Kemeriahan Lomba Permainan Tradisional di Peringatan Tahun Baru Bersama Santri TPQ

Sudah dua hari ini suasana gedung TPQ Al-Mujahiddin lebih semarak dari biasanya. Saya berinisiatif melaksanakan aneka lomba permainan tradisional untuk para santri. Hal ini saya pandang perlu dilakukan mengingat bulan Agustus kemarin di TPQ tidak ada lomba-lomba peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Kali ini saya mengambil momen tahun baru Hijriyah yang bertepatan tanggal 1 Muharam jatuh pada Selasa, 11 September 2018 sebagai dasar pelaksanaan aneka lomba menyenangkan untuk anak-anak. Selasa dan Rabu kemarin kegiatan mengaji di TPQ saya liburkan karena kesibukan saya mengikuti rapat IKA UNHASY dan siaran radio Suara Pendidikan Jombang. Libur ini sekaligus untuk menyegarkan kembali pikiran santri karena rutinitas mengaji di TPQ lumayan monoton akhir-akhir ini.

Sesi pertama lomba peringatan tahun baru Islam dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September 2018 kemarin. Saya memainkan dua jenis permainan tradisional yang mudah diikuti semu anak, yaitu lomba makan kerupuk dan lomba memindahkan kacang di dalam tepung. Lomba makan kerupuk sudah lama dikenal para santri dan tergolong jenis lomba purbakala. Kendati demikian, mereka tetap antusias mengikuti lomba. Lomba kedua kemarin adalah memindahkan kacang diantara tepung. Walaupun baju mereka sedikit kotor karena serbuk tepung yang berterbangan, para santri tetap bisa menikmati lomba. Saya memberikan kalung medali kepada para santri yang berhasil menjadi pemenang. Mereka tampak girang bukan kepalang. Terbukti kan, anak-anak paling suka diberikan penghargaan atas prestasi mereka.

Sesi kedua lomba perayaan tahun baru Islam dilaksanakan hari ini, Jumat 14 September 2018. Ada tiga jenis lomba yang saya mainkan, yaitu sunggi tempeh, bermain kekompakan bebar-salah, dan bermain kekompakan memindahkan bola estafet. Ketiga jenis permainan tradisional ini bisa menarik perhatian anak-anak untuk ikut berlomba. Bahkan santri dari TPQ sebelah pun ikut-ikutan mengaji kesini karena mereka tertarik berpartisipasi dalam lomba permainan tradisional. Acara lomba berlangsung seru. Teriakan semangat dan canda-tawa para peserta tak henti bergemuruh. Saya meng-handle acara lomba ini sendirian dan agak kewalahan mendisiplinkan sekitar 80 orang santri dengan tenaga saya sendiri dan tanpa dibantu oleh pengeras suara. Untungnya, mereka semua bisa dikendalikan dengan baik dari jam setengah empat sore sampai jam lima petang.

Ada pesan tersembunyi yang saya pelajari dari kegiatan lomba permainan tradisional selama dua hari ini. Anak-anak adalah makhluk yang berdaya konsentrasi lebih rendah daripada orang dewasa. Guru harus sering menyegarkan kembali daya pikir anak dengan beragam kegiatan pembelajaran rekreatif. Guru TPQ pun demikian. Seorang ustadz atau ustadzah jangan pernah meninggalkan unsur kesenangan saat mendidik murid. Aneka lomba dan permainan harus dilakukan secara berkala agar pikiran para santri tidak merasa terbebani oleh aneka tugas membaca Al-Quran dan menulis huruf Arab. Saya rencanakan perhelatan lomba seperti ini bisa dilaksanakan setiap bulan. Semoga anak-anak yang melakukan migrasi mengaji ke TPQ Al-Mujahiddin bisa lebih mencintai masjid dan beragam aktifitas ibadah di dalamnya karena sebenarnya hiruk-pikuk lomba itu hanya bungkus dari pembelajaran yang berisi. Aamiin.

Bagikan artikel ini melalui:

22 Replies to “Kemeriahan Lomba Permainan Tradisional di Peringatan Tahun Baru Bersama Santri TPQ”

  1. Salam kenal ustadz. Saya tertarik utk praktek mengaji yg menyenangkan murid. Bisa kasih contoh metode pembelajaran seperti apa yg sdh ustadz praktekkan kpd santri?

  2. Setiap ustadz harus bisa memotivasi anak agar giat mengaji. Apa yg sdh ustadz Agus terapkan di TPQ merupakan bukti kecintaan kpd pengajaran Quran.

  3. TPQ jaman now keren nih ada acara fun games segala. Nggak kayak jaman saya dulu yg kegiatan belajarnya melulu di sekitar bedug maghrib.

  4. Aku senang baca tulisan ini karena bisa memotivasi guru guru mengaji untuk lebih memperhatikan murid mereka dan lebih menyenangkan murid. tapi tidak semua guru bisa seperti Mas Agus karena mereka masih terjebak pada cara berfikir lama bahwa guru harus tampil berwibawa dan menakutkan di mata murid.

  5. Setelah membaca tulisan ini aku jadi teringat masa kecilku dulu di kampung. saat aku belajar mengaji di Surau zaman dulu belum ada permainan kreatif dan menarik seperti ini Yang ada hanyalah bermain pecahan genteng dan pola yang disebut boy-boyan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *