Di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, khususnya Kabupaten Situbondo, tradisi-tradisi kuno masih menyimpan cerita tentang harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Salah satu yang paling unik adalah Tradisi Keket, sebuah ritual gulat tradisional yang dilakukan untuk menyambut musim kemarau. Keket bukan sekadar pertarungan fisik; ia adalah ekspresi syukur atas hasil panen melimpah, simbol kekuatan komunal, dan pengetahuan leluhur yang diwariskan secara lisan. Berasal dari masyarakat etnis Madura yang mendominasi Situbondo, tradisi ini menggabungkan elemen bela diri, ritual tari, dan nilai sosial, menciptakan sebuah pertunjukan yang kaya makna.
Artikel ini akan membahas Tradisi Keket Situbondo secara mendalam, mulai dari asal-usulnya yang berakar pada budaya Madura, perannya sebagai pengetahuan tradisional, perbedaan uniknya dengan upacara adat lain di Indonesia, perkembangannya di era modern, hingga hambatan pelestariannya yang semakin mendesak. Tulisan ini bertujuan untuk menyoroti pentingnya Keket sebagai warisan budaya tak benda, yang kini terancam punah di tengah arus globalisasi. Data di sini bersumber dari penelitian etnografi, dokumen Dewan Kesenian Situbondo, dan inisiatif lokal seperti yang dilakukan di Kecamatan Asembagus. Meski belum diakui secara nasional seperti Mamaca atau Ojung, Keket tetap menjadi identitas masyarakat agraris Situbondo, yang bergantung pada siklus musim untuk bertahan hidup.
Musim kemarau di Situbondo, yang biasanya dimulai setelah panen padi dan tebu, menjadi momen krusial. Saat sungai-sungai mulai surut dan tanah mengering, masyarakat menggelar Keket sebagai doa agar kemarau tidak terlalu panjang dan membawa berkah. Ritual ini mengingatkan kita pada ketangguhan manusia menghadapi alam, di mana kekuatan fisik menjadi metafor perjuangan hidup. Mari kita eksplorasi lebih lanjut.
Asal-Usul Tradisi Keket Situbondo
Asal-usul Tradisi Keket tidak dapat dipisahkan dari sejarah migrasi dan akulturasi masyarakat Madura di daratan Jawa Timur. Kata “Keket” berasal dari bahasa Madura yang berarti “perkelahian” atau “bergelut menggunakan kekuatan tubuh untuk menjatuhkan lawan”. Tradisi ini lahir dari praktik perkelahian tradisional Madura yang dikenal sebagai “enik” atau “gelut”, yang awalnya merupakan bentuk latihan bela diri di kalangan petani dan nelayan untuk mempertahankan diri dari ancaman alam atau konflik sosial.
Pada abad ke-18 hingga ke-19, saat masyarakat Madura bermigrasi ke Situbondo akibat kemarau panjang dan konflik di pulau asal, mereka membawa tradisi ini sebagai bagian dari adat istiadat. Di Situbondo, khususnya di desa-desa seperti Kumbangsari dan Asembagus, Keket berkembang menjadi ritual musiman. Menurut catatan etnografi dalam buku Tetangghun: Realitas, Pengalaman dan Ekspresi Seni di Situbondo yang disusun oleh Dewan Kesenian Situbondo, Keket awalnya dilakukan sebagai wujud syukur atas panen melimpah sebelum memasuki musim kemarau. Ini mirip dengan tradisi ojung (ojhung) di Madura, yang merupakan ritual meminta hujan, tetapi Keket justru menyambut kemarau sebagai fase istirahat alam setelah musim hujan.
Sejarahnya juga terkait dengan pengaruh Islam yang dibawa oleh kyai dan ulama Madura. Ritual Keket sering diawali dengan doa dan tari pembuka yang mengandung elemen sufistik, seperti gerakan yang melambangkan keselamatan dan perlindungan dari Tuhan. Di era kolonial Belanda, Keket menjadi sarana resistensi halus; pertarungan di lapangan terbuka menjadi ajang memperkuat solidaritas masyarakat terhadap penindasan perkebunan tebu. Leluhur di Desa Kumbangsari, misalnya, mengadakan Keket setiap kemarau tiba, di mana pemuda desa bersaing untuk membuktikan kekuatan, sementara tetua desa bertindak sebagai wasit yang juga penyampai hikmah hidup.
Di Situbondo, Keket menjadi unik karena adaptasi dengan lingkungan lokal. Wilayah ini, dengan tanah subur tapi rawan kemarau, membuat ritual ini sebagai penanda transisi musim. Asal-usulnya yang berlapis, dari bela diri Madura, akulturasi Jawa, dan spiritualitas Islam, menjadikan Keket sebagai simbol identitas hybrid masyarakat Tapal Kuda. Hingga kini, tradisi ini masih disimpan dalam ingatan kolektif, meski praktiknya sempat hilang selama puluhan tahun.
Tradisi Keket sebagai Pengetahuan Tradisional
Tradisi Keket Situbondo adalah bentuk pengetahuan tradisional yang kaya akan nilai-nilai filosofis, sosial, dan praktis. Sebagai warisan lisan Madura, Keket menyimpan ilmu bela diri yang diwariskan turun-temurun, termasuk teknik memeluk, menekan, dan menjatuhkan lawan tanpa menggunakan pukulan atau tendangan. Ini bukan sekadar olahraga; ia adalah ensiklopedia hidup tentang anatomi tubuh manusia dan strategi fisik, yang diajarkan oleh tetua desa kepada generasi muda sebagai latihan ketangguhan.
Dalam konteks musim kemarau, Keket menjadi pengetahuan tentang siklus alam. Masyarakat Situbondo menggunakan ritual ini untuk memprediksi panjangnya kemarau melalui interpretasi hasil pertarungan, pemenang yang kuat dianggap pertanda kemarau yang subur untuk tanaman kering seperti jagung. Ini mencerminkan pengetahuan ekologi tradisional, di mana manusia belajar harmoni dengan alam melalui aktivitas fisik. Selain itu, Keket mengajarkan etika sosial: aturan seperti tidak boleh memukul atau melukai lawan secara sengaja menekankan nilai sportivitas dan persaudaraan, mirip dengan falsafah “bhine’” (solidaritas) dalam budaya Madura.
Sebagai pengetahuan tradisional, Keket juga bersifat pedagogis. Di desa-desa seperti Asembagus, anak-anak dan remaja dilatih sejak kecil, membagi kategori usia untuk memastikan inklusivitas. Wasit, yang disebut “tokang keket”, tidak hanya mengawasi pertarungan tapi juga memberikan tafsir hikmah, seperti menghubungkan kekuatan fisik dengan kekuatan iman. Ini serupa dengan pelajaran di pesantren, di mana bela diri menjadi metafor jihad nafsu. Di era kontemporer, Keket bisa menjadi sumber pendidikan karakter, mengajarkan resiliensi menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem di Situbondo. Namun, pengetahuan ini rentan hilang karena ketergantungan pada transmisi oral, tanpa dokumen tertulis yang lengkap.
Apa yang Membedakan Tradisi Keket Situbondo dengan Upacara Adat Lainnya di Indonesia
Tradisi Keket Situbondo memiliki ciri khas yang membedakannya dari upacara adat lain di Indonesia, meski sama-sama berakar pada nilai spiritual dan komunal. Pertama, fokus pada bela diri inklusif: Berbeda dari Sumo di Jepang atau gulat tradisional di Nusantara seperti “silek” Minangkabau yang menekankan teknik rumit, Keket terbuka bagi siapa saja dengan kekuatan cukup, tanpa syarat postur tubuh besar. Peserta cukup melingkarkan lengan dan menekan lawan hingga jatuh, menjadikannya lebih aksesibel dan kurang elit.
Kedua, elemen ritual tari pembuka: Sebelum pertarungan, empat wasit melakukan tarian ritual diiringi musik tradisional, yang berfungsi sebagai doa keselamatan. Ini berbeda dari upacara seperti “Caci” di Flores, yang merupakan cambuk perang tanpa tari protektif, atau “Ojung” di Situbondo sendiri yang fokus meminta hujan dengan pukulan rotan. Ojung adalah ritual spiritual untuk hujan, sementara Keket menyambut kemarau sebagai syukur panen, menciptakan kontras musiman.
Ketiga, konteks syukur agraris: Banyak upacara adat Indonesia seperti “Sedekah Bumi” di Jawa atau “Tabuik” di Sumatera Barat melibatkan persembahan makanan atau parade, tapi Keket unik dengan pertarungan fisik sebagai ekspresi syukur. Tidak ada pemenang mutlak; fokus pada proses, mirip filosofi “ngalah” (mengalah) dalam budaya Jawa, tapi dengan nuansa Madura yang tangguh. Selain itu, penggunaan sarung sebagai penanda dan alat pengaman (wasit menarik sarung untuk memisahkan) menambahkan lapisan simbolik yang absen di adat lain seperti “Pencak Dor” di Jawa Timur, yang lebih brutal.
Keempat, lokasi dan inklusivitas: Ditampilkan di lapangan terbuka atau panggung, Keket melibatkan seluruh komunitas sebagai penonton, berbeda dari ritual tertutup seperti “Nyepi” di Bali. Perbedaan ini menjadikan Keket sebagai jembatan antara olahraga, ritual, dan hiburan, unik di panorama adat Indonesia yang kaya.
Perkembangan Tradisi Keket Situbondo
Perkembangan Tradisi Keket Situbondo mencerminkan adaptasi terhadap zaman, dari ritual desa murni menjadi even budaya terorganisir. Awalnya, pada abad ke-19, Keket adalah acara spontan di tegalan setelah panen, dengan peserta lokal dan tanpa struktur formal. Di era pasca-kemerdekaan, ia berkembang menjadi turnamen dengan kategori usia: anak-anak, remaja, dan dewasa, menarik partisipan dari desa tetangga.
Pada 1980-an hingga 1990-an, Keket sempat hilang selama puluhan tahun di Asembagus karena modernisasi dan kurang minat. Namun, pada 2016, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (DISPARBUDPORA) Situbondo bekerja sama dengan kepala desa dan Muspika menghidupkannya kembali. Pergelaran pertama pasca-hilang diadakan di lapangan Dodiklatpur TNI AD, dengan 30 peserta, menandai era baru sebagai atraksi wisata.
Di era digital, Keket berevolusi dengan dokumentasi video dan festival tahunan. Stakeholder seperti Suharjono mengkoordinasikan even untuk membangun citra Situbondo di tingkat nasional, bahkan internasional. Adaptasi termasuk panggung modern alih-alih lapangan, dan integrasi dengan seni lain seperti tari Landhung. Namun, perkembangan ini lambat; dari ratusan praktisi dulu, kini hanya puluhan yang aktif. Pandemi COVID-19 memaksa format virtual, tapi juga memperluas audiens melalui media sosial. Secara keseluruhan, Keket menuju hibridisasi, tapi tetap setia pada esensi gulat ritualnya.
Hambatan Pelestarian Tradisi Keket Situbondo
Pelestarian Tradisi Keket Situbondo menghadapi hambatan serius yang mengancam kelangsungannya. Pertama, hilangnya minat generasi muda: Dengan invasi gadget dan olahraga modern seperti sepak bola, pemuda Situbondo lebih memilih aktivitas instan daripada latihan gulat yang melelahkan. Seperti di Asembagus, tradisi ini hilang puluhan tahun karena anak muda migrasi ke kota mencari pekerjaan, meninggalkan desa tanpa pewaris.
Kedua, pengaruh puritanisme dan modernisasi: Beberapa kelompok menganggap Keket “kurang Islami” karena elemen pertarungan, meski sebenarnya diawali doa. Ini mirip isu pada tradisi lain di Jawa Timur, di mana wacana keagamaan ketat mengurangi dukungan komunitas. Selain itu, urbanisasi dan perubahan iklim membuat musim kemarau tidak menentu, mengganggu jadwal ritual.
Ketiga, kurangnya dukungan institusional: Meski dihidupkan oleh DISPARBUDPORA, anggaran pelestarian minim, fokus lebih pada pariwisata massal daripada edukasi. Tidak ada kurikulum sekolah yang memasukkan Keket, membuat regenerasi terputus. Ekonomi juga jadi hambatan; peserta bergantung pada donasi acara, yang menurun di tengah inflasi.
Keempat, dokumentasi lemah: Sebagai tradisi lisan, Keket rentan hilang tanpa rekaman lengkap. Tantangan ini menciptakan lingkaran setan, tapi upaya seperti festival bisa jadi solusi jika didukung berkelanjutan.
Kesimpulan
Tradisi Keket Situbondo di musim kemarau adalah harta karun budaya yang menyimpan asal-usul Madura, pengetahuan tradisional bela diri, keunikan ritual, perkembangan adaptif, meski dihadang hambatan pelestarian. Semoga artikel ini menjadi panggilan aksi: pemerintah butuh program regenerasi, komunitas festival rutin, dan pemuda inovasi digital. Melestarikan Keket berarti menjaga jiwa tangguh Situbondo, agar gulat ritual ini terus bergema di lapangan kemarau.


