Okol Desa Setro Sebagai Warisan Budaya tak Benda dari Kabupaten Gresik

Sejarah Okol Desa Setro

Okol Desa Setro merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang kaya akan nilai historis dan sosial di Indonesia. Tradisi ini berupa gulat tradisional yang berasal dari Desa Setro, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sebagai bagian integral dari upacara sedekah bumi, okol tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat agraris, tetapi juga simbol rasa syukur atas karunia alam. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-19 dan pada tahun 2021 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan membahas asal usul, makna, prosesi ritual, serta perkembangan tradisi okol yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Asal Usul Okol Desa Setro

Sejarah okol bermula dari ratusan tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 1817 atau awal abad ke-19, ketika Desa Setro dilanda musim kemarau panjang yang parah. Saat itu, sungai-sungai mengering, ladang-ladang menjadi tandus, dan masyarakat kesulitan mendapatkan air serta hasil panen. Menurut cerita lisan yang diwariskan, tradisi ini berawal dari seorang anak penggembala yang berdoa memohon hujan. Doanya dikabulkan dengan hujan deras yang tiba-tiba turun, membasahi tanah kering. Dalam kegembiraan, anak itu mulai bermain “serokol-serokolan” atau saling dorong-mendorong dengan teman-temannya di atas tanah basah yang berlumpur. Permainan sederhana ini kemudian berkembang menjadi bentuk gulat yang lebih terstruktur.

Awalnya, okol dilakukan di area persawahan setelah panen, sebagai cara masyarakat menghibur diri selama musim kemarau. Kata “okol” sendiri berasal dari “srokol-srokolan”, yang menggambarkan gerakan saling dorong tanpa kontak fisik langsung yang berbahaya. Tradisi ini juga terkait dengan kebiasaan anak-anak penggembala kambing sekitar 900 tahun lalu, meskipun sumber lain menyebutkan akarnya lebih dekat dengan abad ke-19. Okol lahir dari konteks agraris masyarakat Jawa Timur, di mana kehidupan bergantung pada siklus alam, panen, dan doa untuk kesuburan tanah. Seiring waktu, okol menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual sedekah bumi, yang merupakan ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Makna Okol Desa Setro

Lebih dari sekadar olahraga, okol mengandung makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya masyarakat Desa Setro. Secara esensial, okol adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang berhasil dan doa agar musim berikutnya lebih baik. Dalam perspektif tasawuf dan budaya lokal, tradisi ini melambangkan harmoni antara manusia dan alam, di mana gulat menjadi metafor perjuangan hidup yang penuh ketangguhan. Peserta tidak hanya menunjukkan kekuatan fisik, tetapi juga sportivitas, persaudaraan, dan penghargaan terhadap lawan, karena aturan melarang menyakiti satu sama lain.

Makna sosialnya terlihat dari peran okol dalam mempererat ikatan komunitas. Di tengah masyarakat agraris, tradisi ini menjadi ajang berkumpul, berbagi cerita, dan memperkuat solidaritas. Okol juga mengajarkan nilai keberanian dan ketangkasan, terutama bagi generasi muda, sambil menjaga keseimbangan antara hiburan dan spiritualitas. Dalam konteks sedekah bumi, okol menjadi simbol kesuburan tanah dan kelimpahan rezeki, di mana kemenangan dalam gulat dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan desa. Secara keseluruhan, okol bukan hanya permainan, melainkan ritual yang memperkaya identitas budaya Desa Setro.

Prosesi Ritual Okol Desa Setro

Prosesi ritual okol terintegrasi dalam upacara sedekah bumi yang digelar setiap tahun pada bulan Sura (Muharram) dalam kalender Jawa, biasanya antara Agustus hingga Oktober setelah panen raya. Ritual dimulai dengan kirab tumpeng, di mana warga membawa sesaji berupa makanan dari hasil bumi seperti nasi tumpeng, buah-buahan, dan lauk-pauk. Setelah itu, ada prosesi upacara doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa, memohon berkah dan keselamatan.

Inti dari ritual adalah pertandingan gulat okol itu sendiri. Arena berbentuk lingkaran berukuran 6×8 meter, ditaburi damen (jerami padi kering) atau burlap untuk keamanan, dan dibatasi tali seperti ring tinju. Peserta, yang bisa laki-laki maupun perempuan dari berbagai usia termasuk anak-anak, mengenakan celana pendek, udeng (ikat kepala), dan selendang. Selendang digunakan untuk menarik atau menjatuhkan lawan tanpa kontak tubuh langsung. Pertandingan terdiri dari dua ronde, dengan pemenang ditentukan oleh yang berhasil memenangkan keduanya. Seorang wasit atau pelandang mengawasi agar pertarungan tetap adil dan aman.

Selama prosesi, iringan musik gamelan Jawa Timur mengiringi, menciptakan suasana meriah. Ritual diakhiri dengan sandiwara atau pertunjukan seni lain, serta pembagian sesaji kepada warga. Dulunya digelar di sawah berlumpur, kini sering di arena khusus untuk kenyamanan.

Perkembangan Okol Desa Setro

Seiring zaman, okol mengalami perkembangan signifikan untuk tetap relevan. Pada awalnya, tradisi ini hanya dilakukan secara lokal di persawahan, tetapi kini telah menjadi atraksi wisata budaya yang menarik pengunjung dari luar daerah. Pada tahun 2021, okol resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, yang meningkatkan upaya pelestariannya. Pemerintah daerah Gresik aktif mendukung melalui festival tahunan dan dokumentasi.

Pandemi COVID-19 sempat menghentikan pelaksanaan selama dua tahun, tetapi pada 2022, okol digelar kembali dengan protokol kesehatan ketat. Perkembangan modern termasuk pengenalan okol ke generasi muda melalui sekolah dan sanggar seni, serta pemanfaatan media digital seperti video YouTube dan platform sosial untuk promosi. Buku profil dan arsip digital juga dibuat untuk mendokumentasikan sejarahnya. Meski demikian, esensi tradisional tetap dijaga, seperti aturan tanpa kekerasan dan integrasi dengan sedekah bumi.

Dalam era globalisasi, okol menghadapi tantangan seperti urbanisasi yang mengurangi lahan sawah, tetapi komunitas Desa Setro berkomitmen melestarikannya sebagai identitas budaya. Perkembangan ini menunjukkan adaptasi tradisi tanpa kehilangan akarnya.

Okol Desa Setro bukan hanya gulat tradisional, melainkan cerminan kehidupan masyarakat agraris yang penuh syukur dan harmoni. Dari asal usulnya yang sederhana hingga perkembangannya sebagai warisan nasional, okol terus hidup sebagai simbol ketangguhan budaya Indonesia. Dengan pelestarian yang berkelanjutan, tradisi ini diharapkan tetap menginspirasi generasi mendatang.

Warisan Budaya Tak Benda, Pengetahuan Tradisional, dan Ekspresi Budaya Tradisi

Okol Desa Setro merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang berasal dari Desa Setro, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Tradisi ini berupa gulat tradisional yang unik, di mana peserta menggunakan selendang untuk saling menarik dan menjatuhkan lawan tanpa kontak fisik langsung yang berbahaya. Okol bukan sekadar permainan, melainkan ritual yang terintegrasi dalam upacara sedekah bumi, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Pada tahun 2021, okol ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai sosial masyarakat agraris Jawa.

Okol sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Sebagai warisan budaya tak benda, okol Desa Setro diakui karena nilai-nilainya yang tidak berwujud fisik, tetapi hidup melalui praktik masyarakat secara turun-temurun. Menurut konvensi UNESCO 2003 tentang Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, yang diratifikasi Indonesia, warisan ini mencakup praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Okol masuk dalam domain “Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan” sebagaimana tercantum dalam database resmi Kementerian. Penetapan resmi melalui SK Menteri No. 372/M/2021 menandai pengakuan nasional atas tradisi ini, bersama 98 WBTB lain dari Jawa Timur.

Asal usul okol bermula dari abad ke-19, ketika masyarakat Desa Setro menghadapi kemarau panjang. Cerita lisan menyebutkan bahwa tradisi ini lahir dari permainan anak penggembala yang saling dorong di tanah basah setelah hujan turun sebagai jawaban doa. Sejak itu, okol menjadi bagian integral dari sedekah bumi, dihelat setiap bulan Sura (Muharram) dalam kalender Jawa. Status WBTB ini mendorong pelestarian, termasuk dokumentasi dan promosi melalui festival. Namun, tantangan seperti urbanisasi dan pandemi COVID-19 pernah menghentikan pelaksanaan selama dua tahun (2020-2021), sebelum digelar kembali pada 2022 dengan protokol kesehatan. Pemerintah Kabupaten Gresik aktif mendukung melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, dan Pemuda Olahraga, dengan menjadikannya atraksi wisata budaya. Sebagai WBTB, okol tidak hanya melestarikan identitas desa, tetapi juga berkontribusi pada keberagaman budaya nasional, mengajarkan nilai ketangguhan dan harmoni sosial.

Okol sebagai Pengetahuan Tradisional

Pengetahuan tradisional dalam okol Desa Setro merujuk pada kumpulan wawasan dan keterampilan yang diwariskan secara lisan dan praktik, tanpa dokumentasi tertulis formal. Ini mencakup teknik gulat unik, aturan permainan, serta pemahaman tentang siklus alam dan ritual spiritual. Peserta okol belajar dari generasi sebelumnya tentang cara menggunakan selendang untuk menarik lawan, menjaga keseimbangan, dan menghindari cedera, yang menekankan prinsip non-kekerasan. Pengetahuan ini terkait erat dengan kehidupan agraris, di mana okol dilakukan setelah panen sebagai doa untuk kesuburan tanah selanjutnya.

Dalam konteks pengetahuan tradisional, okol mengintegrasikan elemen tasawuf dan kepercayaan lokal, seperti memohon berkah melalui doa bersama sebelum pertandingan. Sesepuh desa memimpin ritual, menyampaikan nilai-nilai seperti sportivitas, persaudaraan, dan rasa syukur. Pengetahuan ini juga meliputi pemilihan arena, awalnya di sawah berlumpur, kini di lapangan dengan damen (jerami), untuk keamanan. Generasi muda diajari melalui sanggar seni dan sekolah, memastikan kelangsungan. Sebagai pengetahuan tradisional, okol rentan terhadap modernisasi; oleh karena itu, inisiatif seperti buku profil dan video dokumenter telah dibuat untuk merekamnya. Ini sejalan dengan upaya global melindungi indigenous knowledge, di mana okol menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal mengadaptasi pengetahuan untuk bertahan di tengah perubahan iklim dan sosial. Pengetahuan tradisional okol tidak statis; ia berkembang, misalnya dengan inklusi peserta perempuan dan anak-anak, memperkaya transmisi antargenerasi.

Okol sebagai Ekspresi Budaya Tradisi

Ekspresi budaya tradisi dalam okol tercermin melalui seni pertunjukan rakyat yang penuh makna simbolis. Okol adalah bentuk ekspresi di mana masyarakat menampilkan ketangkasan, keberanian, dan harmoni dalam bentuk gulat yang menghibur. Prosesi dimulai dengan kirab gunungan (tumpeng raksasa) berisi hasil bumi, diiringi gamelan, kemudian pertandingan di arena lingkaran berukuran 6×8 meter. Peserta mengenakan udeng, celana pendek, dan selendang, saling tarik-menarik hingga satu jatuh. Wasit (pelandang) memastikan keadilan, sementara penonton bertepuk tangan, menciptakan suasana perayaan.

Ekspresi ini melambangkan perjuangan hidup dan kemenangan atas tantangan alam, seperti kemarau. Okol juga ekspresi sosial, mempererat ikatan komunitas melalui partisipasi bersama. Dalam domain seni pertunjukan, okol mirip dengan tradisi lain seperti reog atau ludruk, tetapi unik karena non-kompetitif secara destruktif. Perkembangannya mencakup adaptasi modern, seperti penggunaan media sosial untuk promosi, menjadikannya ekspresi budaya yang dinamis. Namun, esensi tetap: ekspresi rasa syukur dan identitas Jawa Timur. Sebagai ekspresi budaya tradisi, okol dilindungi dari komersialisasi berlebih, fokus pada nilai autentik.

Okol Desa Setro, Kabupaten Gresik, adalah permata budaya yang menyatukan warisan tak benda, pengetahuan tradisional, dan ekspresi budaya tradisi dalam satu kesatuan harmonis. Pengakuan sebagai WBTB memperkuat upaya pelestarian, sementara pengetahuan dan ekspresinya terus hidup melalui praktik masyarakat. Di era globalisasi, okol mengajarkan pentingnya menjaga akar budaya sambil beradaptasi. Dengan dukungan komunitas dan pemerintah, tradisi ini diharapkan tetap menginspirasi, memperkaya keberagaman Indonesia untuk generasi mendatang.

Tinggalkan komentar