Balada Kehidupan Cak Nonon

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Gambar Doodle karya Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Gambar Doodle karya Hidayat Said

Cak Nonon adalah salah satu maskot Dusun Guwo. Dia sangat ikonik, mudah dikenal, dan kerap mengundang perhatian warga. Dialah warga Guwo yang kerap tampil dalam beragam kegiatan warga, baik tahlilan, yasinan, pengajian, bancakan, maupun aktifitas lain yang mampu mengumpulkan ratusan warga Guwo.

Cak Nonon tidak banyak omong. Saya justru menyebutnya pendiam. Kendati demikian, dia tidak malu bergaul dengan warga. Usianya kira-kira empat puluh tahun. Ia masih lajang. Sebelah tangannya mati saraf sehingga ia hanya menggunakan tangan kiri untuk beraktifitas. Menurut cerita para orang tua, Cak Nonon dulu adalah aktifis kegiatan pemuda Karang Taruna. Bahkan ia pernah dipercaya menjadi ketua panitia HUT Kemerdekaan RI.

Ia pernah mengalami demam panggung ketika akan tampil memberi sambutan sebagai ketua panitia. Cerita ini masih menjadi bahan olok-olokan beberapa anak muda seusianya. Tapi itu dulu. Sekarang ia menjadi manusia yang hidup seperti mayat. Ia ada tetapi dianggap tidak ada. Ia hadir namun keberadaannya tidak berarti appun bagi orang-orang di sekitarnya. Segala bentuk kesialan hidup sepertinya menghinggapi hidupnya.

Bencana kehidupannya bermula saat ia mengidap stroke. Dunia seolah berubah. Masyarakat menyebutnya sebagai orang berpenyakit mental karena ia sering berbicara sendiri, melamun di tempat-tempat sepi, serta tidak malu berebut makanan dengan anak-anak di hajatan warga. Ia berjalan dan berkata seperti orang bingung. Ketidakwajaran perilaku Cak Nonon menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

Beberapa puluh tahun lalu ia dikenal suka mempelajari ilmu tasawuf. Ia kerap membaca buku-buku seri pembangun jiwa. Meski ia suka membaca, ia tidak suka berdiskusi kepada seseorang yang memahami permasalahan tasawuf. Singkat cerita, ia menjadi murid tanpa memiliki guru. Setelah beberapa bulan mempelajari buku tasawuf, ia kerap bertingkah laku aneh. Orang-orang menyebutkan kerasukan jin. Dan hal itu berlanjut hingga sekarang. Ia kerap berdiskusi dengan dirinya sendiri.

Terlepas dari anggapan miring warga, Cak Nonon merupakan pembelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai masa muda. Kehidupan hanya berlaku sekali. Jangan pernah menganggap remeh pengetahuan yang berhubungan dengan mental. Jika Anda ingin belajar ilmu pembangun jiwa, maka belajarlah dari seorang guru. Kalau Anda memahami sendiri sebuah buku, maka dikhawatirkan bisa menyebabkan penyimpangan pemahaman. Semoga terinspirasi.

3 Replies to “Balada Kehidupan Cak Nonon”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *