Antara Prioritas Anggaran dan Gengsi Prestasi Sekolah

Peringatan Hari Isra Miraj atau Rejeban di SDN Japanan 1 Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Peringatan Hari Isra Miraj atau Rejeban di SDN Japanan 1 Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Selama sebulan terakhir ini makin sering kita jumpai lembaga pendidikan menarik masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sana melalui berbagai prestasi yang mencengangkan. Sekolah-sekolah berprestasi itu menggoda calon peserta didik dengan menawarkan prestasi yang mungkin bisa mereka raih jika mereka bersekolah di sana. Meski belum ada jaminan akan mendapatkan prestasi serupa, namun peserta didik sudah terbayang akan berada di lingkungan pendidikan seperti apa kelak mereka akan belajar. Lingkungan belajar yang kondusif mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

Persaingan antar lembaga pendidikan untuk mendapatkan murid sebanyak-banyaknya terjadi baik di lembaga pendidikan negeri maupun lembaga pendidikan swasta. Semua lembaga pendidikan berkepentingan untuk mendapatkan murid sebanyak-banyaknya. Pertimbangan logis mendapatkan banyak peserta didik di sekolah adalah untuk memperbesar anggaran yang diturunkan pemerintah melalui pos Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Artinya makin banyak murid yang bersekolah di lembaga pendidikan, maka makin besar dana BOS yang diperoleh oleh sekolah tersebut. Berkurangnya jumlah peserta didik di sekolah tentu mengurangi kemampuan sekolah dalam membelanjakan anggaran dan membeli perlengkapan ekstrakurikuler.

Maka tidak mengherankan jika sekolah-sekolah swasta memprioritaskan membeli alat-alat perlengkapan ekstrakurikuler yang mahal. Tujuannya tidak lain adalah untuk menarik minat calon peserta didik. Jenis kegiatan ekstrakurikuler yang menyerap banyak anggaran diantaranya adalah drum band. Untuk mendirikan sebuah kelompok drum band baru, sekolah membutuhkan dana setidaknya lima belas juta rupiah. Nominal tersebut bisa bertambah ataupun berkurang menyesuaikan dengan jenis, kuantitas, dan kualitas alat dan bahan yang digunakan. Semakin banyak alat-alat drum band yang dibeli tentu membutuhkan anggaran yang lebih besar pula.

Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang
Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang

Ragam Ekstrakurikuler Sekolah

Selain ekstrakurikuler drumband, ada juga sekolah berbasis pendidikan agama Islam yang memajukan ekstrakurikuler seni musik al-banjari. Perkembangan musik islami Al Banjari makin pesat di Kabupaten Jombang selama tiga tahun terakhir ini. Terlebih lagi saat ini Kabupaten Jombang telah memiliki kelompok Sholawat Seribu Rebana yang aktif mengadakan kegiatan pengajian berkeliling Kabupaten Jombang. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap sekolah yang mampu menampilkan peserta didiknya sebagai pemain sentral dalam kegiatan sholawat Seribu Rebana.

Apakah sebenarnya yang dicari oleh sekolah dalam menentukan anggaran dan belanja? Tentu saja setiap lembaga pendidikan memiliki standar pelayanan minimal yang harus memenuhi delapan apek sesuai dengan peraturan pemerintah. Meski demikian, setiap lembaga pendidikan memiliki kewenangan untuk merencanakan anggaran keuangan mereka pada tahun depan yang tersusun dalam RKAS. Disinilah setiap sekolah dapat memperioritaskan pos-pos pembelanjaan setahun kedepan sesuai dengan prioritas yang ditentukan oleh pimpinan sekolah.

Seiring dengan makin banyaknya kegiatan kompetisi berbasis kesenian yang ada di Kabupaten Jombang, maka mau tidak mau setiap lembaga pendidikan harus mengalokasikan sebagian anggaran mereka untuk membeli alat musik dan perlengkapan kesenian. Tujuannya tidak lain adalah untuk meraih prestasi sebanyak mungkin dari berbagai ajang perlombaan yang diadakan. Jika sebuah lembaga pendidikan tampil sebagai juara dalam perlombaan maka nama baik sekolah tersebut akan terangkat. Imbasnya adalah para orang tua pun tertarik untuk menyekolahkan anaknya di sana meskipun mereka belum tahu secara pasti kualitas pendidikan di lembaga pendidikan itu.

Sebagian sekolah memanfaatkan jaringan alumni sekolahnya untuk mendapatkan pendanaan melalui proses hibah. Langkah ini tidak bisa dilakukan oleh semua lembaga pendidikan mengingat kemampuan manajerial setiap lembaga pendidikan berbeda-beda. Hanya sekolah yang mampu mengakomodasi dan mengkoordinasi jaringan alumni mereka yang mampu mendapatkan pendanaan lebih baik untuk pembelanjaan mereka. Di sinilah terlihat peran serta masyarakat dalam pendidikan khususnya dalam membantu sekolah mendapatkan sumber dana yang tidak mampu tercukupi dari anggaran Bantuan Operasional Sekolah.

Bagaimana dengan pengalaman Anda bersekolah? Apakah sekolah tempat anda bekerja memanfaatkan jaringan alumni untuk mendapatkan sumber pendanaan bagi kegiatan ekstrakurikuler? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “Antara Prioritas Anggaran dan Gengsi Prestasi Sekolah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *