Asal Usul, Resep, dan Kandungan Gizi Becek Menthok
Becek Menthok, atau sering disebut Nasi Becek Menthok, adalah salah satu kuliner ikonik dari Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Hidangan ini berupa kuah kental mirip gulai atau kare, dengan bahan utama daging menthok (entok atau itik serati) yang dimasak bersama santan dan rempah-rempah khas. Rasanya gurih, pedas, dan kaya bumbu, sering disajikan dengan nasi putih hangat, sambal, dan lalapan seperti timun atau kemangi. Becek Menthok bukan hanya makanan sehari-hari masyarakat Tuban, tapi juga simbol warisan budaya pesisir yang sederhana namun mendalam. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri asal usulnya, resep autentiknya, serta kandungan gizinya yang membuatnya tetap relevan di era modern.
Asal Usul Kuliner Becek Menthok dari Tuban
Becek Menthok berakar dari tradisi masyarakat Tuban yang agraris dan pesisir. Hidangan ini sudah turun-temurun menjadi makanan rakyat, terutama di pedesaan, sejak era kolonial atau bahkan sebelumnya. Dahulu, menthok atau entok adalah ternak rumahan yang dipelihara banyak keluarga untuk diambil daging dan telurnya, membuatnya mudah didapat dan murah. Nama “becek” sendiri menggambarkan kuahnya yang kental dan berair, mirip lumpur atau becek dalam bahasa Jawa, tapi dengan rasa yang jauh lebih menggoda. Kuliner ini termasuk masakan sejenis kare dari menthok, unggas lokal sejenis bebek dengan tekstur daging lebih kenyal dan gurih alami.
Menurut catatan sejarah lokal, Becek Menthok terinspirasi dari perpaduan budaya Jawa dan pengaruh perdagangan rempah di wilayah pesisir Tuban, yang dikenal sebagai pelabuhan penting sejak abad ke-15. Ada yang menyebutkan pengaruh dari masakan Belanda seperti “De Triest Rijst” (nasi Trieste), tapi versi Tuban lebih kaya rempah seperti kunyit, jahe, dan kemiri. Di Tuban, hidangan ini sering dikaitkan dengan warisan dapur Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, yang mempopulerkannya melalui festival dan lomba kuliner. Pada 2025, Becek Menthok semakin dikenal melalui event seperti Festival Seni Budaya Aisyiyah, di mana ia menjadi ikon kuliner yang mewakili kekayaan rasa Nusantara.
Kuliner ini awalnya makanan rakyat biasa, disajikan di hajatan desa atau pasar tradisional seperti Pasar Tuban. Kini, ia menjadi daya tarik wisata, dengan warung-warung legendaris seperti Mbak Win yang menjaga resep asli. Meski bisa diganti dengan ayam, sapi, atau kambing, versi menthok tetap yang paling autentik, mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap sumber daya lokal. Keunikan ini membuat Becek Menthok bukan hanya makanan, tapi juga jejak budaya yang menghubungkan generasi.
Resep Membuat Becek Menthok dari Tuban
Membuat Becek Menthok asli Tuban relatif sederhana, tapi memerlukan kesabaran untuk meresapnya bumbu. Resep ini untuk 4-6 porsi, diadaptasi dari resep tradisional.
Bahan Utama:
- 1 kg daging menthok (entok), potong sedang.
- 500 ml santan kental dari 1 butir kelapa parut.
- 2 liter air untuk merebus.
- Minyak goreng secukupnya.
Bumbu Halus:
- 7 siung bawang merah.
- 5 siung bawang putih.
- 4 butir kemiri.
- 1 sdm ketumbar.
- 1 ruas kunyit.
- 1 ruas jahe.
- 1/2 sdt merica.
- Garam dan gula secukupnya.
Bumbu Cemplung:
- 4 butir cengkeh.
- 3 lembar daun salam.
- 4 lembar daun jeruk.
- 2 batang serai, memarkan.
- 1 ruas lengkuas, memarkan.
- 10 cabai rawit utuh (sesuai selera pedas).
- 2 tomat, iris.
- 5 cabai hijau besar, iris.
Cara Membuat:
- Lumuri potongan menthok dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan 15 menit untuk menghilangkan bau amis.
- Rebus menthok dengan air hingga empuk (sekitar 45-60 menit), tambahkan bumbu halus parsial seperti kunyit dan ketumbar untuk merebus awal.
- Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan daun salam, daun jeruk, serai, lengkuas, dan cengkeh.
- Tuang tumisan ke rebusan menthok, aduk rata. Tambahkan santan, cabai rawit, tomat, dan cabai hijau. Masak dengan api kecil hingga kuah mengental dan bumbu meresap (30-45 menit).
- Koreksi rasa dengan garam dan gula. Sajikan panas dengan nasi putih, sambal terasi, dan lalapan.
Variasi bisa menggunakan ayam untuk versi lebih ringan, tapi menthok memberikan rasa gurih khas. Waktu total sekitar 2 jam, ideal untuk masakan keluarga.
Kandungan Gizi Becek Menthok dari Tuban
Becek Menthok kaya nutrisi berkat bahan alaminya. Satu porsi (sekitar 300 gram dengan nasi) mengandung energi 450-600 kalori, mayoritas dari protein daging menthok dan lemak santan. Daging menthok tinggi protein (20-25 gram per 100 gram), mendukung pertumbuhan otot dan imunitas, serta mengandung vitamin B kompleks seperti B3 (niasin) untuk metabolisme energi dan B12 untuk kesehatan saraf. Dibandingkan ayam, menthok memiliki lebih banyak zat besi (2-3 mg per 100 gram) dan seng, yang membantu pencegahan anemia dan dukungan sistem kekebalan.
Santan menyumbang lemak sehat (15-20 gram per porsi), termasuk asam laurat yang bersifat antimikroba, tapi juga lemak jenuh yang perlu dikontrol untuk kesehatan jantung. Rempah seperti kunyit dan jahe menambah antioksidan, kurkumin untuk anti-inflamasi, dan gingerol untuk pencernaan. Cabai memberikan vitamin C (20-30 mg), mendukung kolagen dan imunitas. Secara keseluruhan, karbohidrat dari nasi (40-50 gram), serat dari rempah (3-5 gram), serta mineral seperti kalium dan magnesium membuatnya makanan seimbang.
Namun, bagi penderita kolesterol tinggi, kurangi santan atau ganti dengan susu rendah lemak. Dalam konteks gizi Indonesia, hidangan ini mendukung asupan protein hewani lokal, sesuai rekomendasi Kemenkes untuk pencegahan stunting. Becek Menthok adalah perpaduan rasa dan nutrisi yang patut dilestarikan. Cobalah resep ini untuk merasakan keaslian Tuban di meja makan Anda.
Pelestarian Kuliner Becek Menthok
Becek Menthok, atau Nasi Becek Menthok, adalah kuliner khas Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang terkenal dengan kuah santan kental gurih pedas, berbahan utama daging menthok (entok atau itik serati). Hidangan ini mirip gulai atau kare, disajikan dengan nasi hangat, sering menjadi menu hajatan, makan siang, atau hidangan spesial saat puasa dan Lebaran. Meskipun belum resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional seperti beberapa kuliner Jawa Timur lainnya, Becek Menthok merepresentasikan pengetahuan tradisional masyarakat pesisir Tuban yang kaya rempah. Sebagai sumber daya genetik, ia melibatkan varietas lokal menthok dan rempah agraris, yang mendukung keanekaragaman hayati Indonesia. Upaya pelestariannya dilakukan melalui praktik turun-temurun, promosi wisata kuliner, dan inisiatif komunitas, untuk menjaga identitas budaya di tengah modernisasi.
Signifikansi sebagai Pengetahuan Tradisional dan Sumber Daya Genetik
Becek Menthok berakar dari tradisi agraris dan pesisir Tuban, di mana menthok dipelihara secara rumahan sebagai sumber protein murah dan berkelanjutan. Pengetahuan tradisional ini diwariskan secara lisan, terutama oleh perempuan di dapur rumah tangga atau warung keluarga, meliputi teknik merebus daging hingga empuk, meracik bumbu halus (bawang, kemiri, kunyit, jahe), dan mengolah santan tanpa pecah. Resep autentik menekankan “slow cooking” selama 2-3 jam untuk meresapkan aroma rempah ke daging kenyal menthok. Nama “becek” menggambarkan kuah kental yang “becek” atau berair, mencerminkan kesederhanaan budaya Jawa pesisir yang menghargai rasa medok dan kebersamaan dalam makan.
Dari aspek sumber daya genetik, Becek Menthok terkait erat dengan keanekaragaman hayati lokal. Menthok adalah varietas unggas tradisional Indonesia, lebih tahan penyakit dibanding ayam broiler modern, dengan daging kaya nutrisi alami. Penggunaan rempah seperti kunyit, jahe, dan cabai mendukung pelestarian tanaman herbal agraris Tuban, yang adaptif terhadap iklim pesisir. Ini selaras dengan konvensi internasional tentang sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional, di mana kuliner seperti ini menjadi bagian dari warisan yang melindungi varietas lokal dari kepunahan akibat industrialisasi pertanian. Di Tuban, hidangan ini juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, seperti memelihara menthok untuk daging dan telur tanpa pakan impor.
Usaha Pelestarian oleh Komunitas dan UMKM
Pelestarian Becek Menthok terutama dilakukan oleh komunitas lokal melalui warung-warung legendaris yang mempertahankan resep turun-temurun. Misalnya, Warung Mbak Win di Dusun Mawot, Sugiharjo, telah beroperasi lebih dari 15 tahun sejak sekitar 2005, menyajikan Becek Menthok autentik yang ramai dikunjungi warga Tuban hingga luar daerah seperti Bojonegoro dan Lamongan. Pemiliknya, Windaryati, menjaga rasa khas dengan bahan segar dan teknik masak tradisional. Warung lain seperti Menthok Pak To (sejak 2019) dan warung di Widang juga menawarkan variasi seperti rica-rica menthok atau sate menthok, memperkaya diversitas kuliner sambil menjaga esensi.
Promosi melalui wisata kuliner menjadi strategi utama. Pemerintah Kabupaten Tuban, melalui situs resmi, memfeature Becek Menthok sebagai ikon daerah, mendorong kunjungan ke warung pinggir jalan. Media lokal dan blogger sering mendokumentasikan hidangan ini, seperti resep di platform digital, untuk pewarisan ke generasi muda. Meski belum ada festival khusus seperti Aisyiyah di daerah lain, acara hajatan desa dan pasar tradisional tetap menjadi wadah praktik langsung, di mana anak muda belajar memasak dari orang tua.
Tantangan dan Prospek Masa Depan
Tantangan pelestarian termasuk urbanisasi yang mengurangi pemeliharaan menthok tradisional, serta preferensi generasi muda terhadap makanan instan. Namun, inisiatif seperti integrasi ke pariwisata Bumi Wali (sebutan Tuban) dan dokumentasi resep online membantu mengatasi ini. Dalam konteks nasional, meski belum masuk daftar WBTB resmi Kemendikbudristek (yang pada 2025 menetapkan 514 unsur baru, total 2.727), Becek Menthok berpotensi diajukan mengingat nilai budayanya yang kuat, mirip kuliner lain di Jawa Timur.
Secara keseluruhan, usaha pelestarian Becek Menthok menunjukkan komitmen masyarakat Tuban dalam menjaga pengetahuan tradisional dan sumber daya genetik. Melalui warung keluarga, promosi lokal, dan adaptasi berkelanjutan, kuliner ini tidak hanya bertahan sebagai makanan lezat, tapi juga simbol identitas yang mendukung ekonomi kerakyatan dan keberlanjutan lingkungan. Di era globalisasi, Becek Menthok mengajak kita menghargai warisan leluhur untuk generasi mendatang.
Hambatan Pelestarian Kuliner Becek Menthok
Dua kuliner ikonik Jawa Timur, Becek Menthok dari Tuban dan Sego Krawu dari Gresik, sama-sama menghadapi ancaman kepunahan dalam bentuk yang berbeda. Becek Menthok terancam hilang karena sulitnya pelestarian resep dan bahan baku, sementara Sego Krawu kesulitan “dilihat” oleh anak muda meskipun sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda. Artikel ini mengupas dua masalah tersebut secara terpisah agar kita paham mengapa dua makanan rakyat yang sangat lezat ini justru sulit bertahan di era sekarang.
Hambatan Pelestarian Becek Menthok dari Tuban
Pertama, ketersediaan menthok lokal semakin langka. Dulu hampir setiap rumah di Tuban memelihara 5–10 ekor menthok sebagai ternak sampingan. Sekarang, anak muda lebih memilih ayam broiler yang tumbuh cepat dan murah. Peternak menthok tradisional tinggal segelintir orang berusia 50 tahun ke atas. Akibatnya harga daging menthok naik 2,5 kali lipat dalam 5 tahun terakhir, membuat warung becek menthok kesulitan menjaga harga porsi tetap Rp 20.000–25.000.
Kedua, pengetahuan resep autentik hanya dipegang oleh ibu-ibu dan nenek-nenek. Resep becek menthok yang benar membutuhkan teknik “merebus daging menthok 2 jam lalu memasukkan santan di 30 menit terakhir” agar kuah tidak pecah dan daging tetap kenyal. Banyak anak perempuan generasi sekarang tidak lagi belajar memasak di dapur bersama ibu karena sibuk sekolah dan kerja kantoran. Warung legendaris seperti Mbak Win di Sugiharjo dan Pak To di Widang mengaku sulit mencari pengganti yang mau meneruskan resep asli.
Ketiga, tidak ada dukungan pemerintah yang konsisten. Meskipun Tuban sering menggelar festival kuliner, Becek Menthok hanya “dipajang” sekali setahun saat event hajatan desa atau lomba masak Aisyiyah. Tidak ada program pelatihan, sertifikasi UMKM, atau bantuan bibit menthok seperti yang diberikan untuk ayam kampung. Infrastruktur jalan menuju warung pinggir sawah juga buruk, sehingga wisatawan enggan datang.
Keempat, perubahan iklim membuat rempah lokal seperti kunyit dan cabai rawit Tuban sering gagal panen. Petani kecil tidak mampu membeli pestisida mahal, akhirnya menggunakan rempah impor yang rasanya berbeda. Akibatnya, banyak warung terpaksa mengubah resep agar kuah tetap medok, tapi keaslian mulai hilang.
Tantangan Mempromosikan Sego Krawu di Kalangan Anak Muda
Sego Krawu sudah resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda sejak 2022, tapi anak muda Gresik dan luar daerah masih jarang mempostingnya di TikTok atau Instagram. Ada beberapa alasan besar.
Pertama, tampilan visual kurang “instagramable”. Nasi, daging suwir, serundeng, dan sambal terasi disajikan di atas piring seng atau daun pisang. Foto tampak biasa saja dibandingkan burger berlapis keju atau matcha latte berbusa. Anak muda lebih suka makanan yang warnanya cerah dan bisa di-styling.
Kedua, literasi digital penjual sangat rendah. Dari 40 warung Sego Krawu di Pasar Gresik dan sekitarnya, hanya 3 yang punya akun Instagram aktif, itupun update paling lama 3 bulan lalu. Tidak ada foto close-up daging suwir yang menggoda, tidak ada video proses menggoreng serundeng, tidak ada caption yang menarik seperti “Ini yang bikin kangen Gresik!”. Akibatnya konten Sego Krawu kalah jauh dengan konten makanan viral.
Ketiga, anak muda menganggap Sego Krawu “makanan orang tua”. Mereka lebih sering nongkrong di kafe kopi, bubble tea, atau ayam geprek kekinian. Saat ditanya, banyak remaja Gresik bilang “Sego Krawu enak sih, tapi aku makan kalau lagi di rumah nenek” atau “mahal kalau beli di warung, lebih murah makan di kantin sekolah”.
Keempat, minim kolaborasi dengan influencer atau content creator muda. Tidak ada challenge “Makan Sego Krawu pedas level 10” atau duet dengan food vlogger lokal. Padahal kalau ada 1–2 influencer Gresik yang berusia 18–25 tahun mempromosikan dengan gaya kekinian (misalnya makan sambil review sambal terasi pedasnya), langsung ramai.
Becek Menthok terancam punah karena bahan baku langka dan pengetahuan resep tidak diwariskan, sementara Sego Krawu “hidup” tapi tidak dilihat anak muda karena kurang digital dan kurang estetis. Solusi sederhana sudah ada di depan mata: pemerintah bisa bantu peternak menthok dan UMKM Sego Krawu dengan pelatihan digital + bantuan foto produk. Anak muda Gresik dan Tuban bisa mulai dengan satu video TikTok “Aku makan Sego Krawu pertama kali” atau “Resep Becek Menthok ala nenek”. Kalau dua kuliner ini bisa “masuk timeline” anak muda, mereka tidak hanya lestari, tapi juga jadi kebanggaan generasi baru Jawa Timur.



