Pada tanggal 8 Mei 2025, layar lebar Indonesia diramaikan oleh kehadiran Pembantaian Dukun Santet, sebuah film horor yang disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan diproduksi oleh Pichouse Films. Film ini awalnya diberi judul Lemah Santet Banyuwangi, namun mengalami perubahan akibat kontroversi yang muncul dari masyarakat dan pemerintah daerah Banyuwangi. Mengambil inspirasi dari peristiwa nyata yang terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur, pada akhir 1990-an, film ini menggabungkan elemen horor supranatural dengan narasi sejarah yang kelam. Pembantaian Dukun Santet tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan salah satu babak tragis dalam sejarah Indonesia: pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet.
Film ini mengisahkan Satrio, seorang santri muda yang menyaksikan pembunuhan brutal terhadap guru-gurunya oleh kelompok misterius bertopeng hitam. Dengan latar waktu di era 1990-an, cerita ini mencerminkan teror dan paranoia yang melanda masyarakat Banyuwangi saat itu. Namun, lebih dari sekadar film horor, Pembantaian Dukun Santet juga menjadi cermin bagi ketegangan sosial, ekonomi, dan politik yang memicu kekerasan tersebut. Artikel ini akan mengupas berbagai aspek film ini, mulai dari konteks historis hingga dampaknya di masyarakat modern.
Konteks Sejarah: Tragedi Banyuwangi 1998-1999
Untuk memahami esensi Pembantaian Dukun Santet, kita perlu menyelami latar belakang sejarah yang menjadi inspirasinya. Pada tahun 1998, Indonesia berada dalam masa transisi yang penuh gejolak setelah runtuhnya rezim Orde Baru di bawah Presiden Suharto. Krisis ekonomi yang parah, ditambah dengan ketidakstabilan politik, menciptakan suasana ketidakpastian di seluruh negeri. Di tengah kekacauan ini, Banyuwangi dan beberapa wilayah di Jawa Timur menjadi saksi dari gelombang kekerasan yang tidak biasa: pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet.
Peristiwa ini dimulai pada Februari 1998 dan berlangsung hingga Oktober 1999. Menurut laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), setidaknya 250 orang tewas dalam kurun waktu tersebut, meskipun angka sebenarnya mungkin lebih tinggi. Korban tidak hanya terbatas pada dukun santet, tetapi juga mencakup guru agama, santri, dan tokoh masyarakat yang tidak bersalah. Pelaku pembunuhan adalah kelompok vigilante yang sering kali mengenakan pakaian serba hitam dan bertopeng, sehingga dijuluki “ninja” oleh warga setempat. Mereka menyerang dengan brutal, membunuh korban dengan parang atau senjata tajam lainnya, sering kali di depan keluarga atau tetangga mereka.
Kekerasan ini dipicu oleh berbagai faktor. Tuduhan santet sering kali muncul dari konflik pribadi, kecemburuan, atau rumor yang tidak terbukti. Dalam kondisi ekonomi yang sulit dan ketidakpercayaan terhadap hukum formal, masyarakat mengambil hukum ke tangan mereka sendiri. Beberapa peneliti juga menduga bahwa ada motif politik di balik pembantaian ini, dengan dugaan bahwa kekerasan tersebut sengaja diprovokasi untuk menciptakan ketidakstabilan di wilayah tertentu. Meskipun investigasi dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah, pelaku utama dan dalang di balik tragedi ini tidak pernah terungkap sepenuhnya.
Tragedi Banyuwangi meninggalkan luka yang mendalam. Keluarga korban hidup dalam stigma, dituduh sebagai pewaris ilmu hitam, sementara masyarakat setempat berusaha melupakan masa kelam tersebut. Namun, luka ini kembali tersentuh ketika Pembantaian Dukun Santet diumumkan sebagai proyek film pada tahun 2023.
Dari Thread Viral ke Layar Lebar
Pembantaian Dukun Santet berawal dari sebuah thread viral di media sosial X yang ditulis oleh akun @JeroPoint pada tahun 2023. Thread tersebut menceritakan pengalaman pribadi dan kisah-kisah mistis yang terkait dengan pembantaian di Banyuwangi, menarik perhatian ribuan pengguna. Keviralannya menginspirasi Pichouse Films untuk mengadaptasinya ke dalam sebuah film horor, dengan Azhar Kinoi Lubis sebagai sutradara.
Dalam film ini, cerita berpusat pada Satrio, seorang santri yang diperankan oleh Kevin Ardilova. Berlatar di sebuah pesantren di Jawa pada tahun 1990-an, Satrio menjadi saksi pembantaian brutal terhadap empat gurunya oleh kelompok bertopeng hitam. Kejadian ini memicu teror yang menyebar ke seluruh komunitas, dengan fitnah dan tuduhan santet merenggut nyawa lebih banyak orang. Satrio, yang awalnya hanya ingin mencari kebenaran, akhirnya terjebak dalam lingkaran horor yang melibatkan dukun misterius yang haus balas dendam.
Film ini memadukan elemen horor supranatural—seperti penampakan hantu dan ritual mistis—dengan narasi realistis tentang kekerasan massal. Adegan-adegan berdarah dan mencekam menjadi daya tarik utama, tetapi film ini juga berusaha menonjolkan dampak psikologis dari peristiwa tersebut, baik pada individu maupun komunitas. Melalui perjalanan Satrio, penonton diajak untuk merenungkan ketakutan, trauma, dan keadilan yang hilang dalam tragedi tersebut.
Kontroversi: Judul dan Sensitivitas Lokal
Sejak diumumkan, Pembantaian Dukun Santet menuai kontroversi. Judul awalnya, Lemah Santet Banyuwangi, memicu reaksi keras dari masyarakat dan pemerintah daerah Banyuwangi. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, menyatakan bahwa penggunaan nama “Banyuwangi” dalam judul dapat merusak citra kota yang kini dikenal sebagai destinasi wisata dan budaya. Ia juga menyesalkan kurangnya koordinasi antara pihak produksi dan pemerintah setempat.
Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) cabang Banyuwangi juga menolak film ini. Ketua PARFI Banyuwangi, Denny Sun’anudin, menyebut peristiwa 1998 sebagai modus operandi politik yang menargetkan berbagai kalangan, bukan hanya dukun santet. Ia menambahkan bahwa dalam tradisi lokal, “santet” lebih merujuk pada “santet mahabbah”—ilmu yang mengajarkan cinta—bukan ilmu hitam yang jahat. Menurutnya, film ini berisiko mendistorsi sejarah dan membuka kembali luka lama.
Akibat tekanan ini, judul film diubah menjadi Pembantaian Dukun Santet, menghilangkan kata “Banyuwangi” untuk mengurangi sensitivitas. Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya meredam kritik. Beberapa pihak tetap khawatir bahwa film ini dapat memicu stigma negatif terhadap Banyuwangi dan menyakiti keluarga korban.
Reaksi Penonton dan Kritik
Setelah dirilis pada Mei 2025, Pembantaian Dukun Santet mendapat beragam tanggapan. Di media sosial X, beberapa pengguna memuji keberanian film ini mengangkat tragedi nyata yang jarang dibahas. Seorang pengguna menulis, “Film ini dibuat dengan hati-hati karena membahas tragedi nasional yang sensitif.” Namun, ada pula yang mengkritik pendekatannya. Seorang pengguna lain berkomentar, “Tampil berlumuran darah dan potongan tubuh, tapi tetap tidak meninggalkan kesan mendalam. Menjemukan.”
Secara umum, film ini diapresiasi karena atmosfer horornya yang kuat, tetapi beberapa kritikus merasa pengembangan karakter dan cerita kurang mendalam. Meskipun demikian, Pembantaian Dukun Santet berhasil memicu diskusi tentang pelanggaran HAM yang belum terselesaikan di Indonesia. Bagi sebagian penonton, film ini menjadi pengingat akan bahaya paranoia massal dan pentingnya supremasi hukum.
Signifikansi dalam Perfilman Indonesia
Pembantaian Dukun Santet bukanlah film pertama yang mengangkat tema santet. Pada tahun 1998, Misteri Banyuwangi (Dukun Santet) pernah dirilis, meskipun tidak terkait langsung dengan pembantaian. Namun, film tahun 2025 ini memiliki keunikan karena mengadaptasi peristiwa nyata dengan pendekatan horor yang serius. Film ini menunjukkan perkembangan perfilman Indonesia yang semakin berani mengeksplorasi isu sensitif, sekaligus mengedukasi penonton tentang sejarah kelam.
Lebih dari itu, film ini menjadi medium refleksi sosial. Dengan menjangkau generasi muda yang mungkin tidak mengenal peristiwa Banyuwangi, Pembantaian Dukun Santet mendorong kesadaran akan pentingnya keadilan dan rekonsiliasi. Film ini juga mengingatkan bahwa kasus seperti ini—yang hingga kini belum terpecahkan—masih meninggalkan pertanyaan besar tentang akuntabilitas dan hak asasi manusia.
Kesimpulan
Pembantaian Dukun Santet adalah karya yang kompleks dan penuh makna. Ia berhasil menggabungkan horor dengan sejarah, meskipun tidak luput dari kontroversi. Film ini mengajak kita untuk tidak melupakan tragedi Banyuwangi 1998-1999, sekaligus merenungkan dampak kekerasan massal terhadap masyarakat. Dengan pendekatan yang sensitif, film ini dapat menjadi alat edukasi sekaligus hiburan, memperkaya wacana perfilman Indonesia di tengah tantangan sosial dan budaya yang terus berkembang.
