Di lereng Gunung Pucangan, wilayah utara Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tersembunyi sebuah situs purbakala yang menaungi legenda agung sekaligus tradisi seni yang sakral: Situs Sendang Made. Tepatnya berlokasi di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, situs ini bukan hanya petirtaan kuno, tetapi juga panggung tahunan bagi sebuah ritual unik yang diyakini mampu meningkatkan pesona dan karir para seniman, khususnya para pesinden. Ritual tersebut dikenal sebagai Tradisi Kungkum Sinden atau Wisuda Sinden atau Kumkum Sinden atau Wisuda Sinden.
Artikel ini akan mengupas tuntas tentang sendang keramat peninggalan Raja Airlangga ini, menelusuri sejarah pelariannya, hingga mengamati secara detail prosesi Kumkum Sinden yang penuh makna dan magis.

Sendang Made: Petilasan Agung Sang Pendiri Kahuripan
Situs Sendang Made, yang kini ditetapkan sebagai situs purbakala, adalah kompleks petirtaan yang sangat dihormati. Keberadaannya dikaitkan erat dengan salah satu episode paling krusial dalam sejarah Jawa kuno, yaitu masa-masa pelarian Prabu Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan.
Pelarian Raja Airlangga dari Wura-Wuri
Menurut cerita rakyat yang dipegang teguh oleh masyarakat Made, Sendang Made adalah tempat persembunyian Prabu Airlangga ketika Kerajaan Medang (Mataram Kuno di Jawa Timur) yang dipimpin pamannya, Raja Dharmawangsa Teguh, diserang dan dihancurkan oleh Raja Wura-Wuri (sebuah kerajaan dari Lwaram atau Blora). Peristiwa tragis yang dikenal sebagai Pralaya (kehancuran) tahun 1016 Masehi itu memaksa Airlangga, yang saat itu baru berusia sekitar 16 tahun, untuk melarikan diri ke hutan dan gunung, ditemani oleh beberapa pengikut setianya, termasuk Mpu Narotama.
Mitos Sentral: Konon, Airlangga dan rombongannya bersembunyi di Sendang Made selama tiga tahun, bertapa, dan menyusun kekuatan hingga akhirnya mampu mengambil alih takhta dan mendirikan Kerajaan Kahuripan.
Penyamaran Sebagai Seniman Kentrung
Dalam masa pelariannya, demi menghindari kejaran musuh, Prabu Airlangga diyakini menyamar sebagai seorang seniman kentrung atau penabuh gendang. Sementara itu, permaisuri dan para dayang istana yang menyertainya menyamar sebagai sinden (penyanyi dalam pertunjukan wayang atau ludruk). Penyamaran inilah yang menjadi akar mula dan legitimasi spiritual bagi tradisi Kumkum Sinden di tempat ini. Sendang Made, oleh karena itu, dianggap sebagai tempat wisuda pertama bagi para seniman yang berjuang.
Empat Sendang Utama
Kompleks Situs Sendang Made memiliki beberapa sumber mata air atau sendang. Konon, setiap sendang memiliki fungsi dan tuahnya sendiri, terkait dengan peran dan kelas orang yang menggunakannya di masa lalu. Empat sendang utama yang sering disebut adalah:
- Sendang Payung: Dipercaya sebagai tempat bagi para penyanyi dan seniman.
- Sendang Padusan (atau Sendang Gede): Sendang terbesar yang berfungsi sebagai tempat mandi umum (Padusan) untuk semua kalangan.
- Sendang Pomben (atau Sendang Omben): Sendang yang airnya digunakan untuk minum (Omben) dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan.
- Sendang Drajat: Sendang khusus yang menjadi titik sentral dan lokasi sakral dari ritual Kumkum Sinden.

Kumkum Sinden: Ritual Sakral Wisuda Seniman
Tradisi Kumkum Sinden, yang secara harfiah berarti ‘berendamnya sinden’, adalah upacara adat tahunan yang memiliki fungsi ganda: sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur (Prabu Airlangga dan dayang-dayangnya) dan sebagai ritual inisiasi serta peningkatan pamor bagi para seniman.
Sendang Drajat: Lokasi Prosesi Inti
Sejarahwan Jombang Nasrul Ilah menuliskan dalam buku “Kekayaan Budaya Jombang”, diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang tahun 2020, bahwa ritual Kumkum Sinden berpusat di Sendang Drajat yang memiliki nilai sejarah. Ukuran sendang ini cukup besar, yaitu sekitar 8 meter x 11 meter. Sendang ini dipercaya memiliki daya magis tertinggi, di mana ‘Drajat’ merujuk pada derajat, martabat, atau kedudukan. Melalui ritual di sendang ini, para sinden dan seniman berharap ‘derajat’ atau popularitas karir mereka dapat meningkat, suara mereka menjadi lebih merdu, dan aura kecantikan mereka memancar abadi.
Prosesi dan Persiapan Calon Sinden
Calon-calon sinden yang akan diwisuda (atau mengikuti ritual kungkum) berasal dari berbagai sanggar di Jombang dan sekitarnya. Mereka biasanya adalah seniman muda yang ingin meniti karir profesional di dunia persindenan atau kesenian.
- Berbusana Terbaik: Calon-calon sinden harus berdandan cantik dan mengenakan busana sinden terbaik, lengkap dengan sanggul dan perhiasan, melambangkan penghormatan terhadap dayang-dayang Airlangga yang juga menyamar sebagai sinden.
- Diiringi Gending: Prosesi dimulai dengan iring-iringan sinden yang berjalan perlahan, dipandu oleh Cucuk Lampah (penunjuk jalan), menuju Sendang Drajat diiringi alunan gending Jawa yang merdu.
- Ritual Kumkum: Sesampainya di sendang, para sinden satu per satu turun dan melakukan kungkum (berendam atau membasuh diri). Di masa lalu, kungkum dilakukan dengan berendam seluruh badan. Namun, kini, seiring perubahan debit air, ritual sering dilakukan dengan membasuh wajah, leher, dan rambut dengan air Sendang Drajat yang telah dicampur dengan air kembang. Air ini dipercaya membawa tuah ‘drajat’ bagi karir mereka.
- Wisuda/Pengukuhan: Setelah ritual basuh diri, para peserta diwisuda. Pengukuhan ini sering ditandai dengan pemasangan selendang berwarna khusus (misalnya merah dan hijau) sebagai simbol kelulusan dan restu leluhur untuk terjun ke dunia seni.
- Memohon Berkah: Inti dari ritual ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perantaraan situs yang disakralkan, agar diberi kelancaran rezeki, popularitas yang menanjak, dan karir yang baik dalam profesi seni mereka.
Juru Pelihara dan Bancaan
Pelaksanaan tradisi ini selalu berada di bawah pengawasan dan bimbingan Juru Pelihara Situs Sendang Made, yang saat ini diemban oleh Mbah Supono (atau Mbah Pono). Peran juru pelihara sangat penting dalam memastikan ritual berjalan sesuai pakem tradisi.
Sebagai penutup dan wujud rasa syukur, diadakan pula tradisi bancakan wedus (kenduri/selamatan dengan menyembelih kambing). Bancaan ini disajikan dalam bentuk tumpeng dan lauk pauk, lalu dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat, seniman, dan pengunjung. Hal ini mencerminkan nilai gotong royong dan silaturahmi yang kuat dalam masyarakat Made.

Peran Mbah Supono (Juru Pelihara Situs Sendang Made)
Mbah Supono (atau Mbah Pono) adalah Juru Pelihara Situs Sendang Made saat ini. Perannya sangat krusial, berfungsi sebagai penjaga tradisi, pemandu spiritual, dan sumber pengetahuan sejarah situs.
Peran utama beliau mencakup:
- Penjaga Tradisi dan Sejarah: Mbah Supono adalah orang yang memegang dan meneruskan narasi sejarah dan mitos lisan tentang Sendang Made. Beliau menjelaskan bahwa “Kumkum Sinden ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Raja Airlangga. Perempuan yang akan menjadi sinden harus mandi di sendang ini.”
- Pemandu Ritual: Beliau memimpin dan memastikan pelaksanaan ritual adat berjalan sesuai dengan pakem turun-temurun, termasuk dalam tradisi Kumkum Sinden dan ritual lain seperti Kuras Sendang Made yang rutin dilakukan.
- Penjamin Keselamatan: Mbah Supono juga berperan sebagai tokoh yang memimpin ritual keselamatan, seperti kuras sendang, yang dilakukan untuk memohon keselamatan warga Desa Made dari segala bala atau musibah.
- Sumber Informasi: Beliau menjadi sumber utama informasi bagi pihak luar (pemerintah, media, peneliti) mengenai sejarah situs, termasuk rincian tentang petilasan Eyang Joyodilengkung, Raja Airlangga dan istrinya, prajurit Joko Tungkul, serta lima dayang-dayangnya.
Singkatnya, Mbah Supono adalah kunci spiritual dan kustodian budaya yang menjaga agar kearifan lokal Sendang Made, termasuk Kumkum Sinden, tetap lestari dan terpandu dengan benar.

Makna Filosofis ‘Bancakan Wedus’
Dalam konteks ritual adat Jawa, Bancakan Wedus (kenduri/selamatan dengan menyembelih kambing) adalah salah satu bagian terpenting dari sebuah ritual. Meskipun konteks spesifik filosofi Bancakan Wedus secara eksplisit tidak dijelaskan secara rinci, kita dapat menyimpulkan maknanya berdasarkan konteks umum ritual dan nilai sosial yang terkandung:
1. Nilai Religius dan Syukur
- Wujud Syukur: Penyembelihan hewan (kambing/wedus) adalah simbol dari rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga kepada leluhur (Prabu Airlangga) atas berkah yang telah diberikan.
- Permintaan Berkah: Ini juga menjadi permohonan agar ritual Kumkum Sinden berhasil, para sinden mendapatkan “drajat” (martabat/karir) yang menanjak, dan desa dijauhkan dari marabahaya.
2. Nilai Gotong Royong dan Silaturahmi
- Kebersamaan: Bancakan yang disajikan dalam bentuk tumpeng dan dinikmati bersama oleh masyarakat, seniman, dan pengunjung, melambangkan nilai gotong royong dan kebersamaan (sensus communis).
- Pembagian Rezeki: Tindakan berbagi makanan dari hasil sembelihan adalah simbol pembagian rezeki dan mempererat tali silaturahmi antarwarga desa dan para seniman yang berpartisipasi.
3. Nilai Simbolis Puncak Ritual
- Penutup Ritual: Bancakan ini berfungsi sebagai penutup resmi dari seluruh rangkaian upacara Kumkum Sinden, menandai bahwa ritual telah selesai dan restu leluhur telah didapatkan.
- Keseimbangan Alam: Dalam pandangan tradisional, pemberian persembahan (termasuk hewan sembelihan) adalah upaya untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.
Tantangan Pelestarian Tradisi
Pada awalnya, tradisi Kumkum Sinden atau Upacara Purwabakti Wisata Budaya ini dilaksanakan setiap tahun pada waktu yang disakralkan (biasanya pada bulan Suro atau Selo/Dzulqa’dah dalam kalender Jawa/Islam). Namun, pelaksanaannya tidak selalu mulus.
Terganggunya Tradisi Tahunan: Disebutkan bahwa tradisi ini tidak dilaksanakan selama dua tahun terakhir (sebelum tahun 2023, kemungkinan karena pandemi COVID-19). Penghentian sementara ini menunjukkan bahwa meskipun sakral, pelaksanaannya tetap terikat oleh kondisi sosial dan kebijakan pemerintah setempat.
Meskipun sempat terhenti, Pemerintah Kabupaten Jombang dan Pokdarwis setempat memiliki komitmen besar untuk melestarikan tradisi ini. Upaya pelestarian kini diperkuat dengan pengajuan Kumkum Sinden sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Hal ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda dan wisatawan untuk mengenal serta menghargai identitas budaya masyarakat Made yang unik.
Kesimpulan
Tradisi Kumkum Sinden di Situs Sendang Made adalah sebuah warisan budaya yang memadukan sejarah pelarian Raja Airlangga yang heroik dengan ritual inisiasi seniman yang penuh makna. Dari sendang-sendang yang menyimpan tuah—terutama Sendang Drajat yang menjadi tempat ‘wisuda’—hingga kisah penyamaran Prabu Airlangga sebagai seniman kentrung dan dayang-dayangnya sebagai sinden, setiap elemen tradisi ini menawarkan kekayaan narasi yang tak ternilai. Dibawah bimbingan juru pelihara seperti Mbah Supono, tradisi ini terus bertahan, menjadi sumber berkah sekaligus identitas bagi masyarakat Jombang, sebuah jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan aspirasi karir para seniman masa kini.


