Semangat Belajar Melejit Berkat Pelatihan Super Tahfidz

Kegiatan Belajar Santri Marhalah TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang
Kegiatan Belajar Santri Marhalah TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang

Hari Minggu kemarin, 1 April 2018, penulis mengikuti pelatihan Super Tahfidz di PAUD Ar-Rahman Jombang. Pelatihan tahfidz ini ditujukan untuk guru TPQ dan Guru Quran dan diharapkan bisa diterapkan kepada anak-anak didiknya. Telah hadir Ustadz Muhammad Marzuqi Ihsan. Beliau adalah master trainer pelatihan metode menghafal Al-Quran di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Alumni Pondok Pesantren Gontor ini hadir di Indonesia setelah bertahun-tahun menjadi praktisi tahfidz di Negeri Ipin Upin.

Pelatihan tahfidz bersama Ustadz Marzuqi hari ini memberi banyak informasi pendidikan kepada penulis. Diantara materi yang menarik untuk diterapkan dalam praktek mengajar adalah fungsi utama pendengaran dalam tahfidz. Fungsi linguistik seorang anak berkembang pesat pada usia 4 bulan sampai 3 tahun. Inilah waktu yang tepat untuk mengajarkan tahfidz kepada anak.

Anak-anak adalah peniru yang ulung. Proses meniru dapat dilakukan dengan sempurna saat anak belum mencapai usia akil baliq, yaitu umur sekitar 10 tahun. Setelah perkembangan linguistik tercapai, anak akan berkembang akal dan logika pada usia 4 tahun ke atas.

gambar-anak-anak-belajar-mengaji-di-tpq.jpg.jpeg
gambar-anak-anak-belajar-mengaji-di-tpq

Pernyataan Ustadz Maszuqi di atas sesuai dengan kondisi peserta didik yang penulis hadapi. Murid Sekolah Dasar yang memiliki hafalan bagus bukanlah yang murid kelas 6, tapi justru murid kelas 2 dan kelas 3. Kondisi ini harus disikapi dengan bijak dalam menjalankan program tahfidz untuk siswa SD.

Pelatihan Super Tahfidz ini juga membuka kesadaran penulis untuk memberi sebanyak mungkin pujian kepada peserta didik. Dikatakan oleh Ustadz Matzuqi bahwa harus diakui selama ini banyak guru SD yang salah kaprah dalam menerapkan negative nurture atau pola asuh negatif, misalnya memberi hukuman denda, hukuman pukulan, dan beragam hukuman fisik lainnya.

Sebaliknya, positive nurture atau pola asuh positif tidak banyak dilakukan. Bentuk pola asuh positif adalah memberi apresiasi atau penghargaan, memberi teladan kehidupan, dan kesediaan guru mendoakan muridnya.

Cara mengajarkan tahfidz yang pertama adalah membuat murid suka gurunya. Jika murid sudah bersedia menyukai murid tanpa paksaan, maka guru akan bisa mengajarkan tahfidz dengan mudah. Ustadz Marzuqi melarang keras tindakan guru yang memaksakan muridnya menghafal ayat-ayat Al-Quran. Disinilah para guru Quran harus pintar mengelola kelas supaya murid tertarik belajar bersama guru.

Selain beberapa poin di atas, masih ada banyak pembahasan menarik seputar super tahfidz. Nantikan ulasannya di artikel The Jombang Taste berikutnya.

Bagikan artikel ini melalui:

11 Replies to “Semangat Belajar Melejit Berkat Pelatihan Super Tahfidz”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *