Ringkasan Cerita Asal Usul Danau Toba di Sumatera Utara

Cerita Rakyat Sumatera Utara: Dongeng Asal Usul Danau Toba
Cerita Rakyat Sumatera Utara: Dongeng Asal Usul Danau Toba

Artikel cerita rakyat Nusantara bersama blog The Jombang Taste kali ini membahas salah satu dongeng rakyat Sumatera Utara mengenai asal-usul Danau Toba. Pada jaman dahulu kala ada seorang nelayan yang berhati sabar dan tabah hidup seorang diri di sebuah daerah yang subur. Di samping mencari ikan di laut dia juga sebagai seorang petani yang ulet. Pada suatu hari, di pagi yang cerah, dia sudah berangkat dengan perahunya ke laut Selat Malaka. Hampir sehari penuh dia belum memperoleh ikan seekor pun. Hatinya kesal.

Dengan lesu ia mendayung perahunya ke tepi pantai. Tiba-tiba jaringnya bergerak-gerak berarti ada ikan yang terjaring. Ternyata ada ikan yang terjaring lalu diambilnya ikan itu. Sampai di rumah ikan itu akan dipotong-potong dan disayur.

Tiba-tiba ikan itu berkata, “Wahai Pak Nelayan, aku jangan kau bunuh. Lebih baik peliharalah diriku, bila engkau menginginkan sesuatu mintalah kepada kami.”

“Hai, ikan apakah kamu? Apakah kau setan berupa ikan …?” kata nelayan itu terkejut.

“Jangan mengatakan yang bukan-bukan pak,” kata ikan itu.

“Kalau betul katamu itu coba buktikan, aku minta agar rumah ini berubah menjadi rumah yang baru dan bagus,” perintah nelayan itu.

“Baiklah, Pak. Sekarang pergilah tidur hari sudah malam dan lagi kau lelah mencari ikan sehari penuh di tengah laut.”

Keesokan harinya nelayan itu terkejut sebab pada waktu tidur kemarin di atas dipan tak bertikar, sekarang dia bangun tempat tidurnya berubah menjadi ranjang berkasur indah. Rumahnya pun berubah menjadi bagus. Sedang tempat ikan kemarin hanya sebuah belanga pecah, sekarang menjadi sebuah kolam yang indah dan jernih airnya.

Nelayan itu kini menjadi semakin sombong, maka dia minta lagi kepada ikannya seorang istri yang cantik seperti bidadari. Malam pun tiba. Pada keesokan harinya nelayan itu terkejut sebab dia dibangunkan oleh seorang putri cantik. Dia terkejut lagi ketika dilihatnya ikan dalam kolam itu telah tiada lagi.

“Pak Nelayan, ketahuilah bahwa aku adalah ikan, yang kaupelihara itu. Aku bersedia menjadi isterimu yang setia,” kata putri itu. Nelayan itu sangat senang hatinya. Dia sekarang merasa bahagia hidup bersama istrinya itu.

Beberapa tahun kemudian, mereka berputra seorang anak laki-laki yang bagus dan tampan. Mereka sangat sayang kepada anaknya itu. Karena dimanja anak itu menjadi nakal. Pada suatu saat istri nelayan itu berkata kepada suaminya, “Pak, anak itu jangan diberi tahu bahwa dia anak seekor ikan. Bila anak itu tahu bahwa dia anak seekor ikan, tentu akan terjadi musibah yang tak dapat dicegah lagi.”

“Mudah-mudahan aku jangan sampai mengatakan demikian, Bu,” jawab nelayan itu kepada istrinya. Makin hari makin besar anak nelayan itu. Dia dipanggil Sam oleh orang tuanya. Sam sangat pandai membantu kedua orang tuanya.

Selang beberapa tahun kemudian, Sam sangat lapar dan kebetulan di atas meja ada makanan persiapan untuk ayahnya nanti. Waktu itu ibunya masih sibuk di kebun. Pada waktu ayahnya datang dengan perut kosong dan melihat santapan di meja tidak ada, maka marahlah sang ayah. “Sam, ibumu di mana? Mengapa persediaanku kauhabiskan?” tanya ayahnya.

“Ibu masih di kebun mengumpulkan ubi yang baru dipetik. Aku tadi juga membantu ibu sehingga terasa lapar.” Sam tidak tahu bahwa tadi ayah belum juga makan jawab anaknya.

“Aku baru pulang dari laut mencari ikan. Kamu memang tidak mengerti,” bentuk nelayan itu. Anaknya masih juga menjawab ingin benar saja, akhirnya nelayan itu kemarahannya memuncak lalu keluarlah kata-kata: “Dasar kau adalah anak ikan.”

Sam menangis lari menemui ibunya. Dia mengatakan bahwa ayahnya sangat marah dan dia dikatakan anak seekor ikan yang dungu. Ibunya datang menemui suaminya agar suaminya mencabut kata-katanya tadi. Nelayan itu marahnya semakin menjadi.

Lalu istrinya berkata, “Pak kalau kamu tak mau mencabut kata-katamu, mungkin sekarang sudah waktunya untuk berpisah. Sudah pak aku akan pergi selamat tinggal. Siap-siaplah musibah akan datang.”

“Pergilah! Musibah apa!” Lelaki itu tetap berkata dengan marah.

Sam disuruh ibunya pergi ke puncak bukit agar selamat bila ada bencana. Tak lama kemudian awan gelap datang dan hujan pun turun dengan lebatnya. Akhirnya terjadilah banjir besar. Nelayan itu hanyut terbawa oleh air berteriak-teriak minta tolong, “Tolong tobaat tolong tobat tobaaaat.”

Banjir itu menggenangi daerah itu, maka terjadilah sebuah danau yang luas. Danau itu diberi nama danau TOBA. Sedang di tengah-tengah danau itu terdapat sebuah pulau yang asalnya sebuah bukit tempat Sam mengungsi. Pulau itu bernama Pulau SAMUSIR, asalnya dari kata SAM yang DIUSIR. Demikian cerita rakyat Sumatera Utara mengenai asal-usul Danau Toba.

Amanat cerita kisah dongeng asal-usul Danau Toba ini adalah agar kita selalu menyayangi anak sendiri tanpa melihat asal-usul keluarga. Pesan moral kisah legenda asal-muasal Danau Toba ini adalah supaya kita dapat hidup saling menyayangi dengan anggota keluarga. Semoga artikel cerita rakyat Nusantara ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel The Jombang Taste berikutnya.

Bagikan artikel ini melalui:

3 Replies to “Ringkasan Cerita Asal Usul Danau Toba di Sumatera Utara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *