Peringatan Hari Kartini di Sekolah Negeri Dibayangi Ancaman Sanksi Saber Pungli

Peringatan Hari Kartini Memakai Pakaian Adat Jawa di SDN Latsari Mojowarno Jombang Tahun 2017
Peringatan Hari Kartini Memakai Pakaian Adat Jawa di SDN Latsari Mojowarno Jombang Tahun 2017

Halo sobat blogger Jombang! Hari ini tanggal 21 April dan diperingati sebagai Hari Kartini. Masyarakat Indonesia banyak yang membuat acara seru untuk mengenang perjuangan RA Kartini dalam mengangkat derajat wanita, tak terkecuali di sekolah-sekolah. Peringatan Hari Kartini di sekolah, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta, pada umumnya berlangsung meriah. Aneka lomba dilaksanakan murid dan guru di sekolah dengan memakai pakaian adat sebagai identitas bangsa Indonesia. Lomba-lomba tersebut diadakan sebagai bentuk penyegaran pikiran sekaligus mengasah kreatifitas siswa dalam bidang seni.

Saya masih ingat betapa serunya peringatan Hari Kartini beberapa tahun lalu. Salah satu jenis lomba yang dipertandingkan adalah lomba memasak. Lomba Memasak dalam rangka peringatan Hari Kartini mempertemukan murid, wali murid dan guru untuk berkompetisi membuat hidangan yang lezat, sehat dan berbiaya terjangkau. Lomba tersebut juga biasanya dilakukan dengan memakai busana daerah masing-masing. Bagi siswa yang berasal dari Jawa, umumnya akan memakai pakaian adat Jawa.

Begitupun dengan pemandangan istimewa hari ini yang terekam di SDN Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Peringatan Hari Kartini di SDN Latsari berlangsung menarik dan unik. Tidak seperti biasanya, para guru hari ini mengajar siswa-siswanya dengan memakai busana adat Jawa. Ibu Guru memakai kebaya warna-warni sedangkan Pak Guru memakai beskap putih. Sekilas, pemandangan tersebut mirip dengan persiapan pagelaran Ludruk. Beberapa murid mengagumi betapa keren guru mereka dalam pakaian adat Jawa.

Salah satu siswa protes mengapa hanya gurunya yang pakai baju daerah. Kenapa murid-murid tidak diharuskan berpakaian adat Jawa. Terus, mereka juga bertanya mengapa tidak ada lomba-lomba dalam peringatan Hari Kartini tahun ini. Masih banyak tanda tanya yang bergejolak dalam pikiran murid-murid pagi ini. Sebagian besar guru menjawab secara diplomatis: tahun ini yang mendapat tugas memakai baju adat adalah para guru dan tahun depan bergantian.

Waspada Saber Pungli

Mengapa peringatan Hari Kartini di sekolah negeri tahun ini kurang greget? Tidak lain adalah karena adanya peraturan baru yang membatasi wewenang sekolah dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan penggalangan dana dari murid dan wali murid. Tidak usah berandai-andai akan mengadakan lomba memasak dengan mewajibkan murid membawa bahan-bahan memasak, bahkan mewajibkan murid memakai baju adat daerah pun berpotensi menjadi pelanggaran ketentuan Pemerintah.

Seiring keluarnya surat edaran Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) di lingkungan Dinas Pendidikan per 15 Maret 2017, langkah sekolah dalam menggelar kegiatan ekstrakurikuler, peringatan hari besar nasional, dan peringatan hari besar Islam makin berat. Selama ini kegiatan-kegiatan tersebut banyak didukung oleh partisipasi wali murid. Saat ini sekolah dilarang memungut apapun kepada murid dan wali murid. Bahkan infaq setiap hari Jumat yang dilaksanakan oleh kegiatan muatan lokal keagamaan siswa pun dilarang dilaksanakan.

Sempat terpetik ide untuk mewajibkan setiap murid memakai baju adat untuk memperingati Hari Kartini tahun ini. Ide tersebut ditambahkan catatan bahwa murid dan wali murid tidak boleh menyewa busana adat ke salon maupun rumah rias. Setiap murid harus memakai baju adat milik mereka sendiri. Di jaman modern begini sangat sedikit masyarakat yang memiliki baju adat sendiri. Artinya, mereka mau tak mau akan mengunjungi rumah rias untuk menyewa baju adat khusus untuk peringatan Hari Kartini tahun ini. Nah, sikap inilah yang masuk saber pungli.

Kasus ini hanyalah sedikit dari sekian banyak permasalahan yang menyelimuti peraturan Saber Pungli di sekolah negeri, baik di jenjang SD, SMP maupun SMA. Keterlambatan pencairan dana BOS untuk sekolah negeri menambah berat langkah SD Negeri dan SMP Negeri dalam melaksanakan kegiatan pendidikan yang lebih istimewa dari biasanya. Apakah solusi alternatif untuk kondisi ini? Mengefektifkan peran Komite Sekolah adalah sebuah kebutuhan penting. Komite Sekolah memiliki wewenang untuk menggalang partisipasi wali murid dalam kegiatan pendidikan yang tidak mampu tercukupi oleh dana BOS.

Sayangnya, kebanyakan sekolah negeri saat ini tidak memiliki Komite Sekolah yang efektif. Walaupun terdapat perkumpulan wali murid, organisasi tersebut belum mampu mewujudkan fungsi pengawalan dalam pendidikan anak-anak di sekolah. Bagaimana peringatan Hari Kartini di sekolah Anda hari ini? Apakah peraturan baru Saber Pungli juga berpengaruh terhadap kesuksesan acara tersebut? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.

8 Replies to “Peringatan Hari Kartini di Sekolah Negeri Dibayangi Ancaman Sanksi Saber Pungli”

  1. Bukan hura-hura yang dibutuhkan. Tapi semangat perubahan itulah yang harus digalakkan. Terus semangat mas.

  2. rayakan sekedarnya saja. yang lebih utama adalah memahami makna di balik sebuah peristiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *