
Kemarin Rabu, 18 Juli 2018 menjadi hari yang mencekam bagi para siswa SDN Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mereka mengikuti kegiatan imunisasi difteri yang dilaksanakan oleh Puskesmas Pembantu Latsari. Pemberitahuan kegiatan ini keluar sehari sebelumnya saat para siswa sudah pulang sekolah. Akhirnya pada Selasa sore saya berinisiatif memberitahu para wali murid melalui pesan WhatsApp agar anak-anak mereka sarapan nasi sebelum berangkat sekolah. Saya tidak menyebut akan ada penyuntikan imunisasi difteri, hanya meminta anak-anak untuk makan pagi sebelum berangkat sekolah. Berita ini segera menyebar kepada sejumlah anak lewat WA. Rabu pagi sudah ada seorang murid menangis karena takut suntik. Padahal itu masih pagi jam setengah tujuh dan belum ada tim medis yang datang.
Baru pada jam delapan pagi kesibukan imunisasi dimulai. Dua orang tim medis dari Puskesmas Pembantu Latsari hadir. Siswa-siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 mendapatkan layanan kesehatan imunisasi difteri. Mereka disuntik satu per satu pada bagian lengan atas sebelah kiri. Saya sedang mengajar kelas 1 hari itu. Para siswa awalnya terlihat cemas. Tidak satu pun raut muka mereka menunjukkan rasa senang. Saya pun menceritakan beberapa kisah inspirasi agar mereka mau menjaga kesehatan diri, terutama menjaga kebersihan makanan. Alhamdulillah mereka semua tidak ada yang menangis saat disuntik. Syifa’ sempat menangis di awal pelajaran dimulai namun dia menjadi tenang saat pak dokter masuk kelas. Begitu pula teman-teman satu kelasnya tidak ada yang menangis. Para siswa kelas lainnya pun menurut. Peserta didik dari kelas 2 sampai kelas 6 telah disuntik tim medis dengan lancar.
Dari semua kegiatan ini, hanya ada satu kejadian menarik saat proses penyuntikan. Egy, seorang murid perempuan dari kelas enam menangis histeris ketika dua orang tim medis masuk ke dalam kelas. Dia menolak disuntik pertama kali. Dia lari ke sudut kelas sambil memegangi lengan sebelah kiri. Satu per satu murid kelas enam maju untuk mendapat imunisasi difteri. Beberapa murid harus dibujuk untuk mau disuntik. Sementara siswa-siswa lainnya tampak memaksakan diri untuk tertawa agar tidak merasa sakit. Sampai semua teman-temannya selesai disuntik, Egy masih menangis histeris di sudut kelas. Saya dan dua orang tim medis bergegas memegang lengan Egy, salah satu murid Sanggar Genius Yatim Mandiri. Sambil menangis dia berkata, “Ojo jeru-jeru!” Ucapan dalam Bahasa Jawa itu berarti: jangan dalam-dalam. Rupanya Egy phobia terhadap jarum suntik. Teman sekelasnya pun membalas ucapan Egy, “Gak jeru! Citek-citek ae!” Kami pun jadi tertawa mendengarnya.
Sebenarnya bukan kali ini saja Egy menangis histeris saat tiba giliran mendapat imunisasi difteri. Enam bulan yang lalu dia juga berperilaku yang sama saat akan disuntik dokter. Hanya saja saat itu dia tidak berteriak seperti kesetanan. Untungnya, setelah dipaksa suntik Egy sudah berhenti menangis. Teman-temannya pun menggodanya dengan menirukan ucapan Egy, “Ojo jeru-jeru, Egy!” Kejadian ini menjadi bahan canda-tawa kami saat bertemu keesokan harinya. Pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan imunisasi difteri ini adalah setiap orang punya sumber phobia atau ketakutan masing-masing. Hal ini tampak sepele tapi perlu dianggap penting bagi orang tersebut. Apakah Anda termasuk orang yang takut jarum suntik? Silakan berbagi cerita pengalaman Anda mengikuti imunisasi pada kolom komentar.
Tinggalkan Balasan