5 Macam Reward and Punishment Dalam Mendidik Murid

Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang
Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang

Salah satu materi pelatihan Super Tahfidz kemarin adalah cara mengasuh murid dengan menerapkan reward and punishment kepada murid. Hadiah dan hukuman sering diterapkan para guru kepada para pelajar untuk meningkatkan semangat belajar mereka. Inilah cara klasik yang banyak ditempuh guru untuk menertibkan kelas, membentuk kompetisi sehat di dalam kelas, menghargai usaha siswa, dan sekaligus menghukum kegagalan siswa.

Pelaksanaan reward and punishment tidak sepenuhnya didukung oleh pendidik. Ada sebagian pendidik yang tidak bersedia memberikan hadiah ataupun hukuman dengan alasan tertentu, misalnya terkait isu perlindungan anak. Ada boleh setuju maupun tidak. Sepanjang pengalaman penulis mendidik siswa-siswi, baik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, cara mendidik seperti ini masih mampu memberikan dampak baik terhadap kemajuan belajar siswa.

5 macam cara mengajar murid dengan metode reward and punishment adalah:

1. Memukul dengan rotan

Jenis hukuman yang pertama adalah memukul dengan rotan, kayu, bilah bambu maupun benda keras lainnya. Cara hukuman ini menyakitkan bagi murid dan guru itu sendiri. Murid terluka secara fisik dan mental. Sedangkan guru terluka secara psikis. Penulis mengalami sendiri betapa masa kecil yang dihantui pukulan rotan dan kayu tidak menyenangkan. Cara mendidik dengan memukul ini sangat tidak dianjurkan dilakukan terhadap kids jaman now karena akan melahirkan perasaan dendam.

2. Mendenda uang ataupun barang

Bentuk hukuman yang kedua adalah mendenda dengan uang sejumlah nominal tertentu. Jika uang dipikir terlalu materialistis, maka hukuman denda berlaku dalam bentuk penyerahan barang tertentu. Cara mendidik seperti ini akan melahirkan budaya konsumerisme dan menghasilkan guru-guru oportunis. Murid dan wali murid akan selalu berusaha bersikap perfect dan menghambat kreatifitas murid.

3. Memberi penghargaan

Penghargaan kepada murid dapat berbentuk pujian, ucapan selamat, piagam penghargaan, sertifikat, piala, maupun hadiah. Penghargaan dapat meningkatkan motivasi belajar murid. Contoh sederhana adalah hanya dengan pujian kecil saja seorang anak dapat lebih bersemangat belajar. Cara mendidik siswa seperti ini lebih baik daripada memaki murid dan memberi hukuman fisik. Sebisa mungkin buatlah penghargaan khusus kepada siswa berprestasi sesuai umurnya.

4. Memberi teladan

Sebaik-baik pengajaran adalah teladan kehidupan. Inilah bentuk pendidikan paling mahal yang membutuhkan komitmen, konsistensi dan keikhlasan. Dalam kehidupan nyata, tidak semua pendidik dapat menjadi teladan kehidupan bagi murid-muridnya. Oleh karena itu setiap guru harus selalu meningkatkan kompetensi diri mereka. Jangan takut berbuat salah dan terlihat jelek. Tunjukkan the real life kepada murid beserta cara menghadapi masalah-masalah manusia modern.

5. Mendoakan murid

Doa adalah senjata pamungkas bagi setiap manusia yang beragama. Mendoakan murid mungkin tidak memiliki korelasi secara langsung terhadap perubahan tingkah laku di sekolah. Meski demikian, setiap guru harus berusaha mendoakan murid-muridnya karena doa adalah cara guru menjaga murid dari jarak jauh. Doakan murid-murid Anda setiap hari sesudah sembahyang. Kalau doa Anda belum terkabul sekarang, pasti suatu hari nanti murid-murid Anda akan datang kembali di hadapan Anda di puncak kesuksesan.

Nah, dari lima macam reward and punishment di atas, nomor berapa yang sudah Anda jalankan?

Bagikan artikel ini melalui:

8 Replies to “5 Macam Reward and Punishment Dalam Mendidik Murid”

  1. Artikel keren pak. Semua guru dan ortu harus baca tulisan ini. Yang paling sulit adlh mendoakan murid. Kita sering lupa punya murid waktu berdoa nggak disebut.

  2. Jaman skrg guru gak ada hormatnya di mata murid. Yg salah adalah knp pemerintah tdk menerapkan sekolah parenting utk para wali murid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *