Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang, Pendidik Bangsa yang Tewas dalam Peristiwa Pralaya

Prabu Selang Kuning melepaskan diri sebagai Patih Kerajaan Galuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Kerajaan Pulau Majeti
Prabu Selang Kuning melepaskan diri sebagai Patih Kerajaan Galuh dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Kerajaan Pulau Majeti

Di daerah Magelang dan Yogyakarta terdapat candi-candi peninggalan agama Hindu dan Buddha. Diantara candi-candi tersebut adalah Candi Borobudur, Mendut, dan Prambanan. Candi tersebut menjadi obyek wisata bersejarah di Jawa Tengah. Candi-Candi itu tempat untuk memuja dewa-dewa, seperti Brahrna, Wisnu dan Syiwa. Candi-candi Borobudur, Mendut, dan Pawon untuk memuja Buddha Gautama.

Candi-candi itu termasuk bangunan tua dan memiliki nilai sejarah serta rata-rata sudah berumur lebih dari 1000 tahun. Pada jaman dahulu di sekitar candi-tandi terdapat kota-kota, desa-desa dan jalan-jalan raya. Rumah-rumah penduduk di desa-desa dan kota itu terbuat dari kayu dan bambu karena itu tidak ada lagi bekasnya. Sedangkan candi terbuat dari batu-batu.

Di Jawa Tengah 1300 tahun yang lalu sudah ada negara bernama Mataram. Pendirinya adalah Sanjaya. Pusat kerajaan tersebut kemudian pindah ke Jawa Timur. Raja pemerintahan pertama di Jawa Timur adalah Empu Sindok. Empu Sindok adalah raja besar yang kemudian adalah Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa. Negara di Jawa Timur ini bernama Medang. Ia memerintah dari tahun 990-1007.

Cita-cita Raja Dharmawangsa

Darmawangsa adalah raja besar dan bercita-cita tinggi. Ia juga bercita-cita mengangkat derajat rakyatnya. Darmawangsa memerintahkan membuat galangan kapal. Daerah Jawa Timur mempunyai banyak hutan jati. Kayu jati baik sekali untuk dibuat kapal. Setiap hari beribu-ribu balok jati, terapung-apung di sungai. Kayu itu mengalir menuju galangan kapal.

Pekerja-pekerja sepanjang hari giat bekerja. Mereka menyudahkan kapal-kapal itu. Darmawangsa juga mengumpulkan pemuda-pernuda yang tegap-tegap. Pemuda-pemda itu dilatih menjadi prajurit dan kelak mereka bertugas di kapal-kapal. Sesudah persiapan selesai, Darmawangsa mengadakan pemeriksaan.

Beratus-ratus kapal berjajar-jajar di pelabuhan-pelabuhan. Di tepi pantai dan di tepi bengawan juga banyak kapal. Kapal-kapal ini semuanya kuat-kuat. Pasukan bersenjata berbaris rapi.

“Wahai prajurit-prajurit kapal perang, tugasmu adalah melindungi perahu-perahu dagang agar aman di lautan. Perdagangan ltu perlu untuk memakmurkan negara. Apabila kapal-kapal dagang selalu mendapat gangguan bajak laut di tengah pelayaran, negara akan tidak mendapat hasil pajak dan akan runtuhlah ia. Jalankan perintah ini sebaik-baiknya”, demikian nasehat Darmawangsa pada anak buah armada perangnya.

Keesokan harinya, pada waktu fajar kapal-kapal mulai bergerak. Satu demi satu meninggalkan pantai. Panglima komando armada berdiri di atas geladak. Ia memberi perintah dan isyarat-isyarat dengan tangannya. Sesaat kemudian, armada Darmawangsa sudah berada di laut.

Ombak beralun sebesar gunung. Angin bertiup dengan kencangnya. Namun kapal-kapal itu tetap maju menuju cita-cita. Ke manakah kapal-kapal itu bergerak? Satu gugusan menuju Bali. Mereka akan mendirikan pangkalan di sana. Satuan lainnya menuju Kalimantan. Tetapi yang paling berat ialah tugas menuju ke Barat.

Armada ini harus menguasai Kerajaan Sriwijaya. Sekurang-kurangnya harus mengepungnya dalam waktu yang lama. Ketiga tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik. Di Bali dan Kalimantan armada Darmawangsa membangun pangkalan. Sriwijaya dapat dikepung selama tahun 991-992.

Dalam waktu 10 tahun Sriwijaya tidak dapat bebas bergerak. Bahkan utusan-utusan Sriwijaya yang berada di negeri Cina tidak dapat pulang. Laut Cina selatan, Selat Malaka dan Laut Jawa dikuasai armada Darmawangsa. Selain membangun armada, Darmawangsapun seorang pendidik rakyat. Ia ingin agar rakyatnya menjadi cerdas dan baik hati.

Dharmawangsa Mencerdaskan Rakyat

Pada suatu hari Darmawangsa menyamar sebagai rakyat biasa. Ia berjalan masuk desa ke luar desa. Ia bergaul dengan rakyatnya. Alangkah kecewa hati Darmawangsa! Ternyata tingkah-laku rakyat belum sesuai dengan ajaran-ajaran yang baik. Di sana-sini rakyat mengeluh. Mereka sering dirampok.

Lalu bertanyalah Darmawangsa pada orang-orang desa. “Pak, apakah kalian tidak pernah mendengarkan ajaran-ajaran yang baik? Lalu, apakah orang-orang di sini tidak pernah melihat wayang dan mendengar cerita-cerita ki dalang? Atau membaca buku-buku yang baik seperti Mahabarata?”

“Ya, sudah barang tentu kami semua menonton wayang dan mendengar cerita ki dalang. Tetapi sayang, ki dalang seringkali menggunakan bahasa Sansekerta. Kami tidak begitu faham. Apalagi buku Mahabarata. Itu hanya dibaca oleh para pendeta dan ahli ilmu. Kami rakyat desa sama sekali tidak faham isi buku-buku itu”, jawab orang desa tadi,” jawab penduduk tadi.

Kini tahulah Darmawangsa, apa sebab masih banyak orang jahat dan orang bodoh di desa. Bukan salahnya orang-orang desa, tetapi karena rakyat tidak faham akan ajaran-ajaran yang balk, Baginda lalu mengumpulkan semua ahli-ahli sastra. Mereka diperintahkan untuk menterjemahkan kitab Mahabarata ke dalam bahasa Jawa kuno. Rakyat mengetahui bahasa itu dengan baik.

Darmawangsa sadar, bahwa Mahabarata itu baik. Melalui pertunjukan wayang kulit dalang dapat mendidik rakyat. Rakyat dapat mencontoh pada ksatria-ksatria seperti Yudistira. Ia rendah hati, suci dan tinggi budinya. Ataupun Arjuna yang berbudi, cerdas, tidak banyak tingkah tetapi pemberani.

Dan supaya tingkah laku kaum angkara murka seperti Dasamuka jangan ditiru. Raksasa ini dengki, lekas marah, jahat, tidak punya perikemanusiaan dan sewenang-wenang.

Rakyat juga harus hidup teratur menurut hukum. Negara akan kacau-balau, bila rakyatnya tidak hidup menurut aturan. Sebab itu Darmawangsa juga membuat kitab Undang-undang. Kondisi ini hampir sama dengan usaha Raja Purnawarman dalam memimpin Kerajaan Tarumanegara.

Akhir Hidup Dharmangsa

Pada permulaan abad ke-11 armada Darmawangsa sudah tidak kuat. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Sriwijaya. Bersama pasukan-pasukan Wura-Wuri, pada tahun 17 armada Sriwijaya mendekati pantai-pantai kerajaan Darmawangsa.

Gerakan ini berjalan dengan sekonyong-konyong. Sama sekali tidak disangka-sangka oleh Darmawangsa. Apalagi pertahanan ibukota Darmawangsa memang sedang lengah karena sedang mengadakan pesta pemikahan puteri Darmawangsa. Dengan tiba-tiba kapal-kapal Sriwijaya dan Wura-Wuri merapat di pantai. Beribu-ribu bahkan puluhan ribu pasukan berloncatan ke darat. Mereka langsung menyerang ibukota.

Bukan main terkejutnya para penjaga istana tetapi keadaan sudah terlambat. Bagaikan air lepas dari bendungan, pasukan-pasukan Sriwijaya menyerbu. Mereka membakar istana. Banyak perwira dan prajurit Darmawangsa tewas dalam pertarungan. Raja sendiri menemui ajalnya dan dikenal sebagai peristiwa Pralaya. Demikianlah akhir kesudahan kerajaan yang dipimpin Darmawangsa.

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

4 Replies to “Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang, Pendidik Bangsa yang Tewas dalam Peristiwa Pralaya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *