Ritual Entas-Entas merupakan salah satu upacara adat paling sakral dalam masyarakat suku Tengger, yang mendiami wilayah pegunungan Tengger-Semeru, termasuk Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Suku Tengger, yang mayoritas beragama Hindu dengan corak lokal kuat, menjadikan Entas-Entas sebagai ritual penyucian dan pelepasan arwah leluhur yang telah meninggal dunia. Kata “entas-entas” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “entas” atau “selesai/melepaskan”, menggambarkan proses mengangkat derajat roh agar bebas dari belenggu duniawi dan mencapai swargaloka (surga) atau nirwana dalam keadaan moksa. Ritual ini tidak hanya dilakukan di Probolinggo, tetapi juga di kabupaten tetangga seperti Pasuruan, Malang, dan Lumajang, namun tetap menjadi identitas kuat masyarakat Tengger di wilayah Sukapura dan sekitarnya.
Entas-Entas biasanya dilaksanakan pada hari ke-1000 setelah kematian, meskipun sering dipercepat minimal pada hari ke-44 atau disesuaikan dengan kesiapan keluarga. Ritual ini melibatkan dukun adat (pandita) sebagai pemimpin, mantra-mantra kuno dalam bahasa Tengger, serta sesaji yang melimpah. Prosesinya berlangsung selama tiga hari tiga malam, penuh dengan doa, musik tradisional, penyembelihan hewan, dan pembakaran simbolis boneka “petra” yang mewakili arwah. Ritual ini mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur, sekaligus pengembalian unsur-unsur penyusun tubuh manusia: tanah (penguburan), air (penyucian), kayu (nisan), dan api (kremasi simbolis).
Asal-Usul Ritual Tradisi Entas-Entas Tengger dari Kabupaten Probolinggo
Asal-usul Entas-Entas tidak terlepas dari sejarah suku Tengger itu sendiri, yang diyakini sebagai keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15 akibat serbuan kerajaan Islam Demak, sebagian bangsawan dan pengikut Hindu melarikan diri ke pegunungan Tengger untuk menghindari islamisasi paksa. Mereka menetap di wilayah yang kini mencakup Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Legenda terkenal Rara Anteng (putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (pemuda dari Kediri) menjadi simbol asal-usul nama “Tengger” (dari “Anteng” dan “Seger”). Pasangan ini memohon keturunan kepada dewa Gunung Bromo, dan keturunan mereka menjadi nenek moyang suku Tengger.
Ritual Entas-Entas berakar dari tradisi Hindu Jawa kuno yang dipadukan dengan kepercayaan animisme lokal. Dalam filsafat Tengger, kematian bukan akhir, melainkan transisi roh ke alam leluhur. Roh yang belum “dientas” diyakini masih terombang-ambing di “dunia antara”, bisa mengganggu keluarga yang hidup, seperti menyebabkan malapetaka atau kematian beruntun (terutama jika meninggal pada hari buruk seperti Jumat). Oleh karena itu, Entas-Entas menjadi kewajiban untuk menyucikan roh, mengembalikan unsur-unsur tubuh ke alam (Sedulur Papat Kalima Pancer: kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, dan pancer sebagai manusia itu sendiri), serta menghormati Sang Hyang Widhi Wasa.
Di Kabupaten Probolinggo, khususnya desa-desa seperti Ngadisari, Jetak, Wonotoro, dan Sukapura, ritual ini telah ada sejak masa pra-kolonial, terdokumentasi dalam prasasti dan cerita tutur. Foto bersejarah dari 1941-1953 di Podokoyo (Pasuruan, tapi mirip praktik Probolinggo) menunjukkan ritual ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Asal-usulnya juga terkait kalender Saka Tengger yang unik, di mana tanggal ritual dihitung dengan “mecak” (sistem perhitungan hari baik).
Perkembangan Ritual Tradisi Entas-Entas Tengger dari Kabupaten Probolinggo
Sejak abad ke-20, Entas-Entas mengalami perkembangan signifikan sambil tetap mempertahankan esensi sakralnya. Pada era kolonial Belanda (1940-an), ritual ini terdokumentasi sebagai praktik Hindu Jawa yang bertahan di tengah tekanan modernisasi. Pasca-kemerdekaan, pada 1978, dokumen dari Dinas Pendidikan Jawa Timur mencatat Entas-Entas sebagai upacara besar dengan petra megah dari bunga pisang, kelapa, dan pakaian.
Pada 2016-2017, Entas-Entas dan Mecak Tengger resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengakuan ini diberikan di Surabaya, menandai transisi dari tradisi lisan menjadi aset nasional. Di Probolinggo, ritual ini semakin terintegrasi dengan pariwisata, meski tetap tertutup untuk umum agar tidak hilang kesakralannya. Perkembangan positif termasuk dokumentasi fotografi dan jurnal akademik, seperti karya Fridolin Raraswar tentang Entas-Entas di Sedaeng (Pasuruan, tapi mirip Probolinggo).
Namun, ada adaptasi: dulu strict pada hari ke-1000, kini sering dipercepat karena biaya tinggi. Musik tradisional dan tarian seperti Ojung semakin diintegrasikan, serta pengaruh teknologi seperti rekaman video untuk arsip keluarga. Di era digital, komunitas Tengger di Probolinggo menggunakan media sosial untuk promosi budaya, tapi tetap menjaga mantra rahasia hanya untuk dukun.
Ritual Tradisi Entas-Entas Tengger dari Kabupaten Probolinggo sebagai Pengetahuan Tradisional
Entas-Entas bukan sekadar ritual, melainkan gudang pengetahuan tradisional yang kaya. Ia mengandung kosmologi Tengger: pengembalian empat unsur alam (tanah, air, kayu, api) sebagai siklus kehidupan, mirip Sedulur Papat Kalima Pancer dalam kejawen. Pengetahuan ini mencakup pengobatan spiritual (pembersihan energi negatif duka), kalender Mecak untuk hitung hari baik, serta etika sosial seperti gotong royong dan penghormatan leluhur.
Sebagai pengetahuan tradisional, Entas-Entas mengajarkan harmoni dengan alam Gunung Bromo sebagai tempat suci Brahma. Mantra dukun dalam bahasa Tengger kuno adalah warisan lisan yang langka, berisi doa untuk moksa. Ritual ini juga menyimpan kearifan ekologis: sesaji dari hasil bumi mengajarkan syukur atas panen, serta larangan mengganggu roh (seperti kunjungi kubur pada Jumat Legi). Pada 2017, pengakuan sebagai WBTB menegaskan nilai ini sebagai pengetahuan tentang alam semesta dan perilaku manusia.
Ritual Tradisi Entas-Entas Tengger dari Kabupaten Probolinggo sebagai Ekspresi Budaya Tradisi
Entas-Entas adalah ekspresi budaya paling hidup dari identitas Tengger: perayaan kematian yang penuh sukacita, bukan duka semata. Ia melibatkan seni seperti musik gamelan Tengger, tarian sodoran (simbol intim suami-istri), dan kerajinan petra yang indah. Prosesi arak-arakan dengan kulak (bambu berisi beras sebagai simbol roh) dan pembakaran petra di punden berundak mencerminkan estetika Hindu Jawa.
Sebagai ekspresi, ritual ini memperkuat ikatan komunal: seluruh desa membantu, perempuan memasak semalam suntuk, pria menyembelih hewan. Ini simbol selebrasi kehidupan leluhur, bukan ratapan. Di Probolinggo, Entas-Entas menjadi pengikat empat wilayah Tengger (Probolinggo sebagai Sabrang Wetan), menjaga budi luhur (tenggering budi) tanpa kasta.
Hambatan Pelestarian Ritual Tradisi Entas-Entas Tengger dari Kabupaten Probolinggo
Meski kuat, pelestarian Entas-Entas menghadapi hambatan besar. Pertama, biaya mahal: sesaji, hewan ternak, dan persiapan bisa mencapai harga mobil SUV, membuat keluarga miskin menunda atau sederhanakan ritual. Kedua, modernisasi dan urbanisasi: generasi muda migrasi ke kota, kurang minat belajar mantra dukun, menyebabkan regenerasi pandita sulit.
Ketiga, pengaruh pariwisata Bromo: wisatawan kadang mengganggu kesakralan, meski ritual tertutup. Keempat, globalisasi dan agama lain: sebagian Tengger konversi, kurangi praktik adat. Kelima, perubahan iklim dan ekonomi: pertanian sulit, kurangi sesaji alami. Terakhir, kurangnya dokumentasi resmi membuat pengetahuan lisan rentan hilang. Upaya pelestarian melalui pengakuan WBTB, pendidikan adat, dan wisata budaya terkendali diperlukan untuk menjaga Entas-Entas sebagai jantung budaya Tengger Probolinggo.


