Upacara Adat Hodo: Panggilan Sakral Meminta Hujan di Tanah Kering Situbondo

Upacara Adat Hodo, atau yang sering disebut Pojhian Hodo (Pujian Hodo), adalah salah satu warisan budaya tak benda yang paling unik dan sakral di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Berakar kuat dalam keyakinan masyarakat agraris, ritual ini diselenggarakan sebagai sebuah permohonan kolektif yang mendalam kepada Sang Pencipta agar berkenan menurunkan hujan, membawa kesuburan bagi tanah yang tandus, dan menjamin kesejahteraan seluruh komunitas.

Tradisi ini berpusat di Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Di daerah yang dikenal kering dan mengandalkan curah hujan untuk pertanian, Hodo menjadi lebih dari sekadar upacara; ia adalah manifestasi dari harapan, kepasrahan, dan solidaritas sosial yang diwariskan secara turun-temurun.


Latar Belakang Ritual Hodo di Situbondo

Latar belakang munculnya Ritual Hodo tidak terlepas dari kondisi geografis dan mata pencaharian utama masyarakat Pariopo.

Kondisi Geografis dan Agraris

Dusun Pariopo dikenal memiliki kondisi tanah yang tandus dan sering mengalami kekeringan panjang, terutama menjelang musim tanam. Mayoritas penduduknya adalah petani yang sangat bergantung pada hujan untuk kelangsungan hidup dan keberhasilan panen. Kekeringan bukan sekadar masalah pertanian, tetapi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup seluruh komunitas. Kebutuhan mendesak akan hujan inilah yang menjadi pemicu utama lahirnya ritual kesuburan ini.

Nilai Kosmologis dan Sejarah

Menurut beberapa sumber, tradisi Hodo diperkirakan sudah ada sejak tahun 1800-an atau bahkan masa pra-kolonial. Nama “Hodo” sendiri konon berasal dari Bahasa Madura, Do Hodo, yang bermakna filosofis “di atas langit masih ada langit”, menyiratkan pengakuan atas keagungan dan kekuasaan mutlak Tuhan di atas segala-galanya, termasuk fenomena alam.

Secara historis, ada narasi yang mengaitkannya dengan kisah Raden Damarwulan yang konon pernah melakukan ritual serupa untuk memanggil hujan. Namun, yang lebih ditekankan dalam konteks lokal adalah penghormatan kepada leluhur yang telah membabat hutan dan mendirikan pedukuhan Pariopo. Ritual ini menjadi bentuk tapa’ tilas (napak tilas) dan permohonan keselamatan serta berkah dari Tuhan melalui perantara para leluhur.

Akulturasi Budaya

Ritual Pojhian Hodo memperlihatkan adanya akulturasi unik dari tiga unsur budaya utama: Islam, Jawa, dan Madura. Unsur-unsur ini menyatu dalam bentuk ritual, simbol-simbol, dan bahasa yang digunakan, menjadikannya sebuah folklor yang kaya dan kompleks. Nilai-nilai Islam tampak dalam doa-doa pujian kepada Tuhan, sementara unsur Jawa dan Madura terlihat dalam pelaksanaan ritual, tarian, dan penggunaan bahasa setempat.


Waktu Pelaksanaan Upacara Adat Hodo

Waktu pelaksanaan Upacara Adat Hodo sangat erat kaitannya dengan musim dan kebutuhan akan hujan. Umumnya, ritual ini diselenggarakan secara berkala menjelang musim tanam atau di penghujung musim kemarau, yaitu sekitar bulan Oktober hingga Desember setiap tahunnya.

Pelaksanaan ritual ini tidak terikat pada tanggal pasti dalam kalender Masehi atau Hijriah, melainkan didasarkan pada perhitungan musim tanam tradisional dan kondisi kekeringan yang melanda Dusun Pariopo. Ketika kekeringan mencapai puncaknya dan hujan sangat dinantikan, para sesepuh desa akan menentukan hari baik untuk memulai rangkaian upacara.


Jenis Kebudayaan yang Tampak di Hodo

Ritual Hodo merupakan perwujudan total dari berbagai ekspresi budaya, menjadikannya sebuah pertunjukan rakyat yang kaya akan seni dan makna.

Seni Rupa dan Kerajinan

  • Tumpeng Agung: Persiapan Tumpeng Agung yang besar dan sarat makna. Tumpeng ini dibawa oleh peserta ritual menuju altar persembahan, melambangkan rasa syukur dan permohonan.
  • Panji-panji: Penggunaan bendera atau panji-panji yang melambangkan identitas kelompok dan perjalanan spiritual.
  • Sesajen dan Persembahan: Berbagai persembahan hasil bumi, makanan, dan kurban (biasanya kambing), yang semuanya disajikan dengan penataan simbolis.

Seni Pertunjukan (Musik, Tari, dan Resitasi)

  • Seni Musik: Ritual ini menggunakan alunan musik tradisional, termasuk seni musik dan suara yang harmonis. Musik berfungsi mengiringi prosesi, menciptakan suasana sakral, dan memperkuat pujian (Pojhian) kepada Tuhan.
  • Seni Tari: Tarian yang dibawakan oleh para penari memiliki makna permohonan yang khidmat. Gerakan tubuh penari adalah representasi visual dari doa. Di bagian akhir, biasanya ditarikan tarian suka ria yang menggambarkan kegembiraan karena permohonan diyakini telah dikabulkan.
  • Seni Resitasi/Vokal: Ritual ini melibatkan pujian-pujian (mantra atau doa) yang dipimpin oleh pemangku spiritual. Pujian ini merupakan inti dari permohonan hujan dan keselamatan.

Adat Istiadat dan Ritus

  • Laku Tirakat: Meliputi puasa, bersemedi (melekan atau tidak tidur), dan pembersihan diri (pesucen) yang dilakukan oleh para tokoh adat dan pelaku ritual sebelum puncak acara.
  • Ziarah: Rangkaian ritual seringkali melibatkan kunjungan ke situs-situs keramat atau makam leluhur seperti Sombhâr, Asta Masali, Asta Cangkreng, dan Asta Bhâtah sebagai bentuk penghormatan dan memohon restu spiritual.
  • Ritual Kolektif: Puncak acara di tempat keramat seperti Batu Tomang dan Tapa’ Dângdâng, yang melibatkan seluruh komunitas dalam doa dan prosesi makan bersama.

Rangkaian Acara di Festival Pariopo Hodo

Dalam perkembangannya, Ritual Hodo sering dikemas dalam sebuah acara yang lebih besar bernama Festival Pariopo Hodo yang bertujuan untuk pelestarian sekaligus promosi budaya dan pariwisata.

Meskipun Festival Pariopo Hodo sering menampilkan hiburan lokal dan tarian khas Situbondo sebagai ajang pertunjukan budaya, inti dari ritual Hodo tetap memiliki rangkaian yang sakral dan terbagi atas beberapa tahap, umumnya dilaksanakan selama tiga hari:

Hari Pertama dan Kedua: Persiapan dan Ziarah

  1. Pesucen dan Tirakat: Para pelaku ritual dan sesepuh melakukan pembersihan diri dan menjalani laku tirakat (seperti melekan dan puasa).
  2. Kunjungan Situs Leluhur: Mengunjungi dan berdoa di makam atau petilasan leluhur (Sombhâr, Asta Masali, Asta Cangkreng, Asta Bhâtah) untuk memohon keselamatan dan restu.

Hari Ketiga: Puncak Ritual

  1. Persiapan Tumpeng Agung: Warga secara kolektif menyiapkan Tumpeng Agung dan persembahan lainnya.
  2. Prosesi Menuju Altar: Seluruh peserta, mengenakan pakaian kebesaran, membawa Tumpeng Agung, panji-panji, dan bakaran dupa menuju altar pemujaan, yaitu situs keramat Batu Tomang dan kemudian dilanjutkan ke Tapa’ Dângdâng.
  3. Pelaksanaan Kurban dan Doa: Di Batu Tomang, dilakukan upacara persembahan, penyembelihan kurban (jika ada), dan penyajian hasil bumi. Pemangku spiritual memimpin pembacaan doa (Pojhian) yang khidmat, memohon hujan dan keselamatan.
  4. Seni Pertunjukan Ritual: Para penari menampilkan tarian permohonan hujan dengan iringan musik. Tarian ini penuh makna spiritual.
  5. Tarian Suka Ria dan Penutup: Setelah doa dan tarian permohonan, ritual ditutup dengan tarian suka ria yang melambangkan optimisme dan keyakinan permohonan dikabulkan. Pemangku spiritual menaburkan bunga sebagai tanda selesainya upacara.
  6. Makan Bersama (Tukar-Menukar Makanan): Bagian penting dari penutup adalah seluruh masyarakat dan pelaku ritual menyantap hidangan tumpeng bersama-sama, yang sekaligus menjadi simbol reintegrasi dan penguatan solidaritas sosial (solidaritas kelompok).

Perkembangan Ritual Adat Hodo

Perkembangan Ritual Adat Hodo menunjukkan dinamika antara pelestarian tradisi dan adaptasi modern:

  1. Dari Ritual Murni ke Festival Budaya: Pada awalnya, Hodo adalah ritual yang murni bertujuan spiritual dan agraris. Kini, ritual ini seringkali dikemas dalam bingkai Festival Pariopo Hodo. Tujuannya meluas, tidak hanya memohon hujan tetapi juga menjadi icon budaya dan pariwisata Situbondo.
  2. Dukungan Pemerintah: Pemerintah Kabupaten Situbondo dan DPRD telah sepakat untuk memfasilitasi dan mempromosikan kegiatan ini, dengan harapan Hodo dapat menjadi festival berskala nasional atau bahkan internasional.
  3. Kajian Akademis: Ritual Hodo telah menjadi objek penelitian kualitatif-etnografi dan kajian pertunjukan teater. Ini membantu mendokumentasikan, memahami, dan memublikasikan nilai-nilai tradisi ini ke khalayak luas.
  4. Fungsi Sosial yang Diperkuat: Selain fungsi religius (memohon hujan), fungsi sosial ritual ini semakin menonjol. Victor Turner melalui teori Sosial Drama menjelaskan bagaimana tahapan ritual (pembubaran, ambivalensi, dan reintegrasi) membantu memelihara solidaritas kelompok dan mengarahkan perubahan sosial dalam masyarakat Pariopo.

Hodo: Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisi

Ritual Hodo merupakan Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge) yang tak ternilai dan sebuah Ekspresi Budaya Tradisi (Traditional Cultural Expression) yang hidup.

1. Pengetahuan Tradisional

Hodo mencerminkan pengetahuan tradisional masyarakat Pariopo tentang lingkungan mereka. Ini bukan sekadar ritual mistis, tetapi juga bentuk kearifan lokal dalam:

  • Siklus Alam: Penentuan waktu pelaksanaan ritual menunjukkan pemahaman mendalam tentang siklus musim kemarau dan tanam.
  • Kosmologi Lokal: Keyakinan tentang situs keramat (Batu Tomang, Asta-asta) dan makna simbolis dalam persembahan adalah sistem pengetahuan tentang hubungan manusia, alam, dan kekuatan supranatural.
  • Teknik Bertahan Hidup: Ritual ini adalah respon kolektif terhadap tantangan kekeringan, menyalurkan kecemasan sosial menjadi tindakan spiritual yang terstruktur.

2. Ekspresi Budaya Tradisi

Sebagai Ekspresi Budaya Tradisi, Hodo menggabungkan beragam seni dan adat istiadat yang mengandung nilai filosofis yang tinggi:

  • Nilai Spiritual: Keyakinan mutlak pada Tuhan (Do Hodo) dan pelaksanaan ritual sebagai sarana permohonan kesuburan.
  • Nilai Estetis: Keberanekaragaman seni pertunjukan (musik, tari, rupa) yang membuat ritual ini menarik sebagai tontonan.
  • Nilai Historis: Pelaksanaan turun-temurun yang menjaga ingatan kolektif tentang leluhur dan sejarah pembabatan dusun.
  • Nilai Pendidikan: Ritual ini berfungsi sebagai alat pendidik bagi generasi muda, mengajarkan nilai-nilai religius, etika, dan pentingnya harmoni dengan alam.

Hambatan Pelestarian Ritual Hodo

Meskipun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan mendapat dukungan, pelestarian Ritual Hodo menghadapi sejumlah tantangan:

1. Modernisasi dan Pergeseran Nilai

Pengaruh modernisasi dan pendidikan formal yang semakin kuat dapat menyebabkan pergeseran pandangan di kalangan generasi muda. Ritual yang dianggap tidak logis atau “kuno” rentan ditinggalkan, padahal nilai filosofisnya sangat relevan.

2. Regenerasi Pelaku Adat

Hambatan terbesar adalah regenerasi. Pelaku ritual, pemangku spiritual, dan seniman tradisional yang menguasai rangkaian upacara secara otentik, termasuk Pojhian dan tarian sakral, semakin menua. Kurangnya minat atau pengetahuan yang tidak diturunkan secara memadai kepada generasi penerus mengancam keberlangsungan tradisi ini.

3. Eksplorasi dan Komersialisasi yang Berlebihan

Upaya untuk menjadikan Hodo sebagai ikon pariwisata (seperti Festival Pariopo Hodo) dapat berisiko mengubah kesakralan ritual menjadi sekadar pertunjukan komersial. Ada kekhawatiran bahwa fokus beralih dari permohonan spiritual menjadi hiburan semata, yang dapat mengurangi makna dan nilai otentik ritual.

4. Dokumentasi yang Belum Tuntas

Meskipun sudah ada beberapa kajian, dokumentasi yang sistematis dan komprehensif mengenai seluruh rangkaian acara, mantra, simbol, dan sejarah ritual secara rinci seringkali belum memadai. Hal ini menyulitkan upaya pelestarian yang akurat.

5. Swadaya Komunitas

Pada awalnya, kegiatan ini seringkali masih bersifat swadaya murni dan dilaksanakan dengan konsep spontanitas. Meskipun telah difasilitasi, keberlanjutan pendanaan dan dukungan logistik yang konsisten masih menjadi tantangan bagi masyarakat lokal.


Penutup

Upacara Adat Hodo adalah cerminan jiwa masyarakat Pariopo, sebuah dialog abadi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia adalah mozaik budaya yang menyatukan seni, sejarah, dan spiritualitas. Dengan segala tantangan pelestariannya, Hodo tetap berdiri sebagai benteng solidaritas dan warisan pengetahuan tradisional yang harus dijaga agar “pujian” (Pojhian) dari tanah kering Situbondo ini terus bergema, membawa berkah kesuburan dan kesejahteraan.

Tinggalkan komentar