Tantangan Optimalisasi Peran Serta Karang Taruna di Desa

Pemimpin Sejati Mampu Menggerakkan Orang Lain
Pemimpin Sejati Mampu Menggerakkan Orang Lain

Karang Taruna adalah bagian penting dalam proses pendidikan berpolitik dan bersosialisasi di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat yang berkompeten dan berpengaruh luas seringkali terlahir dari organisasi Karang Taruna dan Remaja Masjid (Remas). Namun mengoptimalkan kembali peran serta Karang Taruna di tengah-tengah kehidupan masyarakat desa bukanlah perkara mudah. Selalu ada tarik-menarik kepentingan sehingga remaja enggan berpartisipasi di dalamnya.

Hal itulah yang sedang saya alami saat ini. Setelah terbentuk kepengurusan Karang Taruna Tunas Mekar tahun lalu di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, tidak serta merta menghasilkan kegiatan nyata di masyarakat. Faktor kepemimpinan menjadi pengganjal bagi arah laju organisasi. Pemimpin yang minim pengetahuan dan pengalaman berorganisasi menyebabkan anggota Karang Taruna tidak mampu memahami posisinya dengan benar. Mereka bertanya apa dan bagaimana memulai langkah pertama.

Namun saya juga memahami bahwa setiap organisasi butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Setelah sempat pingsan selama dua dekade, Karang Taruna Tunas Mekar hadir kembali dengan wajah-wajah baru yang tidak tahu sama sekali bagaimana berorganisasi dengan benar. Dan saat ini merupakan masa transisi bagi setiap jajaran pengurus dan anggota untuk terus belajar berorganisasi lebih baik. Karang Taruna seharusnya bisa menjadi media berekspresi yang benar, bukan hanya grudak-gruduk ngalor-ngidul nggak jelas tujuan.

Pembelajaran pertama yang perlu anggota Karang Taruna terapkan adalah etika menyampaikan pendapat dalam bermusyawarah. Kebetulan saya masuk dalam anggota seksi Humas dan saat ini saya terpilih menjadi Ketua Panitia HUT RI. Duh, susahnya bukan main ngajak teman-teman tertib berdiskusi. Kebanyakan mereka adalah anak SMA yang suka berceloteh nggak karuan. Ada beberapa anggota Karang Taruna seusia saya yang mencoba menenangkan situasi tapi malah menjadi bahan tertawaan.

Terhambat Kepala Desa Sombong

Inilah proses pembelajaran. Terasa menyakitkan dan tidak mengenakkan. Meski demikian, semua proses harus dilalui untuk menuju satu langkah bersama dalam kedewasaan berorganisasi. Semoga kawan-kawan bisa melalui dengan lancar dan tanpa hambatan. Saya berkeyakinan mereka akan menjadi lebih dewasa dalam dua tahun ke depan. Mumpung saya masih bisa mendampingi mereka, saya ingin memberikan kontribusi untuk organisasi pemuda ini. Meski waktu yang saya miliki terbatas, setidaknya saya bisa berkontribusi dalam hal pikiran.

Itu adalah semangat masa lalu yang menggebu-gebu dari seorang pemuda lugu. Kini saya terlanjur kecewa dan antipasti kepada perkembangan organisasi karang taruna. Apa penyebabnya? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena faktor model kepemimpinan kepala desa. Saya benci orang sombong yang menyombongkan pangkatnya untuk mengintimidasi orang lain. Awal kejadiannya adalah saat dilaksanakan lomba takbir keliling Idul Adha. Lomba itu mempertemukan masing-masing RT untuk berkreasi membuat pawai takbir keliling yang menarik dan sesuai syiar agama Islam.

Ada tradisi unik disini. Setiap kali takbir keliling pasti ada kupon undian hadiah. Nah, setiap RT sudah dibagikan jumlah kupon yang sama. Salah satu RT mengaku tidak mendapat kupon. Usut punyab usut, anak ketua RT tersebut telah menghilangkan satu bendel kupon. Sesuai kesepakatan, kupon yang hilang tidak bisa diganti. Lalu pada hari H saya mendapat komplain dari seluruh warga RT tersebut karena tidak mendapat kupon. Saya disidang di tengah jalan oleh puluhan warga. Dan salah satu warga tersebut adalah Kepala Desa. Kata-kata kotor dan makin ditujukan kepada saya. Saya tidak bisa melawan.

Saya kecewa dan sakit hati sampai sekarang. Seperti itukah seorang pemimpin yang mampu membimbing generasi mudanya? Bukankah dia dulu juga pernah menjadi ketua karang taruna, lalu mengapa setelah menjadi kepala desa lalu kesombongannya telah membutakan mata hatinya? Bagaimana jika dia berada di posisi saya? Apakah dia pernah membayangkan betapa lelahnya melaksanakan pawai takbir keliling terbesar dari yang pernah ada? Sudahlah. Tidak ada gunanya bertanya kepada orang yang terlanjur dibutakan kesombongan.

Kesalahan terbesar seorang pemimpin adalah menumbuhkan kekecewaan seorang anak buah yang setia. Dan sampai detik ini tidak ada upaya apapun dari kepala desa itu untuk memperbaiki keadaan. Saya biarkan semuanya berjalan sendiri-sendiri. Saya masih memiliki banyak ruang dan tugas untuk mengurus organisasi kepemudaaan di luar desa tempat tinggal. Saya tidak akan menyia-nyiakan waktu, tenaga, biaya dan pikiran untuk mengurus karang taruna di desa yang dipimpin oleh kepala desa congkak dan menjunjung tinggi emosi. Sekian.

4 Replies to “Tantangan Optimalisasi Peran Serta Karang Taruna di Desa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *