Tumpeng Pungkur, Tradisi Selamatan Setelah Pemakaman Jenazah Muslim Jawa

Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan
Ilustrasi seorang anak berdoa untuk orang tuanya – Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan

Hari keempat Lebaran Idul Fitri saya lewatkan di rumah saja. Agenda hari ini adalah beres-beres rumah setelah dipakai acara Halal Bihalal Bani Karso 2018 kemarin. Berhubung saudara sudah pada mudik ke negara masing-masing, saya membersihkan rumah dengan Emak dari pagi sampai siang. Saya bisa istirahat dengan tenang pada tengah hari menjelang dhuhur. Tidur siang saya dikejutkan oleh jeritan beberapa orang wanita sekitar jam dua siang. Rupanya mereka menangis histeris karena Mbok Kasiatun meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Beliau adalah kerabat dekat yang rumahnya berada di belakang rumah saya. Saya terbangun saat beberapa orang ibu masuk ke dapur rumah saya. Mereka mau nebeng memasak makanan untuk selamatan orang yang telah meninggal.

Usai menjalankan sholat ashar pada jam tiga sore, saya beranjak ke rumah duka untuk bersiap mengikuti sholat jenazah. Disana sudah ada Pak Modin bersiap menata barisan sholat. Saya ikut bergabung diantara tujuh orang pelayat yang akan mengikuti sholat jenazah. Sangat disayangkan, hanya ada tujuh orang pelayat yang mau mengikuti sholat jenazah dari total kira-kira 90 orang warga yang hadir. Tujuh orang itupun merupakan anak-cucu almarhum. Entah kenapa hanya sedikit warga Guwo yang mau mensholatkan jenazah. Kebanyakan mereka cuma duduk di pinggir jalan sekitar rumah duka sambil mengobrol tidak jelas arah percakapannya. Setelah disholatkan, jenazah dibawa dengan keranda untuk segera dimakamkan. Perjalanan ke area makam tidak terlalu lama. Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai kesana.

Saya bersiap kembali ke rumah setelah pemakaman selesai dilaksanakan. Baru saja duduk manis di samping lemari es, saya mendapat instruksi mengikuti kenduren di rumah duka. Rupanya ada selamatan tumpeng pungkur. Awalnya saya tidak tahu apa itu tumpeng pungkur. Saat acara kenduri usai, saya pun banyak bertanya kepada Emak mengenai tumpeng pungkur. Tumpeng pungkur adalah selamatan nasi dan lauk-pauk setelah pemakaman jenazah seorang warga muslim dari keturunan Jawa. Kenduren tumpeng pungkur biasanya dilakukan setelah warga pelayat pulang kembali ke rumah. Demikian juga hari ini. Saya dan empat orang tetangga lain diundang di rumah duka sepulang dari makam. Setelah mencuci tangan dan kaki, kembali saya gunakan kopyah untuk berangkat kenduren.

ibu ibu penjual nasi boranan dari lamongan
Ilustrasi seorang wanita Jawa menyiapkan hidangan khas Jawa.

Satu rangkaian tumpeng pungkur terdiri dari satu tampah (tempeh) tumpeng berujung 2 dan dua buah piring nasi kenduren. Sebuah tempeh nasi tumpeng itu memiliki dua buah gunungan lancip. Pada setiap sisi nasi terdapat lauk-pauk khas hidangan kenduren Jawa, yaitu urap-urap (kulup), srundeng (parutan kelapa disangrai), mie goreng, ayam goreng, dan telur bali. Apakah makna tumpeng pungkur dengan dua gunungan dan dua piring nasi kenduren? Kembali saya bertanya kepada Emak yang paham adat Jawa. Pungkur adalah kata benda sedangkan kata kerjanya adalah mungkur. Mungkur adalah sebutan terhormat untuk orang yang meninggal dunia dari kalangan warga biasa, kata tersebut setara dengan mangkat yang dipakai untuk kata kerja raja yang telah meninggal dunia.

Makna filosofi tumpeng pungkur adalah sebagai makan bersama terakhir antara pasangan suami isteri setelah salah satu dari mereka meninggal dunia. Hal itu disimbolkan dengan dua piring makanan yang ada di sisi tumpeng pungkur. Lho, orang sudah meninggal dunia kok diajak makan bersama? Masyarakat Jawa mempercayai bahwa arwah orang yang meninggal dunia masih akan tetap berkeliaran di sekitar rumah duka sampai dengan tujuh hari setelah tanggal kematiannya. Oleh karena itu ada tradisi tahlilan yang dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut di rumah duka. Arwah orang yang meninggal dunia akan berangsur-angsur menjauhi rumah duka sampai 40 hari setelah kematiannya. Islam mengajarkan agar para anak-cucu dan keturunan almarhum senantiasa mendoakan arwah leluhurnya yang telah meninggal dunia. Doa anak sholeh adalah salah satu penolong arwah dari siksa kubur.

Kuliner Jawa nasi kuning dan nasi tumpeng merupakan makanan yang kerap hadir dalam bancakan. Tradisi bancakan adalah lawan kata dari selamatan. Jika bancakan dilakukan warga Jawa sebagai ungkapan kebahagiaan, selamatan adalah wujud kesedihan atas duka seorang penduduk Jawa.

Anda boleh setuju dan tidak setuju pelaksanaan tradisi tumpeng pungkur dan tahlilan di kalangan muslim Jawa. Satu hal yang perlu Anda ketahui bersama adalah kearifan lokal masyarakat Nusantara, khususnya suku Jawa, mengajarkan memperbanyak sedekah untuk berbagi makanan dengan sesama melalui tradisi kenduren tumpeng. Kebersamaan dalam doa yang tercipta dalam ritual tumpeng pungkur dapat meningkatkan kewaspadaan menghadapi kematian yang sangat dekat di depan mata. Semoga kita bisa mengambil hikmah kejadian ini.

Bagikan artikel ini melalui:

23 Replies to “Tumpeng Pungkur, Tradisi Selamatan Setelah Pemakaman Jenazah Muslim Jawa”

  1. Makanan enak biasanya banyak lemaknya. Hati-hati dlm menjaga pola makan. Jika ingin sehat ala nabi, ikuti tips herbal ala nabi.

  2. Mungkin tidak banyak orang yang sadar bahwa tradisi sedekah yang dilakukan masyarakat suku Jawa bisa menjadi penolak bala dan bencana yang mungkin terjadi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *