Ekskul Pramuka Untuk Murid SD Kelas Bawah, Kenapa Tidak?

Fun Games Gerakan Pramuka Siaga
Fun Games Gerakan Pramuka Siaga – Lomba Rally Karet Gelang

Ada anggapan yang selama ini beresar di kalangan pendidik sekolah dasar bahwa kegiatan kepramukaan hanya bisa dijalankan di beberapa kelas saja. Murid-murid kelas 6 dan kelas bawah tidak mendapat jam ekskul pramuka. Maksud kelas bawah yaitu murid kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Mereka dianggap tidak perlu mengikuti kegiatan latihan pramuka.

Alasan yang cukup masuk akal dalam kasus ini adalah kegiatan ekstrakurikuler Pramuka menghabiskan jam belajar para siswa. Sejauh ini hanya siswa kelas 4 dan kelas 5 yang lebih banyak diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Mungkin para guru beranggapan bahwa siswa kelas 4 dan kelas 5 tidak dibebani terlalu banyak tugas seperti halnya siswa kelas 6.

Memang bisa dipahami jika setiap lembaga pendidikan memiliki kebijakan-kebijakan tertentu yang berbeda dengan membaga lainnya. Kebijakan tersebut disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan sehingga perwujudan dari visi dan misi itu akan tampak dalam penentuan prioritas tujuan belajar dan pembagian jam belajar siswa.

Jam belajar siswa dibagi menjadi kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Sebagian besar kegiatan kepramukaan diletakkan pada jam ekstrakurikuler. Hanya sedikit di antara lembaga pendidikan yang menempatkan pelatihan Pramuka di dalam kegiatan intrakurikuler sekolah. Dua jenis kebijakan ini berpengaruh terhadap efektivitas kegiatan pelatihan Pramuka.

Lembaga pendidikan yang menempatkan kegiatan pelatihan Pramuka pada jam ekstrakurikuler biasanya berlangsung pada jam pulang sekolah, yaitu siang sampai dengan sore hari. Hal ini bermanfaat tidak mengganggu jam belajar utama, yaitu jadwal kegiatan belajar intrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di luar jam belajar umumnya hanya diikuti oleh kelas 4 dan kelas 5.

Penyegaran Suasana Belajar

Satu hal yang mungkin tidak dipahami oleh sebagian besar kepala sekolah dan kepala madrasah adalah bahwa kegiatan pelatihan Pramuka bisa mencakup dalam berbagai aspek mata pelajaran. Pelatihan Pramuka menggunakan lintas disiplin ilmu, mulai dari matematika, bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam ilmu, pengetahuan sosial, bahkan pendidikan agama. Berbagai kegiatan latihan pramuka dan permainan pramuka banyak yang mengadopsi wawasan dari ilmu-ilmu eksakta untuk diterapkan kepada peserta didik.

Keuntungan lain dari kegiatan pelatihan Pramuka adalah anak-anak bisa lebih bersemangat dalam belajar. Rasa bosan saat belajar di dalam kelas akan tergantikan oleh suasana menyegarkan saat mengikuti pelatihan Pramuka di luar kelas. Sangat disayangkan jika murid-murid kelas 6 yang seharusnya diberikan penyegaran berpikir dan hiburan belajar tapi malah dipotong jam belajarnya untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Bukankah setiap siswa berhak untuk mengembangkan dirinya dalam disiplin ilmu tertentu.

Begitu juga untuk murid-murid kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 memerlukan metode belajar yang menyenangkan seperti halnya kegiatan kepanduan. Praktek pengajaran di lapangan selama ini justru lebih banyak bersifat menegangkan untuk murid-murid kelas 1, 2 dan 3 dari tingkat kelas awah. Usia 7 sampai 9 tahun adalah waktu bagi mereka untuk bermain dan bersenang-senang. Belajar pun seharusnya bisa menyenangkan untuk jenjang murid sekolah dasar dari kelas 1 sampai dengan kelas 3.

Ada banyak jenis permainan Pramuka yang bisa digunakan oleh guru kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 dalam mengajar murid-murid di kelas. Aneka permainan itu bersifat menyenangkan, mengajarkan anak untuk berkolaborasi dan bekerja sama, sekaligus memuat nilai-nilai edukasi yang bermanfaat bagi pengembangan kecerdasan berfikir, mental, dan spiritual siswa.

Penulis menjadi pembina Pramuka secara aktif sejak tiga tahun terakhir. Berdasarkan pengalaman penulis, justru murid murid kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 yang berminat untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dibanding kakak kelas mereka. Sayang sekali pelatihan Pramuka Siaga di kebanyakan lembaga pendidikan tidak berlangsung secara optimal atau bahkan ditiadakan. Justru latihan Pramuka penggalang yang banyak digalakkan oleh Kepala Sekolah. Payahnya lagi, ekskul ini pun hanya dijadikan sebagai prasyarat saja supaya kegiatan ekstrakurikuler tetap terlihat ada di lembaga pendidikan tersebut.

Keterampilan Membina Pramuka

Bisa dipahami mengapa kebanyakan lembaga pendidikan tidak mengajarkan ekstrakurikuler Pramuka untuk murid kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Faktor keterbatasan alokasi waktu biasanya dijadikan alasan mengapa kebanyakan lembaga pendidikan tidak menyediakan ekskul Pramuka untuk murid kelas bawah. Selain itu, faktor ketersediaan pembina Pramuka Siaga juga perlu diperhatikan.

Membina Pramuka untuk golongan siaga membutuhkan keterampilan khusus layaknya mengajar murid di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Keterampilan ini mungkin tidak dimiliki oleh sebagian besar pembina pramuka di sekolah dan madrasah di Kabupaten Jombang. Membina anak-anak usia dini membutuhkan lebih banyak kesabaran, ketelatenan, dan keteladanan secara detail. Usia kanak-kanak bisa dikatakan sebagai usia emas pertumbuhan otak dan fisik. Segala bentuk tingkah laku kita akan mereka tiru.

Saat ini telah muncul inisiatif untuk mengajarkan kepanduan atau pramuka untuk jenjang pendidikan anak usia dini, yaitu Taman Kanak-kanak (TK). Meski konsep ini masih mentah dan perlu disempurnakan lagi namun pelaksanaan pendidikan kepramukaan untuk anak usia dini menarik untuk diterapkan. Bukan saja karena akan membantu anak-anak berlatih disiplin sejak dini, tetapi juga proses membentuk karakter anak yang sesuai dengan Satya dan Darma Pramuka harus dimulai sejak kecil.

Bagaimana dengan pelaksanaan ekstrakurikuler Pramuka di sekolah Anda? Apakah murid-murid kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 diberikan kesempatan untuk mengikuti ekskul Pramuka? Silakan berbagi pengalaman Anda pada kolom komentar dibawah ini.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “Ekskul Pramuka Untuk Murid SD Kelas Bawah, Kenapa Tidak?”

  1. Bagaimana klo permasalahannya adlh karena keterbatasan anggaran sekolah. Apakah ada pembina Pramuka yang mau melatih dan tidak dibayar?

  2. jenis-jenis kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah tergantung kebijakan kepala sekolah. kalau Kepala Sekolahnya Oke, guru guru pun pasti oke juga.

  3. Apakah pembina Pramuka mau membina Gugus Depan kalau tidak ada bayarannya? rasanya mustahil. Semua itu tergantung ketersediaan dana di lembaga pendidikan masing-masing. Misal kalau ada dana cukup, ya oke Pramuka nya. Kalau nggak ada dana ya siap-siap aja mati pramukanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *