Banyuwangi, kota di ujung timur Pulau Jawa, dikenal sebagai Bumi Blambangan yang kaya akan warisan budaya suku Osing atau Wong Osing. Penduduk asli daerah ini memiliki identitas yang kuat, berbeda dari masyarakat Jawa umumnya meskipun berbagi akar sejarah. Di tengah kehidupan modern yang penuh hiruk-pikuk, tradisi Lebaran masa lalu Wong Osing menyimpan cerita yang unik dan penuh makna. Salah satu yang paling menonjol adalah arak-arakan atau pawai kendaraan pada sore hari Idul Fitri. Tradisi ini bukan sekadar pesta kemenangan setelah puasa, melainkan juga menjadi ruang sosial yang cerdas untuk mempertemukan pemuda dan gadis di tengah batas-batas ketat pergaulan sehari-hari.
Menurut catatan historis dalam majalah Terang Boelan Nomor 7-8 tahun 1954, tradisi ini mencerminkan karakter Wong Osing yang patuh dan taat beragama. Pada masa itu, jalan-jalan protokol Banyuwangi diramaikan oleh warga lokal antara pukul 15.00 hingga 18.00. Mereka menggelar arak-arakan dengan bermacam-macam kendaraan: dokar (kereta kuda), sepeda, dan mobil open kap. Kebanyakan peserta adalah perempuan, disusul anak-anak kecil. Sementara itu, para pemuda berjejer di tepi jalan, menyaksikan parade tersebut dengan penuh perhatian. “Akibat yang biasanya menyusul dari arak-arakan itu ialah sesudah selesai perayaan Idul Fitri banyak terjadi di sana-sini pertunangan,” tulis Terang Boelan. Majalah tersebut tidak bisa memastikan sejak kapan tradisi ini bermula, tetapi menekankan bahwa kebiasaan ini berakar dari karakter Wong Osing yang sangat taat agama.
Untuk memahami tradisi ini secara mendalam, kita perlu menyelami latar belakang budaya Wong Osing. Suku Osing adalah keturunan Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa Timur yang bertahan hingga abad ke-18. Setelah penaklukan oleh Mataram dan kemudian pengaruh kolonial Belanda, masyarakat Blambangan beradaptasi dengan Islam tanpa meninggalkan akar adat istiadatnya. Mereka mengembangkan bahasa Osing yang unik, campuran Jawa kuno dengan pengaruh Bali dan Madura. Agama Islam menjadi pondasi utama, namun adat lokal tetap kuat dalam ritual sehari-hari, termasuk dalam perayaan hari besar keagamaan.
Lebaran atau Idul Fitri bagi Wong Osing bukan hanya ibadah shalat Id dan silaturahmi keluarga. Ia juga menjadi momentum pelepasan ketegangan sosial yang tercipta dari norma ketat masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan masyarakat biasa, ada “batas-batas yang sangat keras” antara gadis dan jejaka. Pergaulan bebas dilarang keras karena nilai agama dan adat yang menekankan kesopanan, kehormatan, dan pencegahan fitnah. Gadis-gadis biasanya tinggal di rumah, membantu pekerjaan domestik, sementara pemuda bekerja di sawah, ladang, atau sebagai nelayan di pesisir. Interaksi langsung jarang terjadi kecuali dalam pengawasan ketat orang tua atau keluarga.

Di sinilah peran Lebaran menjadi krusial. Bulan Syawal dalam kalender Islam dianggap waktu yang tepat bagi orang tua untuk “membuka pintu” pergaulan. Hari raya membawa suasana gembira, penuh ampunan, dan semangat kebersamaan. Parade arak-arakan menjadi ajang yang aman dan terbuka di ruang publik. Para gadis dan perempuan muda naik dokar atau mobil open kap yang dihias indah dengan bunga, kain warna-warni, dan lampion. Mereka berpakaian kebaya atau baju adat Osing yang anggun, rambut disanggul rapi, dan wajah tersenyum malu-malu. Anak-anak kecil ikut serta, menambah keceriaan dengan tawa dan sorak-sorai. Sementara pemuda berdiri di pinggir jalan, mengamati dengan saksama. Tatapan mata, senyuman, atau isyarat kecil menjadi awal dari ketertarikan.
Kendaraan yang digunakan mencerminkan era 1950-an hingga awal kemerdekaan. Dokar masih populer sebagai transportasi tradisional, ditarik kuda yang dihias lonceng dan pita. Sepeda menjadi pilihan pemuda yang lebih sederhana, sering dihias dengan bendera kecil atau rangkaian bunga. Mobil open kap, yang masih langka, menjadi simbol kemewahan bagi keluarga yang mampu. Semua kendaraan “dihias dengan seindah-indahnya”, seperti dicatat dalam berbagai sumber historis serupa. Suasana sore hari itu penuh warna: debu jalan yang beterbangan, suara klakson mobil, ringkik kuda, dan obrolan ramai warga. Jalan protokol seperti di sekitar pusat kota Banyuwangi atau desa-desa utama menjadi panggung hidup.
Prosesi ini berlangsung sekitar tiga jam, dari ba’dha ashar hingga menjelang maghrib. Panjang arak-arakan bisa mencapai beberapa kilometer, seperti yang tercatat dalam deskripsi Lebaran Banyuwangi tahun 1937. Warga mulai berkeliling dari hari pertama hingga ketiga Lebaran, mulai pukul 16.00 hingga malam. Ini bukan sekadar pawai biasa; ia adalah perayaan kolektif yang melibatkan seluruh komunitas. Perempuan mendominasi karena tradisi ini memberi mereka ruang ekspresi di publik tanpa melanggar norma. Anak-anak belajar nilai kebersamaan sejak dini. Pemuda, meski hanya sebagai penonton, memiliki kesempatan “melihat” calon pendamping tanpa harus mendekati secara langsung.
Dari perspektif sosiologis, arak-arakan ini adalah mekanisme cerdas masyarakat Osing untuk menjaga keseimbangan antara taat agama dan kebutuhan manusiawi. Orang tua sengaja memilih momen Lebaran karena suasana suci dan penuh berkah. Jika seorang gadis dan pemuda saling “kepincut” – tertarik satu sama lain melalui tatapan atau isyarat selama parade, mereka boleh melanjutkan ke tahap berikutnya. Biasanya, keluarga pemuda akan mendatangi keluarga gadis untuk melamar secara resmi. Tak jarang, pertunangan diumumkan hanya beberapa hari setelah Idul Fitri, dan pernikahan pun digelar cepat di bulan Syawal yang dianggap bulan baik.
Fenomena ini bukan kebetulan. Terang Boelan menjelaskan bahwa karena Wong Osing sangat patuh agama, pergaulan sehari-hari dibatasi ketat untuk menjaga moral. Namun, Islam juga mengajarkan pernikahan sebagai sunnah dan penyempurnaan agama. Lebaran menjadi “jembatan” yang halal dan terhormat. Hasilnya, banyak pasangan yang lahir dari arak-arakan ini. Pernikahan pasca-Lebaran sering kali sederhana namun penuh berkah, dengan sajian khas Osing seperti pecel pitik, tumpeng, atau hidangan laut segar dari pantai Banyuwangi.
Tradisi ini juga terkait dengan nilai-nilai lain dalam budaya Osing. Meskipun arak-arakan Lebaran lebih bersifat sosial-komunal, ia memiliki kesamaan semangat dengan ritual lain seperti Ider Bumi di Desa Kemiren. Ider Bumi, yang digelar pada 2 Syawal, adalah arak-arakan Barong Osing untuk tolak bala dan bersih desa. Barong diarak keliling desa dengan iringan musik gandrung atau kesenian tradisional, diikuti sesepuh yang membawa dupa dan doa. Ritual ini berasal dari abad ke-19, ketika desa terserang wabah dan mendapat wangsit untuk menggelar slametan dan pawai. Meski berbeda tujuannya, spiritual versus sosial, keduanya menunjukkan bagaimana Wong Osing mengintegrasikan Islam dengan adat: Lebaran bukan akhir puasa semata, melainkan awal kehidupan baru yang harmonis.

Ada pula tradisi Gredoan di beberapa desa Osing seperti Macanputih, Kabat, dan Rogojampi. Gredoan adalah ajang mencari jodoh yang dilakukan sekitar Maulid Nabi, bukan Lebaran. Pemuda dan gadis saling “gredo” atau menggoda dari balik dinding atau pagar, tanpa bertemu langsung. Mereka bernyanyi, berpantun, atau bertukar rayuan untuk menarik simpati. Ini juga bentuk perkenalan bermartabat yang menghindari kontak fisik langsung, sesuai norma agama. Meski waktu dan bentuknya berbeda, Gredoan dan arak-arakan Lebaran sama-sama berfungsi sebagai “pasar jodoh” yang terkontrol.
Perbandingan ini menunjukkan fleksibilitas budaya Osing. Di era 1950-an, ketika kendaraan modern mulai masuk, arak-arakan masih mempertahankan esensi tradisional. Dokar melambangkan akar pedesaan, sepeda kemudaan, dan mobil open kap kemajuan. Semua dihias agar terlihat meriah, mencerminkan semangat syukur atas nikmat Lebaran. Suasana sore itu penuh harapan: angin pantai Banyuwangi yang sepoi, aroma bunga dan kemenyan dari rumah-rumah, serta tawa anak-anak yang memenuhi udara.
Sayangnya, seperti banyak tradisi lokal di Indonesia, arak-arakan Lebaran Wong Osing mulai pudar seiring waktu. Kemajuan teknologi, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup membuat pemuda dan gadis kini bertemu melalui media sosial, sekolah, atau tempat kerja. Batas ketat pergaulan tidak lagi sekeras dulu. Namun, di desa-desa tertentu, semangatnya masih tersisa dalam bentuk konvoi dokar modern atau pawai kecil-kecilan. Ider Bumi di Kemiren tetap hidup sebagai ikon utama Lebaran Osing, sementara arak-arakan pengantin dengan Barong dan kesenian masih menjadi bagian pernikahan.
Tradisi ini mengajarkan pelajaran berharga bagi generasi sekarang. Di tengah arus globalisasi yang sering melonggarkan norma, Wong Osing masa lalu menunjukkan cara bijak menyeimbangkan agama, adat, dan kebutuhan sosial. Arak-arakan bukan sekadar hiburan; ia adalah ruang aman untuk cinta yang halal, di mana orang tua tetap berperan sebagai pengawas. Hasilnya adalah pernikahan yang kokoh, karena lahir dari ketertarikan murni di bawah cahaya Lebaran yang penuh berkah.
Lebaran masa lalu di Banyuwangi bukan hanya tentang takbir keliling atau ketupat. Ia adalah perayaan yang hidup, berdenyut dengan tawa, tatapan malu-malu, dan harapan masa depan. Bagi Wong Osing, Idul Fitri adalah waktu di mana langit dan bumi seolah bersatu: ampunan Tuhan, kehangatan keluarga, dan benih-benih cinta baru. Meski tak lagi sepopuler dulu, kenangan arak-arakan dengan dokar, sepeda, dan mobil open kap tetap hidup dalam cerita lisan, foto lama, dan tulisan seperti Terang Boelan. Ia mengingatkan kita bahwa budaya bukan hanya warisan mati, melainkan jiwa yang terus beradaptasi.
Dalam konteks lebih luas, tradisi ini memperkaya mozaik Lebaran Nusantara. Berbeda dengan takbir keliling di Jawa Tengah atau halal bihalal di kota-kota besar, Lebaran Osing menawarkan dimensi romantis dan komunal yang khas. Ia lahir dari masyarakat yang taat tapi tidak kaku, religius tapi penuh kasih sayang. Bagi generasi muda Banyuwangi hari ini, mempelajari arak-arakan masa lalu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa mencari jodoh yang baik bisa dilakukan dengan cara yang terhormat, penuh seni, dan penuh doa.
Dengan demikian, tradisi Lebaran Wong Osing mengajarkan bahwa perayaan agama sejati adalah yang menyatukan manusia dengan Tuhannya sekaligus dengan sesamanya. Arak-arakan sore hari itu, di bawah sinar matahari senja Banyuwangi, adalah simbol keindahan sederhana: sebuah parade kendaraan yang membawa bukan hanya hiasan, tapi juga mimpi-mimpi cinta yang baru lahir.


