Begini Rasanya Khotmil Quran di Tengah Wabah Virus Corona

Artikel Ushul Fiqh - Penggalian Hukum Islam dari Dalil-dalil
Kitab suci Al-Quran

Selama dua hari ini, 26 dan 27 Maret 2020, penulis mengikuti kegiatan Khotmil Quran di lingkungan tempat tinggal. Khotmil Quran atau Khataman adalah aktifitas membaca kitab suci Al-Quran mulai Juz 1 sampai dengan Juz 30. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian dari acara kirim doa kepada anggota keluarga yang telah meninggal. Usai Khotmil Quran biasanya dilanjutkan dengan kegiatan membaca Tahlil dengan mengundang tetangga sekitar rumah.

Berhubung saat ini Indonesia sedang dilanda wabah Virus Corona atau Covid-19, maka Pemerintah Indonesia menyatakan dengan tegas himbauan bagi masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan yang menghimpun massa lebih dari 15 orang. Himbauan ini lantas dikuatkan dengan Surat Edaran Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Dampaknya, telah terjadi pembubaran secara halus kegiatan pengajian oleh pihak kepolisian di salah satu desa di Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang.

Penulis tidak sampai berpikir akan mendapat teguran pihak berwajib. Hanya saja penulis tetap was-was terhadap kemungkinan penyebaran virus corona dalam majelis khotmil quran. Anjuran Pemerintah untuk #DiRumahAja tampaknya tidak dihiraukan oleh sebagian besar warga. Acara khotmil quran dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 15.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh enam orang jamaah khotmil quran putra.

Pemerintah Kabupaten Jombang telah merilis video tata cara bersalaman untuk mengindari kemungkinan penularan virus Corona. Intinya adalah meminimalkan kontak fisik dengan cara menjaga jarak (social distancing). Kali ini anggota jamaah khotmil quran tetap bersalaman seperti biasa. Kami pun tetap bisa bercanda tawa di dua lokasi khotmil quran yang berbeda selama dua hari ini.

Gambar ilustrasi virus corona Covid-19 - Gambar diambil dari website tci-research.com
Gambar ilustrasi virus corona Covid-19 – Gambar diambil dari website tci-research.com

Kegiatan membaca Al-Quran dilakukan secara berantai atau maraton. Jamaah putra dan putri memiliki jadwal khotmil quran tersendiri. Bapak Modin atau kepala agama di desa hari ini melalui pengeras suara sebelum sholat Jumat mengumumkan penghentian sementara kegiatan keagamaan di desa. Acara yang dihentikan adalah yasinan putra, yasinan putri, diba’an, tahlilan kematian, maupun hajatan pernikahan. Langkah ini diambil setelah takmir masjid mendapat surat edaran dariĀ  organisasi Nahdlatul Ulama untuk pencegahan virus Corona.

Kewaspadaan kami meningkat karena kehadiran puluhan tamu dalam hajatan kirim doa. Beberapa diantara mereka berangkat dari luar Kabupaten Jombang. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Jombang, tiap kali dilaksanakan hajatan kirim doa, tahlilan, peringatan wafat seseorang, ataupun acara tasyakuran pasti akan dihadiri oleh kerabat. Tidak masalah jika kerabat tersebut tinggal di satu desa yang sama sehingga kita bisa menelusuri jejak perjalanannya.

Hal yang lebih rumit adalah jika tamu hajatan itu berasal dari luar kota dan kita tidak mengetahui dengan pasti rekam jejak perjalanannya sebelum dia berkunjung kesini. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan masyarakat Jawa yang serba tak enak atau sungkan untuk menolak kehadiran tamu. Tamu mendapat tempat terhormat dalam tradisi Jawa karena dianggap bisa menambah rejeki dan memperpanjang usia.

Untungnya, salah satu pemilik hajat dalam khotmil quran kali ini menyediakan hand sanitizer atau cairan pembunuh kuman. Penulis dan jamaah khotmil quran bisa sedikit tenang mengingat sudah tersedia bahan penangkal penyebaran kuman. Kami percaya hidup dan mati manusia sudah diatur oleh Allah SWT. Namun kewaspadaan tetap harus dikedepankan sebagai ikhtiar mendapatkan keselamatan dan kesehatan.

Bagaimana dengan pengalaman Anda mengikuti kegiatan khotmil quran ataupun pengajian di saat wabah virus corona melanda? Apakah Anda masih menjumpai kegiatan masyarakat yang menghimpun banyak orang? Silakan berbagai cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Begini Rasanya Khotmil Quran di Tengah Wabah Virus Corona”

  1. Ikhtiyar dan tawwakal harus berjalan beriringan. Semoga Indonesia kembali aman dan tentram seperti sebelum wabah virus korona melanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *