Asal-usul Upacara Kasodo Suku Tengger di Gunung Bromo Jawa Timur

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Upacara Kasodo diadakan oleh masyarakat suku Tengger yang mendiami Gunung Bromo di provinsi Jawa Timur. Secara administratif, Gunung Bromo terletak di tiga kabupaten, yaitu Probolinggo, Lumajang dan Malang. Namun wisatawan lebih sering berkunjung ke Bromo melalui Ngadisari yang terletak di Kabupaten Probolinggo. Upacara Kasodo diadakan setiap tahun pada bulan ke-10. Menjelang upacara Kasodo dilakukan, masyarakat Tengger membawa ternak dan hasil bumi. Ternak dan hasil bumi itu akan dibuang ke kawah Gunung Bromo sebagai persembahan atau qurban bagi sang Dewata atau Sang Hyang Widhi.

Menurut Yodi Kurniadi (2017) upacara Kasada berkaitan erat dengan asal usul nenek moyang Suku Tengger yang mula-mula mendiami lereng gunung Bromo. Menurut sejarah Tanah Jawa, asal-usul nenek moyang Suku Tengger adalah para bangsawan dan prajurit pelarian dari kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Mereka mendapat serangan dari kerajaan Demak yang beragama Islam dan menetap di lereng Gunung Bromo. Lokasi lereng Gunung Bromo saat itu cukup terpencil sehingga para pelarian itu hidup terisolasi. Mereka mengembangkan tradisi tersendiri yang berbeda dengan adat-istiadat suku Jawa Islam. Hingga kini masyarakat Tengger memeluk agama Hindu dengan taat. Setiap kampung memiliki dukun atau pemimpin spiritual yang dituakan dan dihormati masyarakat setempat.

Dan diantara warga pelarian itu terdapat sepasang suami istri yang bernama Jaka Seger dan Roro Anteng. Kelak nama mereka menjadi akronim bagi terciptanya nama Tengger. Mereka sudah lama mendambakan keturunan tetapi belum berhasil memiliki anak. Berbagai usaha telah mereka lakukan untuk bisa memiliki anak. Mulai dari minum ramuan penyubur kandungan sampai dengan mendatangi dukun. Akhirnya mereka bersemedi dan memohon kepada Dewata agar dikaruniai 25 orang anak. Semedi dilakukan selama beberapa malam tanpa terputus.

Permohonan mereka akhirnya dikabulkan namun dengan syarat anaknya yang ke-25 harus dikorbankan bagi Dewa Bromo. Kusuma adalah anak yang ke-25 atau anak bungsu mereka yang telah lahir. Kusuma berwajah tampan dan berbadan tegap. Kusuma tumbuh menjadi pemuda gagah dan memiliki banyak kecakapan hidup. Kedua orang tua Kusuma tidak tega menyampaikan janji kepada Dewa Bromo. Rupanya Kusuma sewaktu dalam kandungan ibunya telah mengetahui segala persoalan itu. Kusuma bertekad akan melaksanakan janji orang tuanya kepada Dewa Bromo.

Akhirnya Kusuma beranjak dewasa. Ia sendirilah yang menyampaikan maksudnya dan bersedia menjadi persembahan bagi Dewata. Ia bersedia dikorbankan namun dengan suatu permintaan agar kelak saudara-saudaranya, anak-anaknya dan cucu cucunya pada setiap bulan ke-10 tepat pada bulan purnama memberikan kurban ke kawah Gunung Bromo. Permintaannya disanggupi oleh kedua orang tuanya beserta saudara-saudaranya. Mereka mengantarkan Kusuma Ke Puncak Gunung Bromo dan tak lama kemudian api dari kawah menyambarnya seketika. Kusuma pun masuk ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai pengorbanan Roro Anteng dan Joko Seger.

Upacara Kasodo saat ini menjadi salah satu agenda tetap wisata budaya Kabupaten Probolinggo. Pelaksanaan tradisi Kasodo sekitar bulan Agustus setiap tahun. Ribuan wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara mengunjungi Gunung Bromo pada bulan Agustus. Selain untuk menyaksikan keindahan Gunung Bromo, para wisatawan juga tertarik untuk menyaksikan keunikan upacara Kasada. Para petualang banyak yang berburu harta saat upacara korban berlangsung di Gunung Bromo. Kemeriahan tradisi Kasodo menghasilkan gambar tempat wisata yang unik dan indah.

Demikianlah latar belakang asal usul tradisi upacara adat kasodo yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo. Kita bisa mengambil pelajaran hidup dari kurban yang diberikan suku Tengger berupa ternak dan hasil bumi yang dipersembahkan masyarakat Tengger dengan penuh rasa syukur. Mereka memiliki ikatan batin dengan lingkungan alam yang dibuktikan dengan menjaga kelestarian lingkungan Gunung Bromo. Semoga kita bisa mencontoh kearifan lokal suku Tengger.

Bagikan artikel ini melalui:

13 Replies to “Asal-usul Upacara Kasodo Suku Tengger di Gunung Bromo Jawa Timur”

  1. Ada untungnya juga Kerajaan Demak menyerang Kerajaan Majapahit pada zaman dulu sehingga sekarang kita bisa melihat keunikan budaya Tengger pada masyarakat sekitar Gunung Bromo.

  2. Pantes aja Gunung Bromo sering meletus karena menjadi tempat penyembahan berhala dan praktik ritual yang mengarah pada syirik. Ini bisa jadi pembelajaran bagi kita bersama dalam mengembangkan Potensi Budaya yang ada di daerah-daerah. Boleh kreatif tapi tidak boleh kebablasan dalam menjaga keimanan.

  3. Tanyakan kepada para turis asing yang datang ke gunung bromo apakah hal yang paling mereka kagumi dari masyarakat suku tengger? Tidak lain karena mereka memiliki keteguhan hati dan sikap dalam mempertahankan budaya nenek moyang mereka.

  4. Nama-nama populer di Jawa Timur dihasilkan dari penggabungan 2 kata, misalkan Roro anteng dan Joko seger menjadi nama Tengger.

  5. Kebudayaan suku Tengger memang unik dan tidak ada yang menyamai karena posisi mereka terisolir dari dunia luar. Salut untuk konsistensi mereka dalam mempertahankan kebudayaan lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *