Idul Fitri di Jawa Timur bukan sekadar hari kemenangan setelah sebulan penuh puasa. Ia adalah panggung besar di mana religi dan tradisi berpadu dalam harmoni yang indah. Dari langit Mataraman yang dihiasi balon udara raksasa, hangatnya kebersamaan pria di Gumeno dalam Tradisi Sanggring, hingga derap langkah kuda Puter Kayun di ujung timur, setiap daerah memiliki cara unik untuk mengekspresikan rasa syukur dan kegembiraan. Keberagaman ini bukan hanya warisan leluhur, melainkan bukti hidupnya nilai-nilai Islam yang menyatu dengan budaya lokal Jawa Timur. Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) senantiasa berkomitmen mendukung pelestarian aset budaya ini sebagai bagian dari kekayaan identitas bangsa, karena dalam setiap tradisi terdapat nilai seni dan sejarah yang harus dijaga bersama.
Jawa Timur, dengan 38 kabupaten dan kota serta jutaan penduduk dari berbagai etnis, Jawa, Madura, Osing, hingga Tionghoa, menjadi miniatur Indonesia dalam merayakan Idul Fitri. Tradisi-tradisi ini lahir dari akulturasi antara ajaran Islam yang dibawa Wali Songo dan kearifan lokal pra-Islam. Tak heran, perayaan Idul Fitri di sini tak hanya melibatkan shalat Id, takbir keliling, dan silaturahmi, melainkan juga ritual-ritual yang penuh warna, suara, dan rasa. Artikel ini akan menelusuri tiga tradisi ikonik yang diabadikan dalam gambar yang diunggah, Balon Udara Mataraman, Sanggring Kolak Ayam Gumeno, dan Puter Kayun Banyuwangi, serta konteks budayanya yang lebih luas, sebagai bentuk syukur atas nikmat kemenangan.
Balon Udara di Langit Mataraman
Wilayah Mataraman, sebutan untuk bagian barat Jawa Timur yang meliputi Ponorogo, Tulungagung, Trenggalek, dan sekitarnya, selalu menjadi sorotan saat menjelang dan pasca Idul Fitri. Langitnya dihiasi balon udara raksasa tanpa awak yang melayang anggun, menciptakan pemandangan magis seperti lukisan langit yang hidup. Tradisi ini dikenal sebagai Balon Lebaran Ponorogo atau festival balon udara di berbagai desa Mataraman, seperti Festival Balon Udara di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Sejarahnya panjang dan kaya. Akar tradisi ini dapat ditelusuri hingga abad ke-15, tepatnya sekitar tahun 1496 Masehi, pada masa Kerajaan Wengker (Ponorogo) yang mayoritas penduduknya masih beragama Buddha. Saat itu, masyarakat menyebutnya “umbulan” atau “ombolan”, yang berarti menerbangkan sesuatu menyerupai bulan sebagai simbol penghormatan kepada dewa-dewa langit. Ketika Bathara Katong, bupati pertama Ponorogo dan pendakwah Islam, memasuki wilayah tersebut, ia mengadaptasi tradisi ini menjadi bernafaskan Islami. Balon tidak lagi untuk ritual Buddha semata, melainkan sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Idul Fitri dan penghormatan kepada Ki Ageng Kutu Surya Alam yang gugur dalam perjuangan. Hingga kini, balon-balon ini diterbangkan pasca-shalat Id sebagai bentuk kegembiraan kolektif.
Proses pembuatannya rumit dan penuh gotong royong. Balon terbuat dari kertas tisu tipis yang dirangkai menjadi bentuk silinder raksasa, diisi udara panas dari kompor sederhana berbahan minyak tanah atau kayu bakar. Ukuran bisa mencapai 10-20 meter, dihiasi motif batik, kaligrafi, atau gambar wayang. Di festival Gondang Tulungagung, belasan hingga puluhan balon dilepas secara bergantian di lapangan desa, menciptakan pemandangan spektakuluer yang memenuhi langit biru. Warga berbondong-bondong datang, membawa makanan dan minuman, sambil bertakbir dan bernyanyi lagu-lagu religi. Suasana penuh tawa anak-anak dan doa orang tua.
Namun, tradisi ini tak lepas dari kontroversi. Balon tanpa awak sering kali mengganggu lalu lintas penerbangan, bahkan pernah menyebabkan insiden darurat. Pemerintah daerah dan polisi kerap mengimbau agar balon diikat atau diganti dengan versi ramah lingkungan. Meski demikian, di desa-desa Mataraman, semangat pelestarian tetap kuat. Festival balon bukan hanya hiburan, melainkan sarana wisata budaya yang mendongkrak ekonomi lokal, dari penjualan kertas, tali, hingga makanan pinggir jalan. Bagi masyarakat, menerbangkan balon adalah doa harfiah yang naik ke langit: simbol harapan, syukur, dan kebebasan setelah puasa. Di Ponorogo, tradisi ini bahkan disebut sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, meski harus beradaptasi dengan regulasi keselamatan modern.
Keindahan visual balon udara ini mencerminkan jiwa Jawa Timur yang penuh warna. Saat malam takbir, cahaya api di balon menerangi wajah-wajah bahagia, menyatukan pria, wanita, dan anak-anak dalam satu euforia. Ini adalah contoh sempurna bagaimana tradisi pra-Islam diubah menjadi ekspresi keislaman yang autentik.

Tradisi Sanggring Kolak Ayam di Gumeno Gresik
Di tengah hiruk-pikuk kota pelabuhan Gresik, Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, menyimpan tradisi yang hangat dan penuh makna: Sanggring atau Kolak Ayam. Tradisi ini digelar setiap 23 Ramadan (malam telulikur) sebagai bentuk syukur dan syiar Islam yang telah berlangsung lebih dari 500 tahun. Tahun 2025 lalu, tradisi ini genap berusia 501 tahun, dan tetap digelar meriah dengan ribuan porsi kolak ayam dibagikan gratis.
Asal-usulnya terkait Sunan Dalem, putra kedua Sunan Giri yang masyhur sebagai wali penyebar Islam di Gresik. Konon, pada 22 Ramadan 946 Hijriah (31 Januari 1540 M), Sunan Dalem jatuh sakit keras saat berdakwah. Sebagai “obat untuk raja” (sanggring berarti obat raja), masyarakat membuat kolak ayam khusus sebagai makanan penyembuh. Ayam kampung dimasak dengan santan kelapa, gula merah, jinten bubuk, dan daun bawang merah. Aroma harumnya menyebar, dan setelah dikonsumsi, Sunan Dalem sembuh. Tradisi ini kemudian diabadikan sebagai bentuk syukur dan pengobatan spiritual.
Proses pembuatannya unik dan sakral. Hanya pria yang boleh memasak, sebuah bentuk kebersamaan maskulin yang jarang ditemui di tradisi lain. Mereka berkumpul di halaman Masjid Jami’ Sunan Dalem sejak pagi, menggunakan tungku kayu bakar tradisional. Bahan-bahannya masif: ratusan ekor ayam kampung, ratusan kilogram gula merah, puluhan kuintal kelapa, dan puluhan kilogram jinten. Pada edisi 2024-2025, misalnya, disiapkan 3.000-3.200 porsi dengan 250 ekor ayam dan 750 kg gula merah. Kolak dimasak perlahan hingga daging ayam empuk dan kuahnya kental manis-pedas. Setelah maghrib, kolak dibagikan kepada ribuan warga dan pengunjung sebagai takjil buka puasa bersama. Suasana penuh tawa, cerita, dan doa, pria-pria itu duduk bersila, menyendok kolak sambil bercerita tentang Sunan Dalem.
Makna Sanggring lebih dari sekadar makanan. Ia melambangkan persatuan, kepedulian sosial, dan pelestarian warisan Wali Songo. Di era modern, tradisi ini tetap lestari karena dukungan pemerintah daerah dan bupati Gresik. Bupati bahkan sering hadir, menegaskan bahwa Sanggring adalah wujud pelestarian budaya sekaligus syiar Islam. Kolak ayam bukan hanya enak, manis dari gula merah, gurih dari santan, dan harum dari jinten, tapi juga membawa berkah: setiap suap adalah doa kesembuhan dan kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan bahwa Idul Fitri dimulai dari bulan Ramadan, melalui keikhlasan berbagi.
Derap Langkah Kuda Puter Kayun di Banyuwangi
Di ujung timur Jawa Timur, tepatnya Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, tanah Osing yang kaya budaya, tradisi Puter Kayun menjadi puncak kegembiraan pasca-Idul Fitri. Digelar setiap 7-10 Syawal, tradisi ini adalah “lebaran kedua” bagi keluarga kusir dokar (pengemudi kereta kuda). “Puter” berarti memutar atau berkeliling, “Kayun” merujuk pada nama leluhur atau perjalanan napak tilas. Derap langkah kuda dan deru roda dokar menggema di jalan-jalan desa, membawa ratusan warga menuju Pantai Watu Dodol.
Asal-usulnya berakar pada kehidupan para kusir dokar yang mengandalkan kuda sebagai mata pencaharian utama. Sebagai ungkapan syukur atas rezeki sepanjang tahun, baik dari angkutan wisatawan maupun hasil bumi, mereka mengadakan perjalanan bersama keluarga menggunakan dokar hias. Dulu, belasan dokar ikut serta; kini, meski hanya satu dokar tersisa di 2025, semangatnya tak pudar. Ritual dimulai dari Boyolangu, napak tilas perjuangan leluhur Osing, menuju Watu Dodol, batu besar di tengah pantai yang konon menjadi saksi sejarah. Di sana, mereka berdoa, makan bersama, dan silaturahmi. Puter Kayun kini dikemas sebagai Boyolangu Culture Festival, memadukan tradisi dengan pameran UMKM, pertunjukan kesenian Osing, dan pelepasan simbolis oleh pejabat daerah.
Maknanya mendalam: syukur atas limpahan rezeki, pelestarian hubungan manusia-hewan (kuda sebagai sahabat setia), dan penguatan tali persaudaraan. Di tengah modernisasi yang menggerus jumlah dokar, tradisi ini menolak punah. Ia mengajarkan generasi muda bahwa kebahagiaan Idul Fitri tak hanya di rumah, melainkan di jalan-jalan desa, ditemani derap kuda dan angin pantai. Bagi masyarakat Osing, Puter Kayun adalah identitas: harmoni antara Islam, adat, dan alam.

Tradisi Lain di Jawa Timur: Kekayaan yang Tak Terhitung
Selain tiga tradisi utama tersebut, Jawa Timur kaya akan ritual unik lainnya. Di Madura, ada Tellasan Topak atau Lebaran Ketupat (H+7 Syawal), di mana ketupat dibagikan dan dimakan bersama sebagai simbol pembersihan hati. Di Jember, Pawai Pegon, gerobak sapi yang membawa ketupat opor berkeliling ke Pantai Watu Ulo, menjadi karnaval persaudaraan. Di Malang, Megengan dan Kirab Oncor (pawai obor) menyambut Ramadan hingga Idul Fitri dengan cahaya dan doa. Festival Balon Udara juga menyebar ke Probolinggo dan Blitar, sementara ziarah makam dan sungkeman tetap menjadi inti silaturahmi di seluruh daerah. Semua ini menunjukkan bahwa Idul Fitri di Jawa Timur adalah mozaik budaya yang hidup.
Peran Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) dalam Pelestarian
DKJT, sebagai lembaga resmi yang mewadahi seniman dan budayawan Jawa Timur, memegang peran krusial. Melalui program “Nyawiji Ing Gawe” (Bersatu dalam Bekerja) periode 2025–2030, DKJT aktif mendokumentasikan, mempromosikan, dan mendanai tradisi seperti Sanggring, Puter Kayun, dan festival balon. Mereka berkolaborasi dengan pemerintah daerah, mengadakan workshop, dan festival budaya untuk melibatkan generasi muda. Komitmen ini tercermin dalam berbagai postingan resmi, di mana DKJT menegaskan bahwa tradisi adalah kekayaan identitas bangsa yang harus dijaga dari erosi modernisasi.
Kesimpulan: Menjaga Harmoni untuk Generasi Mendatang
Idul Fitri di Jawa Timur adalah bukti bahwa religi dan tradisi bisa berpadu indah tanpa kehilangan esensi. Balon Udara Mataraman mengajarkan kegembiraan yang mengudara, Sanggring Gumeno mengajarkan kebersamaan pria dalam berbagi, dan Puter Kayun mengajarkan syukur melalui perjalanan. Di balik derap kuda, aroma kolak ayam, dan bayangan balon di langit, terdapat nilai universal: syukur, persatuan, dan pelestarian.
Sebagai bangsa, kita semua bertanggung jawab menjaga ini. DKJT telah menunjukkan jalan; kini giliran kita, melalui pendidikan, pariwisata berkelanjutan, dan partisipasi aktif, untuk memastikan tradisi ini tak punah. Karena dalam setiap balon yang melayang, setiap mangkuk kolak yang dibagikan, dan setiap derap kuda yang menggema, ada jiwa Jawa Timur yang abadi. Mari kita rayakan Idul Fitri bukan hanya sekali setahun, melainkan setiap hari melalui pelestarian budaya. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga harmoni ini terus bersinar di bumi Jawa Timur.


