Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang

Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang
Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang

Apa kabar kawan-kawan blogger Indonesia? Terima kasih masih setia membaca artikel blog The Jombang Taste. Tahukah Anda bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dalam hal pemilihan hari baik untuk melangsungkan hajatan pernikahan maupun sunatan (khitan) putra mereka. Para orang tua meyakini bahwa dalam setahun terdapat hari baik dan hari buruk (naas) menurut sistem kalender Jawa. Oleh karena itu, para sesepuh akan mencarikan hari baik bagi hajatan putra-putri mereka agar kelak memberi dampak bagus bagi kesehatan dan perekonomian mereka.

Orang tua saya, terutama dari keluarga Bapak, sangat paham akan tradisi Jawa mengenai pemilihan tanggal baik untuk melangsungkan hajatan. Bapak saya dipercaya oleh saudara-saudara di keluarga besar dan kerabat di sekitar rumah sebagai ‘pencari hari baik’ untuk hajatan yang akan mereka selenggarakan. Basically, saya tidak suka yang ribet dan tidak percaya hal-hal klenik seperti itu. Namun apa salahanya kalau saya bahas kekayaan budaya Jawa yang satu ini dalam artikel blog The Jombang Taste.

Dasar perhitungan hari baik dimulai dari weton (hari lahir) seseorang. Weton adalah kombinasi 7 hari dalam seminggu (Ahad sampai Sabtu) dengan 5 hari pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing). Kombinasi tersebut menghasilkan 35 neptu, misalnya: Senin Legi, Rebo Kliwon, Jumat Wage, dan lain-lain. Uniknya, setiap weton menghasilkan angka sendiri-sendiri sesuai nilai yang terkandung. Misalnya weton Selasa Pon memiliki nilai 10.

Kalau sudah tahu weton seseorang maka bisa dihitung hari baik untuk acara hajatan. Bapak saya memakai cara ‘icir’, yaitu mirip orang sedang bermain dakon (congklak). Jumlah angka weton dibagi dalam 7 hari hingga habis dan diketahui hari apa yang mengumpulkan banyak nilai. Dari situlah akan ditentukan ‘hari depan’, hari H, dan ‘hari belakang’ yang sama-sama mengandung isi baik. Terlebih lagi ‘hari depan’, para sesepuh mengharuskan memiliki nilai yang paling banyak dibanding hari belakang dan hari H. Simbolisasi ini bermakna perekonomian masa depan akan menjadi lebih baik.

Pemilihan hari baik dalam menghelat sebuah hajatan penting dalam prakteknya memiliki beberapa mahzhab (pandangan). Beberapa ada yang memakai naga dina, naga sasi, dan naga tahun. Masing-masing naga memiliki ketentuan arah mata angin tersendiri sesuai bulan penyelenggaraan hajatan. Ada juga hitungan Jawa yang tanpa melalui beberapa hitungan naga tersebut. Secara tradisional, besarnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil hitungan weton sebanding dengan dampak yang ditimbulkan. Makin kuat kepercayaan, makin besar efek yang dihasilkan.

Tantangan yang dihadapai para tetua masyarakat Jawa dalam melestarikan tradisi mencari hari baik adalah kesibukan kerja. Putra-putri mereka umumnya libur kerja hanya pada hari Minggu (Ahad) sehingga pilihan melangsungkan hajatan adalah pada hari Sabtu dan Minggu. Kenyataannya, Sabtu dan Minggu tidak selalu bersesuaian dengan perhitungan hari baik menurut sistem kelender Jawa. Bahkan bisa menghasilkan balak, dalam kalender Imlek disebut Ciong, bagi anak yang bersangkutan. Disitulah para sesepuh terlihat kreatif ‘mengakali’ peruntungan anak mereka dengan cara-cara yang unik.

Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda mengenai kekayaan budaya Jawa. Nantikan kelanjutan seri artikel tradisi Jawa hanya di blog ini. Mari kita pelajari warisan Budaya Nusantara!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *