Legenda Daeng Sinaroja, Jaka Cinde dan Dewi Ratna Sari dari Makassar

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Kasih sayang orang tua tidak terbatas waktu. Anak yang berbakti pada orang tua akan mendapatkan kemudahan jalan hidupnya. Bersama artikel The Jombang Taste ini kami ajak Anda menyimak salah satu cerita rakyat Madura. Pada jaman dahulu kala di kota Makasar terdapat sebuah kerajaan yang besar. Rajanya sangat masyhur dan gagah perkasa, bergelar Daeng Sinaroja. Sedang patihnya bernama Daeng Magang. Bala tentaranya sangat banyak dan pemberani.

Pada suatu malam, sang raja bermimpi yang sangat berkesan. Dalam mimpinya beliau bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik rupawan. Putri itu mengaku bernama Dewi Ratna Sari, putri dari Tawang Alun adipati Kabonan. Daeng Sinaroja menginginkan agar mimpinya itu menjadi kenyataan. Maka disebarlah bala tentaranya ke seluruh penjuru Nusantara di bawah pimpinan patih Daeng Magang.

Setelah beberapa minggu berlayar, sampailah mereka di Pulau Madura. Di sana mereka mendapat kabar bahwa yang dimimpikan rajanya itu ada. Kadipaten Kabonan itu terletak di ujung Pangkah. Dengan diantar oleh Pangeran dari Madura meryeberangi selat Madura, akhirnya sampailah di pesisir Ujung Pangkah.

Mereka beristirahat di pantai untuk membuat pesanggrahan. Daeng Magang berniat akan meminang putri Tawang Alun yaitu Dewi Ratna Sari. Tiba-tiba Daeng Magang melihat tiga orang putri sedang bersenda gurau di tepi pantai. Dia mendekati putri tersebut. Karena tidak mengerti bahasanya maka ketiga putri itu ditangkap Ialu dibawa ke sanggarnya.

Dengan perantaraan Pangeran dari Madura bisalah diadakan tanya jawab. Ternyata seorang dari ketiga putri itu adalah Dewi Ratna Sari. Dia tidak mau dibawa ke Makasar sebab dia sudah bersuami dan mempunyai seorang anak laki-laki. Daeng Magang memaksanya. Dewi Ratna Sari dibawa ke kapal layar kemudian berlayar. Sedang kedua orang putri lainnya dilepaskan pulang.

Sampai di Madura, Pangeran Madura turun dan mengirimkan seorang putri sebagai teman Dewi Ratna Sari. Sampai di Makasar sang Dewi dipersembahkan kepada Daeng Sinaroja raja Makasar. Sang putri tetap menolak permintaan Daeng Sinaroja. Karena marahnya raja itu, Dewi Ratna Sari dimasukkan ke dalam penjara.

Syahdan keadaan di Kabonan menjadi kacau dengan hilangnya Dewi Ratna Sari itu. Suaminya belum tahu sebab sudah lama mengembara. Sedang Jaka Cinde anak sang Dewi berusaha mencarinya sampai di Madura. Di sana ia mendapat teman akrab yang bersedia ikut mencari ibunya sampai ketemu. Mereka berdua berlayar ke timur menuju Makasar.

Kedua satria itu sangat pandai dan berani mengarungi samudera luas. Sampai di Makasar mereka membuka permainan sulap dan silat. Penduduk Makasar sangat kagum melihat ketangkasan kedua satria itu. Berita itu sampai pula ke istana raja Makasar. Daeng Sinaroja ingin melihat bagaimana permainan sulap dan silat yang dimainkan kedua pemuda dari pantai seberang.

Jaka Cinde dan sahabatnya dipanggil ke istana untuk bermain sulap. Pada suatu pagi diadakanlah permainan sulap dan silat oleh dua satria dari pantai seberang. Segala perlengkapannya dilayani oleh putri dari Madura yang sudah agak lama di situ. Dengan diam-diam putri dari Madura itu bisa mengerti tujuan utama dari kedua pemuda itu. Dia bersedia membantunya. Tidak lama kemudian Jaka Cinde mulai dengan permainan sulapnya. Para penonton beserta rajanya sangat senang.

Permainan dilanjutkan. Tiba-tiba Jaka Cinde mengeluarkan sebuah selendang Cinde. Dengan seketika sang raja tertidur nyenyak, sedang para penonton menjadi panik yang akhirnya berkelahi satu sama lain. Kesempatan itu dipakai oleh Jaka Cinde untuk melepaskan ibunya dari penjara. Kemudian kedua satria dan dua orang putri pergi ke pantai. Mereka terus berlayar pulang. Belum jauh dari pantai itu terjadilah badai yang ganas. Tetapi kapal Jaka Cinde selamat bahkan lebih cepat sampai di pantai Ujung Pangkah.

Jaka Cinde membimbing ibunya dan sahabatnya membimbing putri dari Madura teman Dewi Ratna Sari. Baru saja sampai di tepi jalan tiba-tiba Jaka Cinde diserang oleh seorang tua yang gagah perkasa. Mereka sangat marah dan terjadilah perkelahian yang hebat. Hampir sehari penuh perkelahian itu berlangsung. Jaka Cinde agak payah dan kalah.

Akhirnya dia mengeluarkan senjata pusakanya yang berupa Selendang Cinde. Seketika itu juga lawannya tercengang dan berkata, “Hai anak muda, siapakah sebenarnya engkau?”

“Aku adalah putra satu-satunya dari ibu Dewi Ratna Sari,” jawab Jaka Cinde.

“Oh anakku. Ketahuilah bahwa ayahmu. Namaku Raden Simbar.”

Dewi Ratna Sari mendengar nama Raden Simbar, matanya membelalak dan datang bersimpuh sambil berkata, “Oh kakanda, lawanmu itu adalah anakmu sendiri. Hentikanlah perkelahian ini.”

Mereka berkumpul lalu Dewi Ratna menceritakan tentang dirinya, Jaka Cinde juga bercerita perjuangannya mencari ibu dan ayahnya, sedang Raden Simbar juga demikian. Mereka pulang dengan penuh bahagia.

Mereka menghadap kepada Sang Adipati Tawang Alun. Alangkah bahagianya Tawang Alun setelah keluarganya berkumpul. Selang beberapa hari kemudian di pantai Ujung Pangkah mendaratlah Daeng Sinaroja bersama bala tentaranya akan menggempur Kabonan tempat Adipati Tawang Alun berkuasa. Maka terjadilah pertempuran sengit di pantai Ujung Pangkah. Daeng Sinaroja beserta tentaranya dapat dikalahkan oleh Kabonan.

Kini Jaka Cinde menggantikan kakaknya menjadi raja, sebab ayahnya yaitu Raden Simbar meneruskan berkelana mencari Guru Utama. Di Ujung Pangkah hingga kini masih terdapat petilasan berupa sendang yang airnya jernih kadang-kadang berubah menjadi warna merah seperti darah. Konon sendang itu adalah tempat mencuci keris yang berlumuran darah setelah perang melawan tentera dari Makasar.

Pesan moral yang bisa kita ambil dari kisah legenda Jaka Cinde dari Madura adalah jangan berhenti berbakti kepada orang tua apapun keadaan kita. Kesulitan hidup bukanlah alasan untuk mengabaikan darma bakti kepada orang tua. Amanat cerita rakyat Makassar ini mengajarkan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dan keinginan pribadi karena bisa membahayakan keselamatan bersama. Semoga kisah legenda rakyat Madura ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Maryanto, Soemadji. 2008. Pelengkap IPS: Cerita Rakyat Untuk SD. Jakarta: Balai Pustaka.

Bagikan artikel ini melalui:

7 Replies to “Legenda Daeng Sinaroja, Jaka Cinde dan Dewi Ratna Sari dari Makassar”

  1. Apakah cerita legenda seperti ini masih cocok diterapkan dalam pendidikan anak-anak karena mereka sekarang lebih banyak menonton dan mendengar daripada membaca tulisan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *