Legenda Raja Purnawarman Membangun Terusan Candrabaga dan Gomati untuk Kerajaan Tarumanegara

Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning
Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning

Apa kabar kawan blogger Jombang? Pernahkah Anda jalan-jalan ke daerah sekitar Jawa Barat? Apabila kita naik kereta api ke Semarang, kita akan melewati Bekasi dan Karawang. Di sepanjang jalan kita akan melihat sawah-sawah. Tanah air kita subur. Juga daerah sekitar Jakarta seperti Tangerang, Depok dan Bogor terkenal subur. Di daerah itu mengalir tiga sungai besar, yaitu Cisadane, Ciliwung dan Citarum.

Gunung-gunung yang terdapat di sekitar tiga sungai tersebut adalah Gunung Salak, Gunung Pangrango, Gunung Gede dan kaki-kaki pegunungan Parahiyangan berdiri di sebelah selatan. Sekarang daerah-daerah itu menghasilkan beras, sayur-mayur dan buah-buahan.

Jalan raya yang lebar menghubungkan kota Bogor dengan Jakarta, ibukota Negara Republik Indonesia. Setiap hari berpuluh-puluh ribu mobil simpang-siur di atasnya. Pernahkah kamu membayangkan, bagaimana keadaan daerah tersebut pada zaman dahulu?

Kira-kira 1500 tahun yang silam di daerah Bogor, Jakarta dan Karawang terdapat sebuah kerajaan bernama Tarumanegara. Tarumanegara tidak ramai seperti sekarang. Penduduknya tidak begitu banyak.

Kehidupan Rakyat Tarumanegara

Rakyat Tarumanegara hidup rukun dan damai. Mereka mengolah sawah dan ladang. Mereka juga berdagang. Hasil bumi seperti padi dan lada atau tarum diangkut dengan pedati-pedati dari desa dan gunung-gunung ke kota-kota pelabuhan. Selanjutnya, kapal-kapal Tarumanegara sudah siap mengangkutnya ke India atau negeri Cina.

Tanah air kita terkenal ke mana-mana. Orang-orang Cina menyebut Tarumanegara itu Tolo-mo. Dan orang-orang India menamakan negeri kita Yawadwipa, yaitu Pulau Padi. Bahkan orang-orang Mesir, Yunani dan Madagaskar mengenal negeri kita. Mereka menamakan pulau juwawut, pulau perak ataupun pulau emas.

Tarumanegara mempunyai pemerintahan yang teratur dan rapi. Pada abad ke-15 Masehi, memerintah seorang raja bernama Purnawarman. Purna artinya sempurna. Warman adalah panggilan raja. Jadi Purnawarman artinya Raja yang sempurna.

Baginda Raja Purnawarman merupakan seorang raja yang bijaksana dan cerdas. Baginda suka bekerja keras. Baginda Raja Purnawarman juga memikirkan kemakmuran rakyat. Pada suatu musim kemarau yang kering, baginda berjalan-jalan. Purnawarman meninjau daerahnya dengan diiringi para menteri dan pegawai-pegawai tinggi.

Kereta baginda ditarik kuda-kuda yang bagus-bagus. Baginda melewati jalan-jalan kampung dan desa. Jalan-jalan itu berdebu. Pemandangan di sepanjang jalan sungguh menyiksa hati baginda. Tanaman-tanaman padi di sawah banyak yang layu dan kering. Tanaman itu kekurangan air. Parit dan selokan-selokanpun kering semua. Tanah-tanah sawah dan ladang pecah-pecah tiada berair.

Dengan sedih baginda Raja Purnawarman bertanya, “Menteri, apa sebab padi-padi itu layu?”

“Baginda, musim panas kali ini sungguh lama dan di luar perhitungan para ahli. Air sungai Citarum dan Ciliwung sudah hampir kering. Dan tidak sampai di daerah ini,” jawab menteri.

Baginda Raja Purnawarman diam saja mendengar jawaban menteri. Terbayang oleh baginda, alangkah baiknya bilamana di daerah-daerah kering ini digali terusan-terusan. Sawah-sawah dan ladang-ladang tentu dapat diairi.

Pembangunan Terusan Candrabaga

Keesokan harinya baginda Raja Purnawarman mengundang wakil-wakil rakyat di pendapa istana. Mereka akan bermusyawarah.

“Hai rakyatku, kalian menyadari sendiri. Bilamana musim kemarau datang, daerah-daerah yang jauh dari sungai-sungai besar akan mendapat susah. Tanaman padi di sawah-sawah dan palawija di ladang-ladang tidak cukup mendapat air. Apalah artinya embun yang jatuh malam-malam di musim kering bagi sawah-sawah kita. Tiada ada jalan lain kecuali mengusahakan agar daerah-daerah yang jauh dari sungai juga mendapat air di musim kering. Jadi, apakah yang hendak kita laksanakan?” demikian kata baginda Raja Purnawarman.

Kemudian baginda Raja Purnawarman menyerahkan persoalannya kepada sidang. Seorang petani yang tua, maju ke depan dan menjawab, “Baginda, apa yang baginda utarakan itu adalah juga apa yang terkandung dalam hati nurani kami. Kami menyadari, tanaman-tanaman padi kami layu dan kering akibat kurang air. Adapun kekurangan air ini akibat pula dari letaknya daerah-daerah kami yang jauh dari aliran-aliran sungai besar.”

Petani itu kembali berkata, “Sedangkan kami ini diberi Tuhan sepasang tangan yang berotot kuat dan sepasang kaki yang teguh menjejak tanah. Kami juga memiliki alat-alat cangkul, parang dan kampak, Mengapa kita tidak berkerja keras sambil berdoa, membanting tulang memeras keringat menggali saluran-saluran, sehingga air dari sungai-sungai besar itu dapat mengalir dan mengairi sawah-ladang kita?”

“Itu buah pikiran yang baik”, kata baginda Raja Purnawarman.

Lalu pada suatu hari yang baik, berkumpullah beribu-ribu rakyat Kerajaan Tarumanegara. Mereka  membawa parang, cangkul dan alat-alat pertanian lainnya. Mereka berkerja giat menggali terusan. Itulah terusan Candrabaga yang kelak dapat mengubah nasib rakyat Tarumanegara sebagaimana tertulis dalam Prasasti Tugu.

Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning
Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning

Jasa Raja Purnawarman

Terusan Candrabaga menghubungkan beberapa sungai besar. Terusan Candrabaga rnengalir ke utara melewati halaman istana raja, melewati kota Bekasi dan memuntahkan airnya ke laut Jawa. Sawah-sawah dan ladang-ladang di sekitar terusan itu, kini mendapat cukup air hingga pada musim kemarau. Tanaman-tanaman padi kuning dan layu, kini menjadi segar. Warnanya hijau dan hidup subur.

Petani-petani dengan berseri-seri menggarap sawahnya. Mereka mengharap datangnya musim panen. Mereka berbesar hati, rnereka berterima kasih pada rajanya, Purnawarman. Mereka bersujud syukur pada Tuhan. Bukan hanya sebatang terusan digali Purnawarman. Masih banyak lagi peninggalan Raja Purnawarman yang berguna bagi rakyat tetapi yang kita ketahui hanyalah dua terusan, yaitu Candrabaga dan Gomati.

Baginda Raja Purnawarman tidak hanya menggali terusan. Baginda Raja Purnawarman juga giat memajukan ilmu pengetahuan. Tentu dibutuhkan bermacam-macam ilmu untuk menggali terusan. Misalnya, ilmu tanah, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu jalannya air, ilmu pasti, ilmu perbintangan dan sebagainya. Meski demikian, ilmu-ilmu sastra dan agama juga maju di Kerajaan Tarumanegara.

Bahasa Sansekerta dan huruf-huruf Pallawa giat dipelajari rakyat Tarumanegara. Bahasa dan huruf itu berasal dari tanah India. Ada beberapa batu bertulis kita jumpai dari jaman Purnawarman. Batu-batu itu diketemukan di desa-desa. Salah satunya adalah batu tulis dari Ciaruteun. Terdapat gambar pahatan sepasang tapak kaki pada batu tulis tersebut. Itulah tanda gambar tapak kaki Purnawarman.

Raja Purnawarman beragama Hindu. Tarumanegara adalah negara pertanian. Hasil bumi dikirim ke luar negeri. Banyak kapal asing menyinggahi pelabuhan Tarumanegara. Pernah pula seorang sarjana Cina bernama Fa Hian singgah di Tarumanegara. Ia berdiam selama lima bulan. Utusan-utusan Tarumanegera berkali-kali pula mendatangi negeri Cina untuk berdagang.

Selain itu, dari India pernah datang seorang guru agama dan putera raja. Namanya Gunawarman. Ia datang menyiarkan agama Buddha. Tarumanegara berkembang dari abad ke-5 hingga abad ke-7. Mungkin sekali pusat perdagangan setelah itu pindah ke Kerajaan Sriwijaya.

Demikian artikel singkat sejarah kehidupan Raja Purnawarman penulis bagikan untuk Anda. Semoga artikel sejarah budaya ini bisa menambah wawasan Anda untuk lebih mencintai kebudayaan Nusantara!

Daftar Pustaka:

Kutojo, Sutrisno. 1982. Pejuang Bangsa. Jakarta: Penerbit Miswar.

Bagikan artikel ini melalui:

3 Replies to “Legenda Raja Purnawarman Membangun Terusan Candrabaga dan Gomati untuk Kerajaan Tarumanegara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *