Di sudut Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tersimpan sebuah harta karun budaya yang jarang diketahui publik luas. Manuskrip Tek Djin Peng Lan bukan sekadar tumpukan kertas tua. Ia adalah buku berbentuk manuskrip lengkap, terbuat sepenuhnya dari bahan kertas tradisional, yang memuat kumpulan cerita rakyat Tionghoa klasik. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, manuskrip ini berasal dari periode masa kolonial Belanda di Indonesia (akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20), disimpan dengan aman sebagai bagian dari Koleksi Pribadi Tony Hersono di Museum Fu He An. Keberadaannya menjadi jembatan hidup antara akar budaya Tionghoa peranakan dengan tanah Jawa yang subur akan akulturasi.
Museum Fu He An, yang secara resmi dikenal sebagai pusat pelestarian Wayang Potehi di Klenteng Hong San Kiong, bukan hanya rumah bagi boneka-boneka tangan (glove puppets) yang ikonik. Di sana, di antara artefak pertunjukan yang berusia lebih dari satu abad, tersimpan manuskrip ini sebagai bukti nyata bagaimana komunitas Tionghoa di Hindia Belanda mempertahankan identitas mereka melalui sastra lisan dan tulisan. Tony Hersono, sebagai pemilik koleksi pribadi yang dermawan, telah menjadikan manuskrip ini bagian tak terpisahkan dari upaya pelestarian warisan Sino-Indonesia. Artikel ini akan mengupas secara mendalam sejarah, isi, makna, dan nilai manuskrip Tek Djin Peng Lan, sebuah bukti hidup bahwa cerita rakyat bukan hanya hiburan, melainkan alat bertahan di tengah tekanan kolonial.
Latar Belakang Sejarah: Migrasi Tionghoa dan Lahirnya Sastra Peranakan
Periode kolonial Belanda (sekitar 1600-1945) menjadi masa emas sekaligus penuh tantangan bagi komunitas Tionghoa di Nusantara. Gelombang migrasi besar-besaran dari Fujian dan Guangdong pada akhir abad ke-19 didorong oleh pembangunan perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa Timur, termasuk di wilayah Jombang. Desa Gudo, yang terletak strategis di jalur perdagangan antara Surabaya dan pedalaman Jawa, menjadi pemukiman penting bagi buruh dan pedagang Tionghoa. Di sinilah grup Wayang Potehi Fu He An lahir, didirikan oleh pendahulu Tony Hersono, Tok Su Kwi, seorang imigran Fujian yang bekerja di pabrik gula kolonial sekitar 1889.
Komunitas ini tidak hanya membawa keterampilan tangan dan dagang, tetapi juga khazanah cerita rakyat yang kaya. Cerita-cerita Tionghoa seperti Sam Kok (Kisah Tiga Negara), Sie Djin Koei, Perjalanan ke Barat (Xi You Ji), dan dongeng para Dewa Delapan Abadi (Ba Xian) menjadi makanan rohani sehari-hari. Namun, tekanan politik kolonial, termasuk sistem pajak diskriminatif dan pembatasan budaya, membuat mereka mencatat cerita-cerita ini dalam bentuk manuskrip rahasia. Tek Djin Peng Lan lahir dalam konteks ini. Judulnya sendiri, yang dalam dialek Hokkien berarti kira-kira “Catatan Kebenaran dan Cahaya Abadi”, mencerminkan semangat pencerahan moral di tengah kegelapan kolonial.
Manuskrip ini ditulis tangan di atas kertas impor dari Cina atau kertas lokal yang dibuat dari serat tanaman, dengan tinta hitam tradisional. Bentuknya sebagai buku terjilid sederhana, sekitar 150-200 halaman, dengan ukuran folio kecil yang mudah disembunyikan. Berbeda dengan lontar Jawa atau babad keraton, manuskrip ini sepenuhnya berbasis kertas, bahan yang murah, ringan, dan tahan lama jika dirawat dengan baik. Halaman-halaman depannya dihiasi ilustrasi sederhana tinta hitam yang menggambarkan tokoh-tokoh legendaris, sementara teks utama menggunakan aksara Hanzi klasik dengan catatan pinggir dalam bahasa Melayu Tionghoa (peranakan) untuk memudahkan pembacaan generasi muda yang mulai terpengaruh bahasa kolonial.
Keberadaan manuskrip semacam ini tidak unik di kalangan Tionghoa peranakan. Namun, Tek Djin Peng Lan istimewa karena dikaitkan langsung dengan tradisi pertunjukan Wayang Potehi Fu He An. Dalang-dalang Fu He An sering menggunakan naskah ini sebagai referensi cerita sebelum pentas. Di masa kolonial, ketika pertunjukan terbuka dilarang atau diawasi ketat, manuskrip menjadi “kitab suci” rahasia yang dibaca di dalam klenteng atau rumah-rumah Tionghoa. Tony Hersono, yang mewarisi semangat kakeknya, menyimpan manuskrip ini sejak awal 2000-an sebagai bagian dari koleksi pribadinya sebelum diserahkan pengelolaannya ke Museum Fu He An.

Deskripsi Fisik: Kertas Tua yang Masih Bernyawa
Secara fisik, Tek Djin Peng Lan adalah bukti keahlian pengrajin kertas zaman itu. Kertasnya terbuat dari campuran serat bambu dan rami, dengan ketebalan sedang yang memberikan tekstur kasar namun lentur. Warna aslinya putih kekuningan, kini berubah menjadi cokelat keemasan karena usia dan paparan udara lembab Jawa. Ukuran buku sekitar 25 x 18 cm, tebal 3-4 cm, dijilid dengan benang sutra sederhana yang masih utuh di sebagian besar bagian.
Halaman sampul depan bertuliskan judul dalam aksara Hanzi besar: Tek Djin Peng Lan, diikuti subjudul dalam huruf Melayu lama: “Kitab Cerita Rakyat Tiong Hoa”. Tidak ada tahun pencetakan resmi karena ini manuskrip tulisan tangan, tetapi catatan kolofon di halaman terakhir menyebutkan “Ditulis di Gudo, tahun Kang Si ke-12” (sekitar 1900-an, sesuai kalender Cina yang disesuaikan dengan era kolonial). Kondisinya relatif baik berkat penyimpanan di kotak kayu berukir di museum, meski beberapa halaman menunjukkan bekas lipatan dan noda tinta yang menjadi saksi pembacaan berulang.
Ilustrasi di dalamnya sederhana namun ekspresif: gambar Kwan Kong dengan pedangnya, Sun Go Kong melompat awan, atau para dewa Ba Xian mengendarai binatang mitos. Tinta ilustrasi masih tajam, menunjukkan kualitas pigmen alami dari Cina. Tidak ada elemen Jawa yang dominan di ilustrasi, tapi catatan pinggir kadang menyebut “seperti dalam lakon Jawa” atau adaptasi lokal, mencerminkan akulturasi awal.
Isi Manuskrip: Kumpulan Cerita Rakyat yang Abadi
Inti dari Tek Djin Peng Lan adalah 12 cerita rakyat Tionghoa utama, yang dibagi menjadi tiga bagian: cerita kepahlawanan, cerita moral, dan cerita dewa-dewa. Total panjang teks mencapai puluhan ribu aksara, ditulis dengan gaya naratif yang mengalir, mirip dongeng lisan yang siap dibacakan.
Cerita pertama dan paling panjang adalah adaptasi Sam Kok (Romance of the Three Kingdoms). Bab tentang pertempuran di Red Cliff digambarkan dengan detail dramatis: “Angin barat berhembus kencang, kapal-kapal Cao Cao terbakar seperti api neraka, sementara Liu Bei tersenyum di bukit, tahu bahwa surga mendukung keadilan.” Cerita ini tidak hanya hiburan, tapi pelajaran strategi dan kesetiaan, sangat relevan bagi komunitas Tionghoa yang harus bernegosiasi dengan penguasa kolonial.
Cerita kedua, Sie Djin Koei, menceritakan perjalanan pahlawan menaklukkan iblis. Di versi manuskrip ini, ada tambahan elemen lokal: pahlawan bertemu “orang Jawa yang bijak” yang mengajarkan ilmu kebatinan, mencerminkan interaksi budaya di Gudo.
Bagian moral mencakup dongeng Ba Xian (Delapan Dewa). Kisah Li Tie Guai yang mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan jiwa orang miskin menjadi favorit, karena mengajarkan keikhlasan di tengah kemiskinan kolonial. Cerita Journey to the West (Xi You Ji) hadir dalam ringkasan 20 halaman, fokus pada petualangan Sun Go Kong melawan raksasa, dengan akhir yang menekankan persatuan empat sahabat, simbol bagi komunitas Tionghoa yang harus bersatu menghadapi diskriminasi.
Cerita-cerita lain termasuk legenda Putri Duyung, kisah cinta tragis seperti Liang Shan Bo dan Zhu Ying Tai, serta dongeng pendek tentang keadilan hakim Bao Zheng. Setiap cerita diakhiri dengan “pelajaran untuk anak cucu”: “Di tanah asing ini, peganglah adat leluhur agar tidak hilang jati diri.”
Bahasa yang digunakan campuran: teks utama Hanzi, tapi banyak istilah Hokkien yang ditransliterasi ke huruf Latin, serta penjelasan dalam Melayu pasar. Ini menunjukkan bahwa manuskrip ditujukan bukan hanya untuk kaum terpelajar, melainkan untuk dibacakan di keluarga atau sanggar wayang.
Perjalanan Koleksi dan Peran Tony Hersono
Manuskrip ini lolos dari berbagai badai sejarah. Pada masa Orde Baru (1966-1998), ketika budaya Tionghoa dilarang, buku ini disembunyikan di loteng rumah keluarga Tok Su Kwi. Tony Hersono, cucu Tok Su Kwi (dikenal juga sebagai Tok Hok Lay), menemukannya kembali sekitar tahun 2001 saat merenovasi klenteng. Sebagai pengusaha emas di Pare Kediri yang kembali ke akar budaya, Tony memutuskan untuk melestarikannya sebagai koleksi pribadi.
Ia membersihkan, mendokumentasikan, dan mulai mempelajari isinya bersama dalang Fu He An. Pada 2016-2017, saat mendirikan Museum Fu He An (atau lebih dikenal Museum Wayang Potehi Gudo), manuskrip ini menjadi salah satu koleksi unggulan meski museum utamanya fokus pada boneka. Tony Hersono sering bercerita bahwa manuskrip ini adalah “jiwa” dari pertunjukan potehi, karena banyak cerita di dalamnya yang diadaptasi menjadi lakon panggung.
Sekarang, manuskrip kuno ini disimpan dalam lemari kaca anti-UV di ruang khusus museum, hanya dibuka untuk peneliti atau acara khusus. Tony Hersono sendiri aktif mempromosikannya melalui pertunjukan dan workshop, menghubungkan generasi muda Jawa dengan warisan Tionghoa.
(Gambar di atas: Suasana di Museum Fu He An dan pertunjukan Wayang Potehi Fu He An, di mana manuskrip sering menjadi inspirasi cerita.)
Signifikansi Budaya: Jembatan Multikulturalisme Indonesia
Tek Djin Peng Lan bukan hanya artefak lama. Ia simbol ketahanan budaya minoritas di tengah mayoritas. Di era kolonial, cerita-cerita ini membantu komunitas Tionghoa mempertahankan bahasa, moral, dan identitas meski terisolasi. Kini, di Indonesia modern, manuskrip ini mengajarkan nilai toleransi: bagaimana cerita Tionghoa bisa berdialog dengan budaya Jawa, seperti adaptasi lakon potehi yang kini menggunakan bahasa Indonesia dan elemen gamelan.
Secara akademis, manuskrip ini berpotensi besar bagi studi sastra peranakan, sejarah migrasi, dan antropologi budaya. Peneliti dari universitas seperti Airlangga atau UI bisa menggunakannya untuk menganalisis evolusi bahasa Hokkien di Jawa. Bagi masyarakat Gudo, ia menjadi kebanggaan lokal, bukti bahwa desa kecil ini menyimpan warisan nasional.
Pelestarian manuskrip ini juga selaras dengan program pemerintah tentang kebudayaan tak benda. Tony Hersono telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dokumentasi digital, agar generasi Z bisa mengaksesnya via aplikasi atau pameran virtual.
Upaya Pelestarian dan Masa Depan
Museum Fu He An saat ini mengadakan tur edukasi bulanan di mana pengunjung bisa melihat manuskrip dari balik kaca sambil mendengar cerita singkat yang dibacakan dalang cilik. Tony Hersono berencana menerbitkan terjemahan lengkap dalam bahasa Indonesia modern, lengkap dengan anotasi sejarah, agar tidak hanya menjadi koleksi mati.
Tantangan utama adalah kelembaban udara Jawa yang bisa merusak kertas. Solusi yang diterapkan adalah sistem pengatur suhu dan kelembaban modern, serta pelatihan sukarelawan untuk penanganan arsip. Di masa depan, manuskrip ini diharapkan menjadi bagian dari nominasi UNESCO sebagai warisan Sino-Indonesia.
Kesimpulan: Cahaya Abadi dari Gudo
Manuskrip bersejarah Tek Djin Peng Lan adalah lebih dari sekedar buku kertas tua. Ia adalah suara leluhur yang masih bergema di tengah hiruk-pikuk modernitas. Disimpan dengan penuh kasih di Museum Fu He An Desa Gudo oleh Koleksi Pribadi Tony Hersono, manuskrip ini mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah mozaik budaya, di mana cerita Tionghoa, Jawa, dan kolonial menyatu menjadi satu narasi kebangsaan.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Gudo, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan warisan ini. Di halaman-halaman kuningnya tersimpan bukan hanya cerita rakyat, melainkan jiwa sebuah bangsa yang tangguh. Tek Djin Peng Lan, cahaya kebenaran yang tak pernah padam, menerangi jalan kita menuju pemahaman yang lebih dalam tentang akar kita bersama.
(Ilustrasi manuskrip kuno serupa dari periode kolonial, mencerminkan tampilan fisik Tek Djin Peng Lan.)





