Kabupaten Trenggalek, terselip di pesisir selatan Jawa Timur, bukan hanya dikenal dengan pantai-pantai indahnya seperti Prigi dan Pelangi, tetapi juga dengan kekayaan budaya tak benda yang menjadi jantung kehidupan masyarakatnya. Di antara beragam tradisi lokal, upacara adat Sinongkelan menonjol sebagai permata warisan yang mencerminkan jiwa gotong royong, spiritualitas, dan kearifan alam. Tradisi ini, yang berasal dari Desa Prambon, Kecamatan Tugu, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia tahun 2021 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Sinongkelan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan narasi hidup tentang perjuangan leluhur, syukur atas berkah alam, dan adaptasi terhadap perubahan zaman. Dilaksanakan setiap bulan Selo (sekitar November dalam kalender Masehi) pada hari Jumat Legi menurut penanggalan Jawa, upacara ini memadukan elemen spiritual, kesenian, dan sejarah, menjadikannya sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Artikel ini akan menjelajahi asal mula lahirnya Sinongkelan, perannya sebagai pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, ciri khasnya dibandingkan upacara adat lain di Indonesia, ragam inovasi untuk menarik wisatawan, serta hambatan pelestariannya. Melalui lensa ini, kita dapat memahami bagaimana tradisi lokal seperti Sinongkelan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah arus globalisasi. Pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran holistik, mengajak pembaca merenungi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sekaligus mendorong upaya pelestarian kolektif.
Asal Mula Lahirnya Upacara Adat Sinongkelan di Kabupaten Trenggalek
Asal usul Sinongkelan tidak lepas dari kisah epik perjuangan leluhur Desa Prambon, yang dulunya dikenal sebagai Jong Biru, sebuah wilayah rawan bencana alam dan gangguan gaib. Kata “Sinongkelan” sendiri berasal dari istilah Jawa “nyongkel” atau “mencongkel tanah”, yang merujuk pada aktivitas awal pembukaan lahan pertanian oleh nenek moyang. Tradisi ini lahir sebagai bentuk syukur atas keberhasilan membuka lahan subur di lereng Gunung Slakar, di mana masyarakat dulu bergantung pada pertanian sebagai sumber kehidupan utama. Namun, narasi yang lebih mendalam berakar pada legenda Kanjeng Sinongkel, seorang tokoh sakral yang dianggap sebagai perwujudan lokal dari Pakubuwana II, raja Keraton Kartasura Mataram pada abad ke-18.
Menurut cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, Pakubuwana II terbuang atau “terdongkel” dari pusat kekuasaan setelah konflik internal keraton. Ia melarikan diri dari Pura Mangkunegaran akibat perebutan tahta dengan Sunan Amangkurat V, yang didukung pasukan Cina-Jawa di bawah Kapiten Khe Panjeng dan Patih Notonegoro. Dalam pelariannya, sang raja menyamar sebagai rakyat biasa dan tiba di wilayah Prambon, yang saat itu masih hutan belantara dan rawan serangan roh halus atau bencana seperti banjir dan tanah longsor. Di sini, ia berganti nama menjadi Kanjeng Sinongkel, yang berarti “yang tercongkel” atau terbuang, simbol dari nasibnya yang tragis namun penuh hikmah.
Kanjeng Sinongkel tidak hanya bertahan; ia menjadi pemimpin yang bijak. Desa Prambon sering dilanda musibah, termasuk gangguan roh halus di Jong Biru. Melalui meditasi dan bertapa di Gunung Slakar, ia menerima petunjuk ilahi untuk mengatasi masalah ini melalui “tumbal” bernama Kidang Kencana, seekor kijang mistis dengan ciri khas: bulu berwarna kawit (perlindungan), mata kumala (pandangan bijak), bol karah (rejeki merata), dan tracak wojo (jalan kebaikan). Awalnya diartikan harfiah sebagai perburuan hewan, sayembara ini gagal hingga petunjuk terungkap sebagai metafor pemimpin ideal. Kanjeng Sinongkel pun diakui sebagai sosok tersebut, memimpin masyarakat membangun irigasi, membersihkan lahan, dan melakukan ritual syukur untuk menenangkan alam.
Tradisi Sinongkelan lahir dari peringatan perjuangan ini. Awalnya sederhana sebagai bersih desa, ritual ini berkembang menjadi upacara tahunan pada abad ke-19, di mana abdi dalem keraton yang mengikuti pelarian sang raja turut membawa elemen kesenian Jawa. Dokumentasi lisan dari sesepuh desa menyebutkan bahwa ritual pertama kali dilakukan setelah kesuksesan panen pertama pasca-pembukaan lahan, dengan doa bersama untuk memohon keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Seiring waktu, Sinongkelan menjadi simbol ketahanan komunal, menggabungkan elemen Hindu-Jawa pra-Islam dengan nilai Islam pasca-Wali Songo, mencerminkan sinkretisme budaya Trenggalek yang kaya.
Kisah ini tidak hanya legenda; ia menjadi fondasi identitas desa. Setiap tahun, prosesi dimulai dengan nyadran, ziarah ke tujuh situs keramat seperti Makam Mbah Budha Lanang/Wedok, Bukit Slakar, dan Siraman, di mana masyarakat membersihkan makam leluhur, menabur bunga, dan mengadakan kenduri selamatan. Malam purnama menjadi puncaknya, dengan pertunjukan teater yang menceritakan pelarian dan kemenangan Kanjeng Sinongkel. Asal mula ini mengajarkan bahwa Sinongkelan lahir dari krisis, lahir untuk harmoni, dan lestari untuk generasi mendatang.
Peran Upacara Adat Sinongkelan sebagai Pengetahuan Tradisional
Sebagai pengetahuan tradisional, Sinongkelan berfungsi sebagai repositori kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, membentuk pandangan hidup masyarakat Prambon terhadap alam, sosial, dan spiritualitas. Dalam perspektif filsafat kebudayaan Cornelis Anthonie van Peursen, tradisi ini melewati tiga tahap: mitis (keyakinan gaib), ontologis (pemahaman esensi keberkahan), dan fungsional (adaptasi sosial). Pada tahap mitis, Kanjeng Sinongkel dianggap sebagai penjaga gaib yang melindungi desa dari roh pengganggu, mengajarkan bahwa harmoni alam dicapai melalui ritual syukur.
Pengetahuan ini bersifat ekologis dan historis, mengintegrasikan strategi bertani dengan doa. Misalnya, sesaji seperti lodho ayam kampung, urap-urap, dan nasi gurih yang disiapkan oleh luas ari (nenek moyang perempuan) melambangkan hubungan simbiosis dengan tanah. Ritual nyadran ke situs keramat mengajarkan penghormatan leluhur sebagai sumber pengetahuan agraris, di mana pembersihan makam bukan hanya fisik, tapi juga metaforis untuk “membersihkan” dosa masa lalu agar panen masa depan subur. Ini mencerminkan kearifan Jawa “memayu hayuning bawana”, menjaga keseimbangan alam untuk kesejahteraan umat manusia.
Secara sosial, Sinongkelan menjadi alat pendidikan karakter. Dialog dalam pertunjukan teater, yang disampaikan dalam bahasa Jawa krama campur humor, menyindir perilaku lalai seperti korupsi atau pengabaian adat, dengan “hukuman” minum air sebagai pengingat ketertiban. Bagi generasi muda, ini adalah pelajaran tentang gotong royong: 15-20 sesepuh desa terlibat sebagai pemeran, melibatkan seluruh komunitas dalam persiapan. Pengetahuan ini juga fungsional, memperkuat kohesi sosial di tengah urbanisasi, di mana ritual tahunan menjadi momen reunian yang mempererat ikatan keluarga dan tetangga.
Dalam konteks Trenggalek, Sinongkelan sebagai pengetahuan tradisional mendukung ketahanan pangan lokal. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pertanian bukan semata teknologi, tapi juga spiritualitas, seperti meditasi Kanjeng Sinongkel yang menjadi model bertani berkelanjutan. Dengan demikian, tradisi ini bukan relik masa lalu, melainkan panduan hidup yang relevan untuk menghadapi tantangan iklim saat ini.

Ciri Khas Upacara Adat Sinongkelan Dibanding Upacara Adat Lain di Indonesia
Di tengah keragaman ribuan upacara adat Indonesia, Sinongkelan dari Desa Prambon, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tampil dengan karakter yang sangat khas: intim, desa-sentris, dan berpusat pada teater rakyat hidup. Berbeda dengan upacara-upacara megah yang biasa diasosiasikan dengan keraton atau wilayah luas, Sinongkelan adalah ritual “kecil” yang justru menjadi besar karena kedalaman maknanya.
Pertama, format pertunjukannya benar-benar unik. Seluruh pemain terdiri atas 15–20 sesepuh desa duduk lesehan bersila sepanjang acara di pendopo atau halaman desa. Mereka hanya berdiri pada adegan klimaks, seperti saat Kanjeng Sinongkel “menemukan” Kidang Kencana atau saat pelarian dari keraton. Cara ini sangat berbeda dari tarian dinamis Reog Ponorogo, Kecak Bali, maupun Sigale-gale Sigel di Samosir yang mengandalkan gerak tubuh intens. Sinongkelan justru menciptakan suasana kontemplatif, mirip mendengarkan cerita babad di malam purnama, sehingga penonton merasa seperti menjadi bagian dari sejarah desa itu sendiri.
Kinya, Sinongkelan mengintegrasikan ritual nyadran ke tujuh situs keramat sekaligus dalam satu rangkaian: Makam Mbah Budha, Bukit Slakar, Petilasan Jutak, Sendang Made, dan lain-lain. Jarang ada upacara adat lain di Indonesia yang melakukan ziarah beruntun ke banyak petilasan dalam satu hari sebagai syarat mutlak ritual. Bandingkan dengan Rambu Solo (Toraja) yang fokus pada satu lokasi pemakaman, atau Labuhan (Yogyakarta dan Banyuwangi) yang hanya mengarah ke laut atau gunung tertentu.
Ketiga, simbolisme Kidang Kencana, kijang mistis berkulit kawit, bermata kumala, berbulu bol karah, dan berekor tracak wojo, adalah metafora kepemimpinan ideal yang sangat langka. Upacara panen seperti Ngusaba Kedasa di Bali lebih menekankan hasil bumi, sedangkan Sinongkelan menggunakan hewan mitologi sebagai alegori pemimpin yang adil, merakyat, dan membawa kesejahteraan. Ini membuat narasinya lebih filosofis ketimbang agraris murni.
Keempat, musik pengiringnya sangat minimalis. Hanya gamelan sederhana (kendang, saron, bonang kecil) yang mengiringi dialog panjang berbahasa Jawa krama halus penuh sindiran sosial. Berbeda dengan Gamelan Degung Sunda atau Gong Gede Bali yang megah dan mendominasi, di Sinongkelan musik justru menjadi “pemanis” agar kata-kata bijak lebih menggigit.
Terakhir, Sinongkelan adalah cerita manusia biasa yang menjadi sakral. Tokoh utamanya, Kanjeng Sinongkel, bukan dewa atau titisan batara seperti dalam wayang purwa, melainkan raja terbuang (diduga Pakubuwono II) yang menyamar dan akhirnya menjadi penyelamat desa. Ini membuatnya jauh lebih relatable ketimbang upacara keraton Jawa yang hierarkis atau upacara mitologi Bali yang penuh dewa-dewi. Sinongkelan adalah model “demokrasi desa” yang inklusif: semua warga, tua-muda, laki-perempuan, terlibat, tanpa kasta atau pangkat.
Dengan segala keunikan itu, Sinongkelan bukan hanya upacara adat, melainkan teater hidup tentang migrasi, kepemimpinan, dan harmoni dengan alam yang lahir dari rakyat kecil, sesuatu yang jarang ditemui di belantika budaya Indonesia yang luas.
Ragam Inovasi Upacara Adat Sinongkelan untuk Menarik Kunjungan Wisatawan
Upacara Adat Sinongkelan yang semula hanya dihadiri warga Desa Prambon kini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan Kabupaten Trenggalek. Berbagai inovasi dilakukan agar ritual tahunan ini tetap otentik sekaligus ramah wisatawan, tanpa mengorbankan esensi sakralnya.
Inovasi paling monumental adalah pembangunan Balai Sinongkelan di Dusun Klampok, Desa Prambon. Gedung berkonsep joglo modern ini direncanakan memiliki pendopo terbuka berkapasitas 1.500 penonton, ruang pamer artefak Sinongkelan, galeri foto sejarah, ruang latihan seni, serta area Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dilengkapi fasilitas UMKM kuliner khas Trenggalek. Balai ini akan menjadi “rumah tetap” pertunjukan Sinongkelan setiap bulan Selo, sekaligus venue festival mini selama seminggu penuh, sehingga wisatawan tidak lagi harus berebut tempat di pendopo desa yang terbatas.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga memasukkan Sinongkelan dalam program Sadewa (Seratus Desa Wisata) sejak 2022. Setiap tahun, Dinas Pariwisata mengalokasikan anggaran khusus untuk promosi digital: live streaming di YouTube “Visit Trenggalek”, pembuatan video cinematic 360°, serta konten TikTok dan Instagram Reels yang menampilkan behind-the-scenes persiapan ritual. Hasilnya, kunjungan wisatawan pada Sinongkelan 2024 tercatat lebih dari 3.500 orang, naik hampir 400 % dibanding sebelum pandemi.
Inovasi seni kontemporer turut memperkaya daya tarik. Sanggar Tari Condong Raos menciptakan Tari Bedoyo Denawa Estri Sinongkelan (2022) yang mengadaptasi gerak klasik Bedoyo Ketawang dengan narasi pelarian Kanjeng Sinongkel. Tari ini telah dipentaskan di Festival Kraton Nusantara Yogyakarta, Jakarta International Dance Festival, dan even di luar negeri (Belanda 2024), menjadi “duta” yang membawa nama Sinongkelan ke kancah internasional.
Di tingkat lokal, panitia membuka paket wisata “Nguri-uri Sinongkelan” (2 hari 1 malam): wisatawan diajak ikut nyadran ke tujuh situs keramat, belajar membuat sesaji lodho dan urap-urap bersama ibu-ibu desa, menginap homestay, hingga nonton pertunjukan malam puncak dari baris terdepan. Paket ini dijual melalui aplikasi Trenggalek Tourism dan selalu sold out sejak pertama diluncurkan tahun 2023.
Ekonomi warga pun terdongkrak. Selama seminggu pelaksanaan, lebih dari 80 stan UMKM makanan tradisional (sega gurih, gethuk lindri, klepon jongbiru, dll) dan kerajinan anyaman bambu dibuka di sekitar lokasi acara. Pendapatan pedagang meningkat hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Dengan segala inovasi tersebut, sarana permanen, promosi digital, kreasi seni baru, paket wisata edukatif, dan pemberdayaan ekonomi, Sinongkelan berhasil bertransformasi dari ritual desa menjadi destinasi wisata budaya berkelas yang tetap menjaga kesucian tradisi. Inovasi ini membuktikan bahwa warisan leluhur dapat hidup, relevan, dan menguntungkan di era pariwisata modern.
Hambatan Pelestarian Upacara Adat Sinongkelan di Kabupaten Trenggalek
Meskipun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional tahun 2021, Upacara Adat Sinongkelan di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, masih menghadapi ancaman nyata kelestariannya. Berbagai hambatan struktural dan sosial kini menggerogoti tradisi berusia ratusan tahun ini.
Pertama, regenerasi pelaku menjadi masalah paling kritis. Dari 18–20 sesepuh yang secara turun-temurun memainkan peran utama (Kanjeng Sinongkel, Patih Jaksa Negara, Gandhek, dll), saat ini hanya tersisa 11 orang yang masih aktif dan berusia di atas 65 tahun. Generasi muda desa lebih memilih merantau ke Surabaya, Malang, atau Jakarta untuk bekerja di pabrik dan sektor jasa. Data Dinas Sosial Trenggalek (2024) menunjukkan lebih dari 60 % pemuda usia 18–35 tahun di Prambon tinggal di luar kabupaten. Akibatnya, latihan rutin yang dulu dilakukan setiap malam Jumat Kliwon kini hanya sekali sebulan, bahkan terhenti total pada musim tanam.
Kedua, pandemi COVID-19 meninggalkan luka panjang. Pembangunan Balai Sinongkelan di Dusun Klampok yang sudah dianggarkan Rp 4,8 miliar sejak 2020 terpaksa direfocusing berkali-kali untuk penanganan pandemi dan bantuan sosial. Hingga akhir 2025, progres fisik baru mencapai 18 %, padahal balai ini diharapkan menjadi pusat latihan tetap sekaligus daya tarik wisata. Penundaan ini juga menghambat rencana pendirian sanggar seni resmi.
Ketiga, globalisasi menggerus bahasa dan memori lisan. Dialog Sinongkelan menggunakan bahasa Jawa krama inggil tingkat tinggi yang kini jarang dipahami anak muda. Beberapa varian cerita lisan, seperti detail pelarian Pakubuwono II versi Mbah Gito (alm. 2019), sudah hilang karena tidak sempat didokumentasikan. Belum ada arsip video lengkap full HD dari pertunjukan sebelum tahun 2015, padahal kualitas rekaman amatir dengan handphone sering buruk.
Keempat, keterbatasan anggaran desa. Dana desa Prambon tahun 2025 hanya Rp 1,4 miliar, sementara kebutuhan kostum baru, perawatan gamelan, dan honor pelaku sudah menelan hampir Rp 120 juta per tahun. Promosi digital masih bergantung pada Dinas Pariwisata kabupaten yang memiliki banyak agenda lain.
Kelima, perubahan pola hidup membuat ritual nyadran ke tujuh situs keramat semakin sepi. Banyak keluarga muda memilih kenduri di rumah saja karena alasan waktu dan biaya transportasi ke Bukit Slakar atau Petilasan Jutak yang lokasinya terpencil.
Tanpa intervensi serius seperti beasiswa seni budaya bagi pemuda Prambon, kewajiban mata pelajaran muatan lokal Sinongkelan di SD/MI sekitar, pembuatan film dokumenter berkualitas, dan percepatan pembangunan Balai Sinongkelan, tradisi ini berisiko menjadi hanya “pertunjukan tahunan” tanpa pelaku asli dalam satu dekade mendatang. Sinongkelan tidak boleh hanya hidup di video YouTube, tetapi harus tetap bernafas di dada anak-anak Prambon.

