Lautan Doa di Antara Guyuran Hujan Senja

Ziarah Wali Limo Keluarga Besar Bani Karso di Makam Sunan Bonang Kota Tuban
Ziarah Wali Limo Keluarga Besar Bani Karso di Makam Sunan Bonang Kota Tuban

Kehidupan keagamaan di desa sangat terasa. Setiap momen penting kehidupan manusia diabadikan dengan warna-warni doa bersama. Kehamilan, kelahiran, mitoni, sepasar, ulang tahun, sunatan, mbangun nikah, syukuran, hingga kematian tak luput dari aktifitas doa berjamaah. Pekan ini merupakan waktu sibuk bagi masyarakat Guwo. Rentetan kejadian meninggalnya empat orang warga menghasilkan rangkaian aktifitas doa yang tidak berkesudahan. Ditambah tahlilan dan yasinan rutin pada hari Kamis, jadwal aktifitas keagamaan warga pun makin padat.

Usai pemakaman jenazah, tahlilan pertama dilaksanakan jamaah wanita muslimah sekitar jam tiga sore. Pada jam empat sore dilaksanakan tahlilan jamaah wanita di lokasi rumah duka kedua. Setelah maghrib, kira-kira jam enam sore giliran jamaah tahlil pria berdoa bersama di lokasi pertama. Kemudian masih ada tahlil putra kedua usai sholat isya’ di lokasi kedua. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan dalam situasi hujan turun dengan deras. Kendati demikian, antusias masyarakat tidak surut walau harus berjibaku dengan tanah basah.

Jangan lupakan juga kegiatan yasinan rutin tiap hari Kamis. Kamis kemarin acara yasinan dilaksanakan di rumah penulis. Hidangan sudah disiapkan sejak pagi. Sampai sholat maghrib selesai belum terpasang sound system. Anggota yasinan putra pun banyak yang tersebar di acara tahlilan. Sungguh situasi yang dilema. Apapun yang terjadi, rencana Allah lebih berkuasa dari keinginan manusia. Dengan jumlah jamaah yang seadanya, yasinan di rumah penulis pun terlaksana. Mau bagaimana lagi, keadaan memang demikian. Mengeluh pun tidak akan memberikan penyelesaian.

Hari ini adalah libur tahun baru imlek. Sejak Kamis sore kemarin hingga Jumat malam ini hujan tak kunjung berhenti. Berusaha menikmati dan mensyukuri alam adalah solusi terbaik menangkal stress. Doa tidak akan terhenti meski hujan menguji nyali. Sebaliknya, guyuran hujan menjadi peneduh hati, pikiran dan kesadaran untuk terus melantunkan doa. Hujan yang turun menjelang perayaan Imlek bisa menjadi berkah bagi para petani tradisional yang sedang menanam padi dan membutuhkan banyak sumber air. Semoga kehidupan yang relijius ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagikan artikel ini melalui:

11 Replies to “Lautan Doa di Antara Guyuran Hujan Senja”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *