Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang dipenuhi gemerlap teknologi dan budaya global, kesenian tradisional tetap menjadi napas segar bagi identitas budaya bangsa. Salah satu permata tersembunyi dari khazanah kebudayaan Indonesia adalah Can Macanan Singo Raung Cilik, sebuah atraksi barongan macan (harimau gadungan) versi mungil yang penuh keceriaan dan makna mendalam. Kesenian ini bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan kearifan lokal masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah timur seperti Bondowoso dan sekitarnya. Dengan kostum berbentuk harimau kecil yang lincah, diiringi irama gamelan sederhana dan gerakan akrobatik yang menggemaskan, Can Macanan Singo Raung Cilik berhasil memikat hati penonton dari berbagai kalangan usia.
Kata “can macanan” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “harimau gadungan”, sementara “Singo Raung Cilik” merujuk pada singa atau harimau raung (mengaum) dalam ukuran kecil, yang melambangkan keberanian dan kegembiraan. Berbeda dengan barongan besar yang sering kali bersifat ritualistik, versi cilik ini lebih menekankan aspek hiburan, meski tetap membawa jejak-jejak spiritual leluhur. Kesenian ini sering tampil di acara-acara komunal seperti khitanan, maulid Nabi, pernikahan, dan pengajian, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri sejarah kemunculannya, penyebarannya di berbagai daerah, tujuan awalnya, pengaruh media sosial terhadap eksistensinya, serta tantangan dalam upaya pelestariannya. Melalui narasi ini, diharapkan pembaca semakin menghargai kekayaan budaya daerah yang kian terlupakan di era digital.
Sejarah Kesenian Can Macanan Singo Raung Cilik
Sejarah Can Macanan Singo Raung Cilik tidak bisa dilepaskan dari legenda Singo Ulung, tokoh mitos yang menjadi fondasi kesenian barongan di Bondowoso. Menurut cerita rakyat yang diturunkan secara lisan, Singo Ulung atau dikenal juga sebagai Mbah Singo Wulu adalah seorang petani gagah berani yang datang dari daerah Mataraman (sekitar Ponorogo atau Madiun) pada abad ke-18. Ia tiba di hutan lebat Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, yang saat itu masih dikuasai oleh binatang buas seperti harimau dan singa liar. Dengan keberaniannya, Singo Ulung berhasil membasmi seekor harimau raksasa yang mengancam warga, sehingga membuka lahan pertanian dan mendirikan desa tersebut.
Legenda ini menjadi inspirasi lahirnya Tari Singo Ulung, kesenian barongan yang pertama kali muncul sekitar tahun 1700-an sebagai bagian dari ritual bersih desa. Awalnya, pertunjukan ini bersifat sakral, di mana penari barong melambangkan perjuangan Singo Ulung melawan roh jahat dan alam liar. Kostum barong terbuat dari anyaman bambu dan kain, dihiasi bulu-bulu hewan untuk meniru gerakan harimau. Seiring waktu, pada era kolonial Belanda (akhir abad ke-19), kesenian ini berevolusi menjadi bentuk hiburan profan untuk meredakan ketegangan sosial akibat penjajahan. Versi “cilik” atau kecil kemungkinan muncul pada pertengahan abad ke-20, sekitar tahun 1950-an, sebagai adaptasi untuk anak-anak dan acara keluarga. Ini didasari kebutuhan masyarakat untuk menjaga tradisi sambil menyesuaikan dengan keterbatasan sumber daya pasca-Perang Kemerdekaan.
Bukti tertulis tentang kemunculan Singo Raung Cilik ditemukan dalam catatan lisan masyarakat Blimbing, yang menyebutkan bahwa pada tahun 1960-an, kelompok seni lokal mulai membuat versi mungil untuk festival desa. Nama “Raung” merujuk pada Gunung Raung yang menjulang di perbatasan Bondowoso-Banyuwangi, melambangkan kekuatan alam yang harus dihormati. Kesenian ini berkembang dari tradisi Can-Macanan Kadduk di Jember, di mana petani menggunakan kostum harimau gadungan untuk menakuti binatang perusak tanaman sejak era kerajaan Blambangan (abad ke-16). Evolusi ini menunjukkan bagaimana kesenian daerah beradaptasi dengan konteks sosial, dari ritual mistis menjadi simbol kebersamaan komunal. Hingga kini, Can Macanan Singo Raung Cilik tetap hidup melalui cerita lisan dan pertunjukan tahunan, seperti festival budaya di Bondowoso yang diadakan setiap 17 Agustus.
Daerah Eksistensi Can Macanan Singo Raung Cilik
Can Macanan Singo Raung Cilik awalnya berakar di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, khususnya Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, yang diakui sebagai pusat asal-usulnya oleh Pemerintah Daerah setempat. Di sini, kesenian ini menjadi bagian integral dari identitas budaya, sering ditampilkan dalam acara Haul Mbah Singo Ulung setiap tahun. Namun, penyebarannya meluas ke berbagai kabupaten tetangga, mencerminkan dinamika migrasi dan pertukaran budaya di wilayah timur Jawa.
Di Kabupaten Banyuwangi, khususnya Kecamatan Pujer dan Sukorejo, versi cilik ini populer di acara pernikahan dan khitanan. Video pertunjukan di Desa Mangli Pujer menunjukkan bagaimana kelompok lokal mengadaptasi gerakan akrobatik untuk menarik wisatawan di sekitar Gunung Ijen. Sementara itu, di Kabupaten Jember, terutama Kecamatan Tamanan dan Sumberjambe, kesenian ini bercampur dengan tradisi Can-Macanan Kadduk, di mana penampilan di Desa Kemuning menjadi sorotan festival panen tembakau. Penyebaran ke Jember didorong oleh hubungan kekerabatan antarwarga, di mana seniman Bondowoso sering diundang untuk workshop.
Kabupaten Situbondo juga menjadi bastion penting, dengan pertunjukan di Desa Klatakan yang menampilkan elemen salto penuh untuk acara maulid Nabi. Di sini, Singo Raung Cilik berfungsi sebagai media dakwah, menggabungkan hiburan dengan nilai-nilai Islam yang kuat di masyarakat pesisir. Bahkan, jejaknya terlihat di Kabupaten Lumajang dan Probolinggo, meski dalam skala kecil, melalui festival budaya regional seperti Pekan Budaya Jawa Timur. Secara keseluruhan, eksistensi kesenian ini terpusat di empat kabupaten utama: Bondowoso (inti), Banyuwangi, Jember, dan Situbondo, dengan radius penyebaran sekitar 100 km dari pusatnya. Faktor geografis seperti pegunungan Raung memfasilitasi pertukaran ini, sementara urbanisasi ke Surabaya membawa versi modern ke kota besar, meski keasliannya sering kali terkikis.
Tujuan Terbentuknya Kesenian Can Macanan
Tujuan awal pembentukan Can Macanan Singo Raung Cilik adalah sebagai sarana ritual untuk menepis ketakutan dan roh jahat, sesuai dengan fungsi Singo Ulung sebagai pelindung desa. Pada masa pra-kolonial, masyarakat Blimbing sering dihantui serangan harimau liar yang mengancam perladangan. Singo Ulung, dengan kostum barongnya, menjadi simbol keberanian kolektif untuk “mengusir” ancaman alam tersebut melalui tarian yang meniru perburuan. Ritual ini bagian dari tradisi ruwatan, di mana pertunjukan diadakan pada malam bulan purnama untuk membersihkan desa dari sial.
Selain itu, tujuan edukatif juga kuat: mengajarkan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap alam. Anak-anak diajarkan melalui gerakan sederhana versi cilik untuk menghargai perjuangan leluhur. Dalam konteks sosial, kesenian ini bertujuan memperkuat ikatan komunal, di mana seluruh desa terlibat dalam pembuatan kostum dan iringan musik. Pada era pasca-kemerdekaan, tujuannya bergeser menjadi hiburan untuk meredakan trauma perang, sambil melestarikan identitas lokal di tengah arus modernisasi. Secara spiritual, Singo Raung Cilik tetap berfungsi sebagai media syukur panen, mengingatkan bahwa keberanian manusia harus selaras dengan kehendak Tuhan. Hingga kini, meski dominan hiburan, esensi ritualnya tetap terasa dalam doa pembuka pertunjukan.
Atraksi Raungan Cilik yang Memukau
Bayangkan sebuah lapangan terbuka di bawah langit senja Bondowoso yang berwarna jingga keemasan. Di tengahnya, tiga hingga lima sosok harimau kecil berukuran 1–1,5 meter bergerak lincah di atas tanah berdebu, seolah hidup kembali dari legenda. Kostum Singo Raung Cilik adalah karya seni rakyat yang memukau: kepala macan terbuat dari anyaman rotan halus, dilapisi kain beludru hitam dengan motif loreng kuning-oranye yang dicat tangan. Mata harimau dari kaca bulat berkilau, diberi lampu LED kecil di dalamnya sehingga tampak menyala saat senja, menciptakan ilusi mata liar yang mengintai.
Taring putih dari kayu jati menjulur tajam, sementara lidah merah dari kain sutra bergoyang setiap kali “harimau” mengaum, suara auman dihasilkan oleh peniup suling di dalam kostum yang meniup seruling bambu khusus. Ekor panjang dari bulu ayam dan ijuk hitam meliuk-liuk mengikuti irama, diikat dengan tali rotan agar tetap lentur. Tubuh kostum ringan, hanya 5–7 kg, memungkinkan anak-anak berusia 8–14 tahun sebagai penari utama untuk berlari, melompat, dan melakukan salto depan-belakang tanpa hambatan.
Di sekitar “harimau cilik”, pemain gamelan siter duduk bersila di atas tikar pandan. Alat musiknya sederhana namun merdu: satu kendang kecil, dua saron, satu bonang, dan gong kecil yang menghasilkan irama “srak-srak-srak” berulang, diiringi suling dan rebab. Penari utama, yang disebut “jathil cilik”, mengenakan celana hitam ketat, kain jarik motif parang, dan ikat kepala merah. Mereka berlari mengelilingi harimau, sesekali “memanah” dengan busur mainan, seolah sedang berburu—simbol perjuangan Singo Ulung.
Puncak atraksi adalah “raung bareng”: semua harimau cilik berbaris, lalu serentak mengaum keras sambil melompat tinggi, ekornya terangkat, dan lampu di mata menyala terang. Penonton anak-anak berteriak kegirangan, beberapa berani mendekat untuk “memberi makan” harimau dengan daun pisang berisi koin—tradisi sedekah yang masih lestari. Di bagian akhir, harimau “kalah” dan berguling-guling di tanah, lalu bangkit kembali sambil menari ngibing bersama penonton, menciptakan suasana penuh tawa dan keakraban.
Secara visual, atraksi ini adalah perpaduan warna kontras yang hidup: hitam-kuning kostum, merah ikat kepala, hijau daun pisang, dan jingga langit senja. Gerakan lincah, ritmis, dan terkoordinasi membuatnya tampak seperti kartun yang hidup, namun tetap membawa aura mistis dari leluhur. Di malam hari, obor bambu dan lampu petromak menambah dramatisasi, menciptakan bayangan harimau raksasa di dinding rumah warga—seolah Singo Ulung kembali hadir.
Pengaruh Media Sosial
Revolusi digital telah mengubah wajah penyebaran kesenian tradisional, dan Can Macanan Singo Raung Cilik bukan pengecualian. Platform seperti YouTube dan TikTok menjadi katalisator utama, dengan ribuan video atraksi yang diunggah sejak 2023. Misalnya, channel “Singo Raung Cilik” telah mencapai jutaan views melalui klip pendek gerakan salto dan interaksi lucu dengan penonton anak-anak. Pengaruh ini positif: meningkatkan visibilitas global, di mana wisatawan mancanegara tertarik mengunjungi Bondowoso setelah melihat konten viral.
Media sosial juga mendorong kolaborasi antar-daerah. Di TikTok, hashtag #SingoRaungCilik sering dipadukan dengan tren dance challenge, menarik generasi Z untuk belajar gerakan tradisional. Penelitian menunjukkan bahwa platform ini meningkatkan popularitas musik Jawa di Jawa Timur hingga 40% melalui konten user-generated. Namun, ada sisi negatif: konten sering kali difokuskan pada aspek hiburan semata, mengabaikan nilai ritual, yang berpotensi mendistorsi makna budaya. Meski demikian, pengaruhnya secara keseluruhan mempercepat penyebaran, dari lokal menjadi nasional, bahkan internasional via algoritma rekomendasi.
Tantangan Melestarikan Can Macanan
Meski cerah prospeknya, pelestarian Can Macanan Singo Raung Cilik menghadapi tantangan berlapis. Pertama, kurangnya minat generasi muda akibat dominasi budaya pop seperti K-Pop dan game online. Di Blimbing, banyak pemuda lebih memilih migrasi ke kota daripada bergabung kelompok seni, menyebabkan kekurangan penerus. Kedua, biaya produksi tinggi: kostum dari anyaman rotan dan kain tradisional mahal, sementara pendapatan dari undangan acara fluktuatif.
Ketiga, modernisasi dan urbanisasi menggerus ruang pertunjukan. Festival desa tergeser oleh event komersial, sementara pandemi COVID-19 sempat menghentikan aktivitas offline. Tantangan lain adalah kesulitan mengintegrasikan elemen digital tanpa kehilangan autentisitas, seperti saat konten medsos dieksploitasi untuk iklan. Pemerintah daerah telah berupaya melalui bantuan dana dan workshop, tapi koordinasi antar-kabupaten masih lemah. Untuk mengatasinya, diperlukan pendekatan holistik: pendidikan sekolah, kolaborasi dengan influencer, dan sertifikasi warisan budaya UNESCO seperti yang dialami Singo Ulung pada 2024.
Kesimpulan
Can Macanan Singo Raung Cilik adalah mosaik indah dari sejarah, budaya, dan adaptasi zaman. Muncul sejak abad ke-18 sebagai ritual pelindung, kini ia eksis di Bondowoso hingga Situbondo sebagai simbol kegembiraan komunal. Tujuan awalnya yang sakral kini berevolusi menjadi hiburan inklusif, didorong media sosial yang memperluas jangkauan tapi juga menimbulkan distorsi. Tantangan pelestarian memang nyata, tapi dengan komitmen bersama dari pemerintah, seniman, hingga masyarakat kesenian ini bisa terus mengaum raung di hati generasi mendatang. Mari kita dukung, agar raungan kecil ini tak pernah pudar, menjadi warisan abadi Nusantara.


