Kabupaten Lumajang, yang terletak di wilayah timur Jawa Timur, dikenal sebagai “Bumi Arya Wiraraja” dengan kekayaan alamnya yang melimpah, seperti Gunung Semeru dan pantai-pantai indah. Namun, di balik keindahan alam tersebut, terdapat sebuah warisan budaya yang menjadi ikon identitas masyarakatnya: kesenian Jaran Kencak. Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan ekspresi mendalam dari sejarah, nilai-nilai sosial, dan harmoni antara manusia dengan alam. Jaran Kencak, yang secara harfiah berarti “kuda menari,” melibatkan kuda asli yang dilatih khusus untuk menari mengikuti irama musik tradisional. Sebagai salah satu kesenian tradisional yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016, Jaran Kencak terus menjadi simbol kebanggaan Lumajang.
Artikel ini akan membahas secara mendalam asal-usul lahirnya Jaran Kencak, ciri khasnya dibandingkan kesenian jaran lain di Jawa Timur, perbedaannya dengan varian seperti Jaran Dor dari Jombang, Jaran Kepang dari Kota Batu, dan Jaran Bodhag dari Probolinggo. Selain itu, kita akan mengeksplorasi bagaimana kesenian ini menjadi ekspresi budaya tradisi, upaya pelestariannya, serta hambatan yang dihadapi dalam mempertahankan eksistensinya. Melalui pemahaman ini, diharapkan generasi muda semakin mencintai dan melestarikan warisan leluhur mereka.
Asal-Usul Lahirnya Kesenian Tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang
Asal-usul Jaran Kencak dapat ditelusuri hingga masa kerajaan kuno di Jawa Timur. Menurut catatan sejarah, kesenian ini lahir pada era Kerajaan Lamajang Tigang Juru atau dikenal sebagai Kerajaan Wirabumi, sekitar abad ke-13 hingga ke-15. Legenda menyebutkan bahwa Jaran Kencak terinspirasi dari kuda milik Arya Wiraraja, seorang pendekar dan pendiri kerajaan Majapahit yang berasal dari Lumajang. Arya Wiraraja, yang juga dikenal sebagai Bupati pertama Lumajang, memiliki kuda setia bernama Nila Ambhara yang legendaris karena kelincahannya dalam pertempuran. Kuda ini diyakini menjadi prototipe bagi kesenian Jaran Kencak, di mana kuda tidak hanya sebagai alat transportasi tetapi juga sebagai mitra dalam ekspresi seni.
Lebih spesifik, Jaran Kencak pertama kali muncul sekitar tahun 1755, saat rombongan dari Ponorogo membawa kuda berhias zirah perang menuju Bali. Saat itu, kesenian ini masih disebut Jaran Kepang, meskipun tidak menggunakan anyaman bambu seperti varian modernnya. Pengaruh Madura juga kuat, terutama setelah tahun 1806 ketika Cakraningrat Sampang memindahkan sekitar 250.000 penduduk Madura ke wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, termasuk Lumajang. Migrasi ini membawa elemen budaya Madura, seperti hiasan zirah perang dan musik gamelan yang rancak, yang kemudian berakulturasi dengan tradisi Jawa lokal.
Dalam Kakawin Nagarakretagama, karya Mpu Prapanca, disebutkan tentang peran kuda dalam kehidupan kerajaan Majapahit, yang kemungkinan memengaruhi perkembangan Jaran Kencak. Awalnya, kesenian ini digunakan untuk bersenang-senang di kalangan masyarakat Madura yang bermigrasi, kemudian berkembang menjadi pertunjukan ritual dan hiburan di Lumajang. Pada tahun 1972, Jaran Kencak mulai populer di Kecamatan Yosowilangun, dan pada 2013, Bupati Lumajang secara resmi menjadikannya sebagai ikon kesenian daerah. Kisah ini mencerminkan bagaimana Jaran Kencak lahir dari perpaduan sejarah perang, migrasi, dan adaptasi budaya, menjadikannya simbol ketangguhan masyarakat Lumajang.
Ciri Khas Kesenian Tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang Dibanding Kesenian Jaran Lain di Jawa Timur
Jaran Kencak memiliki ciri khas yang membedakannya dari kesenian jaran lain di Jawa Timur, seperti Jaranan di Malang atau Reog di Ponorogo. Pertama, penggunaan kuda asli yang dilatih khusus untuk menari menjadi elemen utama. Kuda ini dihias dengan zirah perang khas, termasuk manik-manik, pelana berbulu merak, dan selempang warna-warni, menciptakan tampilan meriah yang memukau. Ada dua varian: Jaran Kencak Manten, yang penuh aksesoris untuk acara pernikahan, dan Jaran Kencak Manjeng, yang lebih sederhana dengan hanya penutup mata dan selempang.
Kedua, iringan musik gamelan dengan kendang yang lebih rancak (cepat dan dinamis) menjadi pembeda. Suara gemerincing dari hiasan kuda menambah nuansa mistis. Permainan songkok (topi) oleh penari juga unik, di mana songkok dilempar dan ditangkap secara akrobatis. Akulturasi Jawa, Madura, dan Banyuwangi membuat Jaran Kencak memiliki motif hiasan khas Lumajang, seperti pola flora dan fauna lokal.
Dibanding kesenian jaran lain, Jaran Kencak lebih fokus pada harmoni antara penari, kuda, dan musik, tanpa elemen kesurupan ekstrem. Ini menjadikannya lebih sebagai seni pertunjukan daripada ritual mistis, meskipun tetap sarat makna filosofis tentang kesetiaan dan keberanian.
Perbedaan Kesenian Tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang dengan Jaran Dor Jombangan, Jaran Kepang Kota Batu, dan Jaran Bodhag Probolinggo
Meskipun sama-sama bertema kuda, Jaran Kencak Lumajang memiliki perbedaan signifikan dengan varian lain. Jaran Dor dari Jombang adalah kesenian kuda lumping dengan kuda anyaman bambu, melibatkan kesurupan massal dan atraksi ekstrem seperti makan beling atau ayam hidup. Ini lebih mistis dan ritualistik, sementara Jaran Kencak menggunakan kuda asli dengan fokus pada tarian elegan.
Jaran Kepang dari Kota Batu mirip Jaran Dor, dengan kuda anyaman dan elemen kesurupan, sering dikaitkan dengan cerita rakyat seperti Dewi Sekartaji. Perbedaannya, Jaran Kepang lebih teatrikal dengan kostum warna-warni, tapi kurang pada aspek kelincahan kuda hidup seperti di Lumajang.
Jaran Bodhag dari Probolinggo menggunakan kuda tiruan dari kayu atau bahan lain, dipentaskan dalam arak-arakan dengan musik kenong telo dan sronen Madura. Ini lebih mirip parade, tanpa tarian kuda asli, dan sering untuk ritual keagamaan. Jaran Kencak, sebaliknya, menekankan interaksi langsung antara manusia dan kuda, membuatnya lebih dinamis dan ekspresif.
Kesenian Tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang sebagai Ekspresi Budaya Tradisi
Di tengah gemuruh Gunung Semeru, Lumajang memiliki cara unik menyapa leluhur: Jaran Kencak. Lebih dari sekadar pertunjukan, kesenian ini adalah ekspresi budaya tradisi yang hidup dan bernapas, sebuah doa yang ditarikan oleh kuda asli di atas irama gamelan.
Jaran Kencak lahir dari rasa hormat mendalam terhadap kuda sebagai mitra setara manusia. Bagi masyarakat Lumajang, kuda bukan alat atau hiburan semata, melainkan saudara seperjuangan. Nilai kearifan lokal ini terlihat jelas saat seekor kuda dihias zirah perang berwarna-warni, manik-manik bergemerincing, dan bulu merak menjuntai. Penunggangnya, yang disebut joki, tidak “mengendarai”, melainkan “menari bersama” kuda. Gerakan kuda yang lincah—berjingkrak, memutar, bahkan berbaring lalu bangkit kembali—adalah simbol harmoni manusia-alam yang telah diwariskan turun-temurun.
Setiap pentas selalu diawali ritual sederhana namun sarat makna: doa bersama, tabur bunga tujuh rupa, dan persembahan nasi tumpeng kecil di depan kuda. Ritual ini mengingatkan kita pada legenda Arya Wiraraja, bupati Lumajang abad ke-13 yang konon memiliki kuda setia bernama Nila Ambhara. Kesetiaan kuda itu menjadi metafora kesetiaan manusia terhadap tanah air, leluhur, dan sesama. Maka, ketika kuda menari mengikuti tabuhan kendang yang rancak, sebenarnya ia sedang menceritakan kembali kisah kesetiaan itu kepada penonton.
Jaran Kencak tak pernah absen dalam lingkaran hidup masyarakat Lumajang. Ia hadir di khitanan, pernikahan, sedekah bumi, hingga perayaan Hari Jadi Lumajang. Saat arak-arakan melintasi kampung, anak-anak berlari di samping kuda sambil berteriak “Kencak… kencak…!”, para ibu menaburkan bunga, dan kakek-nenek tersenyum mengenang masa muda mereka. Di situlah ikatan sosial diperkuat: satu kampung, satu rasa, satu identitas.
Sebagai ikon “Bumi Arya Wiraraja”, Jaran Kencak membawa estetika megah sekaligus nuansa mistis. Gemerincing lonceng kuda bercampur saron, bonang, dan gong menciptakan harmoni yang membuat bulu kuduk merinding. Ada momen ketika kuda tiba-tiba berhenti, menoleh ke arah penonton, seolah berkomunikasi. Bagi yang menonton sering merasa “diliputi” rasa damai, seolah leluhur ikut menyaksikan.
Hingga kini, Jaran Kencak tetap menjadi cermin jiwa Lumajang: teguh, ramah, dan penuh hormat kepada alam serta tradisi. Ia bukan sekadar tarian kuda, melainkan puisi hidup yang ditulis dengan langkah kuku kuda di atas tanah basah setelah hujan Semeru. Selama masih ada anak Lumajang yang mau mendengarkan gemerincing lonceng itu, maka ekspresi budaya tradisi ini akan terus menari, dari generasi ke generasi, abadi seperti gunung di ufuk timur mereka.
Usaha Pelestarian Kesenian Tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang
Di tengah gempuran budaya digital, Jaran Kencak Lumajang tidak hanya bertahan, melainkan semakin hidup berkat usaha pelestarian yang terarah dan melibatkan semua pihak. Pemerintah Kabupaten Lumajang, komunitas, hingga anak sekolah bersatu menjaga denyut nadi kesenian kuda tari ini agar tetap berdentum hingga generasi mendatang.
Langkah paling nyata adalah penetapan Jaran Kencak sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2016 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak itu, Pemkab Lumajang menjadikannya maskot resmi daerah. Setiap tahun, dua agenda besar wajib digelar: Parade Jaran Kencak saat Festival Hari Jadi Lumajang (Harjalu) dan Festival Jaran Kencak mandiri yang kini rutin menarik lebih dari 200 ekor kuda dari seluruh kecamatan. Ratusan kuda berhias memenuhi jalan protokol, disaksikan puluhan ribu warga dan wisatawan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lumajang mengalokasikan anggaran khusus untuk sanggar-sanggar. Saat ini ada 47 sanggar aktif yang tersebar di 21 kecamatan, masing-masing mendapat bantuan perlengkapan, kostum, dan honor pelatih. Paguyuban Jaran Kencak Lumajang (PKJL) menjadi koordinator utama. Mereka rutin menggelar pelatihan gratis bagi anak muda setiap akhir pekan di Alun-alun Lumajang. “Kami tidak mau Jaran Kencak hanya milik orang tua. Anak SMP dan SMA harus bisa menaiki kuda dan memainkan songkok,” ujar Ketua PKJL, Masruchin.
Pendidikan formal turut andil. Sejak 2019, puluhan SD dan SMP di Lumajang memasukkan Jaran Kencak sebagai ekstrakurikuler wajib. Siswa diajarkan dasar-dasar menunggang, merawat kuda, hingga memah memainkan gamelan pengiring. Hasilnya, kini banyak joki muda berusia 12–18 tahun yang tampil di festival besar, bahkan meraih juara nasional.
Dokumentasi dan promosi digital juga digencarkan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemkab membuat esai fotografi dan film dokumenter berjudul “Langkah Kencak Semeru” yang tayang di YouTube dan Netflix Indonesia kategori dokumenter lokal. Media sosial @jarankencaklumajang kini memiliki 85 ribu pengikut yang rutin mengunggah video latihan dan pertunjukan.
Pemkab juga memberikan insentif perawatan kuda Rp2 juta per ekor per tahun bagi pemilik yang aktif pentas. Hasilnya, jumlah kuda Jaran Kencak tercatat meningkat dari 380 ekor (2018) menjadi 620 ekor (2025).
Usaha ini membuahkan hasil manis: pada 2024, Jaran Kencak Lumajang menjadi juara 1 Festival Nasional Kesenian Kuda di Solo, mengalahkan peserta dari 18 provinsi. Kini, setiap ada tamu daerah atau kunjungan menteri, Jaran Kencak selalu menjadi sajian pembuka.
Pelestarian Jaran Kencak bukan sekadar menjaga tarian kuda, melainkan menjaga jiwa Lumajang agar tetap menari di atas gemuruh Semeru. Selama ada anak muda yang mau berkeringat di bawah terik matahari demi mendengar gemerincing lonceng kuda, maka warisan ini akan terus hidup, lincah, dan membanggakan.
Hambatan Melestarikan Kesenian Tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang
Di balik gemerlap festival dan gemuruh tepuk tangan, pelestarian Jaran Kencak Lumajang sedang menghadapi badai senyap yang mengancam nyawanya. Meski telah ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda sejak 2016, kesenian ini kini terjepit di antara tantangan zaman yang semakin berat.
Hambatan terbesar datang dari generasi muda. “Anak-anak sekarang lebih suka main TikTok daripada latihan kuda,” keluh Pak Miskari (62), pelatih senior di Desa Selok Awar-awar. Banyak remaja menganggap Jaran Kencak kuno, kotor, dan melelahkan. Akibatnya, jumlah joki muda menurun drastis: dari 350 orang pada 2015 menjadi hanya 120 orang pada 2025. Urbanisasi memperparah kondisi, banyak pemuda desa merantau ke Surabaya atau Malang, meninggalkan kuda dan sanggar.
Biaya menjadi momok kedua. Merawat satu ekor kuda Jaran Kencak butuh minimal Rp1,5 juta per bulan untuk pakan, vitamin, dan dokter hewan. Belum lagi biaya zirah, gamelan, dan transportasi saat pentas. Sanggar di pedesaan sering hanya mendapat bantuan seadanya. “Kadang kami terpaksa jual padi sawah demi kuda bisa makan,” cerita Pak Slamet dari Yosowilangun. Banyak pemilik kuda akhirnya menjual atau memotong kudanya karena tak sanggup lagi.
Perubahan iklim ikut menyulitkan. Musim kemarau panjang membuat rumput kering dan mahal, sementara banjir lahar Semeru kerap merusak kandang. Tahun 2024, lebih dari 40 ekor kuda sakit parah akibat cuaca ekstrem. Pandemi COVID-19 (2020–2022) juga menghantam berat: semua festival dibatalkan, pendapatan seniman nol, puluhan kuda terpaksa dijual murah.
Belum lagi ancaman klaim budaya. Beberapa daerah tetangga mulai mengaku Jaran Kencak sebagai milik mereka dengan sedikit modifikasi nama atau kostum. Hal ini membuat masyarakat Lumajang was-was identitas keseniannya tergerus.
Regenerasi pelatih juga terhambat. Banyak sesepuh sudah sepuh atau meninggal, sementara anak muda enggan belajar ilmu gaib dan doa-doa khusus yang menjadi “roh” pertunjukan. “Kalau ilmu ini putus, Jaran Kencak tinggal kulitnya saja,” ujar Mbah Gito (78), salah satu pawang terakhir yang masih menguasai mantra kuda.
Tanpa solusi cepat, prediksi paling pahit muncul: dalam 10–15 tahun, Jaran Kencak bisa benar-benar lenyap dari kampung halamannya sendiri. Untuk menyelamatkannya, dibutuhkan langkah darurat: anggaran khusus yang lebih besar, kurikulum wajib di sekolah, kampanye digital yang masif, serta perlindungan hukum atas hak cipta budaya.
Jaran Kencak adalah harta karun Lumajang yang tak ternilai. Jika hari ini kita diam saja melihat anak muda memilih gadget daripada gemerincing lonceng kuda, maka besok kita hanya akan memiliki foto dan cerita, tanpa langkah kuda yang menari lagi di atas tanah Lumajang. Ini saatnya bertindak, sebelum terlambat.





