Pada tanggal 21 Maret 2025, Disney merilis adaptasi live-action dari salah satu karya klasiknya, “Snow White and the Seven Dwarfs”, yang pertama kali memukau dunia pada tahun 1937 sebagai film animasi panjang pertama di Amerika Serikat. Dengan anggaran produksi mencapai $270 juta dan bintang muda berbakat, Rachel Zegler, sebagai pemeran utama, film ini diharapkan menjadi keberhasilan besar yang melanjutkan tradisi kesuksesan remake live-action Disney seperti The Lion King (2019) dan Aladdin (2019).
Namun, harapan tersebut pupus. Film ini hanya meraup $43 juta pada akhir pekan pembukaannya, jauh di bawah ekspektasi, dan menuai kritik pedas dari berbagai pihak. Kegagalan ini tidak hanya menjadi kerugian finansial bagi Disney, tetapi juga membawa dampak serius bagi karier Rachel Zegler, yang kini resmi dilaporkan “dibekukan” oleh studio tersebut. Artikel ini akan mengulas secara mendalam faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan “Snow White” dan bagaimana hal tersebut membawa Zegler ke posisi sulit dalam industri seni peran.
Latar Belakang Produksi “Snow White”
Adaptasi live-action “Snow White” awalnya diproyeksikan sebagai proyek prestisius yang akan menghidupkan kembali dongeng klasik dengan sentuhan modern. Disutradarai oleh Marc Webb, yang dikenal lewat film seperti The Amazing Spider-Man (2012), dan diproduksi oleh Marc Platt, film ini menampilkan Rachel Zegler sebagai Snow White dan Gal Gadot sebagai Evil Queen. Dengan naskah yang ditulis oleh Greta Gerwig dan Erin Cressida Wilson, serta lagu-lagu baru dari duo pemenang Oscar, Benj Pasek dan Justin Paul, Disney tampaknya memiliki formula sukses di tangan mereka.
Namun, sejak awal, proyek ini diwarnai oleh kontroversi. Pengumuman bahwa Rachel Zegler, aktris keturunan Kolombia, akan memerankan Snow White—karakter yang secara tradisional digambarkan dengan “kulit seputih salju”—memancing reaksi rasis dari sebagian penggemar. Mereka berargumen bahwa Zegler tidak “cocok” dengan deskripsi fisik karakter tersebut, meskipun Zegler membuktikan bakatnya dalam West Side Story (2021).
Selain itu, keputusan Disney untuk menggantikan tujuh kurcaci dengan karakter CGI yang lebih “inklusif” memicu kritik dari aktor kurcaci seperti Peter Dinklage, yang menyebut langkah ini sebagai kemunduran dalam representasi. Kontroversi ini menciptakan awan gelap yang membayangi film bahkan sebelum syuting selesai.
Kegagalan di Box Office dan Tanggapan Publik
Ketika “Snow White” tayang di bioskop, performa box office-nya jauh dari harapan. Dengan anggaran $270 juta, film ini hanya menghasilkan $43 juta pada akhir pekan pembukaannya—angka yang jauh lebih rendah dibandingkan remake Disney lainnya seperti The Little Mermaid (2023) yang meraup $118 juta atau Beauty and the Beast (2017) yang mencapai $174 juta. Total pendapatan global film ini diperkirakan tidak akan mendekati titik impas, menjadikannya salah satu kegagalan finansial terbesar dalam sejarah remake live-action Disney.
Respon kritis terhadap film ini juga sangat negatif. Banyak yang menyebutnya sebagai “cash grab” yang gagal menghormati warisan aslinya. Ulasan dari Jacobin.com menyebut film ini sebagai “mess of a movie” dengan CGI yang buruk dan desain produksi yang tidak konsisten. Lagu-lagu baru yang diharapkan menjadi daya tarik utama malah dikritik sebagai “seriously bad,” gagal menandingi keajaiban musik dari film animasi 1937. Penonton juga mengeluhkan kurangnya inovasi, dengan beberapa mengatakan bahwa film ini terasa seperti “rekaman ulang yang malas” daripada reinterpretasi yang segar.
Namun, di tengah kritik tersebut, penampilan Rachel Zegler sebagai Snow White sering disebut sebagai satu-satunya elemen yang layak dipuji. Kritikus memuji kemampuan vokalnya dan pesona yang ia bawa ke layar, tetapi bahkan itu tidak cukup untuk menyelamatkan film dari kegagalan total.
Kontroversi Rachel Zegler: Dari Casting hingga Media Sosial
Rachel Zegler, yang pertama kali mencuri perhatian dunia lewat peran Maria di West Side Story, menghadapi tantangan besar dalam proyek ini. Selain backlash rasis terkait casting-nya, Zegler juga menuai kritik karena pernyataannya tentang film animasi asli. Dalam sebuah wawancara, ia menyebut cerita klasik itu “weird” dan menjanjikan pendekatan yang lebih modern untuk remake ini. Bagi beberapa penggemar, komentar ini dianggap sebagai penghinaan terhadap warisan Disney, memperkuat narasi bahwa film ini berusaha terlalu keras untuk menjadi “woke.”
Namun, kontroversi terbesar datang dari aktivisme politik Zegler di media sosial. Pada Agustus 2023, saat mempromosikan trailer resmi “Snow White” di X/Twitter, ia menulis, “and always remember, free Palestine.” Postingan ini, yang dilihat lebih dari 8,8 juta kali, memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Disney. Produser Marc Platt dilaporkan terbang ke New York untuk berbicara langsung dengan Zegler, memintanya untuk lebih berhati-hati dengan pernyataannya. Meskipun Zegler menolak menghapus postingan tersebut, ia setuju untuk bekerja dengan spesialis media sosial yang ditunjuk Disney untuk mengelola kehadiran online-nya.
Situasi semakin memburuk setelah pemilihan presiden AS 2024. Zegler memposting pernyataan yang menyerang pendukung Donald Trump, menyatakan, “May Trump supporters and Trump voters and Trump himself never know peace.” Postingan ini tidak hanya memperdalam polarisasi di antara penggemar, tetapi juga menciptakan ketegangan dengan co-star-nya, Gal Gadot, seorang Israel yang secara terbuka mendukung negaranya dalam konflik Israel-Palestina. Disney terpaksa meningkatkan keamanan untuk Gadot setelah ancaman kematian meningkat, menambah beban publisitas negatif pada film ini.
Rachel Zegler Resmi Dibekukan oleh Disney
Kegagalan “Snow White” di box office, ditambah dengan kontroversi yang melibatkan Zegler, membawa konsekuensi serius bagi karier aktris muda ini. Menurut laporan dari berbagai sumber, termasuk postingan di X dan analisis industri, Rachel Zegler kini resmi “dibekukan” oleh Disney. Istilah “dibekukan” dalam konteks ini berarti bahwa studio tidak lagi mempertimbangkan Zegler untuk proyek masa depan, sebuah langkah yang tidak biasa mengingat potensi besar yang ia tunjukkan sebelumnya.
Jonah Platt, putra produser Marc Platt, secara terbuka menyalahkan Zegler atas kegagalan film ini. Dalam sebuah komentar di Instagram yang kemudian dihapus, ia menulis, “Her actions clearly hurt the film’s box office. Tens of thousands of people worked on that film and she hijacked the conversation for her own immature desires.” Pernyataan ini mencerminkan pandangan di kalangan tertentu bahwa aktivisme Zegler—terutama di tengah promosi film—mengalihkan fokus dari cerita itu sendiri dan mengasingkan sebagian besar penonton.
Disney sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang status Zegler, tetapi tindakan mereka berbicara lebih keras daripada kata-kata. Setelah kegagalan “Snow White”, tidak ada indikasi bahwa Zegler akan terlibat dalam proyek Disney lainnya, meskipun ia sebelumnya dianggap sebagai salah satu bintang muda yang akan menjadi wajah baru studio tersebut. Posisinya yang kini terisolasi dari Disney adalah pukulan telak bagi karier yang baru mulai bersinar.
Analisis Kritis: Siapa yang Sebenarnya Bertanggung Jawab?
Meskipun narasi populer menempatkan Rachel Zegler sebagai penyebab utama kegagalan “Snow White”, analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa kegagalan ini adalah hasil dari banyak faktor, bukan hanya satu individu. Berikut adalah beberapa elemen kunci yang berkontribusi:
-
Masalah Produksi: Film ini mengalami multiple reshoots yang meningkatkan biaya produksi dan menunjukkan kurangnya visi yang jelas dari tim kreatif. CGI yang buruk dan desain produksi yang tidak koheren menjadi sasaran utama kritik, menunjukkan bahwa masalah teknis memainkan peran besar dalam kegagalan film.
-
Kualitas Naskah dan Musik: Meskipun melibatkan penulis dan komposer ternama, naskah dan lagu-lagu baru gagal memikat penonton. Lagu-lagu yang diharapkan menjadi daya tarik justru dianggap lemah dibandingkan dengan karya klasik asli, melemahkan daya tarik emosional film.
-
Kontroversi Pra-Rilis: Selain backlash terhadap Zegler, keputusan untuk mengubah tujuh kurcaci menjadi karakter CGI menuai kritik dari komunitas aktor kurcaci dan penggemar. Hal ini menciptakan kesan bahwa Disney lebih fokus pada political correctness daripada kualitas cerita.
-
Persaingan dan Waktu Rilis: Film ini dirilis bersamaan dengan beberapa proyek besar lainnya, termasuk Death of a Unicorn yang dibintangi Jenna Ortega. Meskipun film tersebut juga tidak sukses besar, persaingan ini membagi perhatian penonton dan mengurangi daya tarik “Snow White”.
-
Faktor Eksternal: Aktivisme Zegler memang memperburuk situasi, tetapi sentimen anti-Disney yang berkembang di kalangan tertentu—terutama setelah serangkaian remake yang dianggap “tidak perlu”—juga berkontribusi pada boikot informal terhadap film ini.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, menyalahkan Zegler sepenuhnya adalah oversimplifikasi. Penampilannya justru dipuji sebagai salah satu aspek terbaik film, dan tanpa masalah produksi yang lebih besar, kontroversinya mungkin tidak akan berdampak sebesar ini. Namun, di Hollywood, narasi sering kali lebih kuat daripada fakta, dan Zegler menjadi kambing hitam yang nyaman bagi kegagalan ini.
Dampak pada Karier Rachel Zegler dan Masa Depannya
Kegagalan “Snow White” dan status “dibekukan” oleh Disney adalah kemunduran besar bagi Rachel Zegler, tetapi itu tidak berarti akhir dari kariernya. Sebelum proyek ini, Zegler telah menunjukkan bakat luar biasa dalam West Side Story dan The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes (2023), yang keduanya mendapat pujian kritis. Ia juga dikabarkan akan tampil dalam proyek BBC mendatang, menunjukkan bahwa pintu di luar Disney masih terbuka baginya.
Industri seni peran penuh dengan cerita comeback. Banyak aktor, seperti Robert Downey Jr. dan Drew Barrymore, pernah menghadapi kemunduran besar sebelum kembali ke puncak. Dengan bakat vokal dan akting yang dimilikinya, Zegler memiliki potensi untuk pulih, asalkan ia belajar dari pengalaman ini—terutama dalam mengelola kehadiran publiknya di era media sosial yang penuh tekanan.
Kesimpulan
Kegagalan film “Snow White” adalah kisah peringatan tentang bagaimana harapan tinggi bisa runtuh di bawah beban kontroversi, keputusan produksi yang buruk, dan dinamika publik yang kompleks. Rachel Zegler, meskipun menjadi pusat perhatian dalam narasi kegagalan ini, bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Masalah struktural dalam film, mulai dari CGI yang buruk hingga naskah yang lemah, memainkan peran yang sama besarnya—if not lebih besar—dalam kejatuhan proyek ini.
Sementara Zegler kini resmi dibekukan oleh Disney, masa depannya dalam seni peran masih jauh dari selesai. Kegagalan ini mungkin menjadi titik rendah dalam kariernya, tetapi juga bisa menjadi pelajaran berharga yang membentuknya menjadi bintang yang lebih bijaksana dan tangguh. Bagi Disney, kegagalan “Snow White” adalah pengingat bahwa nostalgia saja tidak cukup—kualitas dan visi yang kuat tetap menjadi kunci untuk memenangkan hati penonton di era modern.


