil bergabung dengan Majapahit dilatarbelakangi oleh manfaat yang bisa diambil jika bersekutu dengan Majapahit tanpa menimbulkan peperangan.

Mahapatih Gajah Mada dikenal memiliki sumpah yang disebut Amukti Palapa. Sumpah Palapa tersebut berisi tentang janji Gajah Mada yang tidak akan menikmati makanan buah pala selama Nusantara belum bersatu di bawah pimpinan Kerajaan Majapahit. Artinya, Gajah Mada tidak akan bersenang-senang dengan kemewahan dunia selama usahanya menyatukan Nusantara belum terwujud.

Gajah Mada telah memberikan jasa yang besar bagi persatuan pulau-pulau di Nusantara. Ia berjuang lebih dari 40 tahun untuk nusa dan bangsa. Pada tahun 1364, anak desa yang menjadi Mahapatih atau Perdana Menteri kerajaan Majapahit itu telah di panggil kembali oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

One Reply to “Kisah Legenda Mahapatih Gajah Mada Menjadi Perdana Menteri Kerajaan Majapahit Tiga Periode Raja”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *