Kisah Legenda Dewi Mandalika dan Asal-usul Ikan Nyale di Pulau Lombok

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Wedding ilustration by Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Wedding ilustration by Hidayat Said

Wajah cantik rupawan tidak menjamin kebahagiaan hidup. Bersama blog The Jombang Taste kali ini Anda kami ajak menyimak salah satu cerita rakyat Lombok mengenai asal-usul Ikan Nyale. Pada jaman dahulu kala di Pulau Lombok terdapat beberapa kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut konon kebanyakan diperintah oleh raja-raja yang masih muda lagi pula kebanyakan dari mereka belum mempunyai permaisuri.

Dari beberapa kerajaan tersebut ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang lanjut usia. Raja yang telah lanjut usia ini mempunyai seorang anak putri bernama Dewi Mandalika. Dewi Mandalika seorang putri yang cantik jelita. Kecantikannya termashur sampai ke seluruh pulau Lombok. Sehingga tiada heran, apabila kecantikannya itu banyak menarik raja-raja muda di Pulau Lombok untuk menjadikannya sebagai permaisuri.

Itulah sebabnya, maka tiada heran pula apabila sang raja ayah Dewi Mandalika hampir setiap saat selalu kedatangan raja-raja muda dari kerajaan lain yang meminang putrinya, akhirnya menyusahkan raja lanjut usia itu. Betapa tidak, ia sendiri sulit menentukan calon menantunya yang terdiri dari para raja muda itu. la sulit menentukan pilihan, siapa di antara raja muda di Pulau Lombok yang berhak memboyong putrinya sebagai permaisuri.

Maka dengan kata-kata yang halus serta berhati-hati, dimintanya kepada setiap raja muda yang datang meminang untuk dapat memberikan waktu selang beberapa hari agar ia dapat menentukan pilihan calon menantunya.

Syahdan pada suatu hari, raja tua itu memanggil putrinya agar menghadap. “Putriku, Dewi Mandalika,” demikian katanya, “engkau telah mengetahui bukan, bahwa beberapa hari ini ayah telah kedatangan raja-raja muda dari seluruh pelosok pulau Lombok. Maksud mereka ke mari tidak lain ingin meminang engkau untuk dijadikan permaisuri.”

“Namun ketahuilah putriku, sampai saat ini ayah belum menentukan siapa di antara raja-raja muda itu yang berhak menjadi calon suamimu. Jika raja-raja muda yang satu ayah tolak pinangannya dan satunya lagi ayah terima, maka raja muda yang ayah tolak itu pasti merasa iri dan dengki. Padahal kedengkian di antara sesama raja muda sedikit pun ayah tak menghendakinya. Sebab rasa dengki di antara mereka pada akhirnya akan menimbulkan pertumpahan darah dan peperangan di pulau Lombok,” lanjut raja.

“Untuk itulah wahai putriku, ayah harapkan engkau dapat menentukan sendiri siapa yang hendak menjadi calon suamimu di antara raja muda itu,” pungkas raja.

Dewi Mandalika terdiam demi mendengar sabda ayahandanya. “Bagaimana, wahai putriku?” tanya ayahanda raja.

Dengan wajah yang murung, akhirnya Dewi Mandalika berkata, “Ampun ayahanda, aku pun sampai saat ini belum dapat menentukan di antaranya dari mereka. Hamba mohon juga waktu untuk memikirkan hal ini.”

Maka berhari-hari lamanya Dewi Mandalika kelihatan murung memikirkan persoalan itu. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kerajaan dengan maksud agar raja-raja muda tidak mempersoalkan dirinya lagi.

Pada suatu malam yang gelap pergilah ia meninggalkan kerajaan dengan tiada yang mengetahui ke mana ia pergi. Pengawal-pengawal kerajaan yang bertugas mencari jejak kepergiannya, kembali ke kerajaan dengan tangan hampa. Sebagian penduduk kerajaan di Pulau Lombok saat itu beranggapan bahwa Dewi Mandalika hilang dengan menerjunkan dirinya ke laut.

Kepercayaan demikian itu masih berlaku sampai sekarang di Pulau Lombok. Anggapan itu demikian kuat sehingga di pulau itu setiap tahun penduduk memperingatinya dengan sebutan adat “BAHU NYALE.” Adat Bahu Nyale diadakan satu kali pada tiap tahun yaitu sekitar bulan Maret atau April, ketika di laut sekitar Pulau Lombok banyak ditemukan orang ikan NYALE.

Menurut kepercayaan di Pulau Lombok, ikan Nyale merupakan perwujudan dari Putri Mandalika yang dahulu dianggap telah menghilang dari kerajaan dan menerjunkan dirinya ke laut. Ada juga rakyat yang percaya bahwa cacing Nyale merupakan perwujudan Putri Mandalika yang mengorbankan diri dengan cara menceburkan diri ke laut.

Amanat cerita rakyat dari Lombok ini adalah agar kita selalu mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Pesan moral yang terkandung dalam kisah legenda Dewi Mandalika ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai keinginan orang lain meski kita tidak menyukainya. Semoga artikel The Jombang Taste ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Maryanto, Soemadji. 2008. Pelengkap IPS: Cerita Rakyat Untuk SD. Jakarta: Balai Pustaka.

Bagikan artikel ini melalui:

10 Replies to “Kisah Legenda Dewi Mandalika dan Asal-usul Ikan Nyale di Pulau Lombok”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *