Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua: Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang

Pada era di mana transparansi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam pemerintahan yang baik, Kabupaten Jombang menunjukkan komitmennya melalui program inovatif “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua“. Program ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan manifestasi nyata dari upaya Bupati Jombang, Warsubi S.H., M.Si., yang akrab disapa Abah Warsubi, untuk menjadikan pendopo sebagai ruang terbuka bagi seluruh warga. Diluncurkan pada Mei 2025, program ini bertujuan membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat terhadap Pendopo Kabupaten Jombang, yang selama ini dikenal sebagai simbol pemerintahan formal. Dengan pendekatan ini, pendopo tidak lagi dilihat sebagai tempat eksklusif untuk kegiatan administratif, tetapi sebagai “rumah besar” yang dimiliki bersama oleh rakyat Jombang.

Sejarah Pendopo Kabupaten Jombang sendiri menyimpan cerita panjang yang mencerminkan perpaduan antara warisan kolonial dan identitas lokal. Dibangun pada tahun 1911 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan anggaran sekitar NLG 17.399, pendopo ini awalnya dirancang sebagai kediaman bupati dengan bentuk joglo tradisional Jawa. Pada tahun 1968, renovasi besar-besaran dilakukan, mengubahnya menjadi struktur cungkup tiga atap yang lebih modern namun tetap mempertahankan elemen budaya Jawa. Terletak di Jalan Aloon-aloon Nomor 1 (atau dikenal juga sebagai Jalan KH Wahid Hasyim), pendopo ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan simbol kebersamaan masyarakat Jombang.

Program “Pendopo Milik Rakyat” muncul sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat akan pemerintahan yang lebih inklusif. Abah Warsubi, yang lahir pada 19 Juli 1968 di Jombang dan menjabat sebagai bupati sejak 20 Februari 2025, memiliki latar belakang sebagai kepala desa Mojokrapak sebelumnya. Beliau lulus dari SMA PGRI 2 Jombang pada 1988 dan melanjutkan studi hukum serta administrasi, yang membekalinya dengan visi untuk mendekatkan pemerintahan dengan rakyat. Selain sebagai bupati, Warsubi juga menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum APKASI periode 2025-2030, menunjukkan peranannya di tingkat nasional. Melalui akun Instagram pribadinya @abahwarsubi, beliau sering berbagi pesan-pesan inspiratif tentang persatuan dan pembangunan.

Menindaklanjuti hasil rapat koordinasi dengan Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Jombang pada Rabu, 11 Februari 2026, di Ruang Rapat Sekretariat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, kegiatan “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua” akhirnya dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026. Rapat tersebut membahas persiapan mendetail, termasuk koordinasi dengan sekolah-sekolah dan komunitas budaya lokal, untuk memastikan acara berjalan lancar dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Fokus utama adalah melibatkan pelajar dari SD hingga SMA, agar generasi muda merasakan pendopo sebagai bagian dari identitas mereka.

Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang
Abah Warsubi Memberi Sambutan di Acara Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang

Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai, bertempat di Pendopo Kabupaten Jombang, Jalan Aloon-aloon Nomor 1, Jombang. Suasana pagi itu cerah, dengan ratusan pelajar, guru, dan warga masyarakat memadati area pendopo. Bupati Warsubi secara pribadi menyambut para tamu, menegaskan komitmennya: “Pendopo bukan ruang yang berjarak dari rakyat. Ini adalah rumah kita bersama, tempat di mana kreativitas dan kebersamaan bisa berkembang.” Acara ini berhasil membuat pendopo terasa lebih hidup dan berwarna, dengan penampilan kreativitas terbaik dari pelajar.

Susunan acara dimulai dengan pra acara pukul 07.45 di mana tim teknis melakukan cek sound dan persiapan panggung. Ini adalah momen krusial untuk memastikan semua peralatan berfungsi optimal, mengingat acara melibatkan musik dan pertunjukan seni yang memerlukan audio berkualitas. Kemudian, pukul 08.15-08.30, dilanjutkan dengan seremonial pembukaan dan sambutan panitia. Sambutan ini menekankan tema keterbukaan, di mana perwakilan panitia menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi rutinitas bulanan untuk memperkuat ikatan antara pemerintah dan masyarakat.

Penampilan pertama adalah musik keroncong dari SMAN 2 Jombang, menyanyikan satu lagu. Grup keroncong RECODA dari SMAN 2 Jombang, yang berdiri sejak 2012, dikenal dengan penampilan mereka yang memadukan nuansa tradisional dan modern. Lagu yang dibawakan, mungkin seperti “Cinta Terbaik” atau “Kota Solo”, berhasil menghangatkan suasana dengan irama khas keroncong yang lembut dan nostalgis. Keroncong sebagai genre musik Indonesia yang berasal dari pengaruh Portugis, kini menjadi bagian integral dari budaya Jawa Timur, dan penampilan ini menunjukkan bagaimana generasi muda melestarikannya.

Tari Bambangan Cakil SDN Gempollegundi Gudo Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang
Tari Bambangan Cakil SDN Gempollegundi Gudo Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang
Selanjutnya, Wayang Potehi oleh Toni Harsono. Wayang Potehi, seni boneka sarung tangan asal Tionghoa yang telah beradaptasi di Indonesia, dibawakan oleh Toni Harsono, seorang maestro yang telah merevitalisasi seni ini sejak 2001. Sebagai cucu dari Tok Su Kwi, Toni telah membuat boneka potehi sendiri dan tampil di berbagai acara internasional. Pertunjukan ini menceritakan kisah epik dengan elemen humor dan moral, menarik perhatian anak-anak dan dewasa. Dilanjutkan dengan talkshow maestro Wayang Potehi pukul 08.45-08.55, di mana Toni berbagi pengalaman tentang bagaimana potehi menjadi jembatan budaya Sino-Indonesia.
Penampilan keroncong dari SMAN 2 Jombang kembali hadir dengan dua lagu, memperkaya repertoar mereka yang sering mencakup lagu-lagu legendaris. Talkshow maestro keroncong membahas motivasi siswa dalam melestarikan musik ini, di mana anggota grup berbagi cerita tentang apresiasi mereka terhadap keroncong sebagai bentuk ekspresi budaya.
Tari Bambang Cakil dari SDN Gempollegundi turut meramaikan suasana pendopo. Tari ini, yang berasal dari Surakarta dan diadaptasi dari cerita Mahabharata, menggambarkan pertarungan antara kesatria halus (Bambang) dan raksasa kasar (Cakil). Dua orang penari cilik dari SD ini menampilkan gerakan energik yang melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, dengan kostum warna-warni yang memukau penonton.
Dilanjutkan dengan musik band dari MTSN 6 Jombang, yang membawakan lagu-lagu populer dengan sentuhan lokal, menambah variasi acara. Kemudian, pukul 09.35-09.45, Tari Islami Jalubi Jawa Timur Luar Biasa dari MAN 1 Jombang. Tari ini, yang dikenal sebagai “Jatim Luar Biasa”, memadukan elemen Islami dengan keindahan budaya Jawa Timur, menampilkan gerakan anggun yang mempromosikan harmoni dan keberagaman. Penampilan siswi MAN 1 ini penuh makna, dengan kostum berwarna cerah yang mencerminkan pesona provinsi.
Wayang Potehi Gudi di Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang
Wayang Potehi Gudi di Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang
Penampilan keroncong SMAN 2 Jombang kembali dengan dua lagu, menutup rangkaian seni sebelum puncak acara. Akhirnya, di akhir kegiatan ini dilaksanakan room tour ruang kerja bupati didampingi Paguyuban Guk Yuk Jombang. Para pelajar diajak menjelajahi ruangan-ruangan bersejarah, belajar tentang fungsi pendopo, dan berinteraksi langsung dengan Abah Warsubi. Momen ini menjadi highlight, di mana anak-anak bisa bertanya dan berfoto, memperkuat rasa memiliki terhadap aset publik.

Kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Melibatkan pelajar dari berbagai tingkat, acara ini mendorong kreativitas dan pemahaman tentang budaya lokal. Wayang Potehi, misalnya, memperkenalkan warisan Sino-Indonesia yang hampir punah, dengan hanya sekitar 12 dalang tersisa di Indonesia. Tari Bambang Cakil mengajarkan nilai moral dari epos Mahabharata, sementara keroncong dan tari Islami menunjukkan keragaman budaya Jawa Timur.

Dampak dari kegiatan ini sangat positif. Warga merasa lebih dekat dengan pemerintahan, dan pendopo kini dilihat sebagai simbol keterbukaan. Seperti yang dikatakan Abah Warsubi, “Lewat kegiatan ini, pendopo ditegaskan sebagai simbol keterbukaan, kebersamaan, dan kedekatan antara pemerintah dan masyarakat.” Program ini diharapkan terus berlanjut, mungkin dengan tema-tema baru setiap bulan, untuk memperkuat rasa tanggung jawab kolektif.

Di tengah tantangan modern seperti urbanisasi dan digitalisasi, inisiatif seperti ini mengingatkan kita pada pentingnya ruang publik sebagai penghubung. Kabupaten Jombang, dengan sejarahnya yang kaya, telah menjadikan pendopo sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Semoga “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua” menjadi model bagi daerah lain di Indonesia, membangun masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.

Tinggalkan komentar