Pengalaman Hari Pertama Santri TPQ Mengaji Setelah Libur Panjang

Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang dengan Metode At-Tartil
Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang dengan Metode At-Tartil

Kegiatan mengaji santri (Taman Pendidikan Alquran) TPQ Al Mujahidin dimulai pada pekan ini. Para santri mulai beraktivitas kembali untuk belajar membaca dan menulis Alquran bersama dengan teman-teman dan para pengajar di TPQ. Mereka tampaknya sudah sangat merindukan teman-teman mereka di TPQ. Bisa dimaklumi jika anak-anak sangat mengharapkan bisa mengaji di TPQ. Motivasi lain untuk mengaji adalah agar mereka mendapatkan uang saku kemudian membelikan jajan dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Motif ini sangat normal.

Tantangan bagi setiap pengajar Taman Pendidikan Alquran untuk memulai pengajaran setelah libur panjang adalah mengembalikan daya konsentrasi para santri. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa selama para santri libur akhir tahun hingga awal tahun tidak ada kegiatan pembelajaran membaca dan menulis Alquran di rumah. Para orang tua mereka sepertinya memaklumi untuk tidak memberikan tugas membaca dan menulis Alquran selama mereka berlibur di rumah.

Mengembalikan kemampuan para santri berkonsentrasi belajar membaca dan menulis Alquran tidaklah mudah. Hal ini perlu dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak. Semakin tinggi usia anak maka semakin lama mereka dapat berkonsentrasi membaca Alquran. Sebaiknya, anak-anak usia dibawah 5 tahun yang ikut belajar di Taman Pendidikan Alquran harus menyesuaikan diri dengan kakak kelas mereka. Para guru dan pengajar Taman Pendidikan Alquran harus mampu menciptakan suasana menyenangkan di dalam lingkungan Taman Pendidikan Alquran, khususnya untuk santri usia dibawah 5 tahun.

Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang menggunakan Buku At-Tartil
Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang menggunakan Buku At-Tartil

Penulis memulai pengajaran untuk santri Taman Pendidikan Alquran dengan mengajak bermain, bercerita dan menyanyi atau BCM. BCM adalah senjata pamungkas para pengajar untuk mengembalikan semangat belajar para murid di kelas. Lagu-lagu yang digunakan pun terbilang sederhana namun bisa membangkitkan semangat para santri untuk belajar. Ragam BCM yang bisa digunakan adalah aneka tepuk, misalnya tepuk anak sholeh, tepuk wudhu, dan tepuk semangat. Selain itu, anak-anak juga perlu diajarkan untuk menyanyikan lagu hymne TPQ dan Mars TPQ agar tumbuh identitas santri dalam diri mereka.

Tantangan lain yang tidak kalah penting dalam kegiatan belajar dan mengajar di Taman Pendidikan Alquran adalah kondisi cuaca saat ini yang sedang musim hujan. Bukan rahasia lagi bahwa para orang tua santri sering merasa khawatir untuk membiarkan anak-anak mereka berangkat ke masjid atau mushola pada sore hari. Cuaca di indonesia saat ini sedang musim penghujan dan sering terjadi angin bertiup dengan kencang. Kejadian bencana alam angin puting beliung yang melanda sejumlah daerah di Jombang akhir-akhir ini turut menambah rasa was-was bagi orang tua ketika akan melepaskan anak-anak mereka untuk belajar di taman pendidikan Al-qur’an pada sore hari.

Para orang tua seringkali menjemput anak-anak mereka untuk pulang walaupun saat itu diketahui bahwa masih sedang berlangsung kegiatan belajar di taman pendidikan al-qur’an. Para orang tua sepertinya memburu waktu agar anak-anak mereka tidak kehujanan saat pulang ke rumah. Dengan demikian seorang pengajar Taman Pendidikan Al-qur’an harus bisa bersikap luwes atau fleksibel terhadap perilaku wali santri. Para orang tua itu memiliki perhatian yang lebih terhadap anak-anak mereka, terutama untuk para santri yang berusia di bawah 5 tahun yang ikut kakaknya mengaji di taman pendidikan al-qur’an. Terlebih lagi saat ini jika terjadi hujan disertai dengan angin kencang maka akan terjadi listrik padam. Kondisi yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar di TPQ ini harus diantisipasi oleh setiap pengajar al-quran di taman pendidikan Al-qur’an.

Bagaimana dengan perkembangan kegiatan belajar santri di Taman Pendidikan Alquran di desa tempat tinggal Anda? Apakah cuaca hujan juga berpengaruh terhadap keberlangsungan kegiatan belajar dan mengajar santri di TPQ?

6 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Bagikan tulisan ini:

5 Replies to “Pengalaman Hari Pertama Santri TPQ Mengaji Setelah Libur Panjang”

  1. Wajar saja jika anak-anak masih menyukai bermain waktu belajar. Alam berpikir mereka memang masih belum sama dengan orang dewasa. setiap pengajar TPQ harus bisa memahami hal ini. Jangan memaksakan pembelajaran serius kepada santri usia kanak-kanak.

  2. Bersemangatlah para pengajar al-quran di Indonesia. Semoga amal baik kalian selalu mendatangkan keberkahan dalam hidup di masyarakat.

  3. Santai saja kalau ngajar anak-anak. Pak guru tidak perlu dipaksakan.
    kalaupun dipaksakan mereka juga akan berontak. Ajak mereka bersenang-senang saat belajar sehingga tumbuh minat mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik tanpa dipaksakan.

  4. Yang sabar saja kalau ngajar anak-anak di desa. Para orang tua mereka banyak kan nggak terlalu mengurusi anaknya karena sibuk cari duit. Mudah-mudahan amal baik ustadz ustadzah mendapatkan balasan yang layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *