Wayang, sebagai salah satu bentuk seni tradisional Indonesia yang paling ikonik, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa. Pada tahun 2003, UNESCO secara resmi mengakui wayang sebagai Karya Agung Warisan Manusia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Pengakuan ini bukan hanya sebuah penghargaan, melainkan juga pengingat akan tanggung jawab kolektif untuk menjaga dan melestarikan seni ini. Di Indonesia, pemerintah juga telah menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018.
Prestasi ini membanggakan, namun sekaligus menjadi tantangan besar di tengah arus globalisasi yang membawa pengaruh budaya asing. Seni pewayangan atau pedalangan hari ini menghadapi persaingan ketat dari berbagai bentuk hiburan modern, seperti film Hollywood, K-pop, atau konten digital yang lebih mudah diakses oleh generasi muda. Banyak anak muda lebih tertarik pada tren global daripada akar budaya sendiri, sehingga diperlukan terobosan kreatif dan inovatif untuk menarik minat mereka tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pakeliran wayang.
Di tengah tantangan ini, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Provinsi Jawa Timur muncul sebagai garda terdepan dalam upaya pelestarian. Pepadi, yang merupakan organisasi profesi independen bagi para dalang, pengrawit, swarawati, pembuat wayang, dan pecinta seni pedalangan, telah aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk memajukan kebudayaan. Di Jawa Timur, Pepadi dipimpin oleh Sinarto, S.Kar., MM., yang terpilih secara aklamasi pada periode 2022-2027. Organisasi ini memiliki markas di Jl. Gentengkali Nomor 85, Surabaya, dan aktif berkomunikasi melalui akun Instagram resmi @mangundiwangsa.
Salah satu inisiatif terbaru mereka adalah Festival Dalang Muda se-Jawa Timur Tahun 2025, yang dirancang untuk memberi ruang bagi generasi muda dalam menunjukkan bakat dan kreativitas mereka di bidang pedalangan. Festival ini bukan hanya kompetisi, melainkan bagian dari Program Pengembangan Kebudayaan yang sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Acara ini juga menyambut Hari Wayang Nasional dan peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-80 pada tahun 2025, menjadikannya momentum penting untuk mengembangkan ekosistem kesenian di wilayah ini.
Festival Dalang Muda 2025 diinisiasi sebagai respons terhadap penurunan minat generasi muda terhadap seni tradisional. Seperti yang disampaikan dalam pesan ketua Pepadi Jawa Timur, festival ini bertujuan untuk menggali potensi dalang muda dan mendorong inovasi dalam pakeliran wayang. Pada Juli 2025, Pepadi mengadakan rembug atau pertemuan di Tulungagung yang dihadiri oleh puluhan dalang muda dari enam kabupaten/kota di Jawa Timur. Pertemuan ini membahas persiapan festival, termasuk teknis pelaksanaan agar tidak memberatkan peserta dengan biaya produksi yang tinggi. Ada juga dukungan dari dalang senior seperti Ki Purbo Asmoro, yang memberikan pesan motivasi untuk para peserta muda. Melalui festival ini, Pepadi berupaya menciptakan ruang ekspresi yang menggabungkan tradisi dengan elemen kontemporer, sehingga wayang tetap relevan di era digital.

Tujuan Festival: Membangun Apresiasi dan Kreativitas
Festival Dalang Muda se-Jawa Timur 2025 memiliki tujuan yang jelas dan strategis. Pertama, mengembangkan, meningkatkan, dan memasyarakatkan daya cipta serta kreativitas seniman pedalangan. Ini berarti festival tidak hanya mencari pemenang, tapi juga mendorong inovasi dalam penyajian wayang, seperti penggabungan elemen visual modern atau narasi yang relevan dengan isu kontemporer. Kedua, meningkatkan apresiasi seni di kalangan seniman, pemerhati seni, dan masyarakat terhadap pedalangan. Di era di mana hiburan instan mendominasi, festival ini menjadi platform untuk mengedukasi publik tentang nilai filosofis wayang, seperti ajaran moral, etika, dan harmoni alam yang terkandung dalam cerita Mahabharata atau Ramayana.
Ketiga, menggali, membina, mengembangkan, dan memasyarakatkan para seniman dalang muda serta karya-karya pedalangan yang memiliki potensi di Jawa Timur. Provinsi ini kaya akan tradisi wayang, dengan gaya Surakarta yang halus dan gaya Jawatimuran yang lebih ekspresif. Festival ini diharapkan dapat menemukan talenta baru yang bisa menjadi penerus dalang legendaris seperti Ki Manteb Sudharsono atau Ki Anom Suroto. Secara keseluruhan, tujuan ini sejalan dengan amanah undang-undang pemajuan kebudayaan, di mana pemerintah dan masyarakat berperan aktif dalam melestarikan warisan budaya. Festival semacam ini juga telah terbukti efektif, seperti Festival Dalang Cilik di UNY yang meriahkan dies natalis mereka pada 2025, meskipun skala lebih kecil.
Timeline Pelaksanaan: Tahapan yang Terstruktur
Pelaksanaan festival dalang muda dirancang dengan timeline yang ketat untuk memastikan kelancaran. Dimulai dari 1 Juli hingga 19 Agustus 2025, tahap sosialisasi dilakukan melalui Google Meet, memanfaatkan teknologi untuk menjangkau calon peserta di seluruh Jawa Timur. Sosialisasi ini penting untuk menyebarkan informasi dan menjawab pertanyaan, terutama bagi dalang muda yang mungkin baru pertama kali berpartisipasi.
Selanjutnya, pendaftaran dibuka dari 20 Agustus hingga 6 September 2025 melalui pengisian Google Formulir. Pengumuman hasil pendaftaran dijadwalkan pada 14-15 September 2025 melalui Instagram resmi @mangundiwangsa. Peserta terpilih harus mengumpulkan deskripsi karya mereka pada 1-2 Oktober 2025 melalui Google Drive yang disediakan panitia. Technical meeting dilakukan pada 5 November 2025 via Google Meet, di mana peserta akan mendapatkan arahan terakhir. Puncak acara adalah penyajian peserta terpilih pada 17-19 November 2025 di lokasi yang ditentukan, dengan maksimal 30 peserta dibagi dalam tiga hari, masing-masing 10 orang.
Timeline ini mencerminkan komitmen Pepadi untuk efisiensi, terutama dalam menghadapi tantangan logistik di provinsi luas seperti Jawa Timur. Pada 19 Agustus 2025, misalnya, panitia mengumumkan pembukaan pendaftaran tepat pukul 15.00 WIB, menunjukkan ketepatan waktu.

Prosedur Pendaftaran: Mudah dan Digital
Pendaftaran dirancang sederhana dan inklusif. Peserta harus mengisi link Google Formulir yang disediakan panitia. Selain itu, mereka wajib mengupload video pendek berdurasi 1-3 menit di Instagram, mencakup elemen seperti dhodhogan (ketukan genderang), keprakan (ketukan kayu), sulukan (nyanyian), dan cepengan wayang (pegangan wayang). Video bisa berupa pethilan (potongan cerita), fragmen, atau kompilasi karya. Konten harus disertai tag @mangundiwangsa dan hashtag #FDM2025 serta #FestivalDalangMudaJawaTimur2025. Alternatifnya, peserta bisa menyertakan link YouTube untuk menampilkan kemampuan lebih lengkap.
Pendekatan digital ini inovatif, memanfaatkan media sosial untuk promosi dan seleksi awal. Ini juga sejalan dengan upaya menarik generasi Z yang akrab dengan konten online. Tutorial pendaftaran tersedia, seperti klik link di bio Instagram Mangundiwangsa, unduh panduan, dan ikuti langkah-langkahnya.
Aturan Sajian Pakeliran: Menjaga Tradisi dengan Fleksibilitas
Sajian pakeliran atau pertunjukan wayang memiliki aturan ketat untuk menjaga kualitas. Tim peserta maksimal empat orang, termasuk dalang. Deskripsi sajian, termasuk naskah dan notasi iringan, harus dikirim H-30 sebelum pelaksanaan. Iringan menggunakan gending tradisi yang berkembang, dengan durasi maksimal 45 menit plus 10 menit persiapan (nata keprak, mic check, dan nata wayang).
Gaya pedalangan dibagi menjadi dua: Gaya Surakarta dan Gaya Jawatimuran, dengan klasifikasi usia 17-22 tahun dan 23-30 tahun (toleransi ±3 bulan dari bulan pelaksanaan). Judul lakon disiapkan panitia, memastikan keseragaman. Untuk Gaya Surakarta, pilihan lakon meliputi “Lahire Bungkus”, “Babad Wanamarta”, “Abimanyu Lahir”, “Paguron Sukolima”, “Anoman Duta”, “Cipataning”, “Kresna Duta – Gendreh Kemasan”, “Kikis Tunggarana”, “Narayana Jumeneng Ratu”, “Srikandi Meguru Manah”, “Srikandi Senapati”, dan “Subali Lena”. Sementara untuk Gaya Jawatimuran: “Menari Singa”, “Bantala Maryam”, “Dasawalikrama”, “Maesajaya Gumelar”, “Cupumanik Astagina”, “Lahire Anoman”, “Petak Banjaran”, “Babad Wanamarta (Seno Gelung)”, dan “Anoman Duta”.
Aturan ini memungkinkan ekspresi kreatif sambil mempertahankan akar tradisi. Peserta boleh membawa kendang dan tabuh sendiri, tapi dilarang menggunakan instrumen modern seperti drum atau saxophone, untuk menjaga kemurnian gamelan.
Fasilitas dari Panitia: Dukungan Penuh untuk Peserta
Panitia menyediakan fasilitas lengkap untuk memudahkan peserta. Pengrawit dan sinden sebanyak 20 orang disiapkan, beserta kelir (layar), wayang simpingan, dan blencong (lampu wayang). Ruang transit dan konsumsi untuk tim maksimal empat orang juga tersedia. Namun, peserta harus menyiapkan keprak, cantolan keprak, cempala, cantolan mic, dan wayang untuk garap lakon mereka sendiri.
Dukungan ini mencerminkan komitmen Pepadi untuk mengurangi beban biaya, seperti yang dibahas dalam rembug Tulungagung. Hal ini penting karena banyak dalang muda berasal dari latar belakang sederhana, dan festival semacam ini menjadi jembatan untuk berkembang tanpa hambatan finansial.
Kriteria Penilaian: Komprehensif dan Objektif
Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa kriteria utama. Pertama, penampilan dalang, termasuk kedisiplinan waktu dari persiapan hingga sajian. Kedua, kualitas garap lakon, mencakup penokohan, garap adegan, pengembangan alur dramatik, dan aktualisasi nilai-nilai. Ketiga, kualitas garap bahasa dan sastra pedalangan, seperti kekayaan ragam bahasa, ketepatan penggunaan, dan kemantapan pengungkapan.
Keempat, kualitas garap sabet (gerak wayang), termasuk komposisi tanceb, ketrampilan gerak, pemilihan wayang/wanda, kekayaan ragam gerak, dan kemantapan. Kelima, penguasaan garap iringan, meliputi dhodogan, keprakan, sulukan, dan irama. Kriteria ini memastikan penilaian holistik, tidak hanya teknis tapi juga artistik dan filosofis.
Penghargaan dan Apresiasi
Penghargaan diberikan tanpa ranking: Terbaik 1, Terbaik 2, dan Terbaik 3. Seluruh peserta mendapatkan piagam penghargaan, menekankan semangat partisipasi daripada kompetisi sengit. Ini mendorong lebih banyak dalang muda untuk ikut serta tanpa takut gagal.
Lain-Lain dan Narahubung
Hal-hal belum tercantum akan dibahas dalam sosialisasi atau rapat teknis, diumumkan via Instagram. Untuk informasi, hubungi Direct Message @mangundiwangsa, Bambang Dwi Sumanto (082247788508), atau Wahyu Septiawan (082141508198).
Kesimpulan: Masa Depan Wayang di Tangan Generasi Muda
Festival Dalang Muda 2025 bukan sekadar acara, melainkan investasi untuk masa depan wayang. Di tengah tantangan globalisasi, inisiatif Pepadi Jawa Timur ini membuktikan bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Dengan melibatkan generasi muda, festival ini diharapkan melahirkan dalang-dalang baru yang inovatif, seperti yang digambarkan dalam video rembug Pepadi. Mari dukung pelestarian budaya ini, karena wayang bukan hanya seni, tapi cermin jiwa bangsa.


