Deja Vu! Ramah-tamah dan Halal Bihalal Bani Mustopo 2016 di Sedati Sidoarjo

Welcome back to Sidoarjo! Untuk pertama kalinya sejak 2011 saya menjejakkan kaki kembali ke Sidoarjo dalam waktu yang relatif lama. Pada Jumat, 8 Juli 2016 kemarin saya dan keluarga berkesempatan melakukan halal bihalal ke salah satu rumah keluarga besar Mbah Topo yang ada di Desa Banjarkemuning Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Sedati bukanlah nama yang asing dalam kehidupan saya karena saya pernah tinggal di lingkungan sekitar Sedati selama lima tahun, tepatnya di Tropodo. Saya dan 23 anggota keluarga yang terbagi menjadi dua mobil tiba disana saat hari sudah sore menjelang ashar.

Saat menyadari mobil yang saya tumpangi telah turun dari jalan tol Waru di sekitar Perumahan Pondok Candra, ingatan saya segera tertuju kepada aktifitas sehari-hari saya dalam kurun waktu tahun 2005 sampai 2011 disana. Antri cetak buku tabungan di BCA Pondok Candra, berbelanja bumbu-bumbu pizza di Giant, kesibukan mengantar delivery order di kawasan SDIT Al-Muslim, dan juga berburu ikan segar di Terminal Pelelangan Ikan (TPI). Saya segera menghapus bayang-bayang kenangan itu secepat ingatan itu hadir dalam pikiran saya. Bangun! Bangun! Saatnya menjalani kehidupan nyata!

Lokasi halal bihalal Bani Mustopo berada di sekitar SDN Banjarkemuning. Tak jauh dari rumah tersebut, sudah tampak TPI tempat saya dan kawan-kawan dulu sering berbelanja ikan segar dalam rangka kumpul-kumpul karyawan Doremi Pizza. Meski beberapa tahun lalu saya sering melewati Jalan Nener Banjarkemuning, saya tidak tahu bahwa salah satu rumah disana adalah rumah saudara. Barulah pada Lebaran Idul Fitri tahun 2016 inilah saya menyadari bahwa selama ini saya bolak-balik ke TPI dan mengabaikan keberadaan rumah kerabat dekat sendiri.

Baru Tahu Itu Rumah Kerabatku

Tak salah lagi. Gang sempit ke arah barat itu sering saya lewati. Rumah yang dulunya saya abaikan ternyata kini saya hadiri dalam situasi yang berbeda. Acara halal bihalal berlangsung dengan akrab. Ruang tamu Mbah Tambiyah penuh oleh anak dan cucu Mbah Topo. Tak lupa, acara menghabiskan kue lebaran menjadi daya tarik yang menyenangkan bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan badan. Meski demikian, tak ada perbedaan yang berarti antara kue lebaran di Jombang, Lamongan maupun Sidoarjo. Sebagian besar makanan yang terhidang di meja tamu adalah produksi pabrik. Hanya sedikit saja jenis kue lebaran yang sengaja dibuat sendiri, itupun kue lebaran yang tidak ribet cara membuatnya.

Kondisi alam Banjarkemuning sudah banyak berubah sejak saya berkunjung kesana beberapa tahun lalu. Jalanan beraspal sudah lebih mulus. Hamparan ladang tambak milik warga masih aktif digunakan. Hanya saja terdapat perbedaan fungsi tambak saat musim kemarau dan penghujan. Saat musim penghujan tambak-tambak itu digunakan oleh pemiliknya sebagai tempat beternak ikan. Sedangkan saat musim kemarau seperti pada saat ini, tambak tersebut berfungsi sebagai ladang garam. Apapun fungsinya, tambak di Banjarkemuning menjadi lokasi menarik untuk berfoto, terutama bagi kami yang tidak terbiasa hidup diantara ladang-ladang tambak yang mendominasi pemandangan alam disana.

Satu fakta menarik lainnya adalah Desa Banjarkemuning berbatasan langsung dengan Bandara Internasional Juanda atau Juanda Airport. Rumah Mbah Tambiyah berada di gang sempit tepat di timur lokasi hangar pesawat-pesawat yang landing di Juanda Airport. Lokasi pagar pembatas airport dan rumah tersebut kurang lebih 50 meter dan terpisahkan oleh beberapa petak tambak milik warga setempat. Setiap beberapa menit sekali tampak pesawat terbang take off yang bagi telinga saya terdengar sangat bising, tetapi tidak bagi penduduk setempat. Rupanya pendengaran mereka sudah terbiasa dengan hingar-bingar pesawat terbang komersil yang lepas landas dari bandara.

Pengalaman halal bihalal di Sedati kali ini merupakan yang pertama bagi saya. Begitu banyak pertemuan dengan keluarga besar dari pihak Bapak maupun Emak selama Lebaran Idul Fitri 2016. Saat keturunan keluarga besar sudah semakin meluas, reuni keluarga memang menjadi solusi yang tepat agar antar anggota keluarga bisa saling mengenal dan bertukar kontak. Jika masing-masing dari diri kita tidak bersedia memulai, maka dikhawatirkan persaudaraan tersebut akan terputus. Semoga tulisan ini menginspirasi Anda agar lebih intens menyambung tali silaturahmi dengan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *