Macam-macam Tradisi Unik dan Upacara Adat Masyarakat Jawa Timur

Nasi kuning sering dijadikan sebagai menu utama dalam upacara adat Suku Jawa
Nasi kuning sering dijadikan sebagai menu utama dalam upacara adat Suku Jawa

Halo sobat pembaca blog The Jombang Taste! Tahukah Anda bahwa masyarakat desa yang tinggal di provinsi Jawa Timur memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial atau kedaerahan? Mereka dapat hidup rukun dengan orang-orang sesama suku Jawa meskipun mereka bertemu di luar Pulau Jawa. Berbagai upacara adat dilaksanakan di provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari tradisi turun-temurun. Upacara adat Jawa Timur masih dilaksanakan warga suku Jawa yang tinggal di berbagai belahan dunia. Upacara adat itu antara lain tingkeban, sepasaran, pitonan, sunatan, dan akekahan. Masing-masing upacara adat memiliki tujuan yang berbeda. Berikut ini saya ringkas jenis-jenis tradisi unik dan upacara adat yang bikin baper.

1. Kelahiran

Tingkeban adalah upacara adat Jawa menjelang kelahiran seorang bayi. Sepasaran adalah upacara adat Jawa setelah bayi berusia 5 hari. Lalu pitonan adalah upacara adat Jawa setelah bayi berusia 7 bulan. Sungguh, tradisi unik masyarakat Jawa patut kita lestarikan dan kita laksanakan.

2. Pernikahan

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami atau satu pasang suami atau istri saja. Sebelum dilakukan pernikahan, calon mempelai laki-laki akan melamar gadis yang disukainya. Namun sebelum dilakukan proses lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nakokake. Nakokake berarti bertanya. Ini adalah tradisi adat anak laki-laki menanyakan apakah Si Gadis sudah memiliki calon suami atau belum. Jika anak gadis itu belum memiliki calon suami, kemudian dilakukan peningsetan atau lamaran. Lalu setelah mencari hari baik pernikahan diantara dua keluarga, kedua mempelai melangsungkan upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih.

3. Kematian

Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya orang Islam suku Jawa melakukan doa bersama atau kirim doa. Kegiatan kirim doa dilaksanakan pada hari ke-1 sampai hari ke-7, ke-40, ke-100, haul 1 tahun dan haul 3 tahun setelah kematian. Jika itu belum cukup, ada juga warga Islam suku Jawa yang mengadakan kenduren pada tanggal geblak anggota keluarganya. Penulis pernah mengulas tumpeng pungkur sebagai menu kuliner yang unik di kota Jombang. Tumpeng pungkur adalah salah satu makanan yang disajikan pada upacara kematian, sesaat setelah jenazah dimakamkan.

4. Hajat Keluarga

Selamatan dan sesaji sering kali dijalankan oleh masyarakat Jawa di desa-desa pada waktu tertentu. Selamatan erat kaitanya dengan kepercayaan terhadap unsur-unsur kekuatan sakti maupun makhluk halus. Tradisi selamatan bertujuan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan-gangguan apa pun. Hajat keluarga ada juga yang tidak berhubungan dengan kelahiran, pernikahan dan kematian. Contoh hajat keluarga suku Jawa adalah meruwat keluarga, mbangun nikah, dan ujar. Warga suku Jawa merasa perlu mbangun nikah untuk membuang sial pada keluarga suami-istri yang dirundung msalah. Ujar adalah janji ucapan akan melakukan suatu hal jika sebuah cita-cita tercapai.

Buka puasa bersama keluarga besar Bani Karso tahun 2017
Buka puasa bersama keluarga besar Bani Karso tahun 2017

Selamatan adalah upacara makan bersama dengan makanan yang telah diberi doa. Menu makanan tersebut adalah nasi kuning, ayam bakar dan ayam panggang, urap-urap, srundeng, mie goreng, tahu, tempe, dan sejumlah lauk-pauk khas Jawa lainnya. Kuliner suku Jawa yang tinggal di Jawa Timur pada umumnya berasa pedas dan asin. Hal ini cukup berbeda dengan kuliner masyarakat Jawa yang tinggal di Jawa Tengah yang umumnya berasa cenderung manis. Sebelum dibagi-bagikan, makanan tersebut didoakan sesuai dengan hajat atau keinginan tuan rumah acara disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari.

Upacara Selamatan

Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam, yaitu selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, selamatan yang berhubungan dengan bersih desa, selamatan yang berhubungan dengan hari besar keagamaan, dan selamatan yang berkaitan dengan peristiwa khusus. Tiap kali melaksanakan upacara selamatan adat Jawa, masyarakat Jawa akan menyajikan makanan khusus. Upacara adat ini dipimpin oleh warga Suku Jawa yang mampu berbahasa Jawa dan hafal bacaan doa dalam bahasa Arab.

Selamatan juga bisa dilakukan oleh warga suku Jawa dalam rangka lingkaran hidup seseorang contohnya adalah upacara adat hamil 7 bulan, kelahiran, potong rambut pertama, menyentuh tanah untuk pertama kali, menusuk telinga, upacara sunat atau khitan, kematian, dan peringatan saat kematian. Kemudian ada juga selamatan yang berhubungan dengan bersih desa dan sedekah desa. Contohnya adalah upacara kebo-keboan sebelum penggarapan tanah pertanian dan upacara syukur setelah panen padi.

Selain itu ada juga selamatan yang berhubungan dengan hari-hari besar dalam agama Islam. Contohnya adalah Muludan, Rejeban, megengan dan beberapa kegiatan keagamaan Islam lainnya. Warga biasanya berkumpul di masjid untuk bersedekah makanan usai melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Tak lupa ada juga selamatan yang berkaitan dengan peristiwa khusus dalam hidup masyarakat Jawa. Contohnya adalah tradisi sedekah ketika kita akan aku kan perjalanan jauh, menempati rumah baru, menolak bahaya, dan merawat haul. Makin banyak anggota keluarga yang terlibat, makin semarak acara pesta adat itu.

Teaveling ke Jogja pakai celana batik & baju koko
Teaveling ke Jogja pakai celana batik & baju koko

Menurut Yodi Kurniadi (2017) dalam buku Adat Istiadat Masyarakat Jawa Timur, selain selamatan masyarakat Jawa juga mengenal upacara sesajen. Upacara sesajen berkaitan dengan kepercayaan terhadap adanya makhluk halus. Sesajen diletakkan di tempat-tempat tertentu, seperti di bawah kolong jembatan, di bawah tiang rumah, dan di tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Sesajen merupakan ramuan dari tiga macam bunga atau kembang telon, kemenyan, uang recehan, dan kue oven yang diletakkan di dalam besek kecil atau takir daun pisang. Ada pula sesajen yang dibuat pada setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Terdapat banyak sekali jenis upacara adat istiadat yang unik, khususnya mengenai tradisi yang berlaku di daerah Jawa Timur. Tidak menutup kemungkinan bahwa upacara-upacara adat tersebut berhubungan dengan adat istiadat dari daerah lain di Jawa Timur. Sifat dasar masyarakat Jawa Timur yang mudah akrab menjadi Jawa Timur sebagai provinsi ramah tamu. Sebagian kecil masyarakat Jawa Timur menyebar ke berbagai pulau di Indonesia. Kebiasaan mereka di Tanah Jawa turut dibawa ke tempat tinggal baru mereka. Hal ini menyebabkan budaya Jawa lebih dikenal di luar Pulau Jawa.

Tradisi upacara adat di Jawa Timur bisa juga terdapat di daerah-daerah lain selain di provinsi Jawa Timur, seperti di provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tiga provinsi di Pulau Jawa tersebut merupakan daerah dengan penduduk mayoritas suku Jawa. Kita bisa memastikan akan ada kemiripan adat istiadat khususnya dalam upacara-upacara adat di sejumlah daerah di Pulau Jawa ini. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda tentang kekayaan budaya Jawa. Mari lestarikan beragam wisata budaya di Nusantara!

Bagikan artikel ini melalui:

16 Replies to “Macam-macam Tradisi Unik dan Upacara Adat Masyarakat Jawa Timur”

  1. Jawa Timur adlh gudangnya suku Jawa. Orang Jawa dikenal memiliki kemampuan budaya adiluhung dan kepemimpinan yang super power. Nggak heran kalo bnyk tradisi unik disana.

  2. matur nuwun cak agus sampun nulis cerito iki. aku seneng maca blog iki mergo akeh tulisan apik sing mbahas budaya Jombangan. terusno cak! peno tak dukung.

  3. Budaya Jawa Timur memang terkenal unik dan Agung. enggak salah kalau banyak provinsi di Indonesia tertarik untuk mengikuti pengembangan budaya seperti di Jawa Timur.

  4. Liburan di Pulau Jawa yang paling menyenangkan adalah saat datangnya gerhana bulan karena akan ada banyak sekali makanan gratis yang dibagikan oleh warga kepada setiap orang yang dikenalnya.

  5. Saya heran mengapa yang disebut suku Jawa hanya orang yang berada di Jawa Timur dan Jawa Tengah saja sementara masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta tidak mau disebut sebagai orang Jawa padahal nyata nyata mereka tinggalnya di pulau Jawa.

  6. Diantara Sekian banyak adat istiadat suku Jawa yang saya kenal, upacara pernikahan Jawa merupakan yang paling fenomenal karena mengundang banyak tamu, menyediakan banyak makanan, dan pastinya ada banyak hiburan Jawa yang disajikan.

  7. Warga Jawa adalah kelompok masyarakat yang suka bersedekah dan mereka suka berbagi makanan ketika memiliki hajat keluarga. Terutama ketika upacara tujuh bulan kehamilan seorang wanita. Saya senang memiliki teman teman dari suku Jawa mereka juga sangat perhatian kepada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *