Menjamurnya Usaha Mikro Dadakan di Masa Tatanan Baru Setelah Pandemi

Tujuan, Asas, Ruang Lingkup, dan Syarat Sukses Otonomi Daerah di Indonesia
Tujuan, Asas, Ruang Lingkup, dan Syarat Sukses Otonomi Daerah di Indonesia

Masa pandemi COVID-19 belum berlalu di Indonesia. Rakyat tekah dipaksa untuk menjalani tatanan kehidupan yang baru bernama new normal. Kondisi saat ini memaksa setiap warga untuk mengubah perilaku mereka, baik dalam kehidupan ekonomi maupun aktivitas sehari-hari. Penulis mengamati kegiatan ekonomi sejumlah kenalan yang tinggal di wilayah kabupaten Jombang. Secara kasat mata mereka tidak banyak merubah jadwal pekerjaannya. NamunĀ  bidang pekerjaan mereka telah melalui pergeseran. Kegiatan usaha bisnis, wirausaha maupun pekerjaan rutin sehari-hari mereka telah banyak berubah sejak tiga bulan terakhir ini. Skala bisnis yang mereka jalani berada pada tingkat mikro. Usaha mikro ditandai dengan jumlah pendapatan usaha berjumlah lima puluh juta rupiah ke bawah.

Dimulainya masa pandemi pada akhir Maret 2020 lalu menyebabkan ribuan pekerja di Indonesia mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tidak ada satupun warga negara yang menginginkan terjadi PHK di masa pandemi ini. Terlebih lagi pemutusan hubungan kerja itu tidak memberikan kompensasi pesangon yang cukup untuk menjalani kehidupan di masa yang sulit ini. Alhasil, Lebaran Idul Fitri tahun ini tidak terlalu Semarak seperti tahun-tahun sebelumnya. Trend fashion pun tidak banyak berubah pada Lebaran kali ini. Hal ini disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat selama bulan April hingga Mei 2020.

Praktek bisnis hiburan dan wisata pun tampaknya semakin terpuruk sejak berlangsung masa pandemi. Ragam bisnis hiburan seperti jasa event organizer pesta pernikahan maupun hajatan warga telah berhenti total selama tiga bulan ini. Mereka tidak memperoleh pendapatan semenjak berlaku larangan berkumpul secara masal dan kebijakan social distancing oleh pemerintah daerah masing-masing. Para pelaku bisnis hiburan otomatis sepi pendapatan. Banyak di antara mereka yang berusaha menyambung kehidupannya dengan menjalani bisnis skala mikro. Pilihan terbaik bagi mereka adalah menjalankan bisnis perdagangan atau jual beli barang.

Tidak mengherankan jika saat ini kita menyaksikan bersama mulai maraknya kembali penjual sayur di lingkungan pedesaan padahal mereka sebelumnya bukanlah pedagang sayur. Sebelumnya mereka telah berprofesi di bidang bisnis hiburan, misalkan penyewaan sound system, sewa tenda pernikahan, penyanyi hajatan, maupun bisnis jasa event organizer lainnya. Kini mereka semua tidak malu-malu untuk menjalankan bisnis bidang perdagangan. Mereka tidak malu untuk menjual sayur kangkung, bayam, cabai, bawang merah, bawang putih, dan beragam bumbu dapur lainnya. Apa mau dikata, jika mereka menuruti rasa malu maka keluarga mereka terancam tidak dapat makan hari itu.

Economy activities - from Pinterest
Economy activities – from Pinterest

Pilihan profesi pedagang juga menjadi alternatif yang menarik bagi para guru honorer. Kegiatan pembelajaran siswa selama masa pandemi berlangsung di rumah masing-masing siswa. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam jaringan (daring) secara online. Oleh karena itu setiap guru honorer memiliki kesempatan untuk berdagang barang-barang melalui sosial media. Aktifitas perdagangan yang dilakukan guru muncul karena adanya permintaan dan penawaran yang hampir seimbang. Masyarakat mulai enggan belanja keluar rumah. Pada sisi lain telah hadir penawaran yang memudahkan pemenuhan kebutuhan mereka melalui informasi yang tersampaikan di smartphone.

Saat ini kita banyak menemukan guru-guru yang menjual barang dagangan di status WhatsApp, update status Facebook, linimasa Twitter, posting Instagram maupun beragam akun sosial media lainnya. Produk-produk yang dijual oleh para guru honorer itu antara lain aneka kuliner olahan sendiri, aneka hijab model terbaru, pakaian wanita, kosmetik pria dan wanita, skincare, aksesoris wanita, perlengkapan sekolah, hingga alat-alat elektronik. Mereka tak malu mengaku sebagai reseller dari agen-agen produk yang mereka jual.

Kemampuan guru dalam berdagang sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja citra mereka menjadi sedikit pudar akibat peran ganda yang dilakukannya sebagai pendidik sekaligus pedagang. Tidak menutup kemungkinan para pembeli produk dagangan para guru itu tak lain adalah orang tua murid mereka sendiri. Jika hal ini terjadi maka kemungkinan besar aktivitas pendidikan tidak berlangsung secara optimal. Mau bagaimana lagi, inilah kemampuan yang bisa dilakukan oleh guru dalam memanfaatkan jaringan sosial mereka untuk berdagang.

Sebenarnya tidak masalah jika Anda sebagai seorang guru melakukan aktifitas perdagangan atau jual beli online dan melibatkan orang tua murid sebagai konsumen produk Anda. Namun perlu Anda sadari bahwa tugas utama seorang guru adalah mengajar murid. Kalaupun kondisi akhirnya memaksa Anda untuk berjualan online, pastikan Anda sudah terlebih dulu melaksanakan tugas Anda mengajar siswa. Jangan sampai tugas mengajar siswa terbengkalai karena Anda lebih fokus berjualan secara online. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan Anda dan menginspirasi Anda menjadi guru yang lebih bijak di masa pandemi.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “Menjamurnya Usaha Mikro Dadakan di Masa Tatanan Baru Setelah Pandemi”

  1. Justru orang-orang yang baru membangun bisnis di masa pandemi ini merupakan contoh orang-orang yang selalu kreatif inovatif dan tidak mudah menyerah terhadap keadaan. Kita harus memberi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua guru yang mau berusaha menambah penghasilan mereka dengan berjualan online setidaknya mereka masih siap menunjukkan daya juang mereka di tengah keterbatasan hidup saat ini.

  2. Ya mau gimana lagi…. enggak ada sumber penghasilan yang bisa diandalkan di masa pandemi ini. Jadiii….. akhirnya guru-guru berjualan lewat status WA, Instagramc, Facebook, Twitter maupun media sosial yang lain .kita syukuri sajalah apapun bentuk nikmat Tuhan yang diberikan kita hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *