Kisah Legenda Kantan Si Anak Durhaka dari Sumatera Utara Dikutuk Ibunya Menjadi Kera Putih

Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said - Gambar ilustrasi orang tua menasehati cucunya agar selalu berhati-hati dalam melangkah
Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said – Gambar ilustrasi orang tua menasehati cucunya agar selalu berhati-hati dalam melangkah

Setiap anak harus berbakti kepada orang tuanya tanpa syarat. Doa tulus ibu untuk anaknya tidak akan pernah sia-sia. Bersama artikel The Jombang Taste ini penulis mengajak Anda menyimak kisah legenda dari provinsi Sumatera Utara yang berjudul si Kantan anak durhaka. Perilakunya yang durhaka menyebabkan ibunya marah dan konon katanya Kantan dikutuk menjadi seekor monyet putih. Inilah cerita selengkapnya bersama blog The Jombang Taste.

Dahulu kala di tepi sebuah hutan hidup seorang janda dengan anaknya yang masih kecil. Hidup janda itu amat melarat. Setiap hari janda itu mencari kayu ke hutan, kemudian menjualnya ke desa terdekat. Si Kantan, begitulah nama anak janda itu selalu membantu ibunya mencari kayu. Kantan adalah anak yang patuh pada orang tua. Ia rajin membantunya ibunya bekerja. Kantan hampir tidak memiliki waktu bermain karena harus membantunya ibunya bekerja.

Hidup sengsara itu dijalani kedua anak-beranak itu dari masa ke masa. Kadang-kadang selama beberapa hari, mereka hanya makan bubur dengan garam saja. Bagi ibu dan anak itu, ikan asin merupakan makanan mewah. Beberapa orang tetangga di kiri dan kanan rumah mereka merasa kasihan kepada Kantan dan ibunya. Seringkali Kantan menerima pemberian makanan dari tetangganya yang baik hati.

Beberapa tahun berlalu dan Kantan menjadi pemuda dewasa. Kehidupan sebagai pencari kayu dirasakan sangat sengsara baginya. Si Kantan ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dengan demikian ia bermaksud melepaskan diri dan ibunya dari penderitaan hidup. Ketika ada seorang kenalan menawari kerja, si Kantan langsung menerimanya. Kantan sangat ingin mengubah nasibnya menjadi orang kaya. Niat inilah yang menjadi awal dimulai kisah legenda Kantan dari Sumatera Utara.

Kisah legenda Kantan berlanjut. Kantan diterima bekerja di sebuah kapal dagang. Ia minta diri kepada ibunya dan berjanji kelak akan datang lagi dan menjemput ibunya. Ia juga berjanji akan membahagiakan ibunya terlebih dulu kalau kelak mempunyai banyak uang baru setelah itu ia akan berumah tangga. Kantan menyatakan ucapannya tersebut dengan sungguh-sungguh. Ia sudah sangat yakin untuk keluar dari desa tempat tinggalnya dan mengadu nasib ke luar pulau.

Ibunya sangat sedih mendengar maksud si Kantan. Ia juga amat terharu mendengar janji-janji anaknya. Akan tetapi, demi untuk kebahagiaan anaknya, janda itu rela melepaskan Kantan bekerja di pulau yang jauh. Ia banyak memberi petuah kepada anaknya agar berhati-hati dalam berlayar. Pelayaran yang jauh itu tentu banyak mengandung bahaya. Akan tetapi, itu jauh lebih baik daripada tetap melarat sebagai pencari kayu di hutan.

Dengan hati pilu janda itu mengantar anaknya ke pelabuhan. Maka berlayarlah si Kantan setelah mendapat restu ibunya. Setelah itu, si ibu tidak pernah berhenti berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan anaknya. Setiap selesai beribadah, ibunya selalu mendoakan kesuksesan dan keselamatan Kantan. Sepeninggal anaknya, janda itu kembali mencari kayu lagi di hutan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Kisah legenda Kantan dari Sumatera Utara masih berlanjut bersama blog The Jombang Taste.

Malin Kundang Mengusir Ibunya
Malin Kundang Mengusir Ibunya

Kantan Menolak Ibunya

Beberapa tahun kemudian, kehidupan si janda itu tidak berubah. Ia tetap sengsara dan setiap hari pergi ke hutan untuk mencari kayu. Walaupun demikian, ia tidak pernah lupa berdoa untuk kebahagiaan anaknya. Ia mendoakan anaknya dengan tulus dan tidak pernah putus. Namun ia tidak pernah mendengar kabar tentang anaknya. Tidak ada kabar lagi dari Kantan, anak yang dulu meninggalkannya merantau ke luar pulau.

Tahukah sobat pembaca The Jombang Taste bahwa setiap kali berdoa, si janda itu berlinang-linang air matanya karena si Kantan tidak pernah terdengar kabar beritanya. Begitulah, makin lama janda itu makin menjadi tua. Badannya menjadi bongkok, kulitnya keriput, jalannya sudah tidak dapat tegak lagi. Pada usianya yang makin tua tersebut ibunya Kantan masih harus menanggung penderitaan hidup.

Pada suatu hari tersebar berita bahwa di pelabuhan bersandar sebuah kapal dagang yang besar. Pemilik kapal itu kaya raya. Beragam barang dagangan dijual oleh saudagar kaya itu. Istri pemilik kapal itu juga sangat cantik. Wajahnya putih berkilauan tertimpa cahaya matahari. Pakaiannya juga mewah berhiaskan benang sutera emas. Kemudian tersebar pula berita bahwa pemilik kapal dagang itu adalah si Kantan.

Konon menurut kabar, sejak pertama bekerja di kapal, si Kantan selalu bekerja keras dan tekun. Lagi pula ia amat jujur dalam bertingkah laku. Dengan demikian ia dipercaya oleh pemilik kapal itu untuk menjalankan usaha perdagangan. Kegiatan perdagangan yang dilakukan Kantan berhasil mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Bahkan kemudian Kantan diambil menantu dan akhirnya diwarisi segala kekayaan pemilik kapal itu. Mendengar berita itu, si janda berdebar-debar. Ia sudah sangat rindu kepada anaknya.

Dengan hati risau dinantinya si Kantan datang menjemputnya. Akan tetapi, benarkah pemilik kapal itu si Kantan anak kandungnya. Ia menjadi ragu-ragu. Mengapa sudah beberapa hari di pelabuhan si Kantan tidak menjemputnya juga. Apalagi menurut kabar, pemilik kapal itu sudah beristri. Bukankah dulu si Kantan berjanji untuk membahagiakan ibunya dulu, baru kemudian berumah tangga. Ibunya Kantan penasaran ingin tahu siapa pedagang kaya tersebut.

Sudah banyak orang yang memberitahukan kedatangan si Kantan, tetapi si ibu selalu ragu-ragu. Sampai pada suatu hari datang seorang yang dulu menjadi sahabat anaknya. “Pemilik kapal itu memang si Kantan, Bibi,” katanya kepada janda itu. “Aku sudah bertemu dengannya. Bahkan aku diberi seperangkat pakaian bagus.”

“Mengapa ia tidak datang kemari?” tanya janda itu. “Entahlah. Mungkin ia terlalu sibuk. Tadi aku lihat banyak sekali orang yang akan menemuinya. Maklum seorang pedagang besar. Mengapa tidak Bibi saja yang menemuinya di pelabuhan? Tentunya ia juga amat rindu kepada Bibi.”

“Benarkah begitu?” tanya si janda. “Tetapi rasanya aku masih ragu-ragu. Benarkah ia anakku?”

“Aku bersumpah, Bibi,” jawab orang itu tegas. “Aku tidak mungkin salah. Dulu aku adalah sahabatnya. Apalagi ia juga masih ingat kepadaku. Ia bahkan menanyakan beberapa tempat yang dulu sering kami datangi.”

“Apakah ia menanyakan tentang aku?” tanya si janda. “Aku hanya sebentar saja sempat berbicara dengannya,” jawab orang itu mengelak. “Andaikata sempat berbicara lama, tentu ia akan menanyakan tentang Bibi.”

Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara: Dongeng Persahabatan Kera dan Ayam
Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara: Dongeng Persahabatan Kera dan Ayam

Kutukan Untuk Anak Durhaka

Cerita legenda si Kantan dari Sumatera Utara menyatakan bahwa setelah agak lama dibujuk, akhirnya janda itu pergi menemui anaknya. Janda itu keluar rumah dengan tubuh sempoyongan. Sebuah tongkat menemaninya berjalan menyusuri pasir pantai. Dengan tertatih-tatih, sampailah janda itu di pelabuhan. Walaupun masih juga dengan ragu-ragu, ia merasa bangga, anaknya berhasil menjadi saudagar yang kaya raya.

Beberapa orang yang mengenal janda itu memberi jalan kepadanya. Ketika janda itu makin mendekat ke kapal, seorang anak buah kapal menegur, “Nek, jangan mendekat ke kapal ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang diizinkan naik ke geladak.”

Janda itu mengatakan maksudnya, ingin bertemu dengan si Kantan. “Siapakah sebenarnya, Nenek?” tanya seseorang. “Aku adalah ibunya,” jawab janda itu.

Beberapa orang anak buah kapal saling berpandangan. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa nenek yang tua renta itu adalah ibu majikannya. Walaupun demikian, kedatangan nenek tua itu sampai juga ke telinga si Kantan. Si Kantan turun dari kapal untuk menjumpai nenek tua itu.

Ketika melihat si Kantan, janda itu mendekat akan memeluknya. Katanya, “Kantan, sekarang engkau sudah kaya, Nak. Syukurlah. Rupa-rupanya doa ibu dikabulkan Tuhan.”

Di luar dugaan, si Kantan mundur beberapa langkah, sambil bertanya, “Siapakah engkau, Nek?”

Janda itu tertegun. Kemudian ia ganti bertanya, “Lupakah engkau padaku, Nak? Aku ibumu.”

Si Kantan menoleh kepada pengawainya. Katanya, “Ini adalah perempuan ketujuh yang mengaku sebagai ibuku. Kalau semua aku benarkan, alangkah banyaknya ibuku.”

Janda itu mengerutkan keningnya. Kemudian didengarnya si Kantan berkata lagi, “Memang enak menjadi ibu orang kaya. Tetapi ia pasti bukan ibuku. Ibuku belum setua dia. Apalagi, yang pasti ibuku tidak bongkok.”

Istri si Kantan yang cantik itu datang mendekat. Ia menarik tangan si Kantan dan bertanya, “Ada apa, Kakanda? Siapa perempuan tua ini?”

“Aku juga tidak tahu,” jawab si Kantan. “Tetapi ia mengaku ibuku.”

“Kalau ia memang ibumu, mengapa tidak kita ajak naik ke kapal?”

“Ia memang mengaku ibuku,” kata si Kantan dengan ketus. “Tetapi haruskah aku bersumpah bahwa sebenarnya ia memang bukan ibuku? Ibuku tidak sejelek dan setua itu, juga tidak sebusuk hati orang itu yang ingin menikmati hartaku.”

Mendengar kata-kata yang menghina itu, janda itu hanya dapat meneteskan air mata. Ia tidak menyangka bahwa anaknya yang selalu dirindukan telah begitu durhaka. Ia teringat masa lampau, ketika melewati tahun-tahun penderitaan membesarkan si Kantan. Ia juga masih ingat setiap lantunan doa yang ditujukan untuk kebahagiaan hidup Kantan. Wanita itu kecewa mendengar ucapan Kantan barusan.

Belum selesai janda itu melamun, terdengar perintah si Kantan kepada pengawal-pengawalnya untuk mengusirnya. Terdengar kata si Kantan, “Beri perempuan itu pakaian dan uang. Dan katakan kepadanya, janganlah mengaku ibu kepada orang kaya yang lain, agar orang kaya itu tidak menanggung malu.”

Tidak terkira sedih hati janda itu. Anak yang dicintai dan yang dirindukan, kini tidak mengakuinya, bahkan mengusirnya. Maka mundurlah janda itu menjauh dari kapal si Kantan, ia tidak dapat menahan diri lagi. Hatinya hancur karena anak satu-satunya telah menolak mengakui sebagai ibunya. Cerita rakyat legenda anak durhaka dari Sumatera Utara berlanjut dengan kesedihan ibunya.

Dengan suara lantang, janda itu berkata, “Baiklah Kantan, selama ini aku berdoa untuk kebaikanmu. Tetapi kamu tidak menjadi baik sama sekali. Sekarang dengarlah doaku yang terakhir.”

Dengan menengadahkan tangan ke atas, janda itu berkata, “Ya, Tuhan. Apabila saudagar kaya ini memang bukan anakku, maka hukumlah aku. Tetapi jika ia sebenarnya anakku, hukumlah si anak durhaka itu. Tenggelamkan kapal beserta segala harta miliknya ke laut. Semoga hukuman ini menjadi pelajaran bagi semua orang.”

Tak lama kemudian udara di sekitar pantai berubah menjadi gelap. Angin berhembus dengan kuat disertai petir yang menyambar-nyambar tiada henti-hentinya. Ombak besar datang bergulung-gulung. Semua orang ketakutan. Terlebih-lebih si Kantan dan seluruh penumpang kapal. Ketika ombak besar mulai menghantam kapalnya, si Kantan berteriak-teriak minta ampun kepada ibunya.

“Ampun, Ibu. Engkau memang Ibuku. Tolonglah aku. Selamatkan aku dari malapetaka ini!” Ibunya tidak mendengar jerit si Kantan. Suara ombak dan petir mengalahkan suara si Kantan. Ibunya terlanjur sakit hati atas segala ucapan Kantan yang tidak mengakuinya sebagai ibu. Wanita tua itu telah meninggalkan pantai dan kembali ke rumah dengan tangis pedis dan perasaan terluka.

Suasana mencekam di sekitar kapal masih berlanjut. Ketika kapalnya mulai oleng, si Kantan berkata, “Biarlah hartaku lenyap. Tetapi selamatkanlah jiwaku. Aku akan bersamamu lagi mencari kayu di hutan. Ampunilah aku, Ibu!”

Sekali lagi, ibunya tidak mendengar suara si Kantan. Akhirnya Tuhan menjatuhkan hukuman kepada si anak durhaka. Cerita legenda si Kantan anak durhaka menyebutkan bahwa kapal si Kantan diterjang ombak, disambar petir, dan tenggelam. Si Kantan, istrinya yang cantik, dan seluruh anak buah kapal binasa. Rupanya Tuhan telah membalas perlakuan durhaka Kantan kepada ibunya.

Konon kapal si Kantan itu kemudian berubah menjadi batu karang dan tak lama kemudian menjadi sebuah pulau. Lalu Si Kantan menjelma menjadi seekor kera putih. Pulau si Kantan itu sekarang dapat kita jumpai di wilayah Sumatera Utara. Di pulau itu dapat pula kita lihat kera putih yang hidup di sana. Menurut dongeng, itulah si Kantan dengan kapalnya, si Kantan yang durhaka.

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Gambar Doodle karya Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Gambar Doodle karya Hidayat Said

Pesan Moral yang Terkandung

Si Kantan mula-mula bekerja keras dan tekun di kapal. Kantan juga amat jujur kemudian menjadi saudagar kaya. Pesan moral yang terkandung dalam cerita rakyat kehidupan Kantan ketika masih muda adalah suka bekerja keras. Kerja keras dapat membantu kita mencapai kesuksesan dalam hidup. Kantan telah memberi contoh betapa perjuangan hidup tidak mudah. Namun dengan bermodalkan kejujuran semuanya bisa berhasil melewati masa sulit.

Selanjutnya terjadi perubahan sifat pada diri Kantan. Si Kantan tidak mengakui ibunya karena ibu itu sudah tua, kotor, dan bongkok. Padahal ia sendiri seorang saudagar kaya raya aslinya merupakan anak keturunan wanita tersebut. Sikap Kantan yang menolak ibunya termasuk perbuatan tersebut. Amanat cerita legenda Kantan anak durhaka ini adalah jangan sampai kita melakukan perbuatan tidak mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.

Kemudian Si Kantan yang sudah menjadi pedagang sukses dan kaya raya seharusnya menolong ibunya lepas dari kehidupan sengsara. Tetapi sebaliknya yang terjadi adalah Si Kantan mengusir ibunya. Di lain pihak, si Kantan justru menyambut kedatangan teman lamanya dengan senang hati dan memberinya hadiah. Perbuatan ini bertentangan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Pesan moral yang terkandung dalam cerita legenda si Kantan adalah menganjurkan kita untuk suka memberi pertolongan kepada orang lain tanpa pamrih.

Cerita rakyat dari Sumatera Utara ini hampir mirip dengan kisah legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat. Begitu banyak kisah anak-anak yang durhaka kepada orang tunya saat sudah mencapai kesuksesan hidup. Semoga kita bisa mengambil hikmah kisah anak durhaka di Indonesia agar jangan sampai berlaku tercela seperti mereka. Demikian blog The Jombang Taste membagikan kisah legenda di Kantan anak durhaka dari Sumatera Utara untuk Anda. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

5 Replies to “Kisah Legenda Kantan Si Anak Durhaka dari Sumatera Utara Dikutuk Ibunya Menjadi Kera Putih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *