Tradisi Maulid Nabi di Kabupaten Jombang: Warisan Budaya dan Spiritual yang Abadi

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu perayaan penting dalam kalender Islam, yang memperingati kelahiran Rasulullah pada tanggal 12 Rabiul Awal. Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, perayaan ini dikenal dengan sebutan Muludan, yang tidak hanya menjadi momen religius tetapi juga ajang pelestarian budaya lokal. Kabupaten Jombang, yang terletak di Jawa Timur, dikenal sebagai “Kota Santri” karena banyaknya pondok pesantren dan tradisi keagamaan yang kuat. Di sini, tradisi Maulid Nabi dirayakan dengan penuh semangat, menggabungkan elemen spiritual seperti pengajian dan shalawat dengan kegiatan budaya seperti pawai dan pembagian makanan khas. Artikel ini akan membahas secara mendalam asal usul Muludan di Jawa, makanan tradisional yang menyertainya, serta ragam acara di desa-desa Jombang, yang semuanya mencerminkan harmoni antara agama dan adat istiadat.

Kabupaten Jombang, dengan populasi lebih dari 1,2 juta jiwa, memiliki sejarah panjang dalam penyebaran Islam. Daerah ini menjadi pusat pendidikan Islam sejak era Wali Songo, dan tradisi Maulid Nabi telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat. Setiap tahun, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten, perayaan ini diisi dengan kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga lansia. Pemerintah daerah pun turut mendukung, seperti yang terlihat dalam acara resmi di Masjid Agung Baitul Mukminin, di mana ratusan jamaah berkumpul untuk mendengarkan ceramah dari ulama terkemuka seperti KH Abdul Kholiq Hasan. Tradisi ini tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya.

Asal Usul Muludan di Jawa

Istilah “Muludan” berasal dari nama bulan Mulud dalam penanggalan Jawa, yang setara dengan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Perayaan ini pertama kali diperkenalkan di Nusantara oleh para ulama dan pedagang Muslim dari Timur Tengah dan India pada abad ke-14 hingga ke-15. Namun, di Jawa, Muludan berkembang menjadi tradisi unik berkat peran Wali Songo, sembilan wali yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Menurut catatan sejarah, peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan di Indonesia sekitar tahun 1404 M oleh Wali Songo, yang mengadaptasi perayaan ini dengan elemen lokal untuk memudahkan penerimaan masyarakat Jawa yang saat itu masih kental dengan pengaruh Hindu-Buddha.

Asal usul Maulid Nabi secara global dapat ditelusuri ke Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10, di mana keluarga keturunan Ali bin Abi Thalib memulai perayaan ini sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Di Jawa, tradisi ini berkembang pesat pada masa Kesultanan Mataram, di mana Grebeg Maulid atau Sekaten menjadi perayaan tahunan yang melibatkan gamelan dan pasar malam. Sekaten, misalnya, berasal dari kata “syahadatain” (dua kalimat syahadat), dan diadakan untuk menarik masyarakat mendekat ke masjid sambil mendengarkan dakwah. Di Cirebon, Jawa Barat, Muludan telah lestari selama ratusan tahun, dengan acara seperti pembacaan manakib dan pembagian makanan berkah.

Di Jawa Timur, termasuk Jombang, Muludan dipengaruhi oleh tradisi Madura dan Banten, di mana perayaan berlangsung sebulan penuh dengan kunjungan rumah ke rumah. Di Banyuwangi, misalnya, ada tradisi Endog-endogan yang dicetuskan oleh KH Abdullah Faqih pada abad ke-19, di mana telur direbus dan dibagikan sebagai simbol keberkahan. Di Banten, Panjang Mulud telah ada sejak masa Sultan Ageng Tirtayasa pada abad ke-17, dengan pembuatan gunungan makanan. Tradisi ini menyebar ke Jawa Tengah dan Timur melalui jalur perdagangan dan dakwah, di mana masyarakat Jawa menggabungkannya dengan elemen animisme seperti penghormatan kepada roh leluhur, tapi diarahkan ke arah Islam.

Di Jombang, asal usul Muludan dapat ditelusuri ke pondok pesantren seperti Tebuireng dan Denanyar, yang didirikan oleh ulama besar seperti KH Hasyim Asy’ari. Para kyai ini menggunakan Maulid sebagai sarana pendidikan, membaca kitab seperti Barzanji dan Simthud Durar untuk mengajarkan sejarah Nabi. Secara keseluruhan, Muludan di Jawa bukanlah bid’ah, melainkan adaptasi yang disetujui ulama seperti Imam Suyuthi, yang menyebut perayaan Maulid sebagai sunnah hasanah. Tradisi ini terus berkembang hingga hari ini, menjadi simbol toleransi dan kebhinekaan di tengah masyarakat multikultural Indonesia.

Makanan Tradisional Muludan

Makanan menjadi elemen penting dalam Muludan, simbolisasi keberkahan dan berbagi rezeki. Di Jawa, khususnya Jawa Timur, makanan khas Maulid mencerminkan filosofi kehidupan dan penghormatan kepada Nabi. Salah satu yang paling ikonik adalah Nasi Tumpeng, hidangan berbentuk kerucut yang melambangkan gunung sebagai sumber kehidupan. Nasi ini biasanya berwarna kuning dari kunyit, dikelilingi lauk seperti ayam goreng, telur, tempe kering, dan sayuran. Filosofinya adalah harapan agar hidup semakin makmur dan dekat dengan Tuhan, seperti puncak gunung yang mendekati langit.

Lainnya adalah Sego Ingkung atau Nasi Suci Ulam Sari, makanan khas Jawa Timur yang terdiri dari nasi putih dengan ayam utuh (ingkung) yang dimasak dengan bumbu kuning. Ayam utuh melambangkan kesatuan dan keutuhan umat, sementara bumbu kuning merepresentasikan cahaya ilmu Nabi. Hidangan ini sering disajikan di Pacitan dan sekitarnya, tapi juga populer di Jombang selama Muludan. Endog-endogan, khas Banyuwangi, adalah telur rebus yang dibagikan kepada anak-anak, simbol kehidupan baru dan harapan seperti kelahiran Nabi.

Di Jawa Tengah, seperti di Kendal, ada Ketupat Sumpil, ketupat berbentuk segitiga yang diisi beras dan dimakan dengan sambal. Bentuk sumpil melambangkan kesederhanaan hidup Nabi. Kue Apem, terbuat dari tepung beras dan gula merah, sering dibagikan di Kudus selama Ampyang Maulid, melambangkan permohonan ampunan (afwan). Di Aceh, Kuah Beulangong (daging kambing rebus) menjadi hidangan wajib, sementara di Betawi ada Nasi Kebuli.

Di Jombang, makanan ini disesuaikan dengan tradisi lokal. Misalnya, dalam Grebeg Tahu di Desa Sumbermulyo, tahu dibuat menjadi gunungan dan dibagikan, melambangkan keberkahan dari hasil bumi setempat. Jenang Abang Putih, bubur merah putih dari beras ketan, juga umum, melambangkan kebersihan hati dan darah Nabi. Makanan-makanan ini tidak hanya enak, tapi juga sarat makna, mengajarkan nilai berbagi dan syukur.

Ragam Acara Muludan di Desa-Desa Kabupaten Jombang

Di desa-desa Jombang, Muludan dirayakan dengan beragam acara yang unik, mencerminkan kreativitas masyarakat. Di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Grebeg Tahu menjadi highlight, di mana 46 gunungan tahu diarak dan dibagikan kepada ribuan warga. Tradisi ini, yang telah menjadi bagian dari kehidupan desa, melambangkan cinta kepada Rasul (Mahabbaturrosul) dan diikuti pawai budaya dengan lebih dari 30 kelompok peserta. Acara ini sering dipadukan dengan pengajian dan santunan anak yatim, menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Di Mojoagung, tradisi Obyar unik: warga melempar uang koin untuk diperebutkan anak-anak, simbol berbagi rezeki seperti sunnah Nabi. Di Gambiran, karnaval diikuti pengajian, dengan peserta mengenakan kostum Islami. Di Ngudirejo, pawai budaya menampilkan tarian sufi dan atraksi perang Badar.

Di Pacarpeluk, Megaluh, ada tradisi Pohon Telur, di mana telur digantung di pohon dan dibagikan. Di Sambirejo, kirab budaya dan pengajian menjadi rutinitas. Di Kedungmlati, LAZISNU menggelar bazar, khitan massal, dan santunan. Di pondok pesantren seperti Sunan Ampel, acara dimulai dengan shalawat dan manakib.

Sekolah-sekolah seperti MAN 3 Jombang mengadakan gebyar shalawat dan tarian sufi. Di Thoriqoh Shiddiqiyyah, santunan anak yatim menjadi fokus. Ragam acara ini menunjukkan bagaimana Muludan di Jombang menjadi wadah ekspresi budaya dan religius.

Kesimpulan

Tradisi Maulid Nabi di Kabupaten Jombang adalah perpaduan harmonis antara warisan sejarah, makanan simbolis, dan acara beragam yang memperkaya identitas masyarakat. Dari asal usulnya yang ditanamkan Wali Songo hingga makanan seperti Nasi Tumpeng yang sarat makna, serta acara seperti Grebeg Tahu yang unik, semuanya mengajarkan nilai cinta kepada Nabi dan sesama. Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap lestari, menjadi pengingat akan pentingnya menjaga akar budaya sambil memperkuat iman. Semoga perayaan Muludan terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang, membawa berkah dan kedamaian bagi semua.

 

Tinggalkan komentar