Pada Kamis, 12 Februari 2026, Kabupaten Jombang kembali menyemarakkan suasana menjelang Ramadan 1447 H dengan digelarnya tradisi Grebeg Apem yang telah menjadi agenda tahunan yang paling dinanti-nantikan warga. Acara yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Jombang ini bukan sekadar ritual budaya semata, melainkan sebuah perwujudan nyata dari nilai-nilai kebersamaan, saling memaafkan, dan rasa syukur yang mendalam dalam menyongsong bulan penuh berkah. Ribuan warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia, memadati Alun-Alun Kabupaten Jombang sejak pagi hari. Para pelajar yang terlibat dalam Grebeg Apem 2026 berasal dari SD Negeri Gedangan Sumobito, MI Negeri 1 Jombang, SDIT Al-Ummah Jombang, SD Islam Roushon Fikr, SDIT Ar Ruhul Jadid, SMP Negeri 3 Jombang, SMP Islam Ar Ruhul Jadid, SMP Islam Cendekia Harapan, dan SMP Islam Roushon Fikr. Mereka membawa semangat yang luar biasa untuk ikut serta dalam perayaan yang sarat makna ini.
Grebeg Apem 2026 kali ini semakin istimewa. Pemkab Jombang menyiapkan sebanyak 15.752 butir kue apem yang dibentuk menjadi 17 tumpeng raksasa. Angka ini bukan sekadar jumlah, melainkan simbolisasi dari semangat persatuan: 17 tumpeng melambangkan jumlah provinsi di Indonesia pada masa awal kemerdekaan, sementara ribuan apem mencerminkan limpahan rezeki yang harus dibagikan kepada sesama. Tradisi ini, yang telah diwariskan secara turun-temurun, kembali membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap hidup dan berkembang di tanah Jombang.
Asal-Usul dan Makna Grebeg Apem
Untuk memahami betapa istimewanya Grebeg Apem, kita perlu menelusuri akar sejarahnya. Tradisi ini diyakini bermula sejak era Wali Songo, khususnya pengaruh Sunan Kalijaga dalam dakwah Islam di tanah Jawa. Kata “apem” sendiri berasal dari bahasa Arab “afwan” yang berarti “maaf”, sementara “grebeg” merujuk pada prosesi arak-arakan atau kirab yang meriah. Dalam konteks Jombang, Grebeg Apem menjadi bagian dari tradisi “megengan” – sebuah ritual pra-Ramadan yang bertujuan membersihkan diri secara lahir dan batin, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Menurut berbagai sumber sejarah dan penelitian akademis, seperti yang tercantum dalam jurnal Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi, Grebeg Apem merupakan perpaduan akulturasi budaya lokal Jawa dengan ajaran Islam. Kue apem yang terbuat dari tepung beras, gula merah, dan santan ini melambangkan kesederhanaan dan keberkahan. Bentuknya yang bulat dan empuk menggambarkan hati yang lembut, siap untuk memaafkan dan dimaafkan. Sementara itu, prosesi kirab yang melibatkan gunungan apem raksasa adalah simbol ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT, sekaligus doa agar bulan Ramadan mendatang membawa rahmat bagi seluruh umat.
Di Jombang, tradisi ini telah menjadi identitas khas daerah. Setiap tahun, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Jombang bertanggung jawab atas penyelenggaraannya, bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah dan masyarakat. Tidak hanya sebagai hiburan, Grebeg Apem juga membawa pesan sosial yang kuat: di tengah kehidupan yang semakin individualis, acara ini mengajak warga untuk kembali ke akar budaya, di mana kebersamaan adalah kunci kebahagiaan.
Bupati Jombang, Warsubi, S.H., M.Si., dalam sambutannya tahun ini menekankan hal tersebut. “Grebeg Apem merupakan simbol kebersamaan dan tradisi saling memaafkan menjelang Ramadan. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk membersihkan hati, memperkuat ukhuwah, dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan penuh khidmat,” ujarnya, seperti yang dikutip dari berbagai laporan media lokal.
Rangkaian Acara Grebeg Apem
Rangkaian acara Grebeg Apem 2026 dimulai tepat pukul 07.30 WIB dari halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Jombang di Jalan Soetomo. Kirab apem yang megah ini dipimpin langsung oleh Bupati Warsubi bersama Wakil Bupati Salmanudin dan sejumlah pejabat daerah. Arak-arakan tersebut semakin semarak dengan kehadiran drum band dari berbagai sekolah dan komunitas, yang menggelegar memecah keheningan pagi. Tak ketinggalan, penampilan tarian bernuansa Timur Tengah yang anggun, melambangkan suka cita umat Islam dalam menyambut kedatangan Ramadan.
Prosesi kirab ini bukan sekadar pawai biasa. Puluhan petugas dari Dinas Perhubungan dan Satpol PP memastikan keamanan dan kelancaran jalur, sementara ratusan warga yang ikut serta membawa bendera merah-putih dan spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan”. Suasana semakin hidup ketika iring-iringan melewati jalan-jalan utama Kota Jombang, disambut sorak-sorai warga yang berjejal di pinggir jalan. Anak-anak kecil berlarian dengan riang, sementara para orang tua tersenyum penuh harap, seolah-olah tradisi ini adalah momen langka untuk berkumpul bersama keluarga.
Sesampainya di Alun-Alun Kabupaten Jombang sekitar pukul 09.00 WIB, puncak acara pun dimulai. Tujuh belas tumpeng raksasa yang masing-masing tingginya mencapai dua meter itu disusun rapi di tengah lapangan. Setiap tumpeng dihiasi dengan daun pisang, bunga, dan hiasan tradisional yang memukau. Ribuan apem yang telah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya, dibuat oleh ratusan ibu rumah tangga dan pelaku UMKM lokal, siap untuk dibagikan.
Bupati Warsubi, didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, secara resmi membuka acara dengan memotong tali pengikat salah satu tumpeng sebagai simbolisasi. Saat itu, suasana langsung berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh kegembiraan. Ribuan warga yang telah memadati lokasi sejak subuh langsung berbondong-bondong mendekat. Dalam hitungan menit, ratusan apem ludes di tangan warga. Ada yang berebut dengan tertawa, ada pula yang dengan sabar mengantre untuk mendapat bagian. Tak jarang, para pemuda saling dorong-dorongan demi merebut satu butir apem, tapi semuanya berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang hangat.
Antusiasme Warga dan Rebutan Penuh Makna
Momen rebutan apem inilah yang selalu menjadi daya tarik utama Grebeg Apem. Bagi warga Jombang, mendapatkan sepotong apem dari gunungan bukan hanya soal makanan, melainkan sebuah berkah. “Ini sudah tradisi dari kecil. Tiap tahun saya datang ke sini bersama keluarga. Apem ini bukan cuma enak, tapi juga bawa doa dan keberkahan,” ujar seorang warga bernama Mbok Siti, seorang pedagang kaki lima yang tinggal di sekitar Alun-Alun.
Fenomena ini juga mencerminkan semangat gotong royong yang masih kuat di masyarakat Jombang. Meski berebut, tak ada yang marah-marah. Justru, banyak yang saling berbagi apem yang mereka dapat dengan tetangga atau orang yang kurang beruntung. Anak-anak kecil dengan wajah berlumur tepung beras tersenyum lebar, sementara para lansia duduk di pinggir lapangan sambil bercerita tentang masa lalu ketika tradisi ini masih sederhana.
Dari segi partisipasi, Grebeg Apem 2026 mencatat rekor baru. Menurut data sementara dari panitia, lebih dari 10.000 warga hadir langsung di lokasi. Media sosial pun dibanjiri foto dan video dari acara ini. Hashtag #GrebegApem2026 trending di platform seperti Instagram dan TikTok, dengan ribuan unggahan yang menunjukkan betapa tradisi ini masih relevan di era digital.
Dampak Sosial, Ekonomi, dan Pariwisata
Di balik kemeriahan tersebut, Grebeg Apem membawa dampak yang luas bagi Kabupaten Jombang. Secara sosial, acara ini memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat yang beragam. Jombang, yang dikenal sebagai kota santri dengan ribuan pondok pesantren, melihat tradisi ini sebagai jembatan antara budaya Jawa dan ajaran Islam. “Ini cara kita menjaga harmoni. Di sini, tidak ada perbedaan agama atau golongan. Semua datang untuk ikut merayakan,” kata seorang tokoh agama setempat.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan Grebeg Apem turut menggerakkan roda perekonomian lokal. Ribuan kilogram tepung, gula, dan santan dibeli dari petani dan pedagang sekitar. Para UMKM yang memproduksi apem mendapat penghasilan tambahan, sementara pedagang makanan dan souvenir di sekitar Alun-Alun mengalami lonjakan penjualan. Bahkan, acara ini menjadi magnet pariwisata. Banyak wisatawan dari luar daerah, termasuk dari Surabaya dan Malang, yang sengaja datang untuk menyaksikan langsung tradisi unik ini.
Pemerintah daerah pun melihat potensi ini sebagai peluang untuk pengembangan. Tahun ini, Pemkab Jombang tidak hanya fokus pada kirab dan rebutan, tapi juga menggelar pameran produk UMKM dan pentas kesenian tradisional di sela-sela acara. “Kita ingin Grebeg Apem menjadi event unggulan yang bisa mendongkrak kunjungan wisatawan. Ini bagian dari upaya kita membangun Jombang yang lebih maju, tapi tetap berakar pada budaya,” ujar Bupati Warsubi dalam wawancara pasca-acara.
Refleksi dan Harapan untuk Masa Depan
Sebagai penutup dari hari yang penuh suka cita itu, Grebeg Apem 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi setiap yang hadir. Di tengah hiruk-pikuk kota modern, tradisi ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kebersamaan dan rasa syukur. Apem yang ludes dalam waktu singkat itu bukan hanya kue, melainkan metafor dari kehidupan: rezeki yang melimpah harus dibagikan, bukan diperebutkan dengan egois.
Bagi generasi muda Jombang, acara ini adalah pelajaran berharga tentang warisan leluhur. Banyak sekolah yang mengajak siswanya ikut serta, agar mereka tidak hanya tahu sejarah, tapi juga merasakan langsung nilai-nilainya. “Kami harap tradisi ini terus lestari. Di era sekarang, di mana anak muda lebih suka gadget, Grebeg Apem menjadi pengingat bahwa budaya kita kaya dan indah,” kata seorang guru dari SMPN 3 Jombang, yang juga menggelar acara serupa di sekolahnya.
Pemkab Jombang sendiri telah berkomitmen untuk terus melestarikan dan meningkatkan kualitas acara ini. Rencana untuk tahun depan sudah mulai dibahas, termasuk penambahan elemen digital seperti live streaming dan kolaborasi dengan influencer untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Grebeg Apem 2026 bukan akhir dari sebuah cerita, melainkan bab baru dalam perjalanan panjang tradisi Jombang. Di bawah langit biru Alun-Alun yang masih dipenuhi aroma apem hangat, warga pulang dengan hati penuh. Mereka bukan hanya membawa pulang apem, tapi juga semangat baru untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang damai.
Tradisi ini, dengan segala keunikannya, terus menjadi bukti bahwa di Jombang, budaya dan agama berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang indah. Marhaban ya Ramadan 1447 H. Semoga keberkahan selalu menyertai tanah Jombang yang tercinta.


