Transformasi Kesenian Tradisional Lerok, Besutan dan Ludruk dari Jombang

Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang
Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang

Hai sobat blogger Jombang pembaca setia blog The Jombang Taste! Anda kembali berjumpa dengan artikel seni budaya khas Jombang melalui blog ini. Pada beberapa artikel sebelumnya sudah saya kupas sejarah tari ngremo. Kali ini kita bahas sejarah dan asal-usul kesenian Lerok dari Jombang beserta perkembangannya.

Menurut MGMP Seni Budaya Kabupaten Jombang, H. Supriyanto pernah melakukan penelitian mengenai asal-usul kesenian ludruk Jombang. Ia berkesimpulan bahwa ludruk sebagai teater rakyat dimulai tahun 1907 oleh Pak Santik dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Bermula dari kesenian ngamen yang berisi syair-syair dan tabuhan sederhana, Pak Santik berteman dengan Pak Pono dan Pak Amir. Ketiganya lantas berkeliling dari desa ke desa dengan tujuan mengamen.

Saat mengamen, Pak Pono mengenakan pakaian wanita dan wajahnya dirias coretan-coretan agar tampak lucu. Dari sinilah penonton melahirkan kata wong lorek. Akibat variasi bahasa, maka kata lorek berubah menjadi kata Lerok. Masyarakat pun lebih mengenal aktifitas mereka sebagai kesenian Lerok dari Jombang. Menurut perkembangannya, kesenian ludruk yang disebut juga Lerok yang dapat dibagi menjadi beberapa periode.

Perkembangan Kesenian Jombangan

Periode pertama disebut Periode Lerok Ngamen. Pada masa awal ini, ludruk dirintis oleh Pak Santik, seorang petani kecil yang humoris dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Pada tahun 1907, ia memulai mata pencaharian baru dengan cara ngamen yang diiringi musik lisan atau musik mulut. Bersama kawannya, Pak Santik sepanjang tahun 1907-1915 ngamen dengan penampilan wajah yang dirias lucu model coretan atau lorek-lorek.

Periode berikutnya disebut periode Lerok Besut. Periode kedua ini berlangsung pada 1920-1930 dan disebut kesenian Besutan. Kesenian yang berasal dari ngamen tersebut mendapat sambutan penonton. Dalam perkembangannya, jenis kesenian ini sering diundang untuk mengisi acara pesta pernikahan dan pesta rakyat yang lain. Dalam pertunjukan Besutan kemudian terdapat perubahan terutama pada acara yang disuguhkan.

Pada awal acara diadakan upacara persembahan. Persembahan itu berupa penghormatan ke empat arah angin atau empat kiblat, kemudian baru diadakan pertunjukan. Pemain utama memakai topi merah Turki, tanpa atau memakai baju putih lengan panjang dan celana stelan warna hitam. Dari sini perkembanglah akronim mbeto maksud artinya membawa maksud, yang akhirnya mengubah sebutan kesenian lerok menjadi kesenian besutan.

Periode lerok besutan tumbuh subur pada 1920-1930. Setelah masa itu banyak bermunculan ludruk di daerah Jawa Timur. Istilah ludruk sendiri lebih banyak ditentukan oleh masyarakat yang telah memecah istilah lerok. Nama lerok dan ludruk terus berdampingan seiring dengan berkembangnya minat masyarakat terhadap kesenian asli Jombang ini. Masih menurut MGMP Seni Budaya Kabupaten Jombang, pada tahun 1955 masyarakat lebih sering menyebut kesenian ini sebagai Ludruk daripada Besutan. Transformasi ini terjadi begitu saja sesuai dengan perkembangan jaman.

Jauh sebelumnya pada tahun 1933, seniman asal Surabaya yang bernama Cak Durasim mendirikan Ludruk Organization (LO). Organisasi Ludruk inilah yang merintis pementasan ludruk berlakon berani dalam mengkritik pemerintahan Belanda dan Jepang. Ludruk pada masa itu berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat. Cak Durasim dan kawan-kawan seniman lainnya menggunakan Ludruk sebagai alat perjuangan bangsa. Hingga akhirnya para seniman Ludruk ditangkap dan dipenjarakan oleh penjajah Jepang.

Paguyuban Ludruk Arek Jombang

Kota Jombang banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal, antara lain Cak Durasim, Pak Jito tokoh besutan Jombang tahun 70-an, Cak Tole penulis drama komedi, dan Pak Yadi tokoh ludruk yang menjadi salah satu penggagas lahirnya Palembang (Paguyuban Ludruk Arek Jombang). Sampai dengan tahun 2000 masih terdapat ratusan kelompok seniman Ludruk yang eksis dan mengandalkan profesi seniman sebagai sumber kehidupan. Namun makin ke arah sini, jumlah seniman Ludruk di Kabupaten Jombang makin berkurang.

Berkurangnya jumlah seniman Ludruk di Jombang disebabkan oleh banyak faktor. Namun secara umum saya dapat membaginya menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal pudarnya popularitas Ludruk adalah kurangnya komitmen seniman Ludruk dalam menekuni profesinya, berhentinya proses kaderisasi seniman Ludruk, dan kurang baiknya manajemen internal organisasi Ludruk di desa-desa. Hal itu terjadi pada Ludruk Karya Mekar yang berada di tempat tinggal saya, Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Saat ini hampir tidak ada anak kecil yang tahu keberadaan ludruk di desanya sendiri.

Faktor eksternal yang mempercepat kematian seni tradisional Ludruk adalah berkembangnya hiburan-hiburan modern yang lebih menarik bagi masyarakat. Pertunjukan seni drama tradisional Ludruk yang berlangsung dari jam sepuluh malam sampai jam tiga pagi sungguh melelahkan, baik untuk pemain ludruk maupun penonton. Durasi Ludruk yang demikian panjang tidak serta merta memperpanjang sisi entartainmen yang terkandung di dalamnya. Akhirnya, penonton dari usia anak-anak dan remaja tidak sabar untuk mengikuti penampilan ludruk sampai usai.

Bangkitnya ludruk di Kabupaten Jombang baru bisa dirasakan sejak tahun 2007 dengan munculnya Palembang, yang diprakarsai Bupati Jombang Suyanto. Pola yang dilakukan diawali dengan revitalisasi perkumpulan ludruk yang ada di kabupaten Jombang dan dukungan modal dan pengorganisasian yang tertata dalam memunculkan eksistensi penampilan ludruk di depan publik secara periodik.

Melalui Palembang, pemerintahan Jombang mencoba melahirkan kembali ludruk sebagai media informasi yang efektif untuk menyampaikan informasi program dan kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Saat ini pun kita bisa menyaksikan lomba kesenian ludruk digelar secara rutin oleh Pemerintah Kabupaten Jombang. Tempat kegiatan festival Ludruk biasanya di Alun-alun Kabupaten Jombang. Ajang penampilan seniman Ludruk Jombang ini menarik banyak minat masyarakat untuk lebih mengenal Ludruk.

Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam melestarikan kebudayaan daerah di tempat tinggal masing-masing. Mari kita cintai budaya Nusantara!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Transformasi Kesenian Tradisional Lerok, Besutan dan Ludruk dari Jombang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *