Cara Bertani Manusia Jaman Dahulu, Dari Berpindah-pindah Sampai Membuka Lahan Pertanian

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Gambar Doodle karya Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Gambar Doodle karya Hidayat Said

Halo sobat blogger Jombang! Tahukah Anda bagaimana asal mula manusia mengenal cara bertani? Pada jaman dahulu manusia belum mengenal pertanian. Kehidupan manusia pada waktu itu sangat tergantung dari kemurahan alam. Makanan yang mereka butuhkan, didapatnya dengan memetik buah-buahan dan daun-daunan di sekitarnya. Apabila persediaan makanan yang diberikan alam telah menipis, mereka lalu berpindah tempat. Manusia purba mencari tempat tinggal baru di mana makanan yang mereka butuhkan terdapat dalam jumlah yang cukup. Jadi, hidup mereka masih mengembara.

Selain makanan yang berupa buah-buahan serta daun-daunan yang memang tinggal memetik, manusia purba juga memakan daging. Mereka berburu mencari hewan atau menangkap ikan. Tujuan hidup mereka semata-mata disibukkan dengan kegiatan mencari makan. Mereka belum memiliki keinginan untuk tinggal menetap di sebuah rumah dan memasak makanan sendiri.

Pakaian yang digunakan manusia purba terbuat dari kulit kayu. Beberapa pakaian manusia purba terbuat dari kulit binatang yang berhasil mereka dapatkan dari kegiatan berburu. Pakaian tersebut berfungsi hanya sekedar untuk penutup tubuh dan pelindung tubuh dari udara dingin. Pakaian bagi mereka bukan sarana untuk memuaskan kebutuhan rasa keindahan atau perhiasan badan.

Manusia Nomaden

Tempat tinggal manusia purba belum dapat dikatakan rumah. Mereka menempati gua-gua yang disediakan oleh alam atau membuat gubuk-gubuk yang sangat sederhana. Bahan-bahan bangunan pun telah tersedia. Mereka tinggal mengambilnya dari pohon-pohon. Bahan bangunan tersebut berupa cabang-cabang, ranting-ranting serta daun-daun atau rumput-rumputan sebagai atap.

Itulah gambaran yang kita peroleh dari kehidupan manusia purba yang bersifat nomaden atau berpindah-pindah tempat. Mereka belum berminat untuk memperbanyak tumbuh-tumbuhan yang memberikan bahan makanan kepada mereka. Mereka tak ingat sama sekali untuk menanam barang sebatang pun tanaman yang mereka butuhkan. Mereka belum berproduksi bahan makanan.

Kebudayaan manusia mulai maju setapak demi setapak. Mereka mulai ingin hidup menetap. Mereka mulai merasakan bahwa hidup berpindah-pindah tidak lagi menguntungkan. Manusia mulai berpikir mereka tak akan memperoleh makanan yang cukup apabila tidak menanaminya sendiri serta memperbanyak hasil tanaman itu.

Mereka mulai menanam tanaman demi kelangsungan hidup mereka. Manusia mulai bertani. Sejak itu, mulailah pertanian dilaksanakan di mana-mana. Hutan dibuka, dan digunakan untuk ladang-ladang. Sejak itu, di muka bumi ini ada sekelompok manusia yang disebut petani.

Meski demikian, cara-cara bertani mereka masih sangat sederhana. Pada jaman itu, orang mengerjakan tanah bukan untuk memperoleh kekayaan. Mereka berbuat itu sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, yaitu makan. Tanah-tanah itu mereka kerjakan dan tanami bersama-sama. Hasil pertanian pun mereka bagi bersama.

Semua kehidupan pertanian mereka atur dengan adat. Kalau timbul perselisihan, mereka selesaikan dengan musyawarah. Mereka merasa perlu ada yang memimpin mereka. Pemimpin itu dipilih menurut adat pula. Dengan demikian, timbullah pimpinan masyarakat. Para pemimpin masyarakat ini, tahu benar akan tugas-tugas masing-masing.

Membuka Lahan Pertanian

Bagaimanakah manusia jaman dulu dapat memperoleh tanah? Mereka membuka hutan. Tentu saja hanya dengan parang dan kapak. Semak-semak dan kayu-kayunya lalu dibakar. Terbukalah tanah pertanian itu. Mereka lalu dapat memulai menanam. Mereka juga telah tahu cara memelihara tanaman. Setelah menghasilkan, lalu dituai atau dipanen.

Tetapi, jika suatu saat tanah itu menurun hasilnya, rnereka lalu berpindah tempat. Mereka membuka lagi sebuah hutan. Dari cara bertani berpindah-pindah ini, akhirnya mereka merasa terlalu berat. Mereka mulai berpikir, lebih baik menetap, mengerjakan sebidang tanah yang tetap.

Mereka mulai tahu, bagaimana memilih tanah yang paling baik untuk bercocok-tanam. Mereka juga mulai tahu, bagaimana harus mengerjakannya. Mereka lalu menjaga kesuburan tanahnya dengan cara menggilir penanaman. Misalnya, untuk beberapa musim tidak menanami tanah garapannya.

Dari pengalaman-pengalaman, mereka juga tahu memilih tanaman. Terutama tanaman yang menjadi makanan pokok mereka. Tak lupa pula memilih tanaman-tanaman yang dapat menghasilkan makanan di musim paceklik. Bahkan, lama-lama, mereka juga mulai dapat mengusahakan tanaman-tanaman buah-buahan serta yang dapat dipergunakan untuk bahan-bahan obat-obatan.

Pada waktu itu, masyarakat bekerja, sewata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Hasil mereka tak pernah diperjual-belikan. Memang pada waktu itu, uang belum ada. Untuk memperoleh barang-barang lain yang mereka butuhkan, dilakukan dengan cara tukar-menukar atau barter.

Orang-orang pada jaman dahulu hidup dalam kelompok-kelompok masyarakat. Pada suatu waktu, masyarakat itu bertambah besar. Kebutuhan akan makanan serta keperluan hidup lainnya bertambah pula. Oleh karena itu, mereka harus berproduksi pangan sebanyak-banyaknya. Sebab, untuk mengimbangi jumlah penduduk, produksi pangan harus pula ditingkatkan.

Sejak saat itu, manusia terus berusaha meningkatkan hasil produksi pertanian melalui beragam cara. Berkembangnya alam berpikir manusia dalam memenuhi kebutuahan pangan mengantarkan mereka menjadi manusia modern. Semoga artikel sejarah pertanian manusia purba ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Pratignyo, S.J. 1984. Tumbuh Pada Tanah Dan Tumbuh Tanpa Tanah. Jakarta: CV. Karya Indah.

Bagikan artikel ini melalui:

8 Replies to “Cara Bertani Manusia Jaman Dahulu, Dari Berpindah-pindah Sampai Membuka Lahan Pertanian”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *